TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
043 - AKU MENCINTAIMU


__ADS_3

Idaline dan Djahan berpisah dengan rombongan di luar hutan. Mereka berjalan ke utara sedangkan rombongan berjalan ke barat.


"Idaline," panggil Djahan.


Idaline menjatuhkan dirinya ke tanah, ia berjongkok dan menelungkupkan wajahnya dengan kedua tangan merasa malu pada sang pujaan hati, Djahan. Idaline teringat sudah mengatakan tentang dirinya ketika di Kabalan. Tetapi ia malah menuduh Djahan telah memata-matai dirinya.


"Ida? Ada yang sakit?" khawatir Djahan berjongkok di depan Idaline. "Apa kutukannya bereaksi lagi?" tanyanya semakin membuat dirinya sendiri khawatir.


"Engga.." mungkin efek dari air terjun sekar langit? pikir Idaline. "Kutukannya sudah hilang," jelas Idaline merasa tidak perlu lagi menekan kutukan dengan kekuatan.


"Sini kugendong kalau kamu masih lemah," Djahan memberikan punggungnya pada Idaline.


"Djahan, maaf. Padahal aku yang bilang padamu tapi malah marah-marah," ucap Idaline pelan. Ia terlalu malu untuk mengakuinya.


"Iya," Djahan berbalik dan menatap intens telinga Idaline yang memerah.


"Aku jalan saja," Idaline sedikit tersentak ketika tangan Djahan terulur di depan wajahnya, lalu Idaline menerima uluran tangan itu dan menggenggamnya.


"Baiklah, tuan putri," Djahan tersenyum simpul melihat tangannya digenggam kemudian ia membalas dengan genggaman hangat dan menyalurkan rasa aman pada gadis muda yang sedang berpikir keras.


"Djahan katakan, bagian mana dariku yang kamu sukai?" tanya Idaline mengeluarkan pertanyaan dalam hatinya. Dalam penilaiannya tidak terlalu banyak yang bagus dari dalam dirinya, orang-orang mesti pergi ke dokter jika menyanjung dirinya yang banyak kekurangan itu.


"Para penyair selalu mengatakan cinta itu rumit dan tak terduga. Aku sudah melihat banyak manusia di pulau ini dan baru merasakannya ketika berjumpa denganmu," jawab Djahan yang ia rasa paling pas menggambarkan perasaannya.


Djahan sendiri terlalu bingung, rasanya ia sangat nyaman di dekat Idaline dan terus ingin membahagiakannya. Jika tidak ada kabar tentangnya, Djahan merasa sangat tertekan. Ekspresi Idaline yang terus berubah-ubah pun sangat lucu bagi Djahan, Djahan berharap dapat terus memperhatikannya hingga ajal sendiri yang akan menjemput Djahan.


"Bagaimana kalau itu hanya perasaan kagum karena melihat orang yang unik?"


"Idaline," Djahan menangkup wajah Idaline. "Aku mencintaimu,"


Idaline memejamkan matanya merasakan terpaan angin di wajahnya, wajahnya panas saat hembusan napas Djahan menerpa. Lelaki itu memandang penuh hasrat bibir mungil Idaline, ia menelan ludahnya dengan susah payah. Djahan tutup bibir yang menggodanya dengan tangan lalu mencium kening Idaline.


"Kamu membuatku malu," Idaline memegang tangan Djahan lalu menurunkannya dari bibir.


Djahan menarik tangannya. "Maaf," sesal Djahan tidak mau melakukan hal terlarang bagi dua orang tanpa ikatan. Ciuman di kening pun terasa tabu baginya meski di saat bersamaan ia senang melakukannya. Djahan harus secepatnya meresmikan hubungan mereka.


Djahan terkesiap saat Idaline menarik tengkuknya, bibir mungil itu menempel di bibirnya dan lidah Idaline memaksa masuk. Otak Djahan berkata untuk mendorong Idaline dengan mengingatkan ribuan ayat dosa dan neraka.


Tetapi kehendak hatinya membuat Djahan balik memegang tengkuk Idaline dan punggungnya. Djahan membuka mulutnya lalu membalas ciuman Idaline dengan lembut.


Ciuman mereka sangat kaku namun mereka tidak menghiraukannya karena mereka sedang menyalurkan cinta melalui pagutan bibir mereka.

__ADS_1


Idaline memukul dada Djahan saat kehilangan napas. Ia telungkupkan wajahnya ke dada Djahan menahan rasa malu yang bergejolak. Djahan pun memeluk Idaline.


"Kwak..kwwak," protes Ruru yang terus menunggu di hutan.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" tanya Djahan setelah waktu berlalu.


"Ya," jawab Idaline masih nampak bekas kemerahan di pipinya.


Djahan menggendong Idaline naik ke atas Ruru. Mereka dua diam sepanjang perjalanan hingga tak terasa sudah sampai tujuan. Djahan bergegas turun ketika Ruru mendarat di tanah lalu mengulurkan tangannya hendak membantu Idaline turun.


"Aku ada hal yang harus dilakukan," ucap Idaline lalu Ruru pun kembali terbang. "Dua hari lagi aku akan kembali!" teriaknya.


"Aku akan bilang pada ratu,"


Idaline memberikan jempolnya. "Haha apa sih?!" tawanya melihat tangannya masih mengacungkan jempol padahal Ruru telah membawanya jauh dari Kediaman Mada. "Duh malu-maluin banget,"


Sejauh apapun Idaline pergi, ada tempat untuknya kembali. Dia menatap kolam di bawahnya memperkirakan jarak. "Ru, kembalilah," Idaline berdiri di atas Ruru lalu terjun bebas ke dalam kolam.


"Nona, nona guru sudah datang," ucap seorang perempuan berpakaian rapih dengan satu jepitan rambut yang seragam dengan perempuan-perempuan lain di ruangan itu.


"Anak itu memang susah diberitahu." Tangan putih yang baru diganti catnya terangkat menyuruh semua orang pergi.


"Yo, Widya Sipta!" Idaline berjalan membasahi pinggir kolam.


"Apa sih? Aku belum bilang!" Idaline mengelap wajahnya. Mereka berjalan beriringan menuju rumah panggung di dekat sana.


"Hal pertama ketika datang, kamu selalu tanya apa aku ingin pulang," Widya duduk kembali ke kursinya.


"Yah kan siapa tau berubah pikiran," Idaline melempar handuk basah ke keranjang yang tersedia.


"Udah ih sana ganti baju," Widya menatap sebal tetesan air dari rambut Idaline yang jatuh mengenai lantai kayunya. Tetesan itu selalu jatuh di tempat yang sama dan mengakibatkan sedikit cekungan.


"Keknya kau ini mau buat karya di rumah ini," sinis Widya pada Idaline. Tidak masalah bila sahabatnya itu membuat karya seni di tempat lain, Idaline malah membuat cekungan di tengah jalan masuk!


Idaline mengerjapkan matanya tidak peduli omelan Widya. Ia semakin meremas rambutnya dan teringat arah pembicaraannya tak sesuai yang Idaline inginkan. "Eh aku bukan mau bilang itu-" kata Idaline membimbing Widya kembali ke curhatannya.


"Alasan!" potong Widya. "Ganti baju dulu sana," Widya mendorong Idaline ke ruang ganti. "Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan,"


"Sudah beberapa bulan ya?" ucap Idaline dari dalam ruang ganti.


"Genap setahun kalau akhir bulan ini kau tak datang," sahut Widya.

__ADS_1


"Wah sudah selama itu," Idaline tidak menghitung waktu karena hari-harinya tidak ada waktu selain rapat, rapat, dan rapat.


"Aku yang putri penasihat saja sibuk apalagi penasihat Yuwaraja. Kamu istirahat dan makan dengan benar kan?" tanya Widya sedikit mengkhawatirkan kesehatan Idaline. Sahabatnya itu tidak membalas satu surat pun yang dikirimnya, sebenarnya hanya satu surat karena ia pun memiliki kesibukan yang padat.


"Rasanya seperti akhir tahun kuliah, malam sibuk berdiskusi, paginya ikut rapat pagi pula. Siang sampe sore berkunjung ke wanua-wanua dan kademangan. Untunglah semua sudah berakhir karena Kabalan sudah stabil, lalalala~" Idaline bersenandung, ia akan menikmati gaji untuk berlibur bersama Djahan.


"Jadi sekarang kamu bebas?" tanya Widya berbinar. Selama bersama sahabatnya itu, belum pernah mereka melakukan liburan dengan benar. Selalu saja di dalam rumah.


"Harus keluar secara formal dulu," Idaline membuka tirai dan melangkah keluar dari ruang ganti. "Walau stylish tapi seleramu makin kuno,"


"Mau bagaimana lagi? Aku bukan orang yang bisa mengabaikan ocehan orang sepertimu,"


Widya, nama yang sama dengan orang yang sama meski berbeda tubuh. Dia adalah sahabat Udelia yang sangat setia, terus berada di sisi Udelia tidak peduli pada masa duka maupun suram. Widya tiba di sini tiga tahun yang lalu setelah kecelakaan kapal.


Ayah dan tiga adik lelakinya hilang ketika menambang di pulau kecil di seberang pulau asalnya, ibu tirinya yang nekat mencari empat lelakinya turut menghilang terbawa arus di malam hari ketika semua orang terlelap.


Widya, adik perempuannya, dan kakek-nenek dari pihak ibu memutuskan pergi untuk memantau langsung keberadaan mereka. Nahas kapalnya terbalik, sebagian besar penumpang tenggelam. Widya yang ikut SAR sama dengan Udelia memiliki kemampuan untuk keluar dari bawah kapal.


Ia kehilangan keberadaan kakek-neneknya yang tertidur di dalam kamar, fokus mencari adiknya yang berhasil ia dorong sebelum kapal terbalik, dirinya terkejut melihat potongan tubuh dengan pakaian milik adiknya melekat bersimbah darah.


Setelah itu ia terpejam lalu tersadar di tempat yang aneh. Widya berusaha kabur terus-menerus, kemudian 'ayah'nya memasung dirinya di gudang.


Bukan tinggal di Trowu, ibu kota Kerajaan Maja, bersama Baga Sapta, ayahnya. Widya Sipta yang asli yang sangat cerdas dalam bidang kesenian dan sikapnya yang lemah lembut justru diberikan pendidikan di desa terpencil sesuai ide selir ayahnya dengan alasan takut Widya dimanfaatkan oleh orang-orang licik.


Hal itu seharusnya menjadi rahasia yang sangat ketat, namun seluruh desa mengetahuinya melalui ucapan-ucapan pelayan perempuan yang berbelanja di pasar. Idaline yang berada di sana bergegas menyusup masuk, hatinya penasaran melihat 'wanita lemah lembut yang cerdas telah menjadi gila karena kutukan'.


Widya yang sudah merasuki tubuh Widya Sipta menjadi hilang akal, ia mengeluarkan semua isi hatinya tentang dirinya yang asli. Meraung-raung penuh kepedihan. Dan Idaline menjadi tahu.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 31 Agustus 2021


Halooo semua.


Terima kasih atas like dan komennya.


Terima kasih banyak juga vote dan hadiahnya.


Sungguh author sangat bersemangat setiap ada yang minta next.


Sehat selalu ya semua.

__ADS_1


Love, Al-Fa4


__ADS_2