TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
063 - HARUSNYA ITU ADALAH MILIKNYA


__ADS_3

"Arghh..sakit!" Idaline bersandar di sisi ranjang mencengkeram erat seprai yang menutupi kasur.


Dari luar dayang berduyun-duyun memasuki kamar utama begitu mendengar suara rintihan Idaline, dengan sigap sebagian mereka membantu Idaline naik ke atas kasur dan sebagian yang lain bergegas memanggil tabib keraton.


"Jangan buat keributan," ucap lemah Idaline sebelum tak sadarkan diri.


Ucapan Idaline tidak dilaksanakan para dayang karena mereka tidak menemukan tabib di tempatnya, berbagai variasi cerita tentang keberadaan sang tabib membuat mereka berpencar mencari pria renta itu dan menimbulkan pertanyaan dalam benak orang-orang yang melihat mereka.


Malam itu Hayan yang dijadwalkan berada di sisi lain keraton untuk berkumpul bersama para pria, berbalik haluan menuju tempat Idaline.


Tabib telah ditemukan di kaki gunung Sela Wukir ketika sedang mencari tanaman obat, ia digotong oleh para dayang lalu ditaruh di dalam gerobak yang terpasang pada dua kuda tercepat milik Kedaton Sedap Malam. Akibat kecilnya gerobak tersebut, goncangan gerobak membuat perut tabib bergejolak.


Ia menutup rapat-rapat mulutnya agar tidak muntah di jalan, bisa memalukan bila orang-orang mengetahui tabib besar Bhumi Maja muntah hanya karena hal kecil.


"Apakah airnya kurang panas?" tanya dayang memandang geram tabib yang tidak bergegas. Tabib membalas dengan tatapan kesal, ia letakkan gelas di tangannya lalu bangkit dari duduknya dan mulai memeriksa Idaline.


"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Maharaja," kata para dayang menyambut Hayan yang terburu-buru masuk ke kamar utama Kedaton Sedap Malam.


"Bagaimana keadaan Maharani?"


"Yang Mulia, ini.." Tabib berucap dengan ragu.


"Keluarlah," perintah Hayan mengerti maksud tabib membutuhkan privasi.


Dengan menggunakan lutut dayang-dayang keluar dari kamar utama. Kemudian mereka berjalan keluar dari rumah utama dan menunggu di halaman Kedaton Sedap Malam.


"Yang Mulia Maharani keguguran," ujar tabib bak petir di siang bolong.


Beberapa saat Hayan terdiam mencerna ucapan tabib. Pernyataan tabib sangat tidak masuk akal baginya. Tidak mungkin menikah baru beberapa hari sudah memiliki calon anak, terlebih Idaline sangat takut melakukannya, saat dahulu kala.


"Keguguran? Kehilangan anak? Mereka melakukannya secepat itu? Atau sudah sejak lama?" batin Hayan bertanya-tanya. Ia menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dua orang itu melakukan hal nista.


Hayan duduk di sisi kepala Idaline lalu mengusap lembut rambut perempuan itu. "Bagaimana keadaan Maharani?" ulang Hayan seolah tak mengindahkan sebuah nyawa baru saja hilang.


"Darah masih keluar, perlu dilakukan pembersihan untuk mengeluarkan semuanya. Penyebab keguguran Yang Mulia Maharani adalah kelelahan dan jeroan. Orang yang hamil muda dilarang memakan daging-dagingan apalagi jeroan dan nadi beliau seperti orang habis bepergian jauh," jelas tabib takut-takut. Tentu dia tahu maharani adalah istri orang lain.


Janin itu merupakan hasil hubungan sah, tabib jadi berbuat dosa dengan memikirkan hal-hal di luar batas tentang maharaja.


Apakah Maharaja memaksa Maharani menggugurkan anaknya?


Atau apakah Maharaja menghilangkan anak itu tanpa diketahui Maharani?

__ADS_1


Pertanyaan senada berputar di kepala tabib. Ia menundukkan kepalanya lebih dalam takut maharaja dapat membaca raut wajahnya.


"Pergilah buat persiapannya sekarang juga," titah Hayan mengibaskan tangannya.


"Baik, Yang Mulia." Tabib bergegas pergi dari ruangan. Dia termasuk orang yang paham perubahan suasana hati sang maharaja. Tabib tidak ingin menghabiskan masa tuanya dengan bersusah payah di tempat menyusahkan.


"Bersihkan," perintah Hayan pada salah seorang dayang saat berjalan keluar menuju Huna. Huna menunggu di halaman bersama dayang-dayang yang juga menunggu dengan perasaan cemas.


Dayang yang diperintahkan terkesiap di depan pintu. Rekan-rekannya yang heran mendekat dan ikut terkejut, kamar majikan mereka sudah tidak berbentuk seperti sebuah kamar. Semua barang-barang hancur lebur kecuali ranjang yang terdapat majikan mereka di sana. Pelan mereka alihkan barang-barang tak berbentuk itu dan menggantinya dengan yang baru.


"Panggil bhre Pejeng sekarang," titah Hayan pada Huna.


"Baik, Yang Mulia." Huna membungkuk lalu pergi menunggang kudanya.


Tak berselang lama Huna kembali membawa Netarja. Hayan masih berdiri di posisinya dengan para dayang masih bersujud di sekitarnya. Jika Idaline di sana Hayan pasti dinasihati untuk tidak menerima sujud dari orang lain.


Netarja tidak menutupi ekspresi kesalnya pada kakak semata wayangnya, sedikit banyak ia mengerti alasan sang pemilik bhumi memanggil dirinya. Netarja mengalihkan pandangannya ke arah pintu rumah Idaline yang tertutup. "Apa akhirnya Yang Mulia Maharani kabur?"


"Ada beberapa masalah. Bhre Pejeng pergilah temui para tamu wanita sebagai perwakilan Maharani. Sampai hari terakhir," tutur Hayan mengikuti arah pandang Netarja.


"Baik, Yang Mulia," jawab Netarja bersedia. "Kalau tidak ada hal lain, saya izin pergi," pamitnya langsung masuk ke dalam kereta tidak menunggu jawaban Hayan.


"Bhre, Anda.." tegur Huna tak tahu ingin berkata apa, adik kesayangan maharaja itu selama ini tidak pernah menunjukkan sikap tidak hormat pada kakandanya meskipun sedang dalam keadaan sakit keras. Setidaknya di mata para pejabat.


Suatu hari Netarja pernah hampir membunuh seorang dayang kediamannya hanya karena menjatuhkan air hingga mengenai jariknya, tanpa ragu Idaline menasihati kalau hari itu tanah memang sedang becek dan dayang itu terlihat sangat baru.


Setelah mendapat ampunan dayang tersebut berusaha menjadi lebih baik dan membuktikan dirinya sebagai dayang profesional dan setia di usianya yang terbilang muda.


Netarja memandang taman dari dalam kereta, ekspresinya mengeras membayangkan wajah sedih Idaline meski belum pernah sekali pun ia melihatnya.


"Saya tidak tahu apakah lebih baik beliau pergi atau tidak. Yang jelas, cara kakanda mungkin tidak akan dimaafkan seumur hidup!" geram Netarja.


"Bagaimana nanti akan membina bhumi ini? Tidak. Bagaimana nanti hubungan kalian?" tambah Netarja menatap Hayan yang diam tidak membalasnya. "Jalan," perintah Netarja pada kusir usai mengetuk dinding kereta.


••••••••••••••••••••


Aroma tak sedap menusuk hidung yang sedikit mancung dengan kulit mulus tanpa cela milik seorang perempuan yang terbaring lemah di atas ranjang, sang empunya mengernyit tidak menyukai aroma tersebut kemudian ia membuka matanya, tampak kamarnya penuh orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Tabib, Yang Mulia Maharani sudah bangun!" seru dayang yang sedang mengusap peluh di dahi majikannya.


"Bantu Yang Mulia duduk," perintah tabib membawa mangkuk. "Silakan, Yang Mulia." Tabib memberikan mangkuk berisi cairan hitam.

__ADS_1


Idaline yang lemas tanpa tenaga menurut saja dan membuka mulutnya selebar yang ia bisa, mulutnya terasa pahit begitu dayang memiringkan mangkuk yang berada di depan bibirnya.


"Hamba sudah menyiapkan resepnya. Silakan digunakan sesuai waktunya. Dan mungkin akan tidak nyaman selama setengah bulan." Tabib memberikan resep pada kepala dayang. "Hamba mohon izin permisi."


"Kenapa aku harus minum obat?" tanya Idaline setelah mendapatkan tenaganya. Idaline selalu berpesan untuk membiarkan dirinya istirahat di hari pertama haid karena di saat itu tubuhnya memang selalu lemas dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan sampai harus minum obat.


"Kalau sudah selesai. Semua keluarlah," titah Hayan masuk ke dalam kamar begitu mendengar suara Idaline. "Tidak perlu. Berbaring saja," tahan Hayan pada Idaline yang hendak duduk.


"Maafkan aku malah pingsan. Meski terlambat aku akan bersiap secepat mungkin." Idaline berbaring dengan tidak nyaman. Tubuhnya seperti habis tergilas truk. Setiap tulang dan organ tubuhnya menjerit kesakitan.


"Tidak. Tidak. Jangan pikirkan itu. Istirahatlah dulu sampai waktu yang disebutkan tabib." Tangan Hayan bergerak lembut menghapus sisa-sisa keringat di wajah dan leher Idaline.


Idaline menjauhkan kepalanya. "Kenapa aku harus beristirahat? Bukankah sekarang waktunya memerankan maharani yang sempurna?" sindirnya menepis tangan Hayan yang berusaha menjangkau kepalanya lagi.


"Kamu baru saja keguguran. Istirahatlah dengan nyaman dan jangan keluar kamar." Hayan keluar sambil membanting pintu. Niatnya memberitahu pelan-pelan musnah sudah. Sikap Idaline sangat menyakiti hatinya dan ia tidak menyangka hanya dalam beberapa hari Idaline begitu cepat memberikan kesuciannya. Harusnya itu adalah miliknya.


"Apa kalian benar-benar saling mencintai? Maharaniku, bukankah kamu berkata sepanjang hidupmu kamu hanya mencintaiku?"


Otak Idaline membeku berusaha mencerna ucapan Hayan. Darah yang keluar dengan cepat hingga menembus kain sumpalan membuat air di mata Idaline keluar dengan deras.


"Tidak mungkin kan aku benar-benar hamil?"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 29 September 2021


Hari : Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage.


Bulan :


Kasa, Karo, Katelu,


Kapat, Kalima, Kanem,


Kapitu, Kawolu, Kasanga,


Kadasa, Apit Lemah, Apit Kayu.


Tanggal Pernikahan Idaline - Djahan :


9 Kadasa tahun 129 Rajasa

__ADS_1


Tanggal Pernikahan Idaline - Hayan :


1 Apit Lemah tahun 129 Rajasa


__ADS_2