![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Aku mengirim Madhu untuk melamar putri Resmi dari Galuh."
Idaline menghentikan tangannya yang sedang membaluri minyak kayu putih ke punggung Hayan. Dia tersenyum miris. Hidupnya ke depan entah akan serumit apa bila alur yang terjadi tidak sesuai dengan yang tertulis.
"Haha begitu ya," respon Idaline.
"Iya, dia mendapatkan pengakuan dari seniman Bangkara, hasil seninya sangat indah dan tidak mengecewakan," ujar Hayan. "Maharaniku benar-benar berpikir jauh ke depan."
"Hayan, sudah siang. Waktunya mulai bekerja." Idaline mengusir Hayan. Selama berada di sisinya, semestinya Hayan memperhatikan dirinya bukannya memuji wanita lain di depannya!
Idaline harusnya merasa senang tetapi amarah dalam dirinya tiba-tiba meluap.
Hayan yang memuji dengan tulus tidak memperhatikan perubahan suasana hati istrinya. Hayan mengeratkan pelukannya pada bantal empuk di sisi kepalanya.
"Rasanya lelah sekali. Maharaniku tidak capek? Padahal semalaman tidak tidur." Hayan berguling dan memberikan senyuman menggodanya. Idaline sontak saja memukul bahunya.
"Jangan bicarakan itu!" Pipi Idaline memerah mengingat kejadian semalam, mereka melakukannya seperti tidak ada hari esok saja.
Hayan selalu mendominasi dari mulai gaya yang dilakukan sampai rentang waktu mereka melakukan itu. Idaline yang hanya mengimbangi jadi tidak bisa mengontrol dan memperhatikan waktu.
Tau-tau ayam sudah berkokok kemudian menyusul matahari menyinari mereka yang masih terus bergumul.
"Bangunlah bersiap!"
Idaline harus setengah memaksa karena Hayan menempel dengan erat di kasur. Ia tak habis pikir, laki-laki yang tidak akan menutup matanya kecuali pekerjaan sudah selesai, kini malah bermalas-malasan.
Pria besar itu bahkan menempel di lengannya seperti seorang gadis muda yang sedang memegang lengan kekasihnya.
Idaline terus menyeret langkahnya karena Hayan berjalan sangat lambat.
Sesampainya di Bale' Ndamel Hayan masih menempel di lengannya, Hayan baru melepaskan pegangannya dan duduk di kursi ketika Idaline membujuk dengan hal yang diinginkan seluruh laki-laki di dunia ini.
"Dasar! Semua pria memang selalu me sum!"
Idaline memulai aktivitasnya dengan serius. Hayan pun serius memperhatikan Idaline sambil cengengesan. Perempuan itu mulai nakal dan Hayan menyukainya.
Tapi dia tidak akan membiarkan Idaline memegang kendali!
Jika Idaline begitu mahir dan mendominasi, Hayan tidak akan lagi dibutuhkan.
Idaline bisa melakukannya dengan pria-pria lain, terutama Djahan, pria yang pertama kali merebut hati Idaline di rentang waktu sekarang.
"Maharaja, kenapa Anda terus makan camilan bukannya menuliskan perintah?!" kesal Idaline saat menyortir pesan yang masuk.
"Aku jadi mengerti, kamu suka sekali manis karena sangat menenangkan pikiran." Hayan tidak memedulikan berkas yang telah menumpuk.
Dia hanya ingin memakan masakan para kokinya sambil memperhatikan Idaline yang luar biasa menawan, kecantikan Idaline bertambah kala perempuan itu fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
Idaline merampas piring dari tangan Hayan. Itu adalah jatah camilannya!
Camilan itu tidak bisa dibuat dadakan, Hayan malah menghabiskannya tanpa rasa bersalah.
"Anda lebih baik makan yang asin," kata Idaline meletakkan piring camilan Hayan. "Ini baru benar!" batinnya memperhatikan Hayan tidak mengeluh. Tentu saja itu makanan kesukaannya.
Kenyataannya Hayan mengeluh dalam hati, entah mengapa rasa makanan di depannya hambar. Lebih nikmat camilan-camilan yang biasa dimakan Idaline.
Hayan menatap nanar piring yang ada di meja. Begitu dekat namun tidak bisa diraih!
"Yang Mulia, saya Djahan Mada, izin menyampaikan laporan," ucap Djahan di luar pintu.
Dia mendengar kali ini Maharaja terlambat datang dan harus dipaksa Maharani untuk datang ke Bale' Ndamel.
Jadi Idaline berada di Bale' Ndamel.
Dia berharap Idaline memikirkan perasaannya dengan tidak lagi bermain-main dengan Maharaja.
Djahan telah menjaga hatinya dan akan terus begitu. Dia juga mengharapkan hal yang sama dari Idaline.
"Tidak diizinkan. Aku benci melihat wajahmu," sahut Hayan.
"Masuk saja, mahapatih."
"Sayang, aku tidak ingin melihat dia," rengek Hayan menggoyangkan lengan Idaline.
"Baik, Maharani." Djahan menundukkan sedikit kepalanya lalu pergi keluar.
Djahan ingin membohongi dirinya bahwa Idaline dan Hayan tidak pernah lagi melakukan hal itu. Tetapi tanda merah di leher Idaline sangat kentara, mata Djahan tetap menangkapnya meski Idaline memakai pakaian tertutup.
Djahan mengusap wajahnya dan pergi meninggalkan Bale' Ndamel.
Wajah Hayan tiba-tiba berubah serius. Idaline menaikkan alisnya karena seharian ini Hayan terus saja menggodanya. Idaline duduk dan membaca ulang laporan yang diberikan Djahan.
Hayan memperhatikan Idaline yang masih fokus pada laporan Djahan, rasanya Idaline membaca laporan itu tiga kali lebih lama daripada laporan lainnya!
"Idaline, aku tidak suka melihat kamu bersama dengannya. Kalau aku bersama wanita lain, apa kamu akan merasakan sakit yang sama?"
"Hari ini kamu bertanya perasaanku, kenapa tidak bertanya sebelum aku naik ke atas pelaminan?" tanya Idaline tidak mengalihkan pandangannya dari kertas laporan.
Sebenarnya laporan Djahan sangat memusingkan. Ada banyak kejadian hanya dalam waktu beberapa hari. Tentu saja ini karena menyangkut hidup banyak orang.
Belum lagi sepekan sekali akan datang laporan wilayah-wilayah terkecil yang membutuhkan perhatian khusus.
Maka banyak wilayah yang mencoba peruntungan agar diperhatikan langsung dari pusat Bhumi Maja.
Hayan menghela napas panjang. Mereka sudah menghabiskan waktu bersama begitu lama bahkan sampai saling memadu kasih. Tetapi Idaline masih belum menerima dirinya.
__ADS_1
Hayan yakin Idaline memiliki perasaan padanya karena Idaline tidak akan mau melakukan hal itu dengan sembarang orang.
Namun nampaknya kesalahan Hayan masih membekas di dalam hati Idaline.
"Maafkan aku," sesal Hayan meraih tangan Idaline dan mengecupnya berulang.
"Semuanya sudah terjadi." Idaline meletakkan laporan Djahan di depan Hayan. Dia sudah menyerah membaca laporan itu.
Lembar kertasnya hanya sedikit tetapi poin-poinnya sangat menguras otak. Djahan benar-benar merangkum seluruh laporan dan menambahkan beberapa simbol yang sulit diartikan.
Idaline sudah diberi tahu tentang simbol-simbol itu. Tapi semuanya terlalu rumit!
Hayan membaca laporan Djahan dengan teliti, dia merasa tidak enak hati sudah mencurigai Idaline. Laporan Djahan memang tidak dapat dipahami dalam sekali atau dua kali baca, kecuali dirinya dan Djahan yang sudah mengerti simbol-simbol itu hanya dalam sekali lihat.
Idaline melirik Hayan yang mulai fokus pada laporan dan berkas-berkas lainnya. Idaline turut diam dan membaca laporan lain lalu merangkumnya dengan detail yang tidak terlalu panjang.
Keheningan di antara mereka hilang saat Ra Konco memasuki Bale' Ndamel dan memeriksa Hayan.
Hayan duduk di kursi di ruang tamu Bale' Ndamel dan Ra Konco memeriksa denyut nadinya, Idaline ikut hadir mengamati dengan saksama.
"Yang Mulia Maharaja benar-benar sehat, tidak ada keluhan apa pun," kata Ra Konco selesai memeriksa Hayan.
"Baiklah. Kamu sudah bekerja keras," ucap Idaline.
Ra Konco menundukkan kepalanya pada Hayan dan Idaline lalu mundur teratur hingga pintu keluar.
"Maharaniku, kamu dengar aku benar-benar sehat?" bisik Hayan melingkarkan tangan di perut Idaline.
"Hm. Syukurlah Maharaja tidak sakit."
"Kalau begitu boleh dong?" Hayan bertanya tetapi tangannya sudah memasuki jarik bagian bawah Idaline dan mengarahkan wajah Idaline menyamping ke arahnya, Hayan ******* habis bibir itu dan mengobrak-abrik isinya hingga tumpah ruah.
Idaline memukul-mukul dada Hayan dengan sikutnya tetapi tidak dihiraukan Hayan. Pria itu gila! Mereka sedang bekerja dan berada di ruang tamu yang terdengar dari luar.
Idaline memang menjanjikannya tetapi itu bukan sekarang, bukan di siang hari dan bukan di tempat ramai orang bekerja.
Saat pasokan udara habis, Hayan melepaskan tautan bibir mereka. Tetapi Hayan tidak melepaskan Idaline, Hayan membalik tubuh Idaline dan meng hi sap tulang selangkanya. Hayan juga menempelkan bagian tubuh depannya dengan tubuh depan Idaline.
"Maharaniku, kamu juga merasakannya kan?" bisik Hayan menggosokkan bagian tubuh menonjolnya ke tubuh Idaline. Dia men ji lati telinga Idaline dan sekali lagi membawa Idaline meraih kenikmatan dunia.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 27 Oktober 2021
Author mau curhat, sebenarnya author mau membagi bab hanya sampai 75 bab dengan rentang kata 2000-3000 kata tapi disuruhnya 1000-2000 kata saja ditambah author ada beberapa pekerjaan di dunia nyata, alhasil masih belum kelar.
Do'akan bulan depan bisa daily up ya biar cepet end.
__ADS_1