![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Santai saja. Sambalnya sudah kubuat, cobalah," Idaline mencolek sambal dengan timun, menyuapkannya pada Jaka. Dia menyeringai pada Nawang di belakang punggung Jaka, Nawang menaikkan alisnya melihat interaksi mereka.
"Kamu akan membuat anak orang jatuh pingsan," bisik Dina.
"Su..sudah pas," pipi Jaka memerah.
"Oh..oke," canggung Idaline. "Bilang saja kalau kurang pedas, soalnya aku suka manis,"
"Sudah pas," ulang Jaka dengan tegas.
"Kenapa Nawang terlihat tak peduli?" tanya Idaline pada Dina.
"Tidak peduli? Padahal dia sudah menghilang dari sana dan tunggulnya terbelah menjadi tiga bagian," Dina melirik batang pohon yang digunakan sebagai alas untuk membelah kayu-kayu bakar.
"Hahaha,"
Jaka menatap aneh Idaline yang tiba-tiba tertawa.
"Jaka, katakan. Kamu ingin kembali?"
"Te-tentu saja. Aku masih punya ibu dan satu adik,"
"Bagaimana dengan Nawang?"
"Aku tidak tahu. Ini adalah kali pertama ada orang yang benar-benar memahamiku. Teman-temanku tidak jahat, mereka hanya tidak ingin tahu. Di depan adikku, aku harus kuat. Nyatanya aku hanyalah anak lemah yang tidak pandai apapun,"
"Posisimu sekarang belum tentu orang lain dapat melakukan sebaikmu. Tidak pandai dalam beberapa hal adalah wajar, manusia memiliki sisi uniknya sendiri," Untuk Udelia, Idaline berharap overthingking dirinya hilang jadi bisa bebas mengekspresikan sesuatu dan tidak membuat orang salah memahami maksud dari tiap tindakannya.
"Sepertinya aku serakah ingin bisa melakukan segala hal,"
"Itu bukan hal tidak mungkin. Selama tidak melakukan kejahatan, segala hal patut dicoba," Idaline berdiri membersihkan pakaiannya. "Cobalah atau kau akan menyesal karena tidak pernah mencoba,"
"Berbicara seperti itu tapi sendirinya lari," sindir Dina.
"Aku mendengarmu,"
"Satu lagi orang yang ingin lari," Dina menatap orang yang menghalangi jalan Idaline.
"Nona, katakan di mana para kangmasku?" Nawang yang memakai selendang mengubah rambut dan matanya menjadi merah. Pakainnya yang lusuh pun menjadi bercahaya.
"Kenapa terburu-buru sekali?"
"Dadaku sangat sakit. Sepertinya aku terlalu lama meninggalkan khayangan,"
Idaline dan Dina saling berpandangan, mereka lalu tertawa bersama.
"Nona Nawang, apa dengan kembali dadamu akan kembali sehat?" tanya Idaline.
"Itu..bukannya harus seperti itu?"
"Aduh polos sekali. Padahal dia terlihat gagah saat memotong kayu," komentar Dina.
"Nawang!" panggil Jaka dengan peluh keringat di dahinya. Ia menghentikan langkahnya melihat Nawang memakai selendang bidadari.
Tiba-tiba air mata Nawang bercucuran, tak terbendung. "Kenapa rasanya sangat sakit?" gumamnya memegang dada. Idaline dan Dina menatap tajam Jaka yang ragu-ragu.
Jaka mengepalkan tangannya yang gemetar. "Ja..ngan.. me.nangis. Aku tidak kuat melihatmu menangis," ucapnya turut tersedu-sedu.
"Kenapa dia ikut menangis?" Dina menatap aneh Jaka. Bagi Dina, Jaka lebih aneh dari para pria yang mewarnai rambut dan matanya.
Idaline mengedikkan bahunya. "Tidak tahu,"
"Huwaaaa,"
"(Oh my,)" Idaline berjalan mundur memperhatikan Jaka dan Nawang dari jauh. Dua pasang orang berbeda jenis itu saling membahasi bahu satu sama lain.
"Bodoh, jangan menangis," Nawang mengusap air mata Jaka.
"A..aku memang bodoh tidak menyadari perasaan yang sangat jelas," Jaka menatap Nawang dalam-dalam. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Aku membayangkan kehampaan hidup tanpa dirimu,"
"Aku juga..aku.. men.cintaimu," ucap Nawang terbata. "Aku juga mencintaimu," ulangnya. Wajah Nawang berona merah.
Lalu Jaka memiringkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Nawang.
••••••••••••••••••••
"Kuulangi lagi, di sini tidak ada Idaline," Fusena menatap lurus Djahan dari tempat petapaannya.
"Kalau begitu untuk apa saya kemari?"
"Kamu yang bilang ingin berjumpa denganku. Ruru akhirnya membawamu dan kehilangan jejak Idaline," kesal Fusena.
Ia memberikan batu permintaan pada Djahan sebagai penghargaan karena Djahan membuat Idaline nyaman selama perjalanan mereka hingga Idaline terbiasa bepergian. Tetapi lelaki itu malah menggunakan batu permintaan untuk bertemu Petapa Agung yang ternyata hanya ingin bertanya perihal keberadaan Idaline.
"Itu kan saya kira dia kembali ke sisi gurunya,"
"Kalau tidak ada hal lain, Ruru akan mengantarmu pulang," ucap Fusena. Ruru pun muncul di depan goa. "Dan Djahan Mada, Idaline memiliki prinsip yang kuat. Baginya kesetaraan umur harus diperhatikan oleh tiap pasangan,"
"Aku akan mengubah pola pikirnya," tegas Djahan menaiki burung garuda.
"Begitu membuat batas, dia tidak akan melewatinya meski bencana menerjang. Kalau tidak, sudah terhapus batas itu sejak lama," gumam Fusena menerawang Idaline yang nyaman tidur di dekapannya. Padahal Idaline sangat peka tetapi Idaline tetap memandang Fusena sebagai seorang saudara.
__ADS_1
Sementara itu Idaline menatap kesal Jaka dan Nawang yang saling suap-menyuap di depannya.
"Perhatikan lajang di sini,"
"Padahal kamu ada teman ngobrol," ucap Nawang melirik Dina yang turut duduk di bangku yang terlihat kosong di mata Jaka.
"Sayang, di bibirmu ada sambal," Jaka menjilat sambal di sudut bibir Nawang, gadis itu membalasnya lalu mereka berciuman.
"Tidak usah mengundangku kalau kalian ingin bermesraan!" Idaline menghentakkan kakinya keluar dari kediaman Jaka. Ia berlari kecil mendengar detingan alat masak dari dapur nenek.
"Ya ampun ternyata hidupku sangat tidak berarti. Sudah setua ini masih belum menikah," keluh Dina berurai air mata.
"Aku lupa kamu ini berbeda tujuh tahun denganku,"
"Tidak usah diperjelas!" kesal Dina. "Cukup perlakukan aku seperti biasa," Dina menatap tangannya yang semakin memudar. "Aku tidak punya banyak teman. Kalau bukan aku yang menghindar, mereka sendiri yang menghindar karena kelakuan anehku. Mereka cukup baik tidak meninggalkanku di sekolah dan saat-saat mengerjakan tugas bersama,"
"Aku tidak pernah bilang pada orang kalau aku bisa melihat hal-hal itu. Beberapa yang sadar tidak peduli," ucap Idaline menjawab tatapan bertanya Dina.
"Aku sih bersyukur jadi bisa fokus pada ilmu yang diajarkan mbah,"
"Semua baik-baik saja. Kami berteman seperti biasa walau tidak menghabiskan banyak waktu luang bersama. Sampai pada hari-hari terakhir ujian, aku membentak anak populer. Semuanya menyalahkanku tanpa mau tau kejadiannya. Yah aku tidak peduli," ujar Idaline dengan tatapan sedih.
Hari itu si anak populer selalu bertanya hal-hal remeh secara berulang padahal Udelia sedang menghafal rumus dan mengerjakan banyak soal untuk mengikuti lomba antar kabupaten yang diadakan tepat sehari setelah ujian.
Tanpa sadar Udelia membentaknya menyuruhnya diam tetapi anak populer itu malah menangis kencang mengundang anak-anak berkerumun ke meja Udelia. Dengan dramatis anak populer itu berlari ke luar ruangan dan menangis di undakan tangga.
Si wanita cantik yang terkenal kalem dan lemah lembut itu berkata dia hanya bertanya satu soal. Teman-teman kelasnya yang tahu anak itu sedikit lemot pada pelajaran tersebut, menghakimi Udelia tanpa bertanya sudut pandangnya.
Udelia tak mendapatkan teman untuk kerja kelompok hingga tidak ada teman dalam foto kelulusannya. Entah berita apa yang tersebar di belakangnya sampai mereka memusuhi Udelia hingga satu tahun lamanya.
"Bagi mereka anak populer adalah lambang kebenaran," Dina mengangguk-ngangguk membenarkan perkataannya sendiri.
"Haha," Idaline tertawa hampa. "Dua kali reuni sudah cukup membuktikan mereka tak lagi mau berteman denganku. Terlebih tidak ada yang bertanya kabar setelah aku dikeluarkan oleh si anak populer dari semua grup kelas dan angkatan. Untuk apa aku tetap di sana?"
"Bahagia akan datang tak lama," harap Dina sebelum menghilang.
"Ya ampun nak, kamu kenapa?" tanya nenek rumah melihat Idaline masuk ke dapur dengan air mata berurai.
Idaline memeluk erat nenek yang sedang memotong sayuran.
"Hati-hati," ucap nenek menaruh pisau.
"Aku kangen ibu dan ayah," Idaline menangis sesenggukan.
"Cup. Cup. Cup. Orang yang dinanti pasti akan datang,"
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu diiringi panggilan pada nenek dan Idaline menggema hingga terdengar di dapur yang sibuk.
"Kami di belakang," sahut nenek.
"Nak Ida, huft huft," kepala desa muncul mengambil napas.
"Minumlah dulu pak kepala," nenek memberikan segelas air.
"Terima kasih nek," kepala desa duduk meminum air. "Nak Ida, ada pemuda mencarimu,"
"Oho~ Panjang umur," Idaline tersenyum lebar. Pelipur laranya telah datang.
"Pergilah, nak," ucap nenek.
"Tunjukkan jalannya,"
"Ya?" spontan kepala desa. Sekilas ia merasa tekanan kuat dari Idaline.
"Ayo pak kepala," Idaline tersenyum ramah pada kepala desa.
"Oo..yaa ayo!" kepala desa berjalan di samping Idaline.
"Ugh," Idaline menatap kesal Nawang dan Jaka.
"Ida!" panggil kedua orang itu melambaikan tangannya.
Nawang mengantar Jaka yang akan pergi dengan rombongan.
"Hebat sekali bisa masuk ke desa ini," puji Idaline pada Djahan yang mendekat ke arahnya tak peduli bisik-bisik yang membicarakannya dan sapaan-sapaan orang yang lewat.
"Temanmu kaku sekali," ucap kepala desa yang tidak pernah Idaline lihat mengomentari orang lain.
"Haha begitu ya, pak?"
"Bener itu rekanmu? Bapak bawa ke sini karena dia bawa lukisanmu," ujar kepala desa. Lukisannya terlalu nyata dan sangat indah untuk dikatakan dari kalangan biasa. Kepala desa menatap Djahan yang berdiri tegap dengan keris di pinggangnya. "Terlebih warga yang pergi ke hutan melihat penampakan burung garuda," batin kepala desa melirik rekannya dan pria itu mengangguk mengerti tatapan kepala desa.
Jenis-jenis burung wajib diketahui warga desa sebagai penunjuk jalan yang penuh liku dan jebakan buatan para bidadari. Hampir semua jenis burung mereka tahu.
"Iya pak,"
"Idaline!" Djahan tersenyum hangat. Ia menarik tangannya yang mencoba membawa Idaline dalam pelukan. "Ayo pulang," ajaknya berdiri tegak di depan Idaline.
"Nenek membuat masakan. Ingin makan dahulu?" tawar Idaline tak enak karena nenek tempatnya menginap telah memasak banyak makanan.
__ADS_1
"Kami akan berangkat ketika matahari tepat berada di atas menyinari seluruh bagian hutan," ujar kepala desa agar kedua muda-mudi itu datang tepat waktu.
"Baik, pak," sahut Idaline.
"Waktu itu..maaf sudah membuatmu tak nyaman," Djahan berjalanan di samping Idaline.
"Aku yang berlebihan," Idaline mendahului Djahan ketika rumah nenek telah terlihat. "Nek, temanku datang,"
"Suruh duduk. Makanannya sebentar lagi siap,"
Idaline melihat Djahan duduk dengan tenang di ruang tamu lalu kembali membantu nenek. Djahan mengikuti Idaline memasuki ruangan panas itu. Djahan sudah terbiasa tetapi ia memandang sedih tangan Idaline yang kemerahan karena memegang kendil yang panas.
"Aku saja," Djahan membawa mangkuk besar berisi sup setelah Idaline menuang isi kendil. Idaline dan nenek membawa makanan yang tersisa.
"Jadi kamu adalah..?" tanya nenek di tengah keheningan makan.
"Saya datang menjemput Idaline,"
"Dia calon suami saya," koreksi Idaline kembali makan dengan tenang. Telinganya memerah dan tatapannya terus menghindar dari dua orang yang menatapnya tak percaya.
Mereka kembali dalam keheningan hingga selesai makan. Idaline buru-buru membawa peralatan kotor dan mencucinya.
"Jangan kotori tanganmu," Djahan menaruh sup yang tersisa, mereka makan sedikit karena suasana yang tegang. Nenek merasa tertekan dengan aura yang dikeluarkan Djahan, Idaline ingin menenggelamkan dirinya ke bumi, dan Djahan merasa kaku mendengar ucapan Idaline.
"Kamu kembalilah ke ruang tamu kalau tidak ingin membantu," usir Idaline pada Djahan yang menyuruhnya berhenti.
"(Pakeet)"
"Indro, perhatikan ucapanmu, ada tamu di sini!" omel nenek. "Anak itu kadang berbicara bahasa aneh. Mungkin bidadari penjaganya yang mengajarinya," gumamnya menghangatkan sup.
"Bidadari penjaga?" tanya Idaline.
"Ah," Nenek menutup mulutnya merasa keceplosan. Setiap warga desa di desa Telogo ditemani bidadari penjaga sebelum memasuki usia dua puluh tahun.
"Nenek bagaimana kabarmu?" Indro membawa bingkisan besar. "Oh ada tamu," Indro meletakkan barangnya di lantai. Ia bersimpuh, memegang tangan Idaline lalu mencium punggung tangannya. "Bolehkah saya bertanya nama nona yang jelita ini?"
Idaline menarik tangannya, Indro membatu. "(Jangan kurang ajar)," ucap Idaline memperingati.
Indro tersenyum. "Saya jadi makin penasaran," godanya.
Idaline menatap kesal Indro yang terus menatapnya penuh godaan.
"Nak Ida, ini adalah Indra anak nenek dan ini Indro cucu nenek. Indra," tunjuk nenek pada pria yang membawa sayu-sayuran. "Indro, ini nak Ida, gadis dari desa yang jauh, kemarin lusa ditemukan kepala desa sedang tersesat,"
"Halo om salam kenal," Idaline sedikit menganggukkan kepalanya.
"Iya. Terima kasih nak Ida sudah menjaga nenek," Indra ikut menganggukkan kepalanya.
"Karena kalian sudah selesai pembagian hasilnya, bukankah sekarang waktunya rombongan lain berangkat?" tanya nenek.
"Iya, bu." jawab Indra.
"Nak Ida, barang-barangmu sudah nenek siapkan di kamar. Cepat nanti ketinggalan rombongan,"
"Nenek, terima kasih," Idaline memeluk nenek. "Semoga keluarga nenek selalu dipermudah segala urusan,"
"Aamiin. Baik-baiklah nak," nenek menepuk pundak Idaline.
"Aku bawa," ucap Indro membawa barang-barang Idaline.
"Nek, aku pergi," Idaline melambaikan tangan pada nenek dan Indra. Ia tidak membantah Indro karena rombongan sudah berangsur-angsur keluar dari rumah kepala desa.
"Berikan padaku," Djahan mengulurkan tangannya. Indro yang merinding ditatap dengan dingin menyerahkannya tanpa bisa membantah.
"Pakailah ini kalau kamu ada masalah," Idaline memberikan batu pada Indro yang masih membeku ketakutan.
"Ayo cepat!" teriak salah satu rombongan.
"Dina, kamu tertidur? Kenapa diam saja?" Idaline merasa aneh karena ia tidak dapat melihat Dina dan gadis itu tidak menggodanya saat ia berbicara dengan sangat berani. Wajah Idaline memerah mengingat ucapannya sendiri.
"Sebenarnya, mungkin aku harus kembali. Kekuatanku semakin pudar," ucap Dina di kepala Idaline.
"Ah," raut wajah Idaline menjadi muram. "Aku akan kembali sebentar lagi,"
"Akan kusampaikan pada keluargamu,"
"Tidak perlu. Tolong pastikan saja semuanya baik-baik saja,"
"Baiklah. Sampai berjumpa lagi, Udelia."
"Hati-hati,"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 30 Agustus 2021
Terima kasih sudah membaca sampai bab ini
dukung terus author yaa dengan like dan komen
Sehat selalu semua
__ADS_1
Love, Al-Fa4