TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
030 - MEMBERIKAN KEMULIAAN


__ADS_3

"Kalau kamu beri hadiah, dia akan terikat denganmu." komentar Loro. Idaline sedang berdiri di bawah pohon mencari Indra di antara wajah-wajah prajurit yang berpakaian seragam. Sulit sekali karena bentuk tubuh kekar mereka hampir sama.


"Atau kamu tidak ingin melepasnya?" tambah Loro membuat Idaline meliriknya tajam.


"Matahari belum terbit dan mas mau tengkar denganku?" kesal Idaline.


"Kamu tidak punya pendirian sekali. Pilih satu, melepasnya atau menerimanya."


"Tidak ada yang salah memberikan hadiah pada seorang teman yang akan pergi berperang." balas Idaline.


"Kamu menganggapnya biasa, tapi dia akan berpikir kamu menunggunya."


"Loro tidak salah. Tapi Idaline juga tidak salah. Hanya sebuah hadiah tidak mungkin mengikatnya, lagian Idaline sudah bilang agar dia meyakinkan hatinya." ucap Siji menengahi.


"Denger tuh kata mas Agus. Lagian hadiah ini berguna kok."


"Apaan?"


"Kudi dan Pedang," jawab Idaline melihat kedatangan dayang Kedaton Sedap Malam yang membawa hadiahnya.


"Seharusnya beri hadiah satu saja dong." keluh Loro belum pernah mendapatkan hadiah dari adik sepupunya itu kecuali dia sendiri yang meminta suatu benda sebagai hadiah. Padahal hadiah adalah sebuah kejutan.


Adik sepupunya tidak mau membeli hal yang sia-sia. Semua uang yang keluar harus jadi barang berguna.


"Itu satu kok. Satu untuk dekat, satu untuk menengah, jauhnya pakai kanuragan." jelas Idaline meski terdengar sebagai sebuah alasan.


"Jarak dekat sudah ada keris. Kudinya buatku ya?" pinta Loro.


"Bikin sendiri!"


"Tidak ada yang memakai pedang di sini." tutur Siji menyuarakan isi hatinya takut Idaline lupa. Benda itu bukanlah jenis senjata yang digunakan kalangan mereka. Bisa memberatkan jika membawa senjata aneh yang belum diakui.


"Indra pernah belajar mengayunkan tombak. Keris miliknya cepat menyerap aura maupun energi karena dari bahan khusus. Dengan batuan yang sama aku gunakan buat bikin pedang ini." Idaline menjelaskan dengan membuka sedikit kain yang menutupi hadiahnya. Pedang itu memiliki pegangan berwarna biru.


"Kami akan pergi ke medan perang, jangan lupa hadiahnya ya!" Loro mengedipkan matanya lalu menjauh melihat Indra berjalan menuju Idaline.


"Kalian adalah pengawalku! Tidak boleh pergi kemana-mana!" teriak Idaline.


Meski kematian tidak akan bisa dihindari, Idaline tidak ingin dua kakak sepupunya berada di situasi membahayakan.


Idaline masih berpikir dua orang itu sama seperti saat ia mengenali mereka. Hanyalah para pemuda yang hidup dengan mudah di kota kecil, bagaimana pemuda seperti itu bisa bertahan di medan perang?


"Pengawal para putri tidak akan kemana-mana." Indra berdiri menjulang dengan seragamnya. Matanya menatap dalam, kedua sudut bibirnya terangkat, lalu kakinya bersimpuh di depan Idaline.


"Jangan sembarangan." pinta Idaline. Ia meraih tangan Indra yang menempel di tempat jantungnya berada, akan melakukan sumpah. "Semoga hadiah ini berguna untukmu." bisik Idaline memberikan peti senjata pada Indra dibantu para dayang.


Bergegas Indra menerimanya dan mulai mengucapkan sumpah pada sang pujaan hati. "Terima kasih. Aku akan pulang–"


"Membawa kemenangan" sambung Idaline.


"Benar. Kami akan membawa kemenangan." ucap Indra. Cahaya matahari belum muncul namun wajah muram Indra terlihat jelas di bawah sinar rembulan. Idaline terang-terangan menolak sumpah prajurit yang akan diberikannya.


"Ingat, Ndra. Nyawa nomor satu."


Indra mengangguk lalu pergi meninggalkan Idaline. "Aku akan pulang dan memberikan kemuliaan." sumpahnya dalam hati meski tidak sempat meninggalkan sebagian kekuatannya pada Idaline.


Idaline terus melambaikan tangannya hingga pasukan keluar dari gerbang istana.


"Semuanya selamatlah!" pesan Idaline.


"Pesanmu sangat berat bagi mereka." Hayan yang sedari tadi berada di panggung turun menghampiri Idaline.


"Mereka harus ingat karena ada yang menunggu di rumah."


"Yuwamentri dan mbakyu cocok sekali." celetuk Sudewi muncul dari belakang Hayan. Gadis itu sudah memantapkan hati untuk tidak menghubung-hubungkan masa lalu dan masa kini. Semua kejadian terlalu berbeda baginya.


"Kalian yang keluar dengan dandanan mewah ini habis bertemu siapa?" alih Idaline menatap satu persatu gadis kecil yang terlalu bersinar sebelum cahaya matahari muncul.


"Memangnya hanya kamu yang boleh bertemu pasangan? Ups." Netarja menutup mulutnya melirik sang kakak.


"Pasangan?" gumam Hayan.


"Ckck. Kalian masih kecil sudah memikirkan pasangan." Idaline menautkan alisnya menatap kasihan. Baru menginjak usia sekolah dasar namun sudah berpikiran terlalu dewasa.


"Kami akan dewasa sebelum akademik membuka murid baru." ucap Indudewi.


"Iya." Netarja menganggukkan kepalanya. "Menikah sebelum masuk akademik sangat indah, ada yang menemani. Aw," Netarja mengelus kepalanya yang dijitak Hayan.


"Karena kita berkumpul, lebih baik sarapan bersama." ajak Hayan tak mengindahkan tatapan tajam Netarja. Adiknya selalu marah jika bagian kepalanya disentuh.


"Setuju!" kata Netarja, Indudewi, dan Sudewi bersamaan.


"Kalian yang masih anak-anak begini sudah memikirkan tentang pasangan." gumam Idaline. "Padahal aku yang berumur dua puluh tujuh tahun ini belum pernah sekali pun berkencan."

__ADS_1


"Jangan bengong terus. Ayo berangkat." Netarja menarik pelan tangan Idaline dan menuntunnya berjalan sejajar dengan Indudewi, Sudewi, dan Hayan yang semula berjalan di depan.


Mereka berlima pergi ke Keraton Capuri, tempat tinggal ratu, untuk mengajaknya makan bersama.


"Ibu belum sarapan dan langsung bekerja setelah melepas kepergian para prajurit dan ksatria? Ini tidak bisa dibiarkan! Ayo kita makan bersama." omel Netarja melihat ratu sudah duduk di kursi kerjanya sedang memeriksa laporan dalam dan luar negeri.


"Anak ibu sudah besar sampai bisa mengomel begini." Ratu mengelus pipi Netarja yang mengembang.


"Ayo, bu." Netarja menarik lengan ratu keluar ruangan.


"Ananda memberi salam kepada Ibu Ratu." ucap Hayan, Idaline, Sudewi, dan Indudewi yang menunggu di depan istana utama Keraton Capuri setelah menjemput Dhara.


"Jarang sekali kita berkumpul begini." komentar Dhara sambil tersenyum.


"Ayah!" Netarja berteriak dengan girang dan memeluk Dhara yang merentangkan tangan padanya.


"Bawa makanan kami ke pendopo." perintah Dhara, sebelumnya dia sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan ratu. Istrinya selalu saja melupakan sarapan jika tak diingatkan.


Beruntung ia siapkan banyak makanan karena bingung di hari yang menegangkan ini harus menyediakan makanan seperti apa untuk istrinya.


"Baik, Yang Mulia."


"Anak ayah pasti lelah berjalan jauh. Hup!" Dhara menggendong Netarja di bahunya.


Tatapan berbinar Indudewi membuat Dhara balik menatapnya, ia tertawa kecil lalu mengulurkan tangannya. "Indu mau?"


Indudewi mengangguk dengan keras. Dhara mengangkat Indudewi ke pundaknya yang lain lalu berjalan cepat menghindari tatapan membara ratu.


"Suamiku, itu berbahaya sekali!" jerit ratu.


"Kalian yang seperti itu ingin mengajariku tata krama?" Idaline mengangkat sudut bibirnya yang berkedut tak percaya. Ia semakin terkejut melihat Sudewi ikut berbinar.


"Ayah, tunggu aku!" Sudewi berlari kecil mengejar Dhara dan saudari-saudarinya.


"Kamu tidak ingin mengejar mereka juga?" tanya ratu.


"Hm. Beliau cuma punya dua tangan."


Ratu tertawa mendengar jawaban Idaline. "Panggillah ayahanda."


"Baik, Ibu Ratu."


••••••••••••••••••••


"Yang Mulia, tuan besar Ekadanta meminta izin untuk menemui Anda." ujar dayang menerima pesan dari pengawal.


"Beliau berada di gapura."


"Apa?" Idaline berpikir Mahamentri I Halu itu hanya mengirimkan pelayannya untuk menentukan jadwal bertemu, bergegas ia bangkit dan berjala menuju Aji.


"Yang Mulia! Anda harus berpakaian dengan benar."


Idaline terus berjalan tidak mempedulikan ucapan-ucapan dayang yang membujuknya untuk berganti pakaian.


"Yang Mulia, hamba memberi salam–"


"Tidak perlu sungkan, tuan." potong Idaline. "Bagaimana dengan orang yang aku katakan?"


"Maafkan hamba, orangnya tidak ketemu. Tapi hamba membawa temannya." Aji menggerakkan kepalanya menyuruh orang yang bersembunyi di balik pohon untuk keluar.


"Ami!" Idaline memeluk wanita yang sudah lama tidak ia jumpai.


"Yang Mulia, mohon berhati-hati. Dia adalah ahli racun." pesan Aji.


"Tuan, bicara yang santai saja. Mari masuk."


"Mohon maaf, ham-saya ada urusan mendesak." pamit Aji.


"Saya sudah merepotkan tuan."


"Tidak sama sekali. Lalu silakan panggil lebih akrab." Aji tersenyum lalu meninggalkan dua gadis yang berjalan masuk ke Kedaton Sedap Malam.


"Sa-saya. Tidak. Ham..ba. mohon maafkan hamba sudah bertindak kurang ajar."


Idaline terkejut melihat Ami bersujud di belakang kakinya.


"Kamu berdirilah." Perasaan Idaline tetap tidak enak melihat seseorang bersujud di kakinya meski para dayang dan pelayan sering melakukannya ketika melakukan sedikit kesalahan.


"Apa mereka tidak pegal?" Idaline mengernyit melihat punggung Ami bergetar. Ia pun menjulurkan tangannya.


"Bagaimana dengan harga diri mereka?"


Punggung Ami terlonjak saat Idaline menyentuhnya.

__ADS_1


"Ah, padahal manusia itu setara. Hanya karena tempat lahirnya, mereka harus berpikir tentang peringkat."


Wajah Ami memucat merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Orang kejam yang lemah lembut lebih mengerikan daripada orang kejam yang kasar.


"Apa aku terlihat kejam sampai kamu bergetar seperti itu?" tanya Idaline seperti seorang cenayang.


Ami tersentak. "Hamba mohon maafkan hamba," ulangnya.


"Padahal kita sangat dekat di desa Gelut. Mari bersikap yang sama."


"Hamba mana berani."


Idaline menegakkan tubuhnya dan berjalan dengan kesal ke arah bunga Sedap Malam yang mekar dan menyebarkan aroma wanginya hanya ketika malam datang. "Kita akan mendengar penjelasanmu di dalam."


Ami berjalan takut-takut di belakang Idaline. Beberapa kali ia berkata tidak percaya kalau Idaline adalah Raden Ajeng dan sedang menipu mereka, ia mencoba meyakinkan teman-teman desanya agar mengusir Idaline karena anggaran desa yang dipakai untuk dua orang, yang baginya adalah para penipu, sangat besar sekali. Pun desa lain melakukan hal yang sama.


Karena ketidakpercayaannya, Ami terus memanggilnya nona padahal sudah tahu Idaline adalah seorang Raden Ajeng. Panggilan itu sangat merendahkan seseorang yang satu keluarga dengan keluarga kerajaan.


"Maafkan hamba sudah berbuat seperti itu." Ami ditahan dua dayang Idaline agar tidak bersujud lagi.


"Tidak perlu merasa bersalah. Kamu melakukan hal yang benar. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal datang mengaku sebagai orang berpengaruh yang datang tanpa pengawalan ketat. Meski begitu kamu tidak melakukan hal bodoh dan tetap mengikuti perintah kepala desa."


"Hamba sudah melewati batas dengan menghasut orang-orang. Andai saat itu terjadi–" Ami menutup matanya membayangkan Idaline dan Candra diperlakukan dengan kejam oleh orang-orang desa. "Hamba pantas menerima hukuman."


"Kita akan bicarakan hal itu di lain waktu. Kamu tidak datang hanya untuk itu kan?"


"Ah, iya."


Kedua dayang Idaline melepaskan tangan mereka, Ami merogoh kembennya mengambil sepucuk surat.


"Ya ampun, sangat kreatif sekali." puji Idaline melihat Ami menaruhnya di bagian terdalam.


"Hamba menerima burung yang diterbangkan Cokro. Tidak ada yang membukanya karena ini tertulis untuk Yang Mulia."


Dear Udelia,


Saat ini aku sedang berada di salah satu hutan di Maja yang banyak pohon jatinya, aku sedang melakukan tugas pertama sebagai prajurit bayaran. Aku buta arah jadi tertinggal saat bersembunyi di bagian hutan terdalam. Ketika aku terus berjalan, aku menemukan mata air yang dijaga wanita yang sangat cantik sekali. Dia adalah penjaga mata air itu. Tubuhnya penuh energi suci, bukan energi gelap seperti para iblis pengguna sihir hitam ataupun berwarna seperti para penyihir dan hewan mitos. Aku percaya padanya dan memutuskan memasuki danau miliknya. dikatakan itu adalah gerbang menuju dunia modern. Sebenarnya aku sedang bertaruh jadi tidak mengajakmu. Jika surat ini sampai, aku kembali dengan selamat. Cobalah kemari.


Temanmu,


Cakra.


"Seberapa yakin kamu ini dari Cokro?"


"Sangat amat yakin. Burung dara yang membawa surat itu adalah burung kesayangannya yang pintar mengingat arah untuknya berjaga-jaga ketika memasuki hutan. Tulisan pesan agar diberikan pada Yang Mulia adalah tulisan ceker ayamnya."


"Dan juga tali yang mengikat adalah pita Cokro. Desa Gelut, desa Gulat, dan desa Gulet sudah memeriksanya dan yakin tidak ada jejak sihir pada tulisannya. Kami tidak akan berani memberikan begitu saja untuk Yang Mulia."


"Begitu." Idaline tersenyum dalam. "Kalian tidak perlu mencarinya karena dia sudah berada di tempat seharusnya."


"Ba-bagaimana Anda tahu?"


"Hust." tegur dayang pada Ami yang mempertanyakan ucapan Raden Ajeng.


"Aku sudah memutuskannya." ucap Idaline tiba-tiba.


"Kamu pergilah ke medan perang bantu prajurit membuat racun. Ingat, tidak boleh ke garda terdepan. Tetaplah di belakang dan fokus membuat racun."


Idaline merasa sangat sia-sia jika bakat Ami tidak digunakan. Idaline mendengar hanya dengan satu anak thulup dapat melumpuhkan ular yang dapat melilit puncak gunung Tang.


"Terima kasih atas kebaikan Anda,"


Setelah hari itu orang yang bersimpuh pada Idaline semakin banyak. Ketika sedikit saja wajah Idaline tertekuk, para dayang dan pelayan berbondong-bondong meminta maaf.


Mereka takut dikirim ke medan perang!


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 |  18 Agustus 2021


Teman-teman jangan lupa like dan komen juga share untuk menyemangati author ya..!


Makasih banyak loh vote dan hadiahnya.


Sehat sehat semuaaa


Love, Al-Fa4


Today In History :


18 Agustus 1487 M


Tragedi Berdarah

__ADS_1


Jatuhnya Kota


Malaga, Andalusia


__ADS_2