TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
021 - SEMUA SUDAH BERLALU (1)


__ADS_3

"Yang Mulia, kalau Anda ingin berendam kami sudah menyiapkan air panas di kolam belakang." kata seorang dayang.


"Benar, Yang Mulia. Air kolam itu terlalu dingin dan dalam. Mari ikut kami ke belakang." sahut yang lain.


Idaline menatap kesal para dayangnya.


Ia tidak diperbolehkan lari akhirnya hanya dapat yoga di dalam ruangan.


Lalu saat ia melihat kolam air, juga tidak diperbolehkan berenang di sana.


Idaline meninggalkan para dayangnya yang masih memohon. Karena Bejo sedang keluar melakukan tugas dari ratu, ia jadi bisa bebas sementara waktu.


"Kalian jangan berbicara terus. Nanti orang-orang dari luar datang ke sini. Diamlah lalu biarkan aku santai sejenak."


Bukan hanya kolam, ada pula air terjun buatan dari aliran sungai di kaki gunung. Air deras itu jatuh ke kolam, menyegarkan mata dan menyejukkan jiwa.


Di sekelilingnya terdapat bunga sedap malam menambah sensasi nyaman siapa pun yang berada di sana dan dapat menenangkan pikiran hanya sekedar berdiri beberapa saat di sekitarnya.


"Kalian membuat kolam seindah ini hanya untuk memanjakan mata?"


Idaline masuk ke kolam mencoba berenang dengan tubuh barunya, sedikit kesulitan karena airnya lebih dalam dari kolam di kediaman Ekadanta, namun ia berhasil berenang dari ujung ke ujung.


Ia rentangkan tubuh hingga mengambang mengikuti arus lalu berenang melawan arus. Berkali-kali ia lakukan kemudian berhenti di bawah air terjun menikmati sensasi pijatan dari air yang terjatuh. Ia mendongakkan kepala menikmati air yang menyerbu wajahnya.


"Apa itu?" Idaline seka air yang jatuh di matanya, samar melihat lubang di balik air terjun.


Dengan hati-hati ia panjat sedikit demi sedikit tembok yang licin. Ketika sampai di lubang besar, Idaline perlahan masuk dan mendapati itu adalah goa buatan karena dindingnya terlalu halus dan banyak obor usang yang lama tak terpakai menempel di dinding.


Idaline memutuskan keluar ketika cahaya matahari tak lagi dapat menyinari bagian goa yang semakin dalam semakin gelap.


"Yang Mulia! Anda di mana?" teriak khawatir dayang yang menemaninya tidak menemukan Idaline di kolam.


"Aku di sini." sahut Idaline di bawah air terjun yang deras.


"Kelas bela diri akan dimulai, Yang Mulia." ucap dayang membacakan jadwal.


"Katakan pada guru kalau aku tidak enak badan." enteng Idaline membasuh tubuhnya dan menyudahi bermain airnya.


"Jadi dari kemarin saya mencari Anda, ternyata Anda sakit?"


Idaline terperanjat menjumpai Djahan berdiri di dekat kolam. Spontan Idaline jatuhkan tubuhnya ke air. "Saya sedang memulihkan diri."


"Tapi bukannya kemarin Anda pergi keluar?"


"Saya merasakan sakit sepulang dari sana." Idaline menerima kain dari dayang. "Ah aku ingin handuk." keluhnya dalam pikiran. "Tidak lihatkah Anda kalau saya sedang tidak dalam keadaan bisa menerima tamu?" ketus Idaline menutupi tubuhnya.


"Saya ingin memberikan hadiah balasan. Cokelat yang Anda berikan sangat enak. Dan terima kasih karena ilmu yang Anda ajarkan, laporan saya jadi lebih cepat selesai." ujar Djahan tak peduli kondisi Idaline.


"Terima kasih kembali." Idaline menatap tajam Djahan. "Anda tidak tahu malu ya." Ia berjalan mendahului dan Djahan mengekor di belakangnya.


"Saya ingin melihat apakah pakaian ini cocok untuk Anda."


"Layani Tuan Mahapatih." Idaline bergegas masuk ke dalam kamar diikuti dayang yang membawa hadiah dari Djahan. "Ini adalah kebaya?!" serunya saat dayang membentangkan pakaian yang diberikan Djahan dan perhiasannya.


"Saya senang sekali pakaian ini pas dengan ukuran Raden Ajeng." ucap Djahan begitu Idaline keluar dari kamarnya.


"Bahan pakaiannya bagus dan perhiasannya ringan. Istri dan putri Anda pasti senang."

__ADS_1


Saat belajar sejarah bersama para putri, ia jadi teringat prasasti-prasasti dan penjelasan saudaranya yang mengambil bidang sejarah di universitas, bahkan ucapan sekilas sepupunya itu teringat dengan jelas dalam otaknya.


Dari sana ia tahu bahwa orang yang sedang menenggak air di depannya jauh lebih tua daripada ratu sekarang.


"Saya baru lulus dari akademik lalu langsung direkrut oleh ratu, bagaimana mungkin saya sudah menikah?"


Selain sumpahnya ketika dilantik, kehidupan pribadi Djahan memang tidak terlalu detail dalam prasasati.


Tapi karena kekosongan saat Djahan menghilang setelah Kalagemet mati diracun dan juga kemunculan putri yang begitu mirip setelah Djahan mati tanpa sebab di bawah pemerintahan Hayan, para pakar jadi berspekulasi bahwa sebelum bersumpah Djahan telah menikah dan memiliki seorang putri.


Beberapa pakar yang lain tidak setuju karena umur yang tertulis tidak sesuai. Kubu ini pun terbagi dua, yang satu mengeluarkan statement bahwa Djahan tidak memiliki anggota keluarga lain, ia hidup sebatang kara dan mati sebatang kara. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk membangun Kerajaan Maja yang sangat ia cintai.


Sedang satunya berkata bahwa perempuan itu bukan anaknya melainkan adalah adiknya, tetapi kurang bukti karena Djahan merupakan anak yatim piatu saat ditemukan Nararya Grama Wijaya atau penyandang marga Wijaya pertama dan raja pertama Kerajaan Maja, Raden Wijaya.


"Raden Ajeng?" panggil Djahan.


"Ida. Panggil saja saya Ida. Lalu bicaralah dengan santai." koreksi Idaline.


"Lalu panggil saja saya Djahan." balas Djahan.


"Baiklah tuan Djahan."


"Iya nona Ida."


"Tidak. Jangan panggil aku nona Ida karena–," kamu lebih tua. Idaline tidak dapat melanjutkan ucapannya. Fakta Djahan berkata dirinya baru lulus dari akademik pasti sedang melakukan misi atau ada hal lain yang sangat serius.


Djahan menatap bertanya. Idaline memutar otaknya memikirkan alasan terbaik.


"Anda tahu sendiri kalau saya hanya rakyat jelata. Panggil saja dengan nama."


"Ugh. Baiklah Djahan. Mari kita berbicara santai."


"Dengan senang hati." Djahan menggoyangkan gelasnya yang kosong. Dayang dengan sigap mengisinya kembali. "Kudengar dari Mihir kalau kamu akan menikah. Bagaimana dengan model pakaian yang aku berikan?"


"Ini sangat bagus dan nyaman." puji Idaline. "Tapi aku tidak jadi menikah."


Djahan diam tidak melanjutkan pembicaraan. Rintik hujan menjadi alunan musik dalam keheningan.


Para dayang yang berada di sana memilin pakaiannya, aura mencekam yang dikeluarkan Djahan membuat bulu kuduk mereka berdiri.


Idaline sendiri tanpa sadar mengeluarkan aura tubuhnya karena kesedihan mengucapkan batalnya pernikahan yang diidam-idamkan pemilik tubuh.


"Ida, kamu mau berkunjung ke kediamanku?" tawar Djahan memecah keheningan.


"Ayo."


Idaline penasaran bagaimana isi rumah orang yang akan membawa Maja ke masa keemasannya. Jika ia beruntung, ia bisa menemukan rahasia dan menelitinya ketika kembali ke dunia modern.


"Sekarang?"


"Apa kita harus membuat jadwal dulu?" tanya balik Idaline.


"Tidak perlu. Hari ini tugasku telah selesai lebih cepat berkat metodemu. Mari kita pergi."


"Kalian tidak perlu ramai-ramai. Cukup satu orang saja." perintah Idaline melihat dayang mulai berkumpul.


"Baik, Yang Mulia."

__ADS_1


Kediaman keluarga petinggi istana, seperti mahapatih, penasihat, rakryan kanuruhan atau bendahara kerajaan dan rakryan tumenggung yang merupakan jenderal tertinggi kerajaan, berada di luar tembok istana.


Sedangkan rakryan demung, pengurus rumah tangga istana tinggal di dalam istana, tepatnya di halaman terluar.


Untuk rakryan patih yang mengatur seluruh kepala daerah, rumah peketnya berada di ibukota agar tidak banyak orang datang ke keraton.


Dharmadyaksa merupakan mentri sosial yang mendengarkan keluh kesah warga, tiap daerah memiliki wakil yang akan menyampaikan ke rakryan dharmadyaksa, lalu rakryan akan memilah setiap aduan dan memberikan pada keraton yang diperlukan saja.


Rakryan patih dan rakryan dharmadyaksa bekerja langsung dibawah mahapatih, lainnya akan menyampaikan laporan pada bawahan mahapatih. Namun rakryan demung akan bekerja di bawah ratu jika yang berkuasa adalah raja.


Di sisi lain ada 3 mahamentri yang bekerja langsung di bawah penguasa kerajaan, tidak melalui mahapatih. Mereka adalah mahamentri i hino, orang yang memberikan penghargaan dan mengawasinya, ia dapat mencabut gelar jika orang yang menerima sudah ia nilai tidak memenuhi kriteria.


Orang yang mendapat penghargaan memiliki hak istimewa yang berbeda-beda dengan hak paling umum adalah setiap bulan memiliki sedikitnya lima puluh masa, kepingan emas yang satu kepingnya seberat 2,473 gram emas.


Lima puluh masa dapat menghidupi keluarga rakyat jelata sampai tiga puluh tahun.


Lalu ada mahamentri i sirikan yang mengawasi para pejabat. Ia sering melakukan inspeksi mendadak terkadang pula menyamar untuk mengetahui situasi persis suatu daerah. Banyak pejabat yang melakukan penyelewengan ditangkap olehnya.


Yang terakhir adalah mahamentri i halu yang menyampaikan perintah pribadi ratu atau raja yang tidak ada sangkut pautnya dengan pemerintahan. Selama ini yang memegang posisi mahamentri i halu adalah keluarga Ekadanta.


"Terima kasih." ucap Idaline saat Djahan membantunya turun.


"Selamat datang di kediamanku." sambut Djahan berjalan di samping Idaline.


"Kamu bilang tidak memiliki wanita tapi halamanmu sangat rapih."


"Tukang kebun berkata kalau keindahan warna di halaman akan membuat pikiran menjadi tenang."


Tukang kebun yang mendengar ucapan Djahan jadi memerah. Padahal ia berkata pada diri sendiri ketika menata kebun.


"Haha pemikiran yang sangat dalam." puji Idaline semakin membuat tukang kebun merah wajahnya.


"Apa kamu bosan dengan bunga sedap malam?" tanya Djahan melangkahkan kakinya masuk ke ruang tamu.


Kedaton Sedap Malam hanya berisi bunga sedap malam, tidak ada tumbuhan lain. Idaline ingin menanam pohon buah tapi dilarang oleh Bejo dan Bejo memperingati untuk tidak mengubahnya karena ada alasan tertentu.


"Bibi bilang harus tetap seperti itu." ucap Idaline duduk di kursi.


"Kedaton Sedap Malam dulunya adalah tempat bersatunya raja terdahulu dengan Roro Pita."


"(WHAT?)" Meski Idaline mengingat semua hal, kehidupan pribadi Djahan dalam prasasti tidak terlalu detail. Tapi jika prasasti itu tidak salah, maka Roro Pita adalah istri Djahan. "Kamu pasti sangat marah."


"Ya?" sahut Djahan tak mengerti.


"Kenapa kamu malah masuk ke halaman terkutuk itu? Pasti hatimu sangat hancur." Mata Idaline mengeluarkan air membuat Djahan kebingungan.


"Kamu bisa bilang ke ratu jika ingin pindah."


Ucapan Djahan malah membuat tangis Idaline semakin kencang. Dayang yang membawa air dan camilan untuk mereka tidak dapat menyembunyikan ekspresi bingungnya.


Djahan pindah duduk di sebelah Idaline, ia mengelus kepala gadis yang masih sesegukan itu. "Nanti aku bilang ke ratu."


"Bukan seperti itu." Idaline mengusap matanya. "Kamu tidak apa-apa?"


"Ya? Tidak apa-apa. Kamu yang menangis kenapa bertanya padaku?"


"Roro Pita bukannya istrimu?"

__ADS_1


__ADS_2