TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
024 - KAKAK SANGAT KEJAM


__ADS_3

Semua orang mengalihkan pandangannya pada seseorang yang memasuki ruangan. Nampak seorang gadis berpakaian serba putih dan di tangannya ia memegang nampan yang ditutupi kain merah.


"Hamba Cethi menghadap Yang Mulia Paduka Sri Ratu." ucap gadis berambut hitam sambil bersimpuh di tengah aula.


"Ini adalah bukti yang tuan Parikesit bicarakan. Hamba saat itu berada di bawah tanah sedang mengambil bahan untuk Ki Ageng Lawu membuat keris yang biasa beliau lakukan setiap sepuluh tahun sekali."


"Suara di bawah sangat hampa, tidak terdengar dari luar dan di dalam tidak terdengar suara luar. Bahan-bahannya sangat banyak hingga hamba membutuhkan waktu setengah jam untuk mengumpulkan. Saat naik ke atas, lantai sudah berlumuran darah, Ki Ageng Lawu sedang diseret dengan luka menganga. Entah bagaimana kondisinya."


Kripala membuka kain merah, terlihat ujung tombak bermata dua khas Wengker dan dua lembar potongan kain pinggul ksatria Wengker dan kain selendangnya.


"Mereka mengusir seluruh warga dan melarang semuanya masuk ke area Wukir Mahendra. Mohon Yang Mulia Ratu memeriksa kebenaran ini." tambah Cethi.


Idaline bangkit dari duduknya mendengar kata perkata keluar dari mulut Cethi.


"Ada apa Paramudita?"


"Mohon maaf menyela, Yang Mulia Ratu. Karena kami sudah menyerahkan hadiah, kami izin undur diri untuk bersiap-siap menampilkan pertunjukan."


Ratu mengulum senyum melihat sikap sigap Idaline lalu memberi izin. "Kalian semua boleh keluar."


Para bangsawan bangkit mendengar ucapan ratu, mereka membungkuk lalu berjalan keluar diikuti perwakilan-perwakilan dari daerah.


Idaline berhenti di depan Cethi. "Anda pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Mari beristirahat." ajaknya.


Parikesit mengangguk pada Cethi yang menatapnya bertanya. Seorang dayang mengambil nampan yang dipegang Cethi lalu gadis itu berjalan mundur menggunakan lututnya dan keluar dari pintu depan.


"Tuan Sapta, sepertinya putri-putrimu ingin menunjukkan bakatnya."


Tersirat dalam ucapan Idaline menyuruh Baga keluar dan membantu anak-anaknya bersiap. Ratu semakin menarik kedua sudut bibirnya.


"Terima kasih atas perhatian Raden Ajeng." Baga tersenyum kecil pada Idaline. "Hamba mohon izin undur diri, Yang Mulia Ratu." Baga memberi hormat pada ratu.


"Pergilah."


Baga berjalan mundur ke belakang beberapa langkah lalu berbalik keluar melewati pintu bersama keluarganya. Idaline mengikuti di belakangnya.


Aula yang terbuka lebar itu seketika tertutup pintu besarnya. Orang-orang langsung pergi ke ruangan yang tersedia untuk berganti pakaian dan menyiapkan diri untuk pertunjukan.


Idaline menghela napas. Ia tidak mau melakukan pertunjukan dan ingin melewati hari seperti bayang-bayang, tapi karena sudah berkata tentang pertunjukan, ia harus menampilkan setidaknya satu tarian atau nyanyian.


Keduanya terlalu berlebihan bagi Idaline tapi puisi hanya dapat dilantunkan oleh orang-orang yang telah memasuki usia dewasa.


"Ah yang lain sudah pergi." Netarja keluar aula setelah halaman kosong dari para tamu. "Kamu masih di sini?"


Cethi yang mengkhawatirkan tuannya berdiri di bawah pohon dekat pintu masuk. Ia berjingkat mendengar perempuan tertinggi setelah ratu berbicara padanya.


Cethi membanting tubuhnya dan bersujud setelah tanpa sadar melihat wajah Netarja. "Ha..hamba mem.beri salam kepada Yang Mulia Tuan Putri." ucapnya sedikit terbata.


Kesalahan besar mengangkat kepala sebelum diberi izin.


"Tidak perlu menunggu. Mereka akan lama." Netarja menerima uluran tangan dayangnya. "Tunjukkan jalan ke ruangan para Raden Ajeng."


"Baik Yang Mulia."


"Mari nona." ajak dayang yang menerima tamu membantu Cethi yang masih bersujud. Cethi pun mengekor di belakangnya.


••••••••••••••••••••


Dua jam untuk bersiap telah habis. Hayan keluar terlebih dahulu dari aula utama meninggalkan ratu dan suaminya juga Djahan selaku mahapatih.


Hayan duduk di aula pertunjukan, di sana para lelaki sudah berkumpul dengan semangat untuk menyaksikan pertunjukan yang akan dilakukan para gadis.


Idaline menyusuri tiap ruang tunggu mencari Cethi. Ia menggigit ibu jarinya sambil mondar-mandir di belakang gedung tempat rias, kebingungan tidak dapat menemukan Cethi.


"Yang Mulia, pertunjukannya akan dimulai." khawatir dayang yang mengikuti Idaline.


"Karena berkeringat riasan Anda jadi pudar. Kita harus menebalkannya kembali." ucap yang lain.


Idaline tidak pandai dalam seni, ia hanya bisa menari satu tarian tradisional karena terus menjadi partner rekannya yang merupakan penari andalan sekolah. Meski buruk, ia jadi lebih baik setelah diajarkan oleh para profesional penari kuno langsung dari zamannya.


Tapi ia tidak memikirkan hal itu, otaknya bekerja cepat mencoba mengingat hal-hal yang kabur akibat dari ingatan berbahaya yang tiba-tiba memaksa keluar beberapa hari lalu.


"Ambilkan aku air dingin." Idaline mengusap keringatnya yang bercucuran. "Untuk cuci muka." tambahnya melihat kebingungan dayang.


Dayang itu melejit cepat meninggalkan Idaline dan rekan-rekannya. Dayang yang lain membawa kursi untuk Idaline. "Mohon tenangkan diri Anda." ucapnya pengertian.


Idaline menerima dengan senang hati. Ia duduk sambil mengerutkan dahinya berpikir.


"Silakan, Yang Mulia." dayang yang pergi, kembali membawa air dingin di baskom.


Idaline mengusap wajahnya dan pikirannya kembali tenang. "Ayo bantu aku ganti pakaian."


Netarja berada di ruang tunggu setelah berganti pakaian. Ia mengangkat tangannya melihat Indudewi dan Sudewi yang masuk selesai dirias.


"Hanya kalian?" tanya Netarja tidak melihat Idaline.


"Karena hiasannya berat, kami jadi tidak memperhatikan sekitar." jawab Indudewi.


Untuk memperlihatkan kekompakkan sebagai saudari, Indudewi dan Sudewi mempelajari beberapa tarian yang diperuntukkan bagi anak kembar.


Para pengajar tidak mempersalahkannya, Indudewi dan Sudewi terlihat sangat mirip meskipun berbeda ibu.


Gen ayahnya sangat kuat, terlebih perbedaan umur yang hanya beberapa bulan membuat pertumbuhan mereka persis seperti anak kembar.


"Kalian carilah. Tidak, ayo masuk ke aula." Netarja mendengar dayang-dayangnya ingin melihat pertunjukan para putri bangsawan, ia tidak bisa pura-pura tidak tahu setelah mendengarnya dengan jelas.


"Kami akan mencarinya." Para dayang yang hendak mencari Idaline menghentikan langkahnya melihat Netarja mengangkat tangannya.


"Fokus saja pada pertunjukannya. Idaline mungkin butuh waktu lebih untuk bersiap."


"Baik, tuan putri."


Netarja mengangguk kemudian pergi meninggalkan Indudewi dan Sudewi.


"Saat hamba mengambil bunga, Yang Mulia Paramudita masuk ke dalam ruang ganti." lapor salah satu dayang Kedaton Banon, kediaman Indudewi.

__ADS_1


"Laporan yang bagus. Tapi apa aku menyuruhmu bicara?" Indudewi berkata dengan dingin dan menatap dengan dingin dayang yang sedang membungkukkan tubuh dan mendekatkan mulutnya ke telinga Indudewi.


"Mohon maafkan hamba tidak melihat tempat." sesal dayang memohon sambil bersimpuh.


"Keluarlah dari kediamanku. Kembali menjadi langking."


"Terima kasih atas kemurahan hati Raden Ajeng." Bergegas sang dayang pergi meninggalkan mereka.


Saat Raden Ajeng belum dewasa, mereka tidak dapat mengatur dayang sesuka hati dan tidak bisa seenaknya menghukum dayang ketika berada di luar kediaman mereka.


Dan selain hal yang membahayakan nyawa, hukuman berat yang ingin dijatuhkan ditentukan setelah pengasuh berdialog dengan petinggi keamanan istana.


Para Raden Ajeng hanya boleh mengusir dayang yang tidak mereka inginkan.


Tentu saja tidak bisa terus menerus membuang orang yang tidak diinginkan. Selama ini Indudewi bernegosiasi dengan pengasuhnya untuk menaruh orang yang tidak disukainya sejauh mungkin.


Namun Indudewi mengerti pada hal-hal yang akan merepotkannya, ia lebih memilih membuangnya terlebih dahulu daripada mengakar kemudian.


"Kakak sangat kejam." Sudewi tertawa kecil, itu adalah kali pertama Indudewi mengusir seorang dayang yang tidak sesuai dengan dirinya sendiri.


"Orang yang sudah mengusir beberapa dayang dan pelayan tidak berhak berkomentar." Sindir Indudewi. Entah bagaimana adiknya itu bisa membuang lebih dari sepuluh orang dari Kedaton Baro-Baro, tempat tinggal Sudewi.


"Yang tidak sehati kenapa harus dipertahankan~" Sudewi menutup mulutnya tertawa ringan.


Indudewi ikut tertawa mendengar balasan Sudewi.


"Hamba izin keluar." ucap dayang setelah menaruh kuas di atas meja.


Idaline membuka matanya. Ia mengerut melihat cermin buram di depannya. "Tidak terlihat." Kemudian ia membuka jendela selebar mungkin lalu meloncat keluar dari ruangannya.


Dua dayang yang berjaga dengan siaga di depan ruangan Idaline tidak menyadari kepergian majikannya. Lebih tepatnya dalam benak mereka tidak pernah terlintas seorang Raden Ajeng akan keluar melalui jendela.


"Kamu yang akan membawa jamuan ke dalam aula?" tanya wanita paruh baya dengan tangan penuh adonan. Ia berjongkok membersihkan tangannya.


"Ini." ucap sinis seorang gadis memberikan nampan berisi berbagai kudapan.


Idaline melihat pakaian gadis itu dari atas ke bawah. Pakaiannya sangat rapih untuk seorang dayang dapur. Lantas Idaline paham gadis itu menginginkan hal lain namun tak diizinkan.


"Kamu saja yang pergi."


"Benarkah? Kamu akan di dapur?" Tidak menunggu jawaban, gadis itu melengos pergi.


Idaline mengedikkan bahunya, ia mencari dengan teliti tiap wajah yang sedang sibuk menata makanan.


"Hei gadis nakal! Kita masih banyak kerjaan! Hanya kamu yang tau persis pembuatannya!" Wanita paruh baya mengatur napasnya yang ngos-ngosan akibat berteriak-teriak pada anaknya yang berjalan menjauh.


"Siapa yang akan membawa nampan selanjutnya?" tanya Idaline.


"Daripada memikirkan itu, kamu harus membantu aku, gadis kecil yang manis."


Idaline tersenyum. Melihat tumpukan makanan hajatan membuatnya teringat uwanya, pembuat kue tradisional. Saat pulang kampung, ia dan para sepupu akan sibuk membantu hingga malam hari. Semuanya selesai dengan cepat~


"Aku akan membantu setelah menemukan orang." ucap Idaline pelan.


Wanita paruh baya fokus memperhatikan tangan Idaline yang putih dan mulus lalu sedikit menundukkan kepalanya berpura-pura mengelap piring yang sebenarnya sudah kering. "Nampan yang tadi adalah yang terakhir."


"Camilan pembukaan selalu siap sebelum acara. Kepala dayang memerintahkan untuk memberikan camilan kepada perwakilan daerah juga, jadi kami baru selesai menghidangkan camilan untuk aula pertunjukan. Selanjutnya ada camilan kedua, camilan pertama pasti habis saat di pertengahan." jelasnya menggunakan bahasa formal.


"Aku akan menunggu."


"Agar lebih dekat, camilan kedua dikirim terlebih dahulu ke gedung terdekat. Anda bisa mencari orang di gedung tersebut."


Idaline tersenyum pada tanggapan cepat sang dayang. "Siapa namamu?"


"Wonco."


"Selama ada kesempatan dan berada dalam genggaman. Kamu tidak perlu ragu meminta bantuan."


"Ini sudah menjadi tugas saya." Wonco selalu mendengar berita terhangat keluarga kerajaan agar menemukan keberuntungan untuk anak perempuan satu-satunya.


Tuan putri terkenal karena tangannya yang lihai membuat hal-hal indah, dua raden ajeng sangat pandai menari. Sedangkan raden ajeng yang baru terkenal akan kecerdasannya.


Meski banyak dayang menggunjing Idaline di belakang karena tidak pernah melihat Idaline pandai dalam seni, Wonco tidak ikut memandangnya remeh.


Wonco akan mengikuti semua bangsawan yang bisa membawa keberuntungan untuk anaknya.


Wonco menatap punggung Idaline yang berjalan menjauh, tidak mungkin petugas keamanan yang sangat ketat akan membiarkan orang luar berkeliaran seenaknya.


Jika Idaline tahu pikiran Wonco, ia akan berteriak dengan kencang kalau petugas keamanan telah kecolongan.


Idaline menatap Cethi yang sedang membawa nampan besar berjalan keluar dari rumah tunggu. Ia berdiri di belakang Cethi yang sedang memperbaiki pegangannya dan berbisik, "Apa yang sedang Anda lakukan di sini?"


Cethi terkejut mendengar suara dari belakang kepalanya. Ia melonjak dan menumpahkan nampan yang dipegangnya.


"Ah tidak! Kalian! Apa yang kalian lakukan pada makanan mahal itu?!!" marah pelayan yang ditunjuk sebagai penanggung jawab. "APA KALIAN BISA BEKERJA DENGAN BENAR?" bentaknya.


Idaline dan Cethi meringis mendengar teriakan pelayan. Pengawal yang berlalu lalang, dayang, dan pelayan yang ada di sana sekejap mengerumuni mereka.


"Saya hanya melakukan pekerjaan. Dia yang tiba-tiba berdiri di belakang saya." tunjuk Cethi pada wajah Idaline.


"Yah..aku juga lihat." komen para pelayan pembawa nampan.


"Ugh. Baiklah. Pengawal tangkap dayang tidak tahu diri ini. Dia menghancurkan makanan yang bahkan tidak dapat dibayar oleh gajinya selama bertahun-tahun, ditambah menggoda pelayan tanpa tahu malu di siang bolong."


"Aku menggoda?" Idaline dan Cethi saling bersitatap dan bulu kuduk mereka berdiri.


"Saksinya ada banyak jadi kamu tidak bisa mengelak." ucap pengawal mengunci tangan Idaline.


"Kalian akan menyesal!" ancam Idaline menatap semua orang yang berada di sana. "Huh. Aku juga belum perhitungan dengan para ksatria pangeran. Kalian akan kuurus nanti." Idaline mengingat wajah-wajah ksatria Hayan yang dulu terlibat penculikannya.


"Apa yang dayang kecil ini ucapkan? Aku sangat tidak paham~" ucap pelayan si penanggung jawab.


"Seharusnya di sela-sela ini kamu diam saja." bisik Idaline pada Cethi.


Gadis itu ikut dibawa karena kerugian material yang banyak. Selama keterangannya jelas, semua kesalahan akan dilimpahkan pada lawannya, Idaline.

__ADS_1


Idaline tidak peduli dengan itu selama ia bisa duduk manis berdua dengan Cethi, kerugian akan ia bayarkan dengan uang pribadi yang diberikan ratu.


"Ke..kenapa kemari?" tersirat ketakutan dalam suara Cethi membuat Idaline yang berusaha menutupi wajahnya dengan rambut mendongak.


"Apa kalian gila?!" hardik Idaline pada para pengawal. Terpampang jelas tulisan aula pertunjukan di papan besar yang menggantung di gapura. Idaline menghela napas dengan berat. "Menghancurkan hari besar bangsawan bukanlah hal bagus." ucapnya memperingati.


"Kami akan menerima pengharagaan karena menangkap para penyusup."


"Benar-benar bukan ide yang bagus." karena hal itu justru akan membuat istana dianggap sebagai tempat yang tidak aman, tambah Idaline dalam hati.


"Apa yang kalian lakukan?"


Keempat pengawal yang sedang beradu agumen itu terkejut. "Kami memberi salam kepada Tuan Mahapatih." ucap satu pengawal dengan sigap.


"Kami memberi salam kepada Tuan Mahapatih." salam dua pengawal yang mengapit Idaline, mereka menundukkan kepala. Cethi dengan canggung bersimpuh mengikuti para pengawal yang juga bersimpuh.


"Kami menangkap penyusup yang berusaha mengacaukan pesta." jelas pengawal yang bersimpuh.


"Djahan pasti tidak akan membiarkan acara kacau dan akan menyuruh kami pergi ke penjara." pikir Idaline merasa gembira. "Akhirnya kita bisa berdua." mata Idaline di balik rambutnya melirik Cethi, yang dilirik merasakan bulu kuduknya kembali berdiri.


"Angkat kepalamu." perintah Djahan pada sang tersangka.


Idaline menahan napasnya, rambutnya sudah menutupi wajahnya dengan sempurna. Hal terakhir yang harus ia lakukan adalah menahan agar tidak berbicara.


"Apa aku pura-pura bisu saja? Ah tidak. Nanti bisu beneran."


"Angkat kepalamu." ulang Djahan.


Idaline malah menundukkan kepalanya lebih dalam. Jantungnya berdebar dengan kencang berharap situasi ini cepat berlalu.


"Apa kamu tidak dengar Tuan Mahapatih menyuruhmu mengangkat kepala?" Salah satu pengawal menarik rambut Idaline ke belakang.


Idaline terbelalak melihat pandangannya menghitam.


"Jangan dilihat." bisik Djahan yang sudah berdiri di samping Idaline.


"Huh?" sahut Idaline tidak paham. Ia merasakan kedua telinganya ditutup oleh tangan besar. "Mengingatkan bencana besar saja." batinnya teringat dukuh Lege dan gunung Tang.


"Tuan Mahapatih..?" lirih para pengawal tidak mengerti.


"Apa kalian buta tidak mengetahui seorang Raden Ajeng? Rakryan Tumenggung benar-benar tidak bisa mengurus anak buahnya."


"Mohon beritahukan dengan jelas agar saya mengerti." sela Janu Pandya, Rakyran Tumenggung pengganti Bimasena Sanjaya, ayah Rawindra Sanjaya. Janu berniat memasuki aula setelah memantau keadaan malah menemukan keributan di depan gapura.


"Bawa empat orang ini agar lebih jelas."


Janu menatap dua pengawal yang terkapar tidak sadarkan diri di tanah dan satu pengawal memegang lengannya yang terpotong. Ada pula satu pengawal dan satu pelayan bersimpuh dengan resah.


Pengawal yang terpotong tangannya terus berteriak dalam diam.


Djahan melepaskan tangannya. Wajah datar Indra memenuhi penglihatan Idaline.


Rawindra Sanjaya atau yang biasa dipanggil Indra turut melepas tangannya yang berada di telinga Idaline lalu membalikkan tubuh gadis itu sejajar dengan dirinya dirinya dan ia mendorong pelan pundak Idaline agar pergi menjauh.


"Saya ingin berbicara dengan Anda." ujar Indra.


Idaline yang ingin memutar kepalanya penasaran dengan keheningan yang tiba-tiba datang terus dihalangi oleh Indra. Matanya melotot melihat Indra bergerak-gerak mengikuti bola matanya.


"Apa sih?" kesal Idaline.


"Pakaian dayang sangat tidak cocok. Jelek sekali." ejek Indra.


"Aku pakai bukan untuk dinilai orang lain." balas Idaline.


"Ada kecoa hinggap di pakaianmu."


"Oh di mana?" tanya datar Idaline.


"Cacing juga menempel di pinggangmu."


"Itu kupakai untuk memancing ikan di kolam." ucap Idaline menanggapi.


"Memancing ikan?" Indra menaikkan alisnya.


"Udelia, ada cicak di punggungmu."


Idaline menghentikan langkahnya. Ia menatap Siji yang muncul di sebelah Indra. Kakak sepupunya sangat serius jika sudah memanggil nama lengkapnya. "Di-di mana?"


Indra tersenyum. "Di bahumu. Oh tidak dia lari~" candanya.


"Jangan bercanda!" tegur Idaline.


"Itu benar kok. Tanya saja pada Siji." Indra melirik Siji yang berjalan di sebelahnya.


Tangan Idaline bergetar, wajahnya pucat pasi. Ia berlari menuju ruangannya yang sudah dekat. "Aku ingin ganti baju!"


"Ini.." ucap ragu dayang melihat bercak darah di punggung Idaline.


Indra yang berada di belakang Idaline menaruh telunjuknya di bibir. Wajah dinginnya membuat para dayang mengangguk patuh.


Dayang-dayang yang melayani para Raden Ajeng adalah mereka yang lahir dan besar di keraton hingga tahu seluk-beluk keraton untuk membantu memberikan informasi yang diperlukan.


Mereka tahu banyak kejadian dan banyak orang termasuk Indra yang selama beberapa tahun terakhir belum pernah muncul di depan publik namun dengan mudah keluar-masuk keraton meski tidak memiliki tugas.


"Benar-benar ada cicak?!" Idaline semakin gusar melihat wajah khawatir para dayang.


"Anda tenang dulu ya. Mari kita buka dengan benar."


Dayang menunduk hormat pada Indra lalu menutup pintu ruangan. Idaline merasa lega saat masuk ke bak yang berisi air hangat.


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 12 Agustus 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2