![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hayan, apa tujuanmu menikahiku?" tanya Idaline dari atas kasur.
Hayan memandang lemas Idaline, kantung matanya terlihat besar.
Sudah dua bulan dia tidur di Bale' Ndamel setelah mengantar Idaline kembali ke keraton.
Sudah dua bulan bekel baru yang dia asal pilih bertugas di perbatasan.
"Jawablah. Jangan jadi kekanakan dengan terus menghindar!" kesal Idaline sebab kesulitan bertemu pria itu selama dua bulan lamanya.
Dia bahkan tidak bertemu siapa pun. Semua orang dilarang mendekati Keraton Capuri.
Dayang, pelayan, dan abdi ndalem tidak menetap di Keraton Capuri, mereka hanya melakukan tugas lalu pergi ke kawasan di dekat Keraton Capuri yang digunakan untuk tempat tinggal mereka.
"Maharaniku, jangan sekarang.." Hayan berkata dengan lemas sampai hampir terdengar seperti sebuah bisikan. Dia sudah mencapai batasnya untuk mengeluarkan tenaga.
Yang dia inginkan hanyalah tidur di kasurnya yang empuk sambil memeluk istri tercinta.
"Maharaniku. Maharaniku. Terus berucap begitu tapi kamu datang hanya untuk bertanya perihal bayi ini!" sungut Idaline berbalik ke tembok.
"Bukan bayi ini tapi bayi kita, sayang." Hayan mengelus rambut Idaline dengan sayang lalu berbaring di sampingnya. Dia meletakkan tangannya di atas kepala menghalau sinar lilin yang menyala.
Hayan terlalu lemah untuk beranjak dan mematikan penerangan.
"Pindahkan saja bayi ini jika kamu sangat menginginkannya dan biarkan aku pergi!" gumam Idaline kesal.
Sudah dua bulan dia seperti tahanan, tidak dapat berjumpa siapa pun bahkan tidak dapat berjumpa dengan Hayan jika dia tidak menginginkan sesuatu.
Dia sangat kesal jika Hayan datang selalu saja menanyakan kabar bayi mereka dan tidak menanyakan kabar dirinya.
Memangnya dia adalah tempat penitipan bayi?
Idaline jadi berpikir Hayan menikahinya hanya karena ingin mendapatkan seorang anak darinya!
"IDALINE!" bentak Hayan tidak kuasa mendengar keluhan Idaline.
Dia telah melakukan segalanya untuk wanita ini, tapi Idaline masih saja tidak sadar diri?
Tidakkah perempuan ini berpikir berapa banyak hal yang harus dihadapi hanya untuk memenuhi keinginannya membebaskan keluarga Sapta?
Awalnya Hayan berniat menekan keluarga Sapta dengan beberapa hal yang sudah ia siapkan.
Tapi ternyata keluarga adikuasa itu benar-benar melakukan hal yang mengecewakan.
Harusnya mereka sudah musnah saat ini juga.
Namun Hayan sendiri lah yang menghentikan kemusnahan itu demi istri tercintanya.
"Yah. Setidaknya sekarang mereka sudah banyak ditinggalkan," batin Hayan mencoba mencari pembenaran atas yang dilakukannya.
"Kamu tidak menginginkanku, biarkan aku pergi," lirih Idaline.
"Diamlah aku ingin istirahat," kata Hayan mencari posisi tidur terbaik.
Idaline mengigit bibirnya. Dia tahu sikapnya ini kekanakan tapi dia sudah tidak tahan terus berada di kawasan Keraton Capuri saja.
Bukankah Hayan menyuruh Idaline membangun ulang banyak tempat indah di Keraton dan Kedaton adalah untuk memanjakan mata?
Jadi kenapa Idaline hanya diperbolehkan berada di satu kawasan?
Idaline memeluk erat bantal di sampingnya dan membenamkan wajahnya di sana.
Hayan yang baru menutup matanya tersentak mendengar suara tangis yang tertahan. Dia melihat punggung Idaline bergetar.
"Maaf.. maafkan aku," sesal Hayan.
Dia sepertinya kurang akal sampai membentak istri tercintanya apalagi ada bayi mereka yang mendengarkan di perut Idaline.
Hayan mengusap kasar wajahnya mencari akalnya yang kabur.
"Aku juga ingin diperhatikan. Kamu terus bertanya tentang bayi ini ketika berjumpa."
"Maaf." Hayan membawa Idaline ke pelukannya.
__ADS_1
"Kalau kamu segitu inginnya, kupindahkan saja ke wanita lain. Tanpa aku pun bayi ini akan ada bersamamu." Idaline berusaha melepas pelukan Hayan yang membelit tubuhnya.
"Maaf. Maafkan aku. Maaf."
"Buat apa meminta maaf kalau akan diulang?" Idaline tidak mampu menahan air yang menggenang di matanya.
Pria ini sebelumnya telah mengabaikan dia sewaktu Perang Bubat terjadi. Sekarang mengabaikannya lagi sekaligus mengurungnya di Keraton Capuri.
Jika salah harusnya katakan salah jangan malah bertindak dengan kekanakan!
Atau jika tidak tahan dengan sikapnya, seharusnya Hayan lepaskan saja Idaline.
"Maafkan aku. Aku bersumpah tidak akan membentak Idaline lagi," kata Hayan lembut. Berulang kali dia usap kepala Idaline dan mengecupinya dengan lembut.
"Lepas!"
"Maafkan aku, Maharaniku." Hayan masih tetap menghujani Idaline dengan kecupannya. Dia sangat menyesal tidak dapat menahan emosinya.
Padahal Idaline selalu bersabar atasnya.
Pelan-pelan Hayan membalik tubuh Idaline hingga menghadapnya. Dia tangkup wajah sembab itu dan mencium kedua matanya.
"Maafkan aku, Maharaniku," ulang Hayan menatap dalam-dalam mata Idaline.
"Matamu sudah satu watt, kembalilah tidur." Idaline menjauhkan wajahnya dari wajah Hayan.
"Maaf."
"Aku yang salah sudah mencari masalah." Hidung Idaline kembang kempis menahan suara isakannya agar tidak keluar.
"Tidak. Tidak." Hayan sekali lagi membawa Idaline ke pelukannya. "Katakan saja apa pun yang Maharaniku ingin katakan. Aku akan mendengarnya!" katanya tergesa.
Perempuan ini berniat tidak lagi berbicara pada Hayan!
Penyesalan Hayan menjadi berlipat ganda.
Dan andaikan Idaline sungguh-sungguh tidak mau berbicara dengannya, Hayan tidak akan bisa memaafkan dirinya karena tidak sabar dengan Idaline!
"Ugh." Idaline meringis sembari memegangi perutnya.
Dia membuka lebar jendela kamarnya lalu menjentikkan jarinya dan muncul dua pengawal pribadinya.
"Duo panggil Ra Konco!" titah Hayan pada salah satunya dan meninggalkan satu lainnya untuk berjaga-jaga apabila Idaline butuh tenaga karena Hayan sama-sama sedang tak baik.
"Tidak perlu, Hayan. Aku hanya kaget saat bayi kita menendang."
"Dia.. menendang?"
Hayan mendengar masa-masa ini adalah hal yang menggembirakan melebihi kesenangan di seluruh dunia.
Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu di masa kehamilan apalagi di kehamilan pertama.
Senyum lebar bertengger di wajah Hayan mengiyakan ucapan itu.
"Iya. Kemari!"
Hayan menatap Dio untuk berjaga di depan rumahnya lalu menutup jendela dan kembali ke sisi ranjang tanpa sakit kepala yang tadi dirasakannya.
Malaikat kecilnya adalah penyembuh segala luka.
Idaline meraih tangan Hayan yang duduk di sisi ranjang. Dia menuntun tangan Hayan ke perutnya.
Mata Hayan berbinar merasakan gerakan itu. Sepanjang hidupnya baru kali ini dia merasakan kebahagiaan yang besar.
Kemenangan demi kemenangan besar sudah menjadi santapannya setiap tahun.
Penaklukan dan perluasan wilayah sudah biasa untuknya.
Sampai dia merasa tidak perlu mengadakan perayaan ketika memenangkan hampir satu pulau besar yang luasnya melebihi Bhumi Maja di awal dia berkuasa.
Tapi untuk gerakan makhluk yang belum dilihatnya ini, Hayan rasanya ingin mengadakan berbagai perayaan dan memberikan banyak derma agar orang lain turut bersuka cita dan mendo'akan kebaikan untuknya.
Hayan ingin semua orang di wilayahnya menyambut dengan gembira calon anaknya.
__ADS_1
"Dia pasti merasakan ayahnya di sini. Kami merindukanmu, Hayan."
"Maafkan aku." Hayan kembali memeluk Idaline dan mendaratkan ciuman di kening Idaline lalu dia menuntun Idaline untuk duduk di pinggir ranjang sebab telinganya mendengar suara langkah kaki memasuki rumahnya.
Hayan menarik tirai untuk menutupi Idaline dan dia menjemput Ra Konco di depan kamarnya. Dia tidak ingin berteriak dan mengganggu ketenangan Idaline.
"Usus, lambung, ulu hati, dan organ-organ lain Yang Mulia Maharani terjepit," ucap Ra Konco setelah memeriksa denyut Idaline.
"Semuanya terjepit??" tanya Hayan tidak percaya. Dia yakin Idaline tidak memiliki sakit yang parah!
Jadi kenapa dia mendengar hal mengerikan begini??
"Benar, Yang Mulia."
"Cepat lakukan yang diperlukan!!" Hayan menatap tajam Ra Konco. Pria ini tahu Idaline sedang tidak baik tapi masih bersantai!?
"Tenanglah. Itu hal biasa dalam kehamilan." Idaline menggenggam tangan Hayan yang duduk di sisinya. "Kamu kembali saja," ucapnya pada Ra Konco.
"Hamba permisi, Yang Mulia."
Hayan mengikuti Ra Konco dan memaksanya membuat ramuan untuk meringankan sakit Idaline.
Idaline hanya bisa tertawa melihat Ra Konco kewalahan. Hayan mengikutinya sampai ke ruang obat.
Idaline duduk di kursi dengan selimut besar membalut tubuhnya. Dia menenggak habis jamu berwarna putih pucat itu.
Ra Konco pun sekali lagi memeriksa denyut nadi Idaline. "Organ-organ tubuh Yang Mulia Maharani masih terjepit. Ini akan sembuh dengan sendirinya setelah empat bulan berlalu."
Jika Ra Konco masih gigih mengatakan ini adalah hal wajar, Hayan pasti mendesaknya untuk menghilangkan rasa sakit yang dialami Idaline.
Jadi Ra Konco menjelaskan waktu Idaline akan terbebas dari organ-organ terjepit, yaitu di hari kelahiran bayi mereka.
"Maharaniku," panggil Hayan khawatir. Semua itu terdengar menyakitkan untuk Hayan.
Karena bahkan ketika terluka di medan perang, seseorang paling hanya terluka tubuhnya atau terputus tangan dan kakinya.
Tidak pernah ia dengar ada yang sampai terjepit organ-organ di dalam tubuhnya!
"Hanya perasaan tidak nyaman, kamu dengar sendiri seluruh organ terjepit. Sangat normal untuk ibu hamil." Idaline mengibaskan tangannya mengusir Ra Konco.
"Maafkan aku menyiksamu sampai seperti ini," ucap Hayan sedih.
Andaikan bisa, Hayan ingin menggantikan posisi Idaline agar dia saja yang terjepit organ-organ dalam tubuhnya sama seperti saat dia menggantikan posisi mengidam untuk bayinya.
Tapi bayinya ada di dalam perut Idaline maka organ-organ tubuh Idaline lah yang terjepit, tidak bisa ia gantikan.
"Kehamilan adalah anugerah."
"Selama ini aku sudah menghindarimu." Hayan sangat menyesal. Istrinya sedang membutuhkan dirinya, dia malah memenuhi egonya dan tinggal jauh dari Idaline.
"Aku takut menyakitimu. Aku sangat tidak suka melihatmu dekat dengan pria lain." Hayan bersimpuh meletakkan kepalanya di paha Idaline.
"Tidurlah di kasur," ucap Idaline mengelus rambut Hayan. Dia tidak mau terus membahas hal yang sudah-sudah.
Jika berlarut-larut, masalahnya tidak akan pernah selesai.
"Nanti saja. Aku sangat merindukan kalian," tolak Hayan mengelus perut Idaline.
Saat bulan telah meninggi, Hayan masih berada di posisinya mengelus perut Idaline dan merasakan jabang bayi yang aktif bergerak.
Bayinya ini pasti sangat merindukannya sebab tak henti-hentinya bergerak di perut Idaline.
Idaline tersenyum melihat interaksi keduanya. Sepertinya kedua orang ini ditakdirkan terikat satu sama lain.
Hayan yang mengidam untuk bayinya dan bayinya yang begitu antusias saat dielus Hayan sampai-sampai waktu sudah malam dan keduanya masih saja bergerak di perutnya.
"Acara tingkeban sudah kusiapkan. Mulia besok undangan akan disebar. Ada yang ingin Maharaniku undang?" tanya Hayan teringat laporan Huna.
"Oh ada."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 21 November 2021
__ADS_1