TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
093 - BERGERAK MEMBENTUK GELOMBANG


__ADS_3

"Apa? Candra dikirim pergi semalam?" Idaline bertanya pada dayang yang menemaninya di ruang tamu.


Dayang ini telah menceritakan segala yang terjadi di keraton saat dirinya pergi ke tebing.


Di waktu yang singkat banyak hal telah terjadi.


"Benar, Yang Mulia."


"Padahal aku belum memberikan salam perpisahan." Idaline menyesalkan kepergian Candra.


Dia jadi kekurangan informan untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di dunia luar.


Kondisinya sekarang sedang lemah dan tinggal menunggu waktu sampai Hayan mengetahui perbuatannya di luar Keraton.


Suaminya ini pasti akan menahannya di tempat terdalam yaitu Anjungan Dhedhet tempat yang sebelumnya digunakan untuk menghukum para selir.


Di bagian barat Anjungan Dhedhet terdapat hutan kulon dan di bagian selatannya terdapat rumah sihir. Timur dan utara Anjungan Dhedhet dikelilingi kolam yang sangat dalam.


Jadi tidak akan bisa kabur dari sana.


"Bhayangkara tertangkap oleh suku yang mendalami sihir. Penyihir yang ikut berhasil mengirimkan sinyal ke perbatasan," kata Djahan masuk ke ruang tamu.


"Itu adalah hal yang sangat darurat karena sama dengan memberi tahu kerajaan lain bahwa kita sedang memperluas wilayah. Setelah ini semua akan menjadi sibuk," urai Indra menyusul di belakang Djahan.


"Salam guru." Indra membungkukkan tubuhnya sambil menangkup kedua tangannya di atas kepala.


"Djahan, ada apa?" tanya Idaline. Seharusnya pria ini sedang dalam keadaan sibuk karena satu bulan penuh berada di rumah tahanan.


"Karena pekerjaan menumpuk, aku tidak sempat bertemu anakku." Djahan mengambil duduk di sebelah Idaline.


"Mahapatih, jangan menggunakan ucapan yang ambigu," tegur Indra. "Ida kamu tidak mendorongnya??" tuduhnya ketika Djahan mengelus perut Idaline.


"Benar kok anaknya," jelas Idaline. "Kalau Indra ada apa?"


"Hari ini aku.. ukh, aku akan datang nanti!" Tidak mungkin Indra membicarakan rahasia di depan Djahan.


"Bicara saja," lontar Djahan masih mengusap perut Idaline. Sesekali dia tersenyum merasakan gerakan dari perut bulat Idaline.


"Tidak. Guru tidak tahan dengan semua keluhan. Saya akan bercerita saat malam tiba."


"Sangat tidak baik malam-malam berduaan." Djahan berkata dengan sinis.


"Guru harus bicara setelah melepas tangan guru," balas Indra.


"Anak ingin dielus ayahnya, apa salahnya?"


Idaline tertegun mendengar ucapan Djahan.


Hayan selalu pergi setelah memberikan secara langsung semua yang diinginkan Idaline.


Akan tetapi Idaline terlalu malu menyampaikan keinginannya ketika bayinya minta dielus Hayan.


Hayan masih menghindar untuk menghabiskan waktu bersama Idaline meskipun akan datang bila Idaline meminta sesuatu.

__ADS_1


Pria itu pasti sudah mendengar kabar saat dirinya berada di Kadiri dan bertemu dengan Djahan.


Sangat mungkin kabar itu dibesar-besarkan lalu Hayan menghindari Idaline karena berpikir Idaline telah selingkuh dengan Djahan.


"Guru lagi-lagi bicara hal ambigu. Saya izin kembali!" Kemudian Indra pergi dari Kedaton


"Idaline, apa sakit?" tanya Djahan tidak mendengar suara Idaline. Perut Idaline masih bergerak membentuk gelombang dan tercetak di jarik yang dikenakan Idaline.


"Tanganmu nyaman," gumam Idaline menyandarkan kepalanya di bahu Djahan. "Djahan, kalau kamu yang pergi ke duniaku saja bagaimana?" tawar Idaline.


Pria ini sangat memahami dirinya, dia tidak mau kehilangan Djahan.


"Di mana pun asal bersama kamu," jawab Djahan.


Idaline tertawa mendengar jawaban Djahan. Andai saja perpindahan dimensi sangat mudah dilakukan.


"Ke mana kamu sebelum pernikahan nona Sipta?" tanya Djahan.


Saat di rumah tahanan dia merasa tertekan sebab rasa sakit akibat menyakiti Idaline.


Dia bertambah frustasi kala mendengar Idaline tidak ada di Keraton.


Djahan berpikir Idaline pergi dari keraton karena dirinya namun tampaknya tidak seperti itu.


"Balamati yang tersisa menyusup ke Sanggahan. Mungkin juga Soca, kelompok mata-mata mereka masih di sini." Idaline ingin mengurus Soca tapi tubuhnya sangat tidak memungkinkan.


Jadi dia serahkan hal ini pada Siji dan Loro.


"Sudah lapor pada Maharaja?" tanya Djahan mengingat laporan Wiyasa Sanggahan.


"Belum," jawab Idaline.


Dia sangat kesal pada Hayan yang selalu langsung pergi setelah memberikan benda yang diinginkannya.


Jadi biarkan saja pria itu mencari tahu sendiri!


"Kelak beri tahukan aku dahulu. Jangan membahayakan diri sendiri," pinta Djahan. Dia mendengar Idaline pergi hanya bersama empat orang tanpa pengawalan.


Sekelompok ksatria dari negeri orang tidak boleh diremehkan sebab hampir semuanya pasti menyimpan jurus tersembunyi.


Perempuan ini malah pergi bersama empat orang saja.


Walaupun Djahan mengakui Idaline memiliki kemampuan setara dengan senopati atau bahkan rakryan tumenggung, Djahan tidak bisa tidak khawatir.


"Hm.."


"Istirahatlah. Aku akan mendengar cerita dari Siji." Djahan menangkup wajah Idaline dan membalik tubuhnya agar sejajar dengan Idaline.


Saat Djahan akan mendekatkan wajahnya dia dikejutkan dengan ucapan Idaline.


"Oh Hayan, kamu sudah mendapatkan rotinya!" Idaline merapihkan duduknya.


"Mahapatih, ini bukan waktunya bersantai." Hayan meletakkan roti pesanan Idaline sambil menggertakkan giginya.

__ADS_1


"Kebetulan sekali Maharaja. Mari dengarkan laporan Siji." Djahan mengajak Hayan pergi takut pria itu bersikap kejam pada Idaline seperti dahulu saat Idaline dipaksa tinggal bersama cicak-cicak.


Hayan menatap Idaline yang fokus pada rotinya lalu pergi mengikuti Djahan. Perempuan ini tidak ada rasa bersalah sedikit pun!


"Dia bahkan tidak peduli ada Djahan di sini," gumam Idaline mengingat ekspresi datar Hayan.


"Saya, Nadir, rakyat Kesultanan Delhi, menghadap Yang Mulia Maharani Bhumi Maja." Nadir meletakkan tangan kanannya di atas jantung dan membungkukkan sedikit tubuhnya lalu kembali berdiri tegak.


"Jangan merendahkan diri. Saya tahu Anda pembesar di sana."


Nadir tertawa ringan. "Saya hanyalah pelayan rakyat."


"Benar sekali. Pemimpin adalah pelayan rakyat."


"Yang Mulia berpikiran luas," puji Nadir.


"Baik. Baik. Kita langsung ke intinya saja. Silakan duduk terlebih dahulu." Idaline tersenyum melihat kesabaran pria ini.


Nadir pun duduk di tempat terjauh dan duduk dengan rapih.


"Saya dengar satu abad yang lalu Sultana Razia menerjemahkan banyak buku dan membuka banyak sekolah."


"Semoga ini menjadi ladang kebaikan untuknya."


"Pasti." Idaline mengangkat gelasnya dan para dayang pun mengisi gelasnya dan gelas kosong lainnya. "Saya ingin meminta terjemahan buku-buku pengetahuan, apakah Anda bersedia menyampaikannya pada Sultan Thuluq?"


"Beliau pasti senang mendengarnya."


Idaline menarik dua sudut bibirnya, meminta pada orang-orang ini jelas bukan suatu kesia-siaan. "Saya akan mengirimkan serdadu untuk membantu Sultan menghadapi pemberontakan-pemberontakan di sana."


Nadir menutup mulutnya untuk menahan suara tawanya. "Anda benar-benar berwawasan luas seperti yang diberitakan rakyat Anda," puji Nadir lalu berdiri dari tempatnya dan memberikan salam kesopanan sekali lagi.


"Dia yang mengetahui ilmu wajib membaginya pada yang minta dijelaskan, jadi tidak perlu repot-repot seperti ini." Nadir menahan gerakan membungkuknya karena tidak ingin melihat raut murka Idaline.


Ucapannya ini menyinggung. Bisa saja Nadir tidak akan selamat. Tapi dia tidak mau pihak lain mencampuri urusan tanah airnya.


"Saya yang merasa tidak enak meminta tanpa memberikan balasan. Bawalah mereka pergi. Terserah ingin Anda apa kan, saya mengizinkan selama masih dalam batas norma kemanusiaan."


"Perempuan ini sangat paham cara bernegosiasi!" batin Nadir terkagum-kagum. Dengan ucapan seperti ini tidak akan ada orang yang berani menolaknya!


Nadir menjatuhkan tangannya dari dada dan menegakkan tubuhnya tanpa melihat Idaline sedikit pun, mata Nadir menatap lantai.


"Anda sangat terpuji. Semoga Anda selalu mendapat kemakmuran," puji Nadir menangkup kedua tangan di dada.


Nadir menerima prajurit-prajurit pemberian Idaline karena sudah mendapat izin menggunakan mereka untuk apa pun. Artinya mereka akan mematuhi semua perintah.


Idaline kemudian memberikan beberapa oleh-oleh untuk pemimpin Nadir. Nadir tidak heran mendapatkan banyak kain putih karena dia berpakaian serba putih jadi Nadir memaklumi penilaian Idaline.


Sayangnya penilaian Idaline bukan seperti itu.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 16 November 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2