![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Disclaimer: Cerita ini hanyalah karangan author. Semata-mata fiktif belaka. Tidak terkait sejarah manapun.
Apabila ada kesamaan tokoh, tempat, kejadian, ataupun cerita. Itu hanyalah kebetulan semata.
Mohon bijak dalam menyikapi novel dan memberi komentar. Terima kasih banyak.
Selamat membaca!🥰🥰🥰
 
••••••••••••••••••••
"Jadi, kamu ingin Idaline mengajarimu beberapa hal?" tanya wanita tertinggi Kerajaan Maja dari kursi kebesarannya.
Rapat harian telah selesai. Satu-satunya putra dan pangeran Kerajaan Maja, Hayan, membawa putri mendiang sahabat ratu ke Bale' Ageng, tempat resmi yang bahkan suami dan ibunda dari ratu harus tunduk pada titahnya.
Seserius itu putranya meminta Idaline menjadi gurunya.
"Iya, Yang Mulia."
"Tapi dia lebih muda darimu. Apa yang bisa dipelajari darinya?"
Ratu bukannya merendahkan Idaline. Justru jika mengangkat Idaline menjadi guru resmi Hayan, hal tersebut akan mencoreng harkat dan martabat para cendikia berpengalaman dan berlisensi dari guru-guru besar yang tersebar di seluruh pulau, yang beberapa di antaranya juga pernah mengajari satu dua hal pada dirinya.
"Lalu apa yang bisa diajarkan guru-guru yang Anda kirimkan?" lirih Hayan terdengar di telinga gadis muda di sebelahnya.
"Anak-anak seumuran justru lebih paham cara menerangkan. Mereka saling mengerti satu sama lain dan bisa berbicara sesuai bahasa yang mereka mengerti. Anggap saja ini sebagai pelajaran tambahan, sayang."
Idaline menatap Dhara, suami ratu yang balik menatapnya sambil tersenyum ketika merasa ditatap oleh Idaline. Lelaki itu tidak datang dalam pesta pangan karena Tumapel, desa yang diurusnya memiliki beberapa konflik internal.
Adalah sebuah kejahatan besar jika pejabat tidak menghadiri undangan ratu dan pesta pangan yang penuh berkat. Tapi siapa yang berani berkomentar jika dia adalah suami ratu?
"Baiklah. Tapi Idaline tidak akan tercatat dalam dokumen resmi dan lagi kalian akan pergi ke akademik pada musim pancaroba." Pandangan ratu beralih dari Hayan ke gadis di sebelahnya. "Idaline pergilah ke kelas bersama pangeran dan tiga saudarimu untuk persiapan masuk akademik."
Akademik menggunakan musim pancaroba agar anak-anak dapat bertahan pada dua musim sekaligus. Akademik Kerajaan berada di Sela Wukir yang musim penghujannya hampir setiap hari turun hujan dan udaranya sangat dingin, sedangkan musim kemarau panasnya tidak wajar karena lava yang berada di kawah memancarkan udara yang sangat panas.
"Baik, Yang Mulia." "Terima kasih, Yang Mulia." ucap Idaline dan Hayan bersamaan.
Idaline tidak tahu rencana jahat apa yang akan dilakukan Hayan kali ini. Ia bersumpah akan kabur dan menghilang jika sekali saja mendapat perlakuan buruk. Tidak ada waktu baginya mengikuti pertengkaran di dalam istana.
"Kamu pasti lelah, Hayan antarlah Idaline ke Kedaton Sedap Malam."
Perut Idaline berbunyi keras ketika mendengar kata sedap malam, wajahnya memerah malu karena dua orang yang duduk di atas singgasana menahan tawa dan mata Hayan yang berdiri di sebelahnya membulat sempurna.
"Putriku pasti lapar juga setelah melakukan perjalanan panjang. Dayang siapkan hidangan untuk Raden Ajeng Paramudita." tambah ratu.
"Baik, Yang Mulia."
"Ananda permisi, Ibu Ratu." pamit Hayan dan Idaline.
__ADS_1
"Iya. Hati-hati."
"Anak-anak sangat lucu. Kuharap mereka tidak cepat dewasa." Dhara terkekeh melihat kaki-kaki kecil melangkah keluar. Pipi mereka sangat menggemaskan baginya dan Dhara tidak pernah ketinggalan mencubit juga menciuminya selama berada di sekitar anak-anak.
"Dengan begitu kamu tidak bisa menjahili mereka lagi."
"Itu juga termasuk." Dhara mencium kening Gitarja, ratu pertama Kerajaan Maja yang hanya dalam waktu tiga bulan dapat mempersiapkan diri menjadi penerus tahta menggantikan kakaknya yang diracun tak lama setelah menikmati ibukota baru.
"Sadarlah, sayang. Kita sedang berada di aula kerja."
"Di pikiranmu hanya ada kerja. Lihatlah hari sudah gelap," Dhara mengedipkan matanya membuat Gitarja memukul dadanya.
Idaline yang masih mendengar percakapan mereka makin memerah. "Apa mereka tidak malu membicarakan itu di ruang terbuka?"
Di sisi kanan dan kiri pintu ada dua prajurit bagai patung tak bergerak, belum lagi para dayang dan pelayan yang lalu lalang melaksanakan tugasnya. Idaline merasa tidak pantas membahas hal seperti itu di tempat banyak orang berada.
"Apa kamu tidak belajar tata krama dasar?" tanya Hayan membuat Idaline menatapnya sambil menaikkan alis.
"Ini karena Anda memberi waktu dua hari. Saya tidak berhenti sepanjang perjalanan."
"HAHA." Hayan tidak dapat menahan tawa melihat wajah marah Idaline yang menekuk dengan bekas kemerahan yang tersisa di pipi kanan dan kirinya.
"Apa yang begini disebut sebagai tata krama?"
"Wajahmu seperti genderuwo ketika marah. Lihatlah mata merahmu dan rambut acak-acakanmu. Persis sekali. Haha."
Idaline berjalan meninggalkan Hayan yang masih tertawa.
Hayan menghentikan tawanya ketika mendengar ucapan Idaline. "Bagaimana kamu bisa tahu?" tanyanya. Padahal mereka berjalan lurus melewati berbagai macam bangunan dan taman.
Tangan kanan Idaline menunjuk papan nama yang terpasang di gapura.
"Ah jadi lapar~" Idaline masuk sambil mengelus perutnya yang terus berbunyi. Tak ia pedulikan calon pemilik kerajaan yang belum mempersilakan pergi.
Hayan diam memperhatikan kelakuan Idaline menegakkan kaki kanannya menempel ke dada dan menduduki telapak kirinya lalu makan dengan nikmat.
Pelajaran yang wajib dilakukan sebelum memasuki akademik adalah tata krama dan mengenal keluarga-keluarga bangsawan di seluruh kerajaan.
Hayan mempelajari tata krama dan keluarga-keluarga bangsawan dengan cepat. Melalui lukisan, ia tahu seluruh bangsawan sampai ke bayi-bayi yang baru lahir dalam satu bulan terakhir.
Selanjutnya ia mencoba mempelajari tulisan tapi tidak ada yang masuk ke otaknya, garis-garis yang melikuk membuatnya pusing ditambah ucapan para guru yang tidak jelas.
Guru-guru itu mengajarkan sesuai buku panduan tanpa peduli muridnya sudah paham atau belum.
Begitu pula pelajaran menghitung, dan pelajaran akademisi lainnya.
Asalnya tidak masalah jika belum mampu, namun dia adalah pewaris tahta yang harus menunjukkan kelebihan dari yang lain.
Apalagi dapat dipastikan ada beberapa hal mencolok yang sudah dikuasai murid-murid baru. Semua keluarga selalu berlomba menunjukkan mereka adalah yang terbaik.
__ADS_1
Akhirnya ia memutuskan untuk berlatih bela diri. Pelatihan sihir dan kanuragan yang sebenarnya baru dimulai ketika memasuki dua tahun usia dewasa atau ketika tahun kedua di akademik.
Raut wajah Hayan berubah serius, bayangan hitam turun dari pohon bersimpuh di belakangnya. "Apa yang dia lakukan. Siapa yang dia temui. Ke mana dia pergi. Laporkan semuanya." titahnya.
"Baik, Yang Mulia."
••••••••••••••••••••
"Bawa kemari."
"Apa ini?" Djahan membuka kotak yang diberikan Idaline. Ia mengira itu adalah senjata berbentuk bintang, namun saat disentuh bentuknya hancur.
"Itu adalah cokelat. Variasi makanan terbaru dari kebun Janapada."
Sebelumnya Idaline ingin mengkonsumsi untuk dirinya sendiri karena dia adalah si penggila cokelat, tapi ia tidak bisa menghabiskan satu gudang cokelat yang berhasil dibuat. Semua percobaan berhasil dari awal sampai buah terakhir yang matang di pohon.
Tangan Gecko dan yang lain benar-benar terampil.
"Karena perjalanan panjang, cokelat jadi lembek. Beruntung karena musim penghujan, ketika es penyimpanannya habis, tetap bisa mempertahankan bentuknya."
Djahan mengangkat telunjuknya yang menyentuh cokelat. "Bukannya ini tanah liat?" gumamnya.
"Itu bukan tanah liat! Kalau Anda tidak mau, biar saya simpan kembali."
Ingatannya yang bagus dan pendengaran tajam didapatinya ketika sampai di sini. Ditambah ia adalah orang yang sangat peka terhadap perasaan orang lain, entah keberuntungan atau kesulitan untuknya memahami hampir semua yang terjadi.
Idaline teringat ekspresi Sudewi yang penuh kasih menatapnya namun jauh di dalam matanya tersimpan tekad kuat untuk menghancurkan dirinya.
Andai dia tidak sepeka itu, mungkin dirinya akan merasa aman karena meminjam nama Fusena.
Kemudian ia tahu hari-harinya tidak akan mudah dilewati, maka satu orang yang mungkin bisa ia jangkau untuk memastikan keselamatannya selama berada di istana adalah orang yang duduk di depannya.
Djahan menggerakkan tangannya menyuruh para dayang dan pelayan menyimpan hadiah dari Idaline ke ruang es penyimpanan juga mengusir mereka pergi melihat air muka Idaline berubah serius.
"Saya dengar Anda mencari saya." Idaline menatap Djahan, ia merasa ngeri ketika memikirkan dirinya diawasi. Meski ia sudah mencoba memaklumi bahwa di generasi sebelumnya lima orang telah dibunuh karena pemberontakan, tetap saja dirinya merinding saat tahu sedang diawasi.
"Saya lihat saat Raden Ajeng menghitung sebelumnya, sangat cepat. Saya ingin Raden Ajeng mengajari caranya."
"Hanya itu?" Idaline tercengang, orang nomor dua di kerajaan memintanya mengajari tanpa ragu.
Kebesaran hati menerima ilmu dari orang lain dan tidak mementingkan ego adalah jalan termudah memperoleh ilmu yang bermanfaat.
Pikiran jadi tidak terbebani oleh garis-garis pembatas yang dibuat ego seperti usia, status, kedudukan, dan lama mencari ilmu.
Dengan tangan terbuka meraih air, membasahi jiwa yang penasaran dan mengisi lubang besar yang haus akan ilmu. Juga memenuhi kewajiban diri untuk menjadi lebih tahu tanpa menjadi sok tahu.
Tercetus dalam benak Idaline keinginan melihat kejutan selanjutnya yaitu alasan-alasan ratu memilih remaja yang baru memasuki usia dewasa menjadi Mahapatih.
"Benar. Sebagai gantinya silakan katakan, akan saya penuhi sesuai kemampuan saya."
__ADS_1
"Anda boleh mencari jadwal kosong Anda untuk belajar. Tapi saya ingin bersantai di tempat ini setiap waktu luang saya." Idaline terjeda memikirkan ucapannya memancing kecurigaan.