TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
020 - SURAT PEMBATAL PERTUNANGAN (2)


__ADS_3

"Katamu dia ada di lantai dua ya?"


"Ya? Iya!" jawab Hasta gelagapan pada Idaline yang menggeram marah. Gadis itu seperti hewan buas yang hendak menerkam mangsanya.


Idaline melangkah dengan tubuh yang gemetar menahan marah. Ia menghela napas menenangkan diri lalu mengambil duduk di depan dua orang yang telah terlebih dulu ada di sana.


"Apa yang kamu lakukan?!" bentak seorang wanita yang rambut dan lehernya penuh hiasan.


"Nona, ini telah kupesan."


"Pelayan tidak berkata seperti itu."


"Oh aku tidak berbicara tentang meja. Tapi itu." Idaline menunjuk orang di sebelah wanita tersebut dengan jari telunjuknya.


"Apa maksudmu?" Wanita itu menampik tangan Idaline yang melayang di atas meja.


"Kamu Idaline?" tanya lelaki yang duduk di sebelah wanita itu.


"Oh kamu adalah anak pungut keluarga Nanda, apa surat pembatal pertunangan tidak puas kau terima? Kau ingin minta hal lain? Padahal orang tua Nanda sudah menuliskan dengan jelas."


Wanita itu mencengkram lengan Nandana takut prianya berpaling pada gadis yang mau tidak mau harus ia akui lebih cantik dan anggun dari dirinya.


"Bahwa kalian tidak ada hubungan apa pun lagi dan kau sudah diberi rumah dan tanah sebagai kompensasi."


"Jumiati." mohon Nandana berbisik.


"Surat? Aku tidak menerima surat apapun." Idaline menopang dagunya di atas meja. "Dan orang tua anak ini sudah meninggal belasan tahun yang lalu." Idaline menusuk pisang keju di atas meja lalu menyuapkan dengan santai ke dalam mulutnya sendiri.


Hilang sudah khayalan Idaline yang berpikir Nandana adalah seorang guru yang berbudi luhur. Kenyataannya Nandana adalah seseorang yang budinya telah luntur.


"Benar kata ibu besar kalau pernikahan baru akan terus diterpa badai." ucap Jumiati menunjukkan simbol di dahinya. Sebuah garis lurus bekas kasar kekuatan yang belum pulih.


Jika bekasnya telah hilang, para wanita akan menggambarnya sesuai bentuk awal ketika para suami mereka memberikan kekuatan di hari pernikahan.


"Aku akan memaafkan kamu yang sudah mencuri camilan itu sebagai ganti maaf tidak sempat menggundangmu di pernikahan kami dua pekan lalu. Itu juga demi kebaikanmu~"


"Orang ini berceloteh dengan lancar, ya. Nandana, ada yang ingin kamu katakan?" Idaline menatap dingin Nandana yang tangannya sudah basah oleh keringat. Lelaki itu menyembunyikan tangannya di bawah meja.


"Kami berjumpa dan menghabiskan waktu lalu menyadari bahwa kami adalah belahan jiwa yang telah berjumpa. La-lagipula kita tidak bisa menikah karena peraturan."


"Sayangku, kamu tidak usah ragu berkata dengan jelas."


"Kalian telah mengatakannya dengan jelas. Aku permisi." Idaline merasa kesal pada air matanya yang tidak dapat ditampung.


Perasaan sedih yang tiba-tiba muncul sangat menguasai dirinya. "Apa kamu ada di sana?" tanyanya dalam hati.


"Idaline!"


"Nandana! Kita akhirnya bisa keluar dari kediaman, anak kita sangat ingin memakan pisang yang dihabiskan gadis itu." pinta Jumiati menahan lengan Nandana.


"Baiklah." ucap Nanadana melepaskan tangan Jumiati lalu mengejar Idaline dan menangkap tangannya.


"Maafkan aku menggunakan identitasmu. Tapi ini karena mereka adalah keluarga besar yang tidak mungkin akan menerima latar belakang yang menyedihkan." Pelan Nandana berusaha menghadapkan Idaline yang tidak memberontak ke arahnya. Namun wajah gadis itu terus saja berpaling darinya.


"Posisi mereka juga lumayan tinggi dan memegang kementerian pertanian yang juga mencakup kebun dan hutan. Ini bisa menguntungkan perkebunan dan selanjutnya kamu tinggal jadi selirku." jelas Nandana tentang rencananya.


Idaline yang sedang berusaha menyeka air matanya yang mengalir deras berbalik begitu mendengar kalimat terakhir Nandana. Ia menampar lelaki bermata sayu itu hingga tersungkur dan melepas pegangan tangannya.


Memang tidak ada yang mengetahui hubungan Agni, ibu Idaline, dan keluarga kerajaan kecuali mereka yang telah lama bekerja di rumah Daya, ayah Idaline.


Termasuk Nandana yang baru dibawa Agni ketika melihatnya sedang membaca buku dongeng di sela-sela istirahat ketika berkebun.

__ADS_1


Beberapa bulan sebelumnya Nandana telah merebut perhatian Agni karena begitu tenang menghadapi dua keluarga besar di Janapada yang sedang beradu mulut hampir melayangkan tangan satu sama lain.


Namun saat itu Agni hamil muda dan tidak diperbolehkan melakukan hal-hal berat juga tidak boleh memikirkan hal-hal berat jadi tidak terlalu memusingkan kejadian itu


Setelah kandungan Agni kuat, Daya memperbolehkannya keluar berjalan-jalan di sekitar dan melihat Nandana sedang membaca.


Langsung saja remaja itu dimasukkan akademik meski harus menunggu satu tahun untuk bisa menjadi murid resmi.


"Yang paling aku benci adalah pengkhianatan dan kebohongan, tapi yang lebih menjijikan adalah orang yang tidak tahu diri." Idaline menatap nyalang Nandana yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya.


"Pengawal! Tangkap pendosa ini!" Idaline menunjuk pada Nandana yang mencoba berdiri.


"Apa yang terjadi?" Jumiati datang segera setelah mendengar teriakan Idaline.


"Siap!" sahut segerombolan pria muncul dari lantai bawah menaiki tangga yang langkah besarnya mencuri perhatian orang-orang.


"Kalian para prajurit patroli berani menyentuh menantu keluarga Yasa?!" marah Jumiati.


"Orang ini." Idaline menunjuk Nandana dengan jarinya. Lalu menggerakkan tangannya ke depan mulai menghitung satu persatu kesalahan mantan tunangannya.


"Pertama, dia telah melakukan pemalsuan terhadap identitasnya."


"Kedua, dia telah menipu keluarga besar Yasa."


"Ketiga, dia telah melakukan pengkhianatan terhadap tunangannya."


"Keempat, dia telah berzina dengan putri selir keluarga Yasa hingga hamil. Entah sudah berapa kali, entah sudah berapa lama mereka melakukannya."


"Dan yang terakhir, dia telah menghinaku."


"Kalian percaya pada tuduhannya? Dia hanya anak desa yang tidak tahu aturan! Lihatlah keluarga Yasa akan membuat kalian menyesal!" ancam Jumiati memegang perut bulatnya dan menunjuk satu persatu orang.


"Nona, jangan menghalangi pekerjaan ksatria." Idaline menatap lurus Jumiati yang berusaha melepas tangan Nandana yang dipegangi para ksatria.


"Sayang, kamu kembalilah saja dulu. Aku bisa menangani ini, kamu percaya padaku kan?"


Jumiati menangis sambil menggelengkan kepala. Nandana hanyalah rakyat jelata yang tidak akan dilirik oleh para petugas keamanan meski sedang dikeroyok massa. Ia harus berada di sana memastikan keamanan suaminya.


Nandana yang mengerti maksud istrinya tersenyum kecil lalu berbicara dengan lembut, "Dengarlah untuk menjaga anak kita."


Idaline merasakan gemuruh di dadanya. Ingin rasanya ia menjambak rambut Nandana yang otaknya kurang ajar dan menendang perut Jumiati yang merusak rencananya.


Namun logikanya masih jalan dan masih ada nurani di hatinya. Idaline hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga darah mengalir dari sela-sela jarinya, ia berusaha keras menahan amarah.


Jumiati menggigit bibirnya menahan tangis. Ia usap kasar wajahnya lalu memandangi satu persatu sekelompok orang yang bekerja sama dengan mantan tunangan suaminya.


"Lihatlah! Kalian akan benar-benar menyesal!" ucap Jumiati berbalik hendak pergi dari kedai, namun ia mundur dalam satu langkah besar dan meludah ke wajah Idaline. "Cuih. Dasar perempuan tak laku!" hardiknya langsung menuruni anak tangga.


"Drama yang dibuat wanita mengerikan sekali." komentar Hasta muncul dari lorong yang terlihat seperti jalan buntu namun berisi tangga penghubung lantai dua dan lantai tiga.


Idaline yang semula akan mendorong Jumiati hingga terjungkal mengurungkan niatnya. Kedatangan Hasta mengingatkannya bahwa yang akan Idaline lakukan akan melibatkan banyak orang.


Meski Jumiati adalah putri selir. Kandungannya adalah milik keluarga Yasa selama belum dipastikan isinya seorang putri.


Karena jika itu putra, hak asuhnya diberikan pada putra-putri dari istri sah selama belum memiliki putra sendiri. Dan jika mati sebelum lahir akan tetap dianggap seorang putra.


Kematiannya akan melibatkan semua orang yang berada di tempat. Sedangkan Hasta hanyalah seorang pemilik kedai.


"Aku merepotkanmu." Idaline menerima sapu tangan yang diulurkan Hasta.


"Lanjutkan saja. Tapi aku harus pergi."

__ADS_1


"Hati-hati."


Hasta menuruni tangga tidak lagi menoleh pada keributan yang terjadi di kedainya. Ia juga marah temannya diperlakukan demikian namun ia tidak memiliki waktu. Lain kali akan ia balas setimpal perlakuan dua orang kotor itu.


"Aku tidak memiliki pengendalian diri sebaik yang Udelia lakukan."


"Idaline, meski bagaimanapun, aku ini masih pengajar di akademik. Aku menahan kehinaan ini karena memikirkan rasa sakitmu. Sekarang kita sudahi ya? Orang-orang yang disewa, kalian sudah boleh pergi."


"Karena kamu sangat bangga dengan identitas itu. Bagaimana kalau aku mencabutnya?" tantang Idaline.


"Sudah. Kita jangan bercanda lagi."


"Bercanda?! Setelah istri terkasihmu meludahi wajahku?!!" berang Idaline menunjuk wajahnya. Ia harus merendam wajahnya di air kembang selama tujuh hari tujuh malam agar tidak tertular virus jal*ng.


"Itu ... kamu sendiri yang membuat keributan." lirih Nandana merasa bersalah.


"Nah para ksatria. Ucapkan tuduhan-tuduhan tadi pada pengurus akademik. Pada tuduhan yang kelima, katakan dengan jelas bahwa orang ini telah menghinaku, Raden Ajeng Paramudita."


"Ra-Raden Ajeng?" gagap Nandana. Ia tidak tahu calon istrinya terdahulu memiliki kedudukan setinggi itu.


"Apa kamu tahu ibunda dan ayahanda telah wafat?" tanya Idaline menampar telak wajah Nandana.


"Tentu saja kamu tidak tahu. Kamu setiap hari bergumul dengan jal*ng itu!" Idaline berjalan meninggalkan Nandana, para ksatria, dan orang-orang yang menonton.


"Mana pesananku?" todong Idaline di lantai bawah pada penjaga yang berdiri ragu.


"Ini, Yang Mulia." Penjaga memberikan bingkisan pada Idaline.


"Terima kasih."


Karena emosi yang tidak karuan, Idaline tidak bisa menunggu untuk menemui Atem di butik. Sebelumnya ia ingin makan siang bersama agar wanita karir itu tidak melupakan pentingnya asupan gizi untuk kesehatannya.


Di sisi lain, di bawah kaki gunung, dua orang pria menikmati air mancur dari Bale' Bengong. Salah seorangnya melukis keindahan alam dan yang lainnya memperhatikan dari belakang.


"Salah satu guru Anda telah melakukan hal nista. Anda tidak takut hal tersebut akan mencemari nama baik Akademik Kerajaan?" ucap seseorang di belakang heran melihat lukisannya hanya sebuah goresan-goresan tak beraturan.


"Tidak ada bukti nyata, Yang Mulia Pangeran. Justru akademik akan dipertanyakan jika bertindak hanya berdasarkan asumsi dan praduga." jawab orang yang melukis masih mencorat-coret kertas putih di depannya.


"Buktinya sangat jelas." Hayan merujuk pada perut Jumiati yang telah besar padahal usia pernikahan mereka belum genap sebulan.


"Masih harus menyelidikinya." balas orang yang melukis tidak mau kalah.


"Mohon kepala sekolah memikirkannya dengan teliti. Jika berita itu benar dan terbukti mereka melakukan perzinaan di akademik sedang beritanya telah menyebar luas, Akademik Kerajaan tidak akan ada muka lagi." ujar Hayan memperingati. "Saya permisi."


"Datang hanya untuk hal itu. Ckck. Dasar." Ia mengintip punggung Hayan yang semakin menjauh. "Padahal saat kecil kamu sangat lucu."


"Tidak tahu diri. Sudah diberi kesempatan besar malah berkhianat. Pada yang mengirimnya dan pada akademik yang menaunginya."


Kepala sekolah tersenyum mendengar ucapan dalam kepalanya. "Bukannya ini adalah ide Anda, Yang Mulia Ratu?"


"HAHA. Aku hanya menyuruhmu memerintahkannya mengajari putri keluarga Yasa yang kurang mengerti. Mana ada menyuruh mereka berzina."


"Tetap saja Anda menciptakan peluang dua lawan jenis itu berdua-duaan siang dan malam." Kepala sekolah meletakkan kuasnya, ia memperhatikan warna hitam yang perlahan berubah menjadi hijau.


"Jika Anda menginginkannya. Anda bisa langsung meminta padanya. Tidak mungkin dia menolak." imbuhnya.


"Tidak mungkin merebut tunangan orang lain."


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 30 Juli 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2