![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Pelangi biasanya datang setelah hujan, mereka terdiri dari tujuh warna yang indah yang berasal dari warna selendang para bidadari. Namun kali ini enam bidadari turun untuk membuat badai.
Mereka menyatukan kekuatan dasar mereka yaitu angin dan membuat kekuatan besar yang dapat memanggil badai besar yang belum pernah terjadi di desa Telogo, desa yang selalu mereka jaga karena dekat dengan air terjun Sekar Langit, tempat berendam mereka untuk menyucikan diri.
Semua ini terjadi bukan karena hal lain akan tetapi karena salah satu bidadari dan salah satu penduduk desa Telogo yang seharusnya tidak bersatu.
Manusia dalam pandangan sebagian besar bidadari adalah makhluk menjijikan yang mengotori bumi yang indah.
Bersatu dengan mereka adalah sebuah dosa yang sangat besar.
"Adinda, kamu telah melakukan dosa besar. Langit sampai bergetar karena ulahmu," ucap bidadari violet.
"Padahal kita dilahirkan tujuh warna dengan sempurna. Kenapa malah bersatu dengan makhluk kotor?" Bidadari dengan selendang, rambut, dan mata berwarna jingga mengeluarkan bulir air dari matanya.
Mereka bertujuh yang merupakan putri dari raja para bidadara dan bidadari seharusnya dapat mempersatukan kekuatan mereka dan memberikan kedamaian bagi penghuni bumi selama mereka bernapas.
Dengan bersatunya adiknya mereka dengan manusia membuat harapan mereka pupus dan lagi-lagi golongan bidadari dan bidadara tidak dapat memberikan berkah bagi penduduk bumi secara menyeluruh.
Padahal cukup dengan bersatunya kekuatan mereka bertujuh yang sempurna warnanya, perang dan perilaku kotor di bumi akan tersucikan, bumi pun akan damai sentosa selama mereka hidup!
"Adindaku tersayang, semua telah tahu perbuatanmu, tidak akan ada tempat berlari. Sekarang kembalilah!" Bidadari kuning mengeluarkan cahaya besar mengarah pada Nawang si bidadari berwarna merah.
Nawang melepaskan sepatunya hingga terlempar beberapa meter lalu ia gores kedua telapak kakinya dengan batu di tanah. Nawang mencondongkan tubuhnya ke depan lalu ia terbang dengan api di kakinya.
"Cerdas sekali," puji bidadari hijau.
"Biasanya kolam ini tidak terlalu dalam. Namun setelah pintu terbuka, tekanannya akan sangat kuat. Selamatkanlah anak kita. Aku akan menyusulmu, sayangku," ucap Nawang melepaskan Jaka ketika berada di atas air terjun Sekar Langit.
"Nawang! Sayangku! Istriku!" teriak Jaka.
Suara Jaka semakin menghilang bersamaan dengan tekanan air kolam yang semakin kuat dan suara air terjun maupun suara gemuruh yang dibuat para bidadari tak lagi terdengar.
Ia dekap anaknya dengan kuat menyelam ke dalam air tak berdasar itu.
"Berani sekali kalian menghirup udara yang sama dengan Nawang dan mengambil keuntungan darinya!" Pupil mata dan sklera Cemeng si bidadari hitam berubah menjadi merah.
Dia berpikir manusia-manusia ini pasti memanfaatkan adik bungsunya untuk mendapatkan peruntungan yang besar.
Cemeng mengangkat tangannya dan menurunkan petir ke sembarang arah.
"Mas Endrawila, manusia tidak bersalah," ucap Jene, bidadara kuning, pada bidadara biru yang hanya menatap lurus Cemeng, anak tertua raja para bidadara dan bidadari yang sedang mengumpulkan kabut hitam di sekelilingnya.
"Dan mas Cemeng pun tak salah," kata Endrawila dingin.
Jene mengigit bibirnya merasa takut pikirannya akan menjadi nyata. Jika kemarahan kakak tertuanya dibiarkan, bisa saja desa ini musnah!
__ADS_1
"Mas Wungu?" panggil Jene pada kakak berwarna ungunya.
"Kalau diperbolehkan ayahanda, ingin sekalian kuhancurkan air terjun sekar langit supaya kita tidak perlu kemari. Masih banyak kolam yang lain," balas Wungu juga bernada dan berwajah dingin.
Kalau pun akan dihukum, mereka merasa bangga karena telah melindungi adik kesayangan mereka dari makhluk-makhluk kotor ini.
"Nenek!" Indro menangkap neneknya yang membeku ketakutan melihat petir hitam mengarah pada dirinya.
Indro memeluk neneknya lalu berguling menjauhi kilatan petir yang menyambar tanah.
"Ugh!" keluh Indro kesakitan. Punggungnya terkena sedikit petir yang menyambar tanah. Bajunya terkoyak dan ia lihat batu yang menggelinding keluar.
Indro kemudian teringat kegunaan batu itu!
"Manusia itu sedang apa?" gumam Cemeng menatap batu bercahaya yang dipegang Indro. Ia arahkan tangannya pada Indro yang berusaha memecahkan batu itu.
"Pecahlah! Pecahlah!" Tangan Indro yang gemetar berusaha memecahkan batu itu namun batu itu tak kunjung retak.
Spontan ia pegang batu itu dengan kedua tangan dan mengarahkannya ke petir hitam yang datang padanya.
Batunya pecah bersamaan kemunculan Idaline yang terbang di udara, ia terbelalak saat tubuhnya terkena petir hitam.
Mata Cemeng berubah normal melihat Idaline yang tergeletak tak berdaya.
Di saat bersamaan Fusena, Djahan, Hayan, dan Candra terkejut merasakan tali yang terputus dalam jiwa mereka.
"Mas, kita tidak bisa mulai perseteruan dengan Petapa Agung!" seru Rekto sang bidadara merah.
"Dia sudah diberi waktu untuk mencari Nawang malah tidak melapor. Dilihat dekatnya perempuan dan pria itu, perempuan itu pasti tahu keberadaan Nawang," balas Cemeng.
Idaline memegang perutnya kesakitan, suaranya tidak keluar, dan darah terus mengalir di sela kedua kakinya.
"Ida!" panggil Indro sembari berlari mendekat. Dia tidak tahu batu yang dihadiahkan Idaline ternyata digunakan untuk mengundang Idaline!
Utih si harimau putih kontrak milik Idaline keluar dan berdiri di samping tubuh Idaline.
Kemudian Utih merubah wujudnya menjadi wujud manusia berupa wanita dewasa dan menggendong Idaline pergi dari desa yang masih bergejolak hebat.
Cemeng menatap genangan darah di tanah. Ia masukkan kembali auranya dan badai pun berakhir, Cemeng mengepakkan sayap hitamnya terbang menuju air terjun Sekar Langit.
"Saudari-saudari kita sudah membawa Nawang," ujar Cemeng menatap cahaya yang terbang ke langit
"Kakanda!" panggil bidadari hijau. "Nawang hilang tanpa jejak," ucapnya tergesa-gesa. Hampir saja dia dan saudari-saudarinya mencapai langit, tubuh Nawang yang mereka bawa justru berubah menjadi pelepah pisang.
Dia tidak menyangka adiknya berani mengelabui kakak-kakaknya!
__ADS_1
"Apa yang sudah ia pelajari di dunia manusia sehingga begitu lihai?!" geram Cemeng.
Utih meletakkan Idaline ke tanah dengan hati-hati lantas ia kembali berubah menjadi seekor harimau dan menyerang Nawang yang mengendap-endap di belakang mereka.
"Lepaskan! Aku bukan musuhmu," ucap Nawang pada Utih yang menerkam tubuhnya dari depan.
"Kamu sama dengan mereka!"
"Aku akan menyembuhkan nona Idaline!"
Utih menatap mata Nawang lalu melepaskan Nawang, dia ingat perempuan ini pernah berkeliaran di sekitar Idaline lalu dia membiarkan Nawang mendekati Idaline dan mengawasi gerak-geriknya.
"Lukanya parah sekali, aku hanya bisa menyelamatkan bayinya yang sudah menerima kekuatanku."
Idaline meraih tangan Nawang dan memandangnya lemah. Dari matanya Idaline memohon agar anak dalam kandungannya selamat.
"Aku bisa melindungi bayimu hingga terlahir tapi kamu harus tetap hidup dan beri asupan." Nawang memegang dada Idaline dan mengirim kekuatannya yang bercahaya merah.
Nawang mengernyit kesakitan berusaha menyelamatkan bayi yang mulai pucat. Beberapa saat kemudian dia tersenyum lega merasakan detak jantung dari si bayi kembali normal.
"Pelapis pelindung bayimu sudah kutambahkan, organmu akan dipulihkan dalam beberapa waktu, tetaplah beri asupan pada tubuhmu sendiri."
"Kamu bisa menyembuhkannya atau tidak?" desak Utih melihat Idaline terus meringis tanpa suara.
Bayinya mungkin sudah baik-baik saja, tapi jika ibunya masih kesakitan seperti itu, bagaimana si bayi bisa keluar!?
Utih menatap kesal Nawang yang seolah datang bak malaikat penyelamat tapi yang dilakukannya tidak terlihat sedikitpun mengubah keadaan.
"Yang parah tidak bisa disembuhkan. Yang sakit butuh waktu. Karena aku pun terkena serangan, mohon sedikit bersabar!"
Utih menahan diri agar tidak membawa Idaline saat ini juga. Kondisi Idaline sangat parah untuk sekedar diangkat.
Karena memiliki perlindungan dari empat orang, raga Idaline tidak hancur ketika terkena petir hitam. Namun tubuhnya tetap terluka terutama organ-organ dalam Idaline sebagian besarnya tidak berfungsi.
Membiarkan bidadari yang memiliki teknik penyembuhan mengobati Idaline lebih baik daripada membawa Idaline pergi ke Maja yang membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
"Lakukanlah dengan cepat. Lihat betapa sakitnya dia." Utih tidak tahan dengan keragu-raguan Nawang. Perempuan ini sangat lambat!
"Secepat yang kubisa." Nawang mengeluarkan cahaya merah yang terang benderang hingga menembus hutan yang rimbun.
••••••••••••••••••••
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 02 Desember 2021
__ADS_1