![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Mundurlah!" perintah Idaline.
Kedua pengawal yang mendengar intruksi itu secara refleks menghempaskan tubuh ke belakang. Ular raksasa itu mengalihkan pandangannya pada Idaline yang tidak ia rasakan kedatangannya.
Idaline berdiri gemetar berusaha menyembunyikan ketakutan dengan mengepalkan tangan sekencang-kencangnya.
Ular yang tidak melihat pergerakan Idaline berusaha menyerang terlebih dahulu, ia terkejut merasakan kegelapan dalam yang akan mengisap dirinya ketika mendekati Idaline. Ular itu menghempaskan ekornya membalik arah tubuhnya menjauh dari Idaline.
"Aku tidak akan mengisapmu. Kutau kamu di sini, di tempat yang jauh dari sarang kalian karena menunggu seseorang." ucap Idaline ketika ular besar itu telah mengambil posisi usai jatuh berguling-guling di tanah.
"Nah katakan, siapa di antara mereka." Idaline menunjuk ruang pelindung dengan telapak tangannya. "Aku tidak bisa mendengarmu. Kemarilah." Idaline mengeluarkan aura Fusena guna meyakinkan ular itu.
Menyadari aura Petapa Agung, ular berwarna hitam besar itu menjatuhkan kepalanya di dekat Idaline dan Idaline menyentuh hidung besarnya memulai komunikasi.
"Saya ingin melakukan kontrak dengan Sirang untuk berterima kasih pada orang tuanya yang sudah bersikeras melindungi telur-telur saya dahulu."
Idaline memejamkan mata berkonsentrasi mendengar ucapan ular. Mungkin karena lelah bertarung, suara ular jadi samar dengan suara ular yang asli, atau bisa saja itu cara pengucapan si ular.
"Banyak psst psst nya," keluh Idaline kupingnya berdengung.
"Saat itu dua hewan terkuat di bukit ini bertarung membuat saya harus melindungi bukit ini dari keruntuhan dengan cara melilitkan tubuh melingkari bukit. Siapa yang tahu kalau telur-telur saya yang ada di gua akan jatuh menggelinding ke bawah." ular itu mengenang masa genting yang terjadi belasan tahun lalu.
"Saya melempar orang tua Sirang dengan ekor ketika mereka tidak mengizinkan saya mendekat ke telur-telur saya. Setelah amarah hilang, baru saya pahami mereka mencoba melindungi anak-anak saya. Mereka bahkan tidak melaporkan keberadaan telur-telur saya."
"Kamu merasa bersalah?" tanya Idaline.
"Kami tidak bisa berhutang pada siapa pun. Orang tua Sirang terkena longsor, dalam detik terakhirnya menggunakan kesempatan yang saya berikan, mereka meminta saya untuk melindungi Sirang." ular itu menatap Sirang. Tatapannya sedih ketika matanya bertemu dengan mata Sirang namun lelaki itu malah memandangnya takut.
"Matamu terlalu tajam." ucap Idaline dalam hati tahu arti tatapan ular yang ternyata berjenis kelamin betina itu.
"Bayi yang mereka tinggalkan di gubug, saya bawa selama beberapa bulan hingga akhirnya diambil oleh orang tuanya yang sekarang. Karena terus memperhatikan, saya jadi gelisah saat tidak merasakan kehadirannya selama beberapa bulan ketika dia pergi ke kota."
"Karena itu kamu ingin membuat kontrak agar bisa melindungi dia dari dekat? Padahal anak itu tidak kuat, dia juga baru mempelajari ilmu dasar setelah berumur hampir dua puluh tahun. Dan dia juga tidak mengembangkannya sampai sekarang karena merasa tidak perlu."
"Saya ingin melindunginya bukan berkontrak untuk keuntungan. Anak-anak saya yang lain sudah tumbuh dengan baik dan kuat. Hanya anak manusia saya yang masih lemah, sama seperti saat saya pertama melihat dirinya dalam bedongan. Begitu kecil dan lemah."
Idaline menangis terharu mendengarnya. Ia lepaskan tangannya dari hidung ular lalu mengusap air matanya. Idaline berjalan ke arah Dopo yang masih memasang pelindung.
"Dopo, kamu boleh melepaskannya."
"Anda tidak terluka kan?" tanya Dopo memeriksa kanan kiri Idaline.
"Tidak." jawab Idaline. "Sirang, kamu ingin menjadi induk hewan ini?"
Jika berkontrak adalah membuat keuntungan satu sama lain dan perbudakan membuat ucapan manusia final sebagai perintah yang tidak dapat dibantah.
Maka induk menggunakan hati untuk terhubung satu sama lain. Hewan dapat menolak keinginan tuannya, tapi hatinya akan dipenuhi perasaan bersalah yang menggerogoti yang akan menyakiti hingga menyebabkan kerusakan mental jika tidak mendapatkan maaf ketika melanggar, sedangkan budak akan mati ketika melanggar.
Meski mirip, budak hanya dapat makan dari pemberian tuannya dan hidup terkurung tapi tidak bersatu dalam pikiran mereka. Sedangkan induk memberikan kebebasan pada hewan tapi pikiran mereka saling terhubung.
"Meski kata induk lebih sopan daripada budak, sang tuan tidak perlu memikirkan hewan kontraknya dan dapat digunakan sesukanya. Budak sering disebut sebagai alat, yang pasti ada perawatannya." jelas salah satu prajurit.
"Induk juga terlalu vulgar karena kita terus membaca pikiran orang." bisik yang lain.
"Apakah itu bagus?" tanya Sirang.
__ADS_1
"Kekuatan pikiran yang digunakan dalam kontrak induk. Kamu harus kuat dalam mental untuk dapat mengendalikan hewan dengan benar dan agar dapat memanggil mereka secepat kilat untuk sampai di tempat yang jauh."
"Ka-kalau begitu lebih baik aku latih mental dahulu,"
Ular itu mendekat pada kerumunan manusia membuat mereka yang sedang diskusi serius terkejut. Idaline menempelkan tangannya melihat ular itu terus menatapnya.
"Ambillah sisik di dahiku lalu berikan padanya. Katakan untuk menyimpannya sebaik mungkin dan harus dibawa setiap saat."
"Bukankah itu akan jadi incaran manusia?"
"Aku akan menjadikannya lempengan tembaga,"
"Kalau begitu permisi," Idaline naik ke kepala ular mencabut sisik sesuai intruksi. Sisik yang bercahaya ketika dicabut berubah bentuknya menjadi koin tembaga yang berkarat.
"Anda boleh mengambil sisik lain untuk Anda."
"Tidak perlu." Idaline meloncat turun. Ular itu menjulurkan lidahnya dua kali lalu pergi meninggalkan mereka.
"Di mana hewannya? Oh itu!"
"Paman-paman. Maaf membuat keributan. Dua pengawal saya sedang melakukan pemanasan karena tidak mengayunkan keris selama dua hari lamanya." halang Idaline menutupi kepergian ular.
"Jadi itu bukan serangan hewan?"
"Mohon maaf mengganggu semuanya."
"Kalau begitu silakan lanjutkan latihan kalian." kata warga tidak ingin mengganggu.
Segerombolan pria dewasa itu pun berangsur-angsur turun.
"Sirang, terimalah ini sebagai hadiah. Bawalah selalu." Idaline memberikan sisik ular.
"Yang Mulia, kita harus berangkat sekarang."
"Ayo."
Saat sampai di kediaman, Idaline menyuruh Roro dan Gecko yang masih di halamannya untuk membantunya bersiap.
"Nona.."
Idaline yang sedang memeriksa barang bawaannya menengok pada Sri yang memberikan kode untuk mengikutinya.
"Ada apa bi?"
"Sampai berapa lama nona akan tinggal di istana?"
Idaline berkata pada Sri akan tinggal di istana sementara waktu, pada yang lain ia berkata akan tinggal dengan teman orang tuanya. Tidak ada kebohongan dan tidak ada kerepotan yang akan terjadi.
"Kalau berjalan lancar mungkin sampai tahun baru." Idaline melihat Sri menggerakkan tangannya cemas. "Katakan saja, bi."
"Dua bulan lagi nona akan berulang tahun yang ketujuh. Dan bulan depan den Nandana akan datang, den Nandana telah menyelesaikan masa percobaannya–"
"APA?!" teriakan Idaline membuat para pekerjanya yang berada di ruang tamu terkejut.
"Mungkin nona lupa, den Nanda bekerja sebagai pengajar di akademik."
__ADS_1
"Bukan, bukan itu. Aku baru berumur tujuh tahun?" Idaline mengira dirinya sudah berusia lima belas tahun karena tinggi dan bentuk tubuhnya.
Memang orang-orang yang selama ini ia temui berbadan besar dan tinggi, berbeda dari manusia modern. Ia mengira orang-orang memanggilnya kecil dan mungil karena tidak bisa setinggi mereka, ternyata usianya baru tujuh tahun.
"Benar, nona."
"Itu tidak mungkin kan? Tubuhku sudah sebesar ini."
"Apa yang nona katakan? Nona sama besarnya dengan anak-anak lain."
"Lalu Gecko dan Roro?"
"Mereka berbeda delapan tahun dengan nona."
"Apa aku ini monster?" gumam Idaline. Ia mengira Atem merindukan anaknya yang telah tumbuh besar karena sudah meninggalkannya selama enam tahun atau karena wajahnya mirip dengan Idaline, ternyata mereka menghitung tinggi dan usia dengan anak di zaman ini. "Atem dan Hasta sudah terkontaminasi kehidupan di sini. Apa mau kuajak pulang?"
"Mereka bekerja keras sejak usia baru dewasa. Punggung mereka selalu membawa beban berat. Akhirnya pertumbuhan mereka terhenti di usia sepuluh tahun." tambah Sri.
"Nandana ini kakakku?" tanya Idaline. Ia sudah tidak mau membahas perihal umur lagi, tentu saja ada perbedaan besar tubuh antara manusia modern dan kuno. "Pantes mereka menikah saat seusia ini." pikirnya mengingat dokumen-dokumen sejarah.
Orang modern banyak yang menganggap pernikahan usia di bawah tujuh belas tahun adalah hal menyedihkan. Padahal zaman yang ditinggali dan zaman sebelumnya sangatlah berbeda.
Selain tubuhnya, keahlian orang dahulu pun sudah nampak di usia muda. Lima sampai tujuh tahun sebagian besarnya telah menghafal Kitab Suci dan literatur-literatur penting, kemudian usia selanjutnya mengembangkan bakat yang dimiliki.
Pendidikan mereka langsung di bawah ahlinya. Seekor ikan tidak akan disuruh mengambil buah mangga yang jauh di daratan.
"Dia adalah calon suami nona. Kalian akan menikah sepekan setelah nona berulang tahun dan tinggal bersama sampai masuk ke akademik. Tapi mungkin kalian akan tetap tinggal bersama karena beliau mengajar di sana."
"Me-menikah?" Idaline mengutuk dirinya yang selalu memikirkan pernikahan ketika bekerja, kini saat akan menjadi nyata semuanya terasa aneh. "Bukannya usiaku terlalu muda, bi?" Idaline mencengkram bahu Sri.
"Lihatlah nona sudah sebesar ini sampai bisa menggapai bahu bibi." Sri menangis haru. Idaline melepaskan tangannya menyadari tindakan tidak sopannya.
"Ehm. Bagaimanapun apakah ibunda dan ayahanda yang memintaku menikahinya?"
"Oh tidak. Apa perasaan cinta yang membara setahun lalu sirna begitu saja?"
Idaline merinding mendengarnya. Usia minimal laki-laki untuk masuk ke akademik adalah 10 tahun dan perempuan 7 tahun, sesuai usia kedewasaan. Pendidikan yang dijalani sepanjang 4 tahun dan masa percobaan untuk pendidik adalah 2-3 tahun.
Tapi karena Nandana adalah rakyat jelata, maka usianya bisa lebih tua. Kebanyakan rakyat jelata yang diterima sudah berusia 15 tahun, karena mereka harus melalui serangkaian ujian. Tidak seperti bangsawan yang wajib belajar sesuai waktu kedewasaan.
"Apa dia pedofil? Atau Idaline yang serakah?" ucap Idaline terguncang mengira-ngira usia Nandana berkisar dua puluh hingga dua puluh dua tahun.
"Nona terpana pada kecerdasan den Nandana yang berlibur di tahun kemarin. Orang tua nona mendanai dia yang seorang anak yatim piatu untuk belajar karena dapat membaca tulisan. Saat liburan biasanya nona menginap di istana atau di rumah teman-teman nona. Setahun lalu nona demam tinggi jadi terbaring di rumah dan menemukan cinta nona."
Wajah Sri memerah seperti remaja jatuh cinta. Ia membayangkan dirinya adalah Idaline yang saat itu diam-diam mengintip Nandana yang sedang membaca di ruang tamu.
"Uh bukannya itu cinta monyet?" tolak Idaline pada mata berbinar Sri.
"Karena aku yang memutuskan hal itu. Maka aku ingin Anda membatalkannya," Idaline tidak boleh terikat selama Fusena belum datang. Akan sulit bertemu jika ia harus pindah ke akademik atau tempat lain.
"Mohon nona pikirkan dengan baik. Nyonya dan tuan pasti sudah memikirkan matang-matang, bukan hanya karena cinta nona." Raut wajah Sri berubah serius.
"Bibi benar, masih ada waktu dua bulan." ucap Idaline mengakhiri pembicaraan.
•••BERSAMBUNG•••
__ADS_1
© Al-Fa4 | 18 Juli 2021