![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Kami akan pergi." pamit Fusena menggendong tas kain di bawah langit senja.
"Bagaimana kita bertemu lagi?" tanya Idaline memajukan bibirnya merengut. Fusena melarangnya ikut berkelana.
"Aku akan ke istana pada malam pergantian tahun." jawab Fusena menarik dua pipi Idaline bersamaan hingga bibirnya melengkung terbentuk senyuman.
"Ke Janapada saja," timpal Idaline balas mencubit pipi Fusena. "Tulang semua," gumamnya memegang pipi tirus Fusena.
"Baiklah. Ingatlah pesanku selalu," pesan Fusena mengusap pipi Idaline.
"Iya," Idaline dan Fusena mengangguk bersamaan. "Pfft," tawa mereka berpelukan.
Ekata menepuk bahu Candra menyadarkannya dari lamunan. Lalu ia menunduk memeluk adiknya sambil mengelus punggung pria yang setinggi perutnya itu. "Sehatlah selalu. Jaga ayahanda ibunda juga yang lainnya."
"Kakanda juga,"
"Hati-hati di jalan," Idaline melambaikan tangan dengan semangat.
"Kita kembali, kak?" tanya Candra ketika dua pria dewasa itu hilang dari pandangan mereka. Bibir yang sedikit terbuka ia tutup rapat-rapat menunggu waktu yang tepat.
Candra alihkan rasa penasarannya ke masalah lain yang perlu ia urus; pewaris keluarga.
Namun bukannya hilang, pertanyaan tentang hubungan Idaline dan Petapa Agung semakin menjadi. "Kalau saja dekat, bukankah bisa menyembuhkan kutukanku?" tanyanya dalam hati.
Petapa Agung bukanlah orang yang bisa ia mintakan pertolongan bahkan bila kakandanya adalah murid Petapa Agung.
Orang yang tak berbatas wilayah itu mempunyai banyak hal yang perlu diurus, tak bisa dengan khusus memperhatikan satu orang. Oleh karena itu belum pernah ia mengangkat murid selain Ekata. "Entah bagaimana kakanda melakukannya," batin Candra terkagum.
Petapa Agung bukanlah anti sosial, ia ramah pada semua orang. Namun seolah berada di titik puncak kerucut, tak butuh seorang pun menemaninya.
Para penguasa perlu usaha keras untuk mengundangnya hadir dalam upacara. Apalagi pertemuan pribadi, hanya hitungan jari penguasa yang pernah duduk berdua dengannya.
"Aku ingin menonton pertandingan dulu," jawab Idaline menyadarkan Candra. Tangannya telah ditarik gadis itu menuruni bukit.
"Kami menyiapkan meja dan kursi untuk Anda berdua di atas agar mudah melihat." sambut pemuda melihat kedatangan mereka.
"Terima kasih," Idaline semakin menyukai privilege yang ada di tangannya.
Mereka naik ke tanah yang lebih tinggi di samping persimpangan yang mengarah ke desa Gulet.
Pertandingan dimulai dari 10 besar tiap desa dengan urutan acak. Kemenangan ditentukan apabila salah satu pihak berhasil menjatuhkan lawannya ke luar panggung, jatuh ke tanah.
"Bagaimana kalau babak pertama dengan tangan kosong, babak kedua dengan satu senjata, dan babak terakhir baru menggunakan sihir ataupun kanuragan yang dipelajari?" usul Idaline ingin meminimalisir kerugian. Tidak seperti Butala dan Bentala, perang tiga desa memakan korban nyata. Dendam dan kebencian tersirat dari tatapan mereka satu sama lain.
Kepala desa Gelut dan Gulat mengangguk setuju. "Lakukan seperti itu," ucap kepala desa Gelut mewakili.
"Tidak. Anak-anakku semuanya pandai memakai sihir. Lagipula pertarungan yang sesungguhnya lebih mudah menggunakan sihir,"
Idaline tersenyum menanggapi perkataan kepala desa Gulet. "Pertarungan sesungguhnya akan dimenangkan oleh penyergapan sekuat apapun seseorang. Dan di luar sana ada banyak orang yang dapat membuat kita tidak bisa mengeluarkan sihir,"
"Tidak bisa mengeluarkan sihir?"
"Benar. Dunia sudah berkembang, banyak cara supaya lawan tidak bisa menggunakan sihir. Maka dari itu kita harus belajar pertarungan menggunakan otot dan juga jarak dekat. Penyergapan yang aku katakan biasanya menyerang orang dari dekat," jelas Idaline. Pertemuannya dengan Fusena membuat batinnya tenang. Ia bolehkan bersenang-senang sedikit? Seperti menikmati camilan sambil menonton pertandingan.
"Kepala desa tenang saja, kami tidak akan kalah semudah itu," celetuk pemuda desa Gulet di barisan petarung. Teman-temannya mengangguk setuju. "Benar, kepala desa." sahut mereka.
"Anak-anak ini," kepala desa Gulet menghela napasnya. "Lakukan seperti itu,"
"Kita akan mulai pertarungan ini. Dengan peraturan, babak pertama berisi 30 orang menggunakan tangan kosong, babak kedua tersisa 15 orang menggunakan satu senjata tumpul, dan babak terakhir yang merupakan 6 besar menggunakan sihir maupun kanuragan. Lalu penentuan peringkat 1, 2, dan 3 akan disediakan berbagai senjata tajam yang juga boleh diisi batu sihir," papar pembawa acara, seorang pemuda yang keadilannya diakui seluruh desa.
"Seorang anak pelacur yang lupa meminum obat lalu diangkat menjadi murid tetua desa Kulak. Pekerjaannya adalah berdagang. Dia menerima semua barang dagangan dan pesanan orang-orang tanpa memandang status dan asalnya. Meskipun desanya sedang ditekan desa lain, ia tetap menerima barang dan pesanan. Melakukan perdagangan secara jujur, orang-orang pun percaya padanya bahwa tidak ada kepentingan di balik kebaikannya." Idaline mengamati postur tubuh yang berani menegakkan punggungnya di depan orang-orang penting. "Mungkin saja.." Idaline balas tersenyum pada pemuda yang menyadari tatapannya.
"Karena kami sulit menggunakan sihir dengan leluasa dan terbatas tiap penggunaannya, batu sihir dibuat untuk menyimpan energi jiwa ketika kami sedang bersantai. Energi dalam diri kami akan terisi ulang jika tidak menggunakan sihir," jelas kepala desa Gulet.
"Itu luar biasa," puji Idaline.
"Tapi kami masih memiliki banyak kesulitan. Batu-batu terbaik banyak yang gagal,"
"Aku tidak paham mengenai pengembangan seperti ini. Jika kalian mau, aku akan mencoba mengusulkan pada penyihir terbaik kerajaan Maja." Idaline menatap Candra yang duduk di sampingnya.
"Ini suatu kehormatan bagi kami. Tentu saja kami mau apalagi jika kita mampu menemukan akar permasalahannya dan menjadikan sihir lebih mudah digunakan."
"Karena kemarin terlalu rumit, saya belum memperkenalkan diri dengan benar. Nama saya Candra Ekadanta dari Kerajaan Maja."
"Anda dari keluarga Ekadanta?!" seru kepala desa Gulet sambil berdiri terkejut.
"Benar."
"Sebuah kehormatan bagi desa kecil kami kedatangan seseorang dari keluarga Ekadanta," sahut kepala desa Gulat meletakkan tangan di dada.
"Apakah Anda bersedia bekerja sama dengan desa kami untuk meneliti batu sihir?" tanya kepala desa Gulet dengan antusias menunjukkan batu sihirnya.
"Sebenarnya tidak ada yang salah dari batu-batu kalian, hanya saja ruang di dalamnya berbeda luasnya. Dengan begitu, yang mampu menampung sedikit, hasilnya tetap sedikit sebanyak apapun Anda masukkan energi ke dalamnya." Candra memandang sekilas tiap batu peserta dengan pupil merahnya.
"Wah kamu sangat tahu," ucap Idaline ikut berantusias.
"Saya pernah mendengar rumor bahwa alasan kerajaan Maja hampir seluruh ksatrianya menggunakan keris karena sudah diolah hingga bisa bersatu dengan sihir," kepala desa Gelut tiba-tiba muncul di samping kepala desa Gulet.
"Benar, jika keris kami mampu menyerap sihir maupun kanuragan ke seluruh bagiannya, maka batu ini akan menyimpan sihir di dalamnya. Semua batu yang dikumpulkan memiliki daya simpan tetapi yang berkualitas rendah tidak akan berguna di pertempuran. Dan karena kadang tidak fokus atau dinding batunya lebih tebal dari sihir yang tersisa, ini harus dikembangkan hingga sihir mudah dilepaskan,"
"Bagaimana dengan kanuragan?" tanya kepala desa Gelut.
"Sejauh ini batu hanya bisa menyimpan energi jiwa. Karena kanuragan menggunakan aura tubuh, akan sulit menyimpannya ke tempat lain."
"Kanuragan lebih mudah dipelajari, dikembangkan, dan tidak terbatas waktunya. Tetapi untuk menggunakannya kita harus fokus dengan berdiam diri. Mungkin jika antar pengguna kanuragan ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi, tapi dunia yang sebenarnya tidak seperti itu. Aku sangat mengkhawatirkan anak-anak desaku, sayang sekali batu pak tua ini tidak dapat digunakan,"
"Siapa yang pak tua? Kamu tidak sadar jenggotmu yang memutih itu?" marah kepala desa Gulet.
__ADS_1
"Pak tua, padahal aku ingin memborong batumu."
"Kamu tidak dengar penjelasan tuan muda? Batu ini sulit digunakan dan meski dikembangkan yang berhasil entah berapa banyak. Aku tidak akan memberikannya padamu,"
"Yah lagipula itu tidak berguna bagi penduduk desaku,"
Kepala desa Gelut dan Gulet beradu mulut sampai satu babak berlalu.
"Candra, kamu tidak bosan?" Idaline terkejut tidak melihat Candra di sebelahnya.
"Tuan muda sudah pergi," jawab kepala desa Gulet yang mengambil duduk di sebelah tempat duduk Candra.
"Anda sangat fokus hingga tidak menyadari tuan muda yang meminta izin," kepala desa Gelut menimpali.
"Pertarungannya sangat seru hingga tidak bisa mendengar sekitar," Idaline mendengar seluruh pembicaraan seputar batu kemudian fokus menonton pertandingan hingga selesai.
"Kami sangat senang Anda sekalian menyukainya. Tuan muda juga sepertinya penasaran dengan gaya bertarung kami,"
"Kerajaan Maja ksatrinya menggunakan keris dan tombak. Sedikit sekali menemukan seorang pemanah dan lainnya. Candra pasti ingin mempelajari beberapa trik. Semakin banyak ilmu, semakin kita berkembang." Idaline tersenyum. "Saya ingin pergi melihat dapur,"
"Saya antar, nona." cetus pemuda yang berdiri di belakang kursi Idaline.
"Semakin banyak ilmu, semakin kita berkembang ya.." gumam kepala desa Gelut.
"Benar,"
"Nah, lalu mengapa kita sangat bodoh terus bertarung tanpa alasan?" kepala desa Gulat berjalan menuju kursi kepala desa Gelut dan Gulet. "Bagaimana kalau kita sahkan perdamaiannya sekarang saja? Tidak usah menunggu pertarungan selesai," kepala desa Gulat tersenyum tulus.
"Tidak perlu terburu-buru. Toh kantor prajurit bayaran akan diberikan pada desa yang memenangkan pertandingan ini,"
"Benar ucapan kepala desa Gulet. Sabarlah kepala desa Gulat, besok pertandingan ini akan selesai," kepala desa Gelut tertawa sambil memukul ringan bahu kepala desa Gulat dan Gulet.
"Rasanya saya tidak bisa menunggu,"
••••••••••••••••••••
"Kak, aku ingin tinggal di sini selama beberapa bulan," ucap Candra ketika mereka sedang sarapan.
Idaline sebenarnya sangat takut melihat sengitnya pertarungan kemarin. Secara teori, penduduk desa tidak akan berani membantah bangsawan Maja apalagi melukainya. Tapi tetap bagaimana kalau mereka menggila ingin mengorek informasi Kerajaan Maja?
Idaline memijat keningnya. Matanya menangkap kantung jerami pemberian Fusena yang tergantung di dinding. Hatinya kembali tenang lalu ia membalas, "Baiklah. Jangan lupa kabari keluargamu,"
"Tentu. Kakak akan tinggal bersamaku kan?" Candra menatap penuh harap.
"Aku akan mencari bunga edelwies,"
"Ede-wes?"
"Ah, bunga abadi. Aku akan mencarinya di gunung Dieng,"
"Tidak perlu." tolak Idaline. "Gunungnya dekat, beberapa kilo saja dari sini. Kamu fokus latihan saja. Aku akan menemanimu setelah selesai,"
Masih ada beberapa bulan sampai pergantian tahun, Idaline bisa bersantai sambil menjaga adik barunya.
"Tuan muda, teman-teman Anda datang menjemput," Dien, anak perempuan kepala desa Gelut yang bertugas melayani mereka, masuk membereskan meja makan.
Candra memandang dingin perilakunya yang tak sopan. Ia kedipkan mata menghilangkan pupil merahnya. Tersenyum pada Idaline yang khawatir. "Kakak hati-hati di jalan,"
"Iya. Kamu berlatihlah dengan keras,"
Candra mengangguk lalu pergi keluar. Langkahnya pelan mengintimidasi semua yang melihatnya. Ekspresi tegas terukir di wajah Idaline, jangan sampai ada yang memandangnya rendah karena terus berwajah ramah.
"Orang-orang yang mengantar Anda sudah siap, nona." kata Dien menundukkan kepalanya.
"Terima kasih." balas Idaline berjalan di depan.
Idaline melihat tiga orang, satu remaja lelaki sedang bersandar di pohon, adapula yang berjongkok dan satu wanita yang berdiri tegak. Buru-buru mereka berkumpul melihat Dien muncul di belakang Idaline. Mereka tak tahu wajah tamu kehormatan.
"Ini Cokro peringkat keenam dalam pertandingan kemarin. Perempuan yang di tengah adalah Ami, meski kalah di babak pertama, dia ahli dalam serangan kejutan. Dan Noto pandai memasak," jelas Dien memperkenalkan.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia." mereka bersimpuh memberi hormat.
"Bangunlah, tidak perlu terlalu formal. Dan panggil seperti yang lain."
"Baik, nona. Terima kasih banyak."
"Nona, saya memiliki beberapa Condroso yang baru selesai dibuat semalam. Silahkan dipilih sebagai hadiah untuk nona," Dien memanggil pelayannya mendekat pada mereka
Condroso adalah tusuk konde yang berfungsi sebagai senjata. Satu tikamannya dapat membuat lubang dalam yang fatal terlebih bila posisi tusukan persis di titik vital.
Karena bentuknya yang polos, para bangsawan biasanya meletakkan Condroso di antara tusuk konde indah yang memikat mata.
"Terima kasih atas kebaikan nona," Idaline mengambil Condroso yang paling tipis. Menolak hadiah adalah perlakuan tidak hormat yang hanya dilakukan pada musuh.
"Kamu bawa apa?" tanya Idaline melihat bungkusan di gendongan Cokro, anak lelaki yang sebelumnya bersandar di pohon.
"Ini adalah senjata saya, Yang Mulia." jawab Cokro meletakkan bungkusannya.
"Tidak perlu dibuka," tahan Idaline saat Cokro melepaskan tali pengikatnya. "Kita berangkat sekarang," ajaknya menunggu Cokro mengikat kembali bungkusannya lalu berjalan bersama menuju kereta kuda.
"Kita memberinya sepenuh hati tetapi ia hanya mengambil yang terkecil," komentar Doen, adik Dien.
"Justru yang paling berharga diambil olehnya,"
"Tapi itu hanya perak. Sedangkan lainnya emas, kak."
"Yang berat hanya akan menyusahkan ketika digunakan,"
__ADS_1
"Huh?"
"Condroso tidak hanya digunakan untuk hiasan, adikku sayang." Dien mencubit pipi Doen dengan gemas.
••••••••••••••••••••
"Nona, hati-hati." Noto mengeluarkan Wedhung dari sarungnya. Seekor harimau putih tiba-tiba mendekati mereka yang sedang beristirahat.
Perjalanan berlalu cepat karena gesitnya kusir menghindari rintangan tanpa guncangan membuat penumpang merasa baru sebentar. Kini mereka sudah berada di kaki gunung, bersembunyi di balik semak belukar.
Cokro melepaskan sarung senjatanya lalu mengarahkan panah ke harimau yang terus mondar-mandir di depan mereka. "Berapa lama lagi, Mi?" tanyanya tak sabar.
"Crossbow?" gumam Idaline.
"Aku sudah membalurinya!" jawab Ami. "Tapi sepertinya harimau ini tidak menyerang," Ami meletakkan thulup di depan mulutnya mengawasi harimau yang bergerak ke kanan dan kiri, sesekali menggeram kecil.
"NONA!"
Idaline terbelalak saat tubuhnya terbang ke arah harimau. "to-TOLONG AKU!" teriaknya berusaha menangkap tangan yang menjulur ke arahnya.
"Ami, tembakkan anak thulupnya!" perintah Cokro di tengah kebingungan.
Idaline diam tidak bergerak saat harimau itu mengigit pakaiannya, rasanya ia akan terjatuh jika bergerak sedikit saja.
Harimau yang berkali-kali lebih besar daripada yang pernah Idaline lihat di kebun binatang, terus berlari tidak peduli banyaknya anak thulup menancap di keempat kakinya.
Idaline menatap kabur tiga orang yang terus berlari berusaha menggapai dirinya. Namun kencangnya harimau berlari tidak dapat didahului mereka. Wajah Idaline pucat pasi, ia menahan air matanya agar tidak bergerak.
Entah seberapa jauh harimau itu membawanya, langkah hewan buas itu berhenti di bawah pohon beringin dekat dengan lapangan luas.
"Akh," jerit Idaline saat wajahnya semakin mendekati tanah. "Eh?" ia tidak percaya diturunkan dengan baik.
Idaline mundur ke belakang berusaha menjauhi harimau putih raksasa yang membawanya. Tangannya yang bergetar hebat berusaha menjangkau Condroso yang ia sembunyikan di balik konde tebalnya.
"Aku tidak punya energi jiwa maupun aura tubuh bahkan dagingku masih sedikit, kenapa kamu membawaku??" ucap panjang Idaline saat harimau terus mendekatinya. Ia memejamkan mata ketika harimau itu melayangkan cakarnya, ia todongkan Condroso ke depan tak tahu mengenai si hewan atau tidak.
"Saya tidak akan menyakiti Anda,"
Idaline mengernyit merasakan punggungnya menyentuh tanah, ia membuka matanya saat bantalan empuk menyentuh punggung tangannya. Idaline menahan napas melihat wajah harimau tepat berada di depan mukanya.
"Saya tidak akan menyakiti Anda,"
Sebelumnya Idaline merasa ada yang berbicara padanya, matanya menyisir sekitar berharap dapat meminta bantuan.
"Saya yang berbicara,"
"Ka-kamu?" lirih Idaline tidak percaya.
"Benar,"
"Ah ya, aku di sini saja sungguh tidak mungkin,"
"Saya tidak akan menyakiti Anda," ulangnya ketiga kali.
"Ka-kalau begitu, bisa kau lepaskan cakarmu ini?"
"Tidak. Ini satu-satunya cara jika kita belum terhubung,"
"Aku tidak pernah mendengar hal seperti itu,"
"Tentu saja karena hanya Petapa Agung yang dapat berbicara pada kami tanpa mengikat kontrak. Dan Anda memiliki banyak aura tubuh dari orang itu, jadi saya ingin meminta bantuan untuk menyembuhkan anak saya." harimau putih itu memalingkan kepalanya membuat Idaline menengok penasaran. Terlihat harimau putih kecil terbaring lemah dengan pola tubuh berwarna ungu.
"Anakmu lucu sekali, berwarna ungu." kagum Idaline, si harimau menyorotinya dengan tatapan tajam.
"Garis pola kami seharusnya berwarna hitam. Anak saya bermain di tengah hutan lalu bertemu pemburu yang menyerang dengan racun. Saya terlambat menemuinya,"
"Tolong jangan mengeratkan tanganmu. Tanganku bisa patah," keluh Idaline, bantalan harimau tercetak di kulit putihnya.
"Maaf saya terlalu emosi. Ada banyak manusia yang seharusnya tidak kami dekati, Anda adalah salah satunya. Tapi di sisi lain Anda memiliki aura petapa agung, saya mohon bantuan Anda."
"Aku tidak bisa kalian dekati?"
"Ada beberapa jenis manusia yang seharusnya tidak kami dekati. Tapi yang paling mencolok adalah manusia yang memiliki lubang hitam di jantungnya, itu rasanya dapat menyerap kami ke tempat yang dalam. Bukan hanya binatang yang sudah berlatih yang dapat merasakan, hewan biasa pun akan menjauhi Anda karena aura hitam pekat itu,"
"Oh itu sebabnya nyamuk yang selalu menyukai aroma darahku sekarang tidak ada yang mendekat,"
"Saya tidak berharap banyak karena Anda belum berlatih apapun selain bela diri yang kasar,"
"Wah ucapanmu kasar sekali ya," potong Idaline.
"Saya hanya ingin Anda mau memberikan sedikit aura petapa agung ke dalam tubuh anak saya hingga dia bisa bertahan saat saya mencari tanaman yang dibutuhkan di lereng Buto. Saya berjanji hanya memerlukan waktu kurang dari 3 hari," lanjut harimau tak peduli tatapan sinis Idaline.
"Seperti katamu, aku tidak dapat diandalkan dalam bela diri, bagaimana aku akan melindungi dia selama 3 hari? Bahkan melindungi diri sendiri saja tidak mampu,"
"Saya sudah katakan tidak akan ada hewan lain yang berani mendekati Anda,"
"Bagaimana kalau manusia yang datang?"
"Ini.." ragu harimau kehilangan fokus sekitarnya.
Di kejauhan, sebuah bambu runcing dalam kegelapan mengarah pada mereka. Ketika bidikannya pas, senjata itu melesat dari sarangnya menuju target.
Idaline terbelalak melihat sasaran tembak bambu yang basah dengan cairan hitam. "HEI HENTIKAN!" teriaknya melihat peluru itu melaju ke arah anak harimau yang terbaring tak sadarkan diri.
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 02 Juli 2021
__ADS_1