TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
086 - TERBEBANI


__ADS_3

Gempa berturut-turut dalam selang waktu yang sebentar.


Dan ikan-ikan yang bergelimpangan di pesisir pantai.


Idaline tidak bisa memikirkan hal ini dalam jalur positif!


"Yang Mulia Maharani, ada apa?" tanya Indudewi melihat teror di wajah Idaline.


Idaline menatap sebentar Indudewi yang bertanya lalu mengalihkan pandangannya ke wanita di sebelah Indudewi.


"Sudewi, apakah banyak ikan terdampar di pantai?" tanya Idaline.


"Iya, mbakyu. Penduduk jadi tidak perlu berlayar jauh, ikan-ikan yang jarang ditemui pun datang pada kami. Ikan itu membuat kuat jiwa dan raga kami. Semua itu berkat dari calon pangeran atau putri–"


"Tidak, Sudewi," potong Idaline seraya berdiri.


"Pergi. Perintahkan pendudukmu pergi dari sana sekarang juga. Mengungsilah ke tempat yang tinggi!" titah Idalibe sambil menggerakkan jari telunjuk dan tangannya lurus ke samping menyuruh Sudewi untuk bergerak sekarang juga.


Meski dugaan Idaline salah setidaknya mereka akan aman bila itu benar terjadi!


Daripada mereka terkena bencana dan banyak korban berjatuhan.


"Maharaniku, tenanglah." Hayan berdiri diikuti ketiga bhre yang sedang menyicip hidangan pembuka, mereka berdiri sebagai tanda kesopanan.


Tidak mungkin seorang bawahan duduk sedang atasannya berdiri. Gitarja dan Dhara berhenti mengunyah dan memperhatikan kelima anak-anaknya.


Hayan mengusap pundak kaku Idaline. Dia baru melihat perempuan ini bertindak dengan tergesa dan terkesan memaksa.


"Semuanya akan musnah jika terjadi tsunami," ucap Idaline menurunkan tangannya.


"Su na mi?" beo Hayan. Dia menuntun Idaline untuk duduk kembali. Hayan mengelus perut Idaline yang terasa kencang.


Netarja, Indudewi, dan Sudewi pun turut duduk kembali.


"Tsunami adalah bencana air laut yang masuk ke darat. Ikan-ikan di air yang dalam muncul dan terdampar di pantai, beberapa hari kemudian akan terjadi gempa besar lalu datang tsunami," jelas Idaline. "Meski belum pasti. Lebih baik mengungsi!"


"Lakukan saja," titah Hayan menuruti keinginan Idaline.


Hanya dengan ini Idaline dapat ditenangkan.


Hayan mengangkat gelas dan menempelkannya ke mulut Idaline. Idaline dengan patuh menenggak habis air dalam gelas.


Hayan lantas meletakkan gelas kosong itu dan mengusap sudut bibir Idaline dengan selendangnya.


"Makan ya? Semua itu akan kuurus," bujuk Hayan tidak tega melihat wajah Idaline yang pucat karena khawatir.

__ADS_1


Dhara dan Gitarja saling memandang dengan merona. Anak dan menantu mereka ini bisa saja membuat adegan romantis.


Dalam sisi manusia biasa Gitarja memandangnya seperti itu namun sebagai mantan penguasa Gitarja menilai Hayan memiliki hati yang lemah.


Menuruti semua keinginan pasangan tanpa alasan yang jelas bukanlah hal baik. Kelak dia akan minta hal-hal yang tidak masuk akal.


Apalagi Hayan seperti merendahkan dirinya sendiri di hadapan Idaline.


Mana ada pria yang melayani wanita!


"Yang Mulia!" panggil Huna berlari dengan kencang dari arah gapura.


Hayan mengadakan jamuan di luar ruangan jadi Huna bisa masuk tanpa harus permisi.


Huna mengambil napas dengan tergesa dan bersimpuh lalu mengangkat tinggi-tinggi kertas bersegel yang dipegangnya.


"Mohon maaf mengganggu acara Anda sekalian, Yang Mulia. Ada dara sungut datang membawa pesan."


Dara sungut adalah merpati tercepat yang dilatih membawa surat darurat.


Selain keraton, keberadaannya hanya hitungan jari, setidaknya ada satu di tiap daerah.


Jadi bisa dipastikan dara sungut ini membawa pesan penting bila diterbangkan menuju keraton.


"Wirabhumi dan sebagian Pakembangan dilahap laut. Semuanya berubah menjadi lautan air. Warga Sadeng dan Argopuro sudah membantu namun kekurangan prajurit yang ahli, banyak warga yang menyangkut di pohon-pohon yang tinggi. Kami memohon bantuan kepada Yang Mulia Maharaja." Huna menyudahi membaca pesan lalu menyerahkan kertas itu pada Maharaja.


Hayan berpikir sejenak. Masalah Galuh belum selesai, seperti kata ibu suri atau Gitarja Wijaya, Kerajaan Galuh tidak akan membiarkan orang-orang yang membunuh raja mereka.


Orang-orang yang setia pada Lingga Buana pasti melindungi putra Lingga Buana. Akan tetapi bila mereka sudah sampai ke tanah Maja, ceritanya akan berbeda.


Mereka pasti akan menyerang tanpa peduli nyawa mereka sendiri.


Itulah Balamati, pasukan khusus Kerajaan Galuh yang tidak peduli nyawa sendiri, mereka menyerahkannya pada penguasa mereka tanpa paksaan.


"Kirim senopati Janar Pandya ke sana," putus Hayan.


Janar Pandya adalah pelatih prajurit-prajurit muda atau prajurit dan pengawal yang baru masuk ke lingkup Nagara, kawasan yang berada satu tingkat di bawah Bhumi.


Nagara dipimpin langsung oleh bhre, rajya, natha, wadhana, dan adipati yang masih memiliki hubungan darah dengan keluarga keraton.


Jadi jika diperintahkan untuk bergerak, Janar Pandya pasti membawa serta anak didiknya dan dapat meringankan beban kerja para penolong di Wirabhumi.


Dan para pengawal, prajurit, juga ksatria yang terampil tidak perlu turun ke tempat bencana.


Mereka harus fokus melindungi ibu kota.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia."


Kemudian Huna melesat pergi. Kabar ini harus diberitakan saat ini juga.


Di sisi lain Bale' Bandhang dayang-dayang dan abdi ndalem yang membawa nampan melambatkan langkah mereka melihat-lihat situasi di halaman.


Berita duka yang dibawa Huna bisa saja membatalkan pesta makan-makan yang disiapkan Maharaja namun mereka tetap melangkahkan kaki membawa makanan yang masih menguar uap panasnya.


"Maafkan hamba tidak benar dalam bekerja," sesal Sudewi.


Kalau tahu akan terjadi seperti ini Sudewi pasti memberitakan dengan detail setiap yang terjadi di daerahnya bukannya merencanakan memberi kejutan pada Maharaja dan Maharani juga yang lainnya tentang ikan-ikan langka yang ia temukan.


Dia merasa bangga menemukan ikan-ikan dari laut terdalam dan berpikir akan menjadi hadiah terbaik tahun ini.


Pada kenyataannya ternyata itu adalah tanda bencana alam besar.


"Wirabhumi memang penuh bencana dalam beberapa tahun terakhir. Nanti lakukanlah upacara langit dan bumi. Panggil murid Petapa Agung," perintah Hayan.


"Baik, Yang Mulia."


"Makanan sudah jadi. Sebelum dingin mari kita habiskan." Hayan menggerakkan tangannya memberi kode pada orang-orang yang mempersiapkan makanan mereka.


Dayang-dayang dan abdi ndalem pun melangkah dengan cepat dan teratur memasuki halaman dan menata makanan.


"Ayunda, makanlah daging ini. Sangat nikmat," goda Netarja mengambil piring besar yang berisi daging sapi kesukaan Idaline.


Gitarja memukul tangan Netarja yang terjulur di sebelahnya. "Ibu hamil dilarang makan daging. Harus makan sayur supaya janin sehat dan kuat," urainya.


Indudewi melirik perempuan yang disuruhnya. Perempuan yang merupakan dayang pribadi Indudewi itu mengangguk.


Indudewi tersenyum lebar saat sang dayang berdiri di sebelahnya kemudian dia mengambil kotak yang berada di nampan.


"Ayunda, saya sudah menyiapkan gunting, benang, dan jarum. Saya selalu mengharapkan pangeran dan tuan putri cepat lahir ke dunia. Semoga anak Anda selalu diberkahi olehNya."


Indudewi memberikan kotak kayu putih yang berbalut kain berwarna hitam. Di dalamnya terdapat gunting, jarum, dan benang yang terbuat dari emas murni.


Benda-benda ini merupakan jimat pelindung yang dipercaya dapat melindungi ibu hamil.


Idaline merasa sangat terbebani untuk menyimpan semua benda itu.


Bagaimana kalau dirinya justru tertusuk saat menyimpannya!?


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 09 November 2021

__ADS_1


__ADS_2