![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen untuk memacu semangat Author ya..!
Dan mohon babnya jangan ditimbun, author akan berusaha update setiap hari.
Terima kasih.
Happy Readings!
......
"Bukankah seharusnya kita menghentikannya?" tanya seorang dayang dengan sapu di tangannya.
"Kamu tidak lihat tatapan bengisnya? Lagipula burung garuda adalah hewan mitos yang paling susah dicari. Mereka makhluk mitos elit yang jarang bergaul dengan manusia. Bisa-bisa kita dimakan," ucap dayang di sebelahnya bergidik ngeri.
"Di buku tertulis kalau burung garuda yang terbang dengan damai di langit tempat tinggal manusia adalah burung garuda milik Petapa Agung. Mungkin saja ada sesuatu," jelas dayang yang lain.
"Tapi bukankah kita akan terkena masalah kalau peti Raden Ajeng yang sudah disegel dipatuk-patuk seperti itu? Yuwaraja baru saja pergi semalam dan sekarang peti indah yang sudah dirawat satu bulan oleh beliau sendiri akan rusak. Ah tidak! Bagian kepalanya sudah berlubang! Mati kita!"
"Apa yang kalian lakukan di depan aula ketenangan?" tanya Karuna.
"KYA!" teriak para dayang tak menyadari kedatangan Karuna. Keempat dayang yang sedang membersihkan halaman itu berbalik melihat orang yang membuat jantung mereka hampir terlepas.
"Sa-salam. Kami memberi salam kepada tuan hakim," Bergegas para dayang bersimpuh dan menundukkan kepala memberi hormat.
"Ah. Kami memberi salam kepada Yang Mulia Yuwaraja semoga Yang Mulia selalu diberi kebijaksanaan," salam para dayang melihat theklek indah yang hanya dimiliki keluarga kerajaan.
Hayan menatap curiga empat dayang yang gemetaran bersujud di kakinya, apalagi banyak serbuk kayu beterbangan di jalan masuk aula.
"Uhuk. Uhuk."
Suara batuk yang sangat familiar di telinga Hayan mengalihkan perhatiannya, bergegas ia berlari kencang menuju sumber suara itu. Hayan menjulurkan tangannya dan menggerakkan tangannya menghilangkan serbuk yang menghalangi pandangan.
Di sana tampak tutup peti yang telah rusak setengah tergeletak di lantai dan seseorang berwajah pucat duduk di dalam peti.
"Ruru. Patukmu sangat tajam, dahiku bisa cekung." kesal Idaline hendak memegang dahinya yang memerah. "Aduh duh duh perih," keluh Idaline mengusap sikunya yang berdarah karena memaksa membuka peti yang bersegel.
"Ruru, tolong~" rengek Idaline. Meski berwajah malas, sang burung garuda tetap membuka paruhnya dan meraih tangan Idaline. Kaki Idaline mendarat di tanah dengan tepat. Ia tersenyum sambil merenggangkan tubuhnya.
"Kamu tidak bilang pada tuanmu kan?" tanya Idaline. Burung garuda menggeleng. "Bagus. Anak pintar," Idaline mengusap dahi Ruru lalu burung itu terbang dengan cepat keluar dari aula ketenangan.
Hayan yang mematung tersadar karena terpaan angin dari sayap garuda. Ia mengedipkan matanya lalu berjalan memasuki aula ketenangan. "I..da.line?" ucapnya tak percaya.
"Tolong tuntun aku. Rasanya lemas sekali,"
Idaline tersenyum canggung, sepanjang perjalanan para dayang dan pelayan tidak menutupi raut terkejutnya, pekerjaan mereka juga terhenti saat melihat Idaline yang digendong Hayan dengan gaya pengantin.
Entah takjub pada kedekatan mereka atau justru terkejut karena melihat mayat kembali hidup.
Hayan memasuki tempat Idaline yang masih sama di mata Idaline sejak ia tinggalkan untuk pergi ke markas musuh. Pelan Hayan turunkan Idaline ke kursi rias di dalam kamar.
"Murid Petapa Agung memang luar biasa," puji Hayan lalu pergi mengambil air sambil mengusap air matanya.
"Terima kasih," Idaline minum dengan kikuk karena ditatap sangat dalam oleh Hayan tanpa berkedip. "Batu segelnya aku berikan pada Petapa Ag–"
Hayan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Idaline. "Jangan pikirkan hal lain dan istirahatlah," Ia melepaskan aksesoris Idaline lalu membaringkan Idaline ke atas kasur.
••••••••••••••••••••
"Guru, aku bawakan makanan.." Hayan terhenti di depan kamar Idaline.
Idaline membeku. Kedua tangannya sedang mengeringkan rambut dan kakinya terjulur membuka lemari, tubuhnya hanya dililit sebuah handuk. Melihat Hayan masuk sontak ia melemparkan handuk di tangannya. "KELUAR!" teriaknya pada Hayan yang bergeming.
Hayan mengambil handuk yang mendarat di wajahnya kemudian ia tutup pintu kamar Idaline. "Guru..?" panggilnya memastikan Idaline baik-baik saja. Gadis itu baru bangkit dari kematian dan sudah menggerakkan badannya dengan sembarangan.
"Jangan dibuka!" seru Idaline dari dalam kamar.
Hayan berdiri dengan patuh di depan pintu. "Kenapa kalian tidak membantu?" Ia menatap tajam dayang yang berdiri jauh di belakangnya.
Para dayang saling bersitatap di ujung ekor mata mereka, satu sama lain saling menyuruh rekannya untuk mewakili berbicara.
"Mohon maaf Yang Mulia Yuwaraja. Yang Mulia Raden Ajeng tidak ingin dilayani ketika mandi dan berganti pakaian," kata seorang dayang sebelum Hayan semakin marah.
Semua orang menunduk bermandikan keringat merasakan atsmofir dingin dari punggung Hayan. Mereka bernapas lega saat Idaline membuka sedikit pintu.
"Masuklah," Idaline mengintip dari celah pintu dan mendapati banyak orang. "Kamu saja," tunjuk Idaline pada Hayan, ia menggarakkan tangannya mengusir para dayang. Tanpa suara mereka semua pergi dari rumah Idaline.
"Melayani Yang Mulia Raden Ajeng memang menyenangkan namun pawangnya menyeramkan," bisik salah satu dayang kemudian dipukul rekannya.
"Hati-hati kalo ga mau dipenggal," kata rekannya.
"Kalau kesusahan mintalah bantuan dayang," Hayan meletakkan nampan di atas meja dan memberikan gelas pada Idaline.
"Aku tidak kesusahan, malah menyenangkan seperti itu. Dan lagi aku benci tubuhku dipegang dan dilihat banyak orang," Idaline merasa pahit hanya dengan melihat isi gelas di tangannya. Mencapit hidung dengan jempol dan telunjuk, Idaline minum dalam sekali tenggak.
Hayan mengambil gelas yang disodorkan Idaline. Ia tersenyum kecil melihat gadis itu kepahitan. "Guru selalu membuat kejutan," Ia meletakkan gelas ke nampan dan memberikan gelas lain lalu mengambil mangkuk. "Buka mulutmu," Sendok berisi bubur berhenti di depan mulut Idaline. Gadis itu membuka mulutnya dan memakan bubur putih tanpa bumbu apa pun.
"Aku saja," pinta Idaline setelah menelan sendokkan pertamanya.
"Ini," Hayan menyodorkan mangkuk bubur namun nampan yang dibawa Hayan mencuri perhatian Idaline.
__ADS_1
Idaline mengambil surat yang ia lihat berada di atas nampan. Ia tersenyum mengenali segel yang tertulis di amplop kemudian membukanya.
"Ternyata kamu masih ingat,"
"Guru?" panggil Hayan menyodorkan sendok kedua.
Idaline tidak bisa mengerjakan satu pekerjaan ringan saat fokus pada satu hal, ia tidak akan bisa diganggu meski tubuhnya digoyang-goyangkan. Hayan mendengus dan memasukkan bubur kembali ke mangkuk.
"Kenapa?" tanya Hayan melihat Idaline terus tersenyum dan membaca surat itu berulang kali menilik matanya bergerak dari atas ke bawah lalu diulanginya beberapa kali.
Setelah puas membaca, Idaline menatap Hayan yang berekspresi kesal. "Kamu tahu Kerajaan Daha yang bulan lalu menyerah?"
"Tentu,"
"Djahan akan berkunjung ke sana. Aku ingin ikut,"
Hayan semakin kesal. Hayan tidak memiliki masalah dengan orang nomor dua itu namun Hayan merasa kesal jika nama mahapatih meluncur keluar dari mulut Idaline, seperti sebuah nama panggilan yang spesial. Tidak ada yang berani menyebut nama mahapatih selain Idaline.
"Tidak boleh. Kamu masih lemah," ucap Hayan menolak permintaan Idaline.
"Tubuhku sudah kuat. Yuwaraja mohon berikan izin..ya?" Idaline menyatukan kedua tangannya dan menempelkannya di dagu.
"Tidak," tolak Hayan.
"Aku mohon," Idaline memberikan wajah memohon terbaiknya.
"Ti.dak," tegas Hayan memalingkan wajahnya.
"Saya mohon," Idaline menggoyangkan lengan Hayan.
"Ugh. Kenapa ingin ke sana?" tanya Hayan berusaha menghalau serangan imut Idaline. "Ternyata guru bisa imut juga,"
"Hm.. di sana ada sungai yang memiliki berbagai batuan indah. Di bawah sinar purnama akan terpantul cahaya yang indah, pas sekali Djahan akan sampai di sana ketika malam purnama,"
Idaline hanya beralasan, tidak mungkin ia katakan secara terang-terangan bahwa ia ingin pergi ke Daha untuk melihat secara langsung sebuah dongeng yang masih diceritakan masyarakat hingga berabad-abad kemudian.
Idaline ingin menjadi penonton yang menyaksikan dari jarak dekat. Matanya berbinar-binar membayangkan kisah itu.
"Guru bisa pergi saat pesta perayaan perubahan Kerajaan Daha menjadi Nagara setelah ibunda meresmikan Bhumi beberapa bulan ke depan," kata Hayan menganjurkan waktu terbaik.
Di waktu itu Daha pasti akan membuat pesta besar yang mewah dan indah, jalan-jalan akan dihias dan sungai yang disebutkan Idaline akan jadi kebanggaan besar Daha, mereka tidak akan lupa memperkenalkannya. Dan keamanan pun pasti sangat ketat jadi bisa dengan tenang berkunjung.
Berbeda dengan kunjungan kerja yang akan dilakukan mahapatih, semuanya hanya akan fokus pada keselamatan sang utusan ratu itu.
"Ibu Ratu sangat fokus pada Wengker, entah kapan selesai merebut Wukir Mahendra," gerutu Idaline.
Peperangan besar itu belum selesai sampai lima tahun berjalan, kadang Kerajaan Maja menguasai setengah Wukir Mahendra. Kadang Kerajaan Wengker membalas sampai menguasai perbatasan.
"Kejahatan besar meremehkan keputusan ratu," Hayan menelisik manik Idaline menyalurkan ketakutan ke sana. Idaline menaikkan alisnya melihat wajah lucu Hayan yang melotot padanya.
"Iya. Iya. Aku akan menerima hukuman, setelah kembali dari Daha," keukeuh Idaline tidak merubah keputusan.
Hayan menghela napas. Idaline sangat keras kepala. "Aku izinkan,"
"Yeah. Makasih,"
"Hukumannya tidak perlu dipikirkan," kata Hayan memperhatikan Idaline membuka portal. Gadis itu sangat tidak takut mati menunjukkan keahlian tinggi pada orang berkedudukan tinggi.
Jika Hayan adalah orang lain, mungkin Idaline akan mati karena menunjukkan keahlian yang luar biasa.
"Kalau begitu sampai jumpa," Idaline berlari masuk ke dalam portal.
"Tunggu! Setidaknya minumlah dahulu," Hayan menarik tangannya yang mengambang di udara. Ia menjetikkan tangannya, sosok pria dengan pakaian serba hitam muncul bersimpuh hormat di samping Hayan. "Pergilah ke Daha. Laporkan setiap yang terjadi, bila perlu hitunglah langkah kakinya ke mana dia pergi,"
"Baik, Yang Mulia,"
"Apa kamu sangat senang pergi ke Daha atau karena bertemu mahapatih?" gumam Hayan dengan dada bergemuruh.
••••••••••••••••••••
"Djahan!"
Djahan yang sedang menulis berkas terkejut melihat Idaline muncul dari portal. Bergegas ia berlari menangkap pinggang Idaline. "Bahaya sekali!" marahnya.
Idaline mengusap dahi Djahan yang mengerut, lelaki itu menghela napas kemudian menurunkan Idaline.
"Aku sudah siap pergi ke Daha," kata Idaline bersemangat.
"Beristirahatlah dahulu. Aku masih ada pekerjaan," Djahan menjatuhkan tubuhnya kembali ke kursi dan meraih berkas yang tergeletak di meja.
"Mau kubantu?" tawar Idaline.
"Tidak perlu," Djahan melanjutkan tulisannya, Idaline memakan camilan. "Kamu tidak ingin tahu alasan pergi ke sana?" tanya Djahan masih menulis.
"Menyelamatkan putrinya kan?" Idaline mengelap tangannya lalu membantu Djahan membereskan berkas.
Djahan menaikkan alisnya tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya pada Idaline yang sedang memasukkan barang ke cincin.
"Aku penasaran sekali," Idaline tersenyum lebar tidak mendengar pertanyaan Djahan. "Pejamkan matamu," Idaline menggenggam tangan Djahan lalu berjalan memasuki portal.
__ADS_1
"Yang Mulia, kami bagaimana?" keluh ksatria tidak dapat memasuki portal. Portal itu tertutup ketika mereka berlari menuju ke sana.
"Jangan ngeluh terus. Ayo kita juga berangkat," tegur kepala tim yang ditunjuk Djahan.
Cahaya terang menusuk matanya, perlahan Djahan membuka kedua matanya tampak Idaline sedang membasuh wajah di sungai.
"Kamu indah sekali," gumam Idaline pada cahaya emas dari dalam sungai. Ia bangkit saat bayangan Djahan mendekatinya. "Kita berjalan melawan arus selama dua jam dan akan sampai di Daha,"
"Ayo," Djahan dan Idaline berjalan beriringan hingga sampai di Kerajaan Daha.
Djahan banyak mendengarkan celotehan Idaline, selalu seperti itu jika mereka tak sengaja berjumpa di sebuah daerah. Djahan yang melakukan diplomasi atau pekerjaan dan Idaline yang sedang mampir bersama Petapa Agung dan Ekata Ekadanta.
Sungguh suatu kebetulan di setiap bulan ada saja hari mereka bertemu, baru saat satu tahun terakhir mereka dalam keadaan sibuk dan tidak sempat berjumpa karena tempat yang mereka kunjungi selalu berbeda.
"Selamat datang Sang Mahapatih dan..," Kerta, mantan raja Daha menyipitkan matanya, berusaha mengingat orang yang berdiri di samping Mahapatih Kerajaan Maja.
"Oh. Maafkan hamba tidak mengenali, selamat datang Yang Mulia Raden Ajeng," sambutnya mengingat pesta kedewasaan Hayan kala ia masih menjadi seorang raja.
"Tidak perlu sungkan. Berdirilah yang tegap," ucap Idaline pada orang-orang yang bersimpuh di depannya.
"Terima kasih Yang Mulia. Silakan," Kerta mempersilakan Djahan dan Idaline masuk.
Idaline menyantap hidangannya tanpa ragu. Kemudian Idaline pergi bersama istri dan selir Kerta, berbincang dan memakan camilan. Sedangkan Djahan pergi memeriksa prajurit-prajurit Daha yang dijanjikan ketika menyerahkan diri.
Idaline menguap lebar-lebar setelah pintu kamar tertutup. Perbincangan dengan para wanita selalu saja seputar kecantikan dan perhiasan.
"Mereka bodoh atau sedang mengejekku?" kesalnya, padahal Idaline memakai pakaian polos tanpa hiasan dengan bawahan celana seperti para lelaki.
"Yah kalau mereka pintar, bagaimana bisa termakan trik murahan? Putri istri sah mencuri perhiasan putri selir? Hahaha,"
Idaline menghentikan tawanya mengingat kesibukannya membantu Hayan terlebih ia telah mati dan dua kali membuka portal. Idaline bersiap melakukan tapaan untuk mengembalikan kekuatannya yang habis, bisa gawat jika tidak dilakukan secepatnya, dirinya akan cacat dan tidak akan lagi bisa menggunakan tapaan.
Hari telah berganti saat Idaline membuka mata dari petapaan. Idaline bersiap dengan semangat untuk bertemu para pemeran utama. Karena datang mendadak, baru ayah dari protagonis dan antagonis yang ia temukan.
Para dayang yang bertugas melayani Idaline berjaga di luar diperintahkan untuk tidak mengganggunya hingga Idaline memanggil mereka.
Saat matahari semakin naik, salah satu dayang mencoba memberanikan diri mengetuk pintu kamar Idaline. Idaline yang telah bersiap membuka pintu dari tempatnya duduk.
"Yang Mulia, seluruh anggota telah menunggu di ruang makan," ucap dayang saat pintu kamar terbuka tanda Idaline memperbolehkannya masuk.
"Tunjukkan jalannya,"
"Ayahanda, kita tidak pernah terlambat sarapan. Tuan itu mungkin sudah pergi ke lapangan latihan," keluh Dewi Galuh, putri kedua Kerta dari seorang selir.
"Kamu lebih mempercayai putri yang tidak tahu tata krama seperti itu daripada putrimu yang lembut?!" Idaline tidak menyembunyikan wajah kesalnya.
"Yang–" Pengawal yang menjaga pintu menghentikan ucapannya ketika Idaline mengangkat tangannya. Ia menunduk takut merasakan aura kekesalan keluar dari Idaline.
"Selamat datang Yang Mulia Raden Ajeng.." canggung Kerta.
"Padahal aku bisa sarapan sendiri di kamar malah jadi merepotkan," sindir Idaline.
"Tidak. Tidak. Tidak merepotkan. Pelayan, cepat sajikan hidangan terbaik," Kerta menatap para dayang dan pelayan agar cepat membawa makanan.
"Tuan Mahapatih memasuki ruangan," ucap pengawal melihat kedatangan Djahan.
Djahan duduk di sebelah Idaline dan makan dengan tenang. Mereka yang fokus makan tidak menyahuti ucapan Kerta membuat dia dan keluarganya pusing tujuh keliling.
"Yang mulia, hamba memohon maaf bila ada yang tidak berkenan di hati Anda," Kerta dan istrinya meminta waktu untuk membicarakan hal serius pada Idaline dan Djahan.
Idaline tersenyum melihat bayangan di depan jendela. "Makanannya sangat enak sampai hanya terfokus padanya," pujinya. "Mungkin karena jalur perdagangan, banyak orang yang datang dari berbagai daerah jadi makanannya dibuat menyesuaikan lidah. Rasanya tidak kalah dengan di Trowu," ucapnya dalam hati sambil mengunyah kue kering.
"Hamba senang mendengarnya," Kerta menatap istrinya, perempuan itu mengelus tangannya sembari mengangguk dan tersenyum menenangkan.
"Katakanlah," ucap Idaline greget pada Kerta yang membuka lalu menutup mulutnya secara berulang.
"Hamba sangat berterima kasih pada Tuan Mahapatih yang menerima wilayah kecil ini,"
"Yang Mulia Ratu yang mengizinkan," sela Djahan.
"Hamba sangat bersyukur Yang Mulia Ratu mengizinkan," ucap Kerta.
"Beliau selalu bijaksana," timpal istri Kerta.
"Hamba memohon satu kebaikan lagi dari Anda untuk menemukan putri hamba yang hilang di kota," pinta Kerta dengan ragu.
Bagaimanapun sekarang ia hanyalah seorang bawahan, terlalu berlebihan bagi bawahan meminta tolong secara langsung.
Seharusnya melewati segala prosedur yang ada. Tapi Kerta tidak peduli, putrinya telah hilang dan Kerta tidak bisa menunggu.
Djahan melirik Idaline, permintaan Kerta persis seperti ucapan Idaline padahal Djahan hanya ditugaskan mengambil pasukan Kerajaan Daha dan melatih mereka sebelum memasuki istana kemudian mengganti prajurit baru di daerah Daha untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
"Pasukanku sampai tadi malam. Setelah berlatih bersama, kita serahkan tugas mencari putrimu pada mereka," balas Djahan harus menunjukkan kebaikan pada rekan barunya. Sebenarnya Djahan tidak suka pada orang yang memanfaatkan keadaan, mentang-mentang dirinya berada di sana.
"Terima kasih banyak tuan," Kerta dan istrinya bersimpuh di samping Djahan, akhirnya putri mereka yang hilang belasan pekan lalu akan ditemukan.
"Sekarang kamu sudah bergabung dengan Kerajaan Maja, jangan sungkan mengatakan kesulitan,"
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | 24 Agustus 2021