![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Di sebuah ruang yang gelap, seseorang berjalan mengendap-endap. Dia memegang benda bersarung di pinggangnya, mengeluarkan dari sarungnya, dan menghunus ke arah seseorang yang sedang terlelap di atas kasur.
Tapi tangannya terhenti menyadari yang terbaring di sana bukan targetnya.
"Aneh sekali. Bukannya raja malah wanita hamil yang ada di sini?"
Wanita hamil itu, Idaline, dengan berani membuka matanya. Cahaya ruang yang tidak terlalu menyilaukan membuat matanya menangkap langsung sebuah gambaran sebilah keris yang berada tepat di depan matanya!
Idaline menangkap tangan itu lalu bangkit dan melempar penyusup ke tembok.
"Ack!"
Idaline berdiri menjulang menatap lurus si penyusup.
"Baru terkena tembok kesakitan!" cibir Idaline di dalam hati.
"Artinya bisa saja penyusup ini beruntung atau dia adalah.."
"Maharaniku!" teriak Hayan muncul di hadapan Idaline, matanya terbelalak melihat darah di dahi Idaline.
Bisa-bisanya ada penyusup yang tembus ke Keraton Capuri!
Dalam satu kedipan mata wanita itu menghilang dari hadapannya dan berdiri di belakang Hayan.
"Ugh!!!" Idaline mencengkeram tangan penyusup yang menancapkan keris di tulang selangkanya.
"Menjauhlah, Hayan!" teriak Idaline sedikit meringis. Tusukan keris di tulang selangkanya lumayan dalam!
Tiba-tiba darah dari mulut penyusup memuncrat ke wajah Idaline. Hayan telah berdiri di belakang si penyusup, tangannya sedang menusukkan keris ke punggung si penyusup.
Kemudian Hayan mencabut keris dari punggung penyusup dan si penyusup pun terjatuh ke tanah.
"Jangan mendekat!" seru Idaline melempar Hayan dengan kekuatannya.
Ia usap matanya yang tersiram darah si penyusup lalu berusaha melepas keris yang tertancap di tulang selangkanya.
"Maharani..?"
"Ini adalah keris mpu gandring," Idaline mengernyit, darah di tulang selangkanya meluncur keluar membasahi kembennya.
"Pergilah ke Sela Wukir!" tambah Idaline.
Idaline khawatir. Sangat khawatir. Keris mpu gandring akan mengutuk setiap keturunan Ken Arok apabila disentuh keris mpu gandring atau apabila ter sentuh darah seseorang yang sudah bekerja sama keris mpu gandring atau apabila tersentuh darah seseorang yang tertusuk keris mpu gandring.
Saat ini Idaline telah tertusuk keris mpu gandring dan sedang banyak mengeluarkan darah ditambah darah si penyusup yang membasahi wajahnya, maka Idaline lebih berbahaya dari si penyusup yang telah kehilangan kerisnya.
Penyusup itu tidak akan bisa mengutuk Hayan jika tidak memegang keris mpu gandring.
Idaline merasa Hayan telah sedikit terciprat darahnya dan tadi rasanya Hayan menyentuh keningnya yang tergores keris mpu gandring.
Maka bertapa di Sela Wukir adalah jalan penormalan terbaik sebab tidak akan ada yang tahu kalau Hayan sudah terkena darah orang yang tertusuk keris mpu gandring!
__ADS_1
Mata Idaline melebar merasakan tubuhnya tiba-tiba melayang.
"Tahan ya," ucap Hayan lembut. Dia meletakkan Idaline ke atas ranjang.
"Hayan, ini darah pemilik keris mpu gandring," ucap Idaline menahan tangan Hayan yang hendak mengusap wajahnya.
Hayan tersenyum, ia lepaskan perlahan tangan Idaline yang menggenggamnya dan mengusap lembut wajah sang istri.
"Hayan.." Idaline masih terus berusaha menepis tangan Hayan di wajahnya.
"Tidak apa, Maharaniku."
Lalu Ra Konco datang membawa segala peralatan dan bersimpuh di depan kamar.
Idaline mengacungi jempol kecepatan titah Hayan melayang pada Ra Konco di bagian paling Timur Keraton.
Dengan kedatangan Ra Konco, Idaline bisa menghalangi Hayan dari menyentuh wajahnya.
"Yang Mulia hamb–"
"Tidak perlu salam. Cepat periksa Maharani," potong Hayan menarik Ra Konco masuk ke dalam kamar.
Ra Konco pun tergopoh-gopoh menuju ranjang yang tertutup kelambu.
Lalu Hayan menatap dingin kayu pembatas yang berada di antara kamar dan ruang tamu.
"Yang Mulia, mohon ampuni kami," ucap para pengawal di balik pembatas.
Untuk apa dia memiliki banyak pengawal jika satu orang lemah saja bisa tembus ke kamar pribadinya?
Ruang paling dalam dan seharusnya menjadi tempat yang paling aman!
"Hamba menghadap Yang Mulia."
"Penggal kepala orang-orang tak berguna ini. Dan bakar penyusup itu!"
Dengan satu tangan Duo mengikat para pengawal yang berjumlah tiga belas orang pria menjadi satu simpulan tali.
Duo menyeret mereka tanpa ampun.
"Yang Mulia, tolong ampuni kami!!!"
Terikan ketiga belas orang itu saling bersahut-sahutan.
"Hayan, ada apa?" tanya Idaline selesai diperiksa dan diberi obat.
Idaline sedikit mendengar teriakan para pengawal yang diseret Duo sebab Hayan sudah membatasi kamarnya agar tidak mengganggu Idaline.
"Hanya menyelesaikan pekerjaan," kata Hayan mengambil perban dari tangan Ra Konco lalu membalutkan perban itu pada pundak Idaline yang terluka.
Ra Konco menunduk sopan pada keduanya kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
"Bertapalah di Sela Wukir. Air di pucak gunungnya bisa menghilangkan kutukan itu. Masih ada empat raja dari keturunan Ken Arok yang belum jadi mangsanya," ucap Idaline lirik kemudian memejamkan matanya yang terasa sangat berat.
"Tidak perlu khawatir, sayang." Hayan mengecup sayang kepala Idaline. Lalu berusaha menghilangkan luka di dahi dan bahu Idaline.
Tapi seperti kata Idaline, keris ini adalah keris mpu gandring, keris ini bukan keris biasa.
Lukanya tidak akan semudah itu sembuh bagi mereka keturunan Ken Arok. Sedangkan saat ini Idaline sedang mengandung keturunan Hayan yang juga termasuk dalam keturunan Ken Arok.
"Panggil Mahapatih."
Dio yang siap siaga di atap Keraton Capuri bergegas pergi menuju Djahan di kediaman Mada.
"Idaline, kamu.." Djahan menghentikan ucapannya melihat balutan di dahi Idaline dan balutan besar di bahu kanan Idaline.
Tubuhnya tidak bereaksi pada keadaan genting Idaline karena wanita yang masih dianggap istrinya itu berada di keraton.
Padahal biasanya seorang suami yang telah memberikan kekuatan di dahi seorang istri, suami itu akan langsung muncul bak melakukan teleportasi ke tempat istrinya sedang tertimpa bahaya.
Tapi Idaline berada di keraton. Segala sihir, tapaan, dan kekuatan-kekuatan lain tidak akan berguna di dalam keraton termasuk sumpah setia antar suami istri.
Djahan memindai sekitar kamar, sudah tidak ada bekas pertarungan. Djahan jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, "Apa Maharaja yang membuat Idaline begini?"
"Jangan diganggu. Maharani baru saja tertidur," tegur Hayan. "Mahapatih, aturlah keraton dan Bhumi selama satu bulan. Kami akan ke Sela Wukir."
"Keris mpu gandring," gumam Djahan melihat keris di atas meja.
Sia-sia tadi dia mencurigai Hayan. Sebab tak mungkin penguasa keturunan Ken Arok berani memegang keris mpu gandring.
"Kami akan membersihkan diri di Sela Wukir," jelas Hayan singkat.
"Saya mengerti. Saya memastikan tidak akan pernah ada yang tahu hal ini kecuali yang Anda kehendaki."
Hayan menggendong Idaline menuju halaman Keraton Capuri dengan kedua tangannya, di sana kuda sembrani yang telah dipanggilnya sudah menunggu.
Djahan menatap kuda terbang yang semakin jauh. Semakin kuda itu terbang meninggi, harapan Djahan menjadi sekecil kuda itu dalam penglihatannya.
Apa Idaline tidak ditakdirkan untuknya?
Kuda sembrani mendarat di rumah tanpa pagar pembatas, satu-satunya rumah yang berada di puncak Sela Wukir.
Hayan turun dari kuda dan kuda itu pun menghilang. Dia meletakkan Idaline ke atas ranjang. Idaline sedikit terusik dan berusaha membuka matanya.
"Maharaniku, tidur lagi saja," bisik Hayan menutup kembali mata Idaline hingga perempuan dengan perut membesar itu kembali terlelap.
••••••••••••••••••••
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 26 November 2021
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAV
__ADS_1