![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharani." Djahan bersimpuh di depan Idaline.
"Kamu loyal sekali. Diperintah datang, langsung datang." Idaline berkata dengan sinis. Namun bola matanya memancarkan kerinduan pada sang kekasih.
"Istri hamba tidak ingin diperjuangkan, maka yang tersisa adalah tanah air ini," balas Djahan.
Hati Idaline berdenyut. Ia bangun dan melangkah mendekat. "Berhentilah bersikap formal," ucapnya melembut. "Bangun, Djahan. Aku masih belum selesai mendengar ceritamu tentang Krakatau." Idaline memegang pundak Djahan.
Djahan tersenyum kecil. Matanya memandang penuh damba. Sesaat kemudian ia memejamkan mata menghilangkan pemikiran yang tidak pantas.
"Dengan senang hati."
Djahan menceritakan pengalamannya di wukir krakatau dan pertemuannya dengan Papat, murid terakhir Djahan yang tinggal di puncak gunung seorang diri setelah nenek yang merawatnya meninggal.
Anak itu hampir mati diterkam anjing hutan yang berusaha mengambil tulang sang nenek. Papat kecil tidak tahu cara menguburkan mayat, itulah sebabnya mayat sang nenek dibiarkan di atas dipan hingga tinggal kerangka.
Kawasan mereka terbilang cukup aman karena suhu udaranya yang sangat dingin sehingga tidak memungkinkan hewan dan manusia mendaki sampai ke puncak.
Namun harimau jawa beberapa tahun terakhir di kala itu berbondong-bondong pindah ke hutan di Krakatau dan membuat hewan-hewan berlari menyelamatkan diri ke atas gunung.
Berkah bagi Papat kecil yang didatangi hewan-hewan herbivora, dan tentu saja sekaligus menjadi masalah baginya karena hewan-hewan pemangsa datang mengejar tanpa Papat kecil sadari.
Ketika Papat kecil memburu rusa, harimau jawa yang sudah mengintai berusaha mencabiknya. Nenek langsung melindungi Papat kecil dan mendapatkan luka yang tidak dapat tertolong.
Nenek bisa pergi dengan tenang karena sebelumnya mereka berdua sudah memasang jebakan-jebakan random yang tidak akan disadari oleh hewan maupun manusia yang baru tiba di tempat mereka.
Djahan menguburkan jasad neneknya dan Papat kecil mengikuti Djahan hingga ke tempat aman. Namun karena tidak mempunyai tujuan, Papat mengikuti Djahan dan menjadi muridnya karena ketekunan dan kecerdasannya mempelajari ilmu dari Djahan yang bahkan tidak bisa gurunya praktekkan karena saat itu kekuatan Djahan sedang tersegel.
"Bagaimana kehidupanmu di sini?" tanya Djahan selesai bercerita.
"Santai." Idaline melemparkan senyum hangat pada Djahan.
"Kemarin-"
"Tidak perlu dipikirkan," potong Idaline. "Aku juga akan melakukan hal kejam jika pasanganku berkhianat," jelasnya. Ia menatap dalam-dalam pupil cokelat Djahan. "Djahan, aku mohon bantulah Hayan memimpin bhumi ini."
"Apa Maharaja menyuruhmu?" Djahan merasa tidak nyaman. Rasanya ia seperti disuruh menjaga suami muda istrinya.
"Tidak, Djahan. Sebenarnya aku akan kembali tak lama lagi," ujar Idaline. Ia sudah memantapkan hati untuk kembali pulang dan belajar pada Dina kemudian memulai semuanya dengan benar.
"Kamu akan kembali..?" Entah mengapa Djahan merasa lebih senang Idaline berada di dunia yang sama dengannya meski bersama orang lain daripada harus terpisah jarak dan waktu yang tidak bisa digapai.
"Iya. Maka tidak perlu repot-repot mempersiapkan yang tidak perlu." Idaline menangkup wajah Djahan dan mengelus rahangnya dengan lembut.
Selama beberapa saat Djahan menikmati sentuhan itu lalu membuka matanya dan menjurus pada manik hitam Idaline. "Bagaimana kamu akan kembali?"
"Fu..guru sedang mempersiapkannya." Idaline menarik tangannya. Ia garuk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa sih yang tadi aku lakukan?!" batinnya berteriak.
"Bukan, bukan itu. Bagaimana kamu akan kembali ke sini?" Djahan menarik lembut tangan Idaline yang berusaha melukai tengkuk putih gadis itu.
__ADS_1
Dengan tangan kirinya Idaline mengusap hidungnya pertanda dirinya gugup. "Belum tentu. Baru kemungkinan." Ia tidak ingin memberikan harapan palsu. Biarlah ia berjuang terlebih dahulu dan memberikan bukti yang nyata.
"Bisakah kamu pamit sebelum pergi dan datang kepadaku ketika kembali?" Djahan berkata dengan getir. Waktu mereka tinggal sedikit tetapi mereka tidak dapat menghabiskan waktu bersama. Haruskah ia membuat peluang itu? Tetapi Idaline tidak ingin direpotkan dengan hal yang tidak perlu.
"Iya. Akan kulakukan," janji Idaline menganggukkan kepalanya.
Djahan melemparkan pandangannya ke arah jendela. Langit yang terang telah berubah gelap. "Sudah larut. Aku akan kembali," pamitnya.
Idaline mengangguk dan mematung kala Djahan mengecup keningnya. Pria itu mengusap rambut Idaline dan memintanya beristirahat dengan tenang, tidak perlu mengantar keluar.
"Istirahatlah dengan tenang! Tidak perlu mengantar keluar." Djahan melangkah keluar dengan beban berat di punggungnya. Ia menaiki kereta kuda dan memandang kosong bulan sabit yang bercahaya terang. "Benarkah harus kuhentikan?" gumamnya.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap kusir menghentikan kereta kuda di halaman Kediaman Mada.
Mata Djahan turun memperhatikan sekitar dan benar mereka sudah sampai di Kediaman Mada. "Pergi ke lapangan!" titahnya memutuskan mengikuti permintaan sang istri.
Kala Djahan keluar dari kereta kuda, semua kegiatan di lapangan itu terhenti. Dengan serempak mereka mendekat dan berdiri di depan Djahan.
"Kami memberi salam kepada tuan," sambut orang-orang yang berada di lapangan sambil bersimpuh dan memegang senjata-senjata andalan mereka.
"Bangunlah!"
"Tuan, apa sekarang waktunya menjemput nyonya?" tanya salah satu yang tak sabaran.
"Belum. Kita akan tunda sampai waktu yang belum ditentukan," jawab Djahan dengan nada keberatan. Berulang kali ia hembuskan napas kasar berharap ada keajaiban yang dapat mempersatukan mereka secepat mungkin.
"Apa tuan menyerah?!" marah salah seorang dayang.
"Baik, tuan."
Di sisi lain Hayan menatap ruangan Idaline yang masih disinari nyala api. Ia merasa tidak nyaman mengizinkan Djahan masuk ke kawasan Keraton Capuri. Sebelumnya ia bersabar, hari ini kesabaran itu sudah menguap pergi. Hayan ingin sekali lagi bertindak egois.
"Hati-hati," ucap dayang pada temannya.
Hayan menaikkan alisnya melihat benda yang belum pernah ia lihat. Ia mendekat dan bertanya pada dua orang dayang itu. "Apa yang kalian bawa?"
"Kya!!" teriak keduanya.
"Hati-hati jangan sampe jatuh," kata dayang mempertingati temannya yang memegang benda tersebut.
"Siapa sih?!! Berani-beraninya.." Ucapan dayang terhenti menyadari orang yang mengagetkan mereka.
"KAMI MOHON MAaf!" Kedua dayang sontak bersujud ketakutan. Tidak mereka pedulikan lagi benda yang seharus dipegang dengan hati-hati. Menambah dua kali lipat kesalahan mereka.
"Apa ini?" Hayan menangkap benda yang akan jatuh ke tanah.
"Itu lampu semprong," ucap Idaline buru-buru keluar dengan selendang yang tersampir di punggungnya. Ia pikir ada penyusup karena teriakan dayang begitu keras. "Untuk penerangan," imbuhnya.
"Aku baru melihat hal seperti ini," ujar Hayan memperhatikan benda di tangannya. Ia menghirup aroma yang wangi semerbak.
__ADS_1
"Tentu tidak pernah lihat, kamu tidak pernah berkunjung di malam hari." Idaline beranjak masuk meneruskan pekerjaannya yang masih belum selesai.
"Sedang apa?" tanya Hayan berjalan masuk beriringan dengan Idaline.
"Melihat gambaran keraton," jawab Idaline membantu Hayan meletakkan semprong di dinding yang aman.
"Pelan-pelan saja," pesan Hayan melihat peta keseluruhan keraton tersusun rapih di atas meja ruang tamu Idaline.
"Sepertinya aku harus pindah," tutur Idaline memperhatikan meja besar ruang tamunya tidak muat untuk menggambar ulang denah. Kerajaan telah berubah menjadi bhumi. Idaline mengerti Hayan ingin merubah tatanan keraton agar menteri lama dan menteri baru tidak terlalu paham seluk-beluk keraton.
"Jadikan rumah ini ruang penyimpanan barang-barangmu. Tinggal di rumah utama saja," usul Hayan.
Idaline mengangguk setuju. "Sesuai perintahmu."
Dengan cekatan para dayang dan abdi dalem memindahkan barang-barang pribadi Idaline malam itu juga. Mereka menyusun dengan rapih dan tepat sesuai tempat Idaline menaruh barang. Idaline akan memberikan bintang sepuluh jika mereka adalah penyedia jasa di sebuah aplikasi online.
"Matamu akan rusak kalau membaca malam-malam," komentar Idaline melihat banyaknya berkas di meja kerja yang tidak selesai-selesai, padahal di siang hari Hayan tidak beranjak dari duduknya dan terus berkutat dengan dokumen.
"Bukannya maharaniku juga seperti ini?" lontar Hayan tidak memindahkan matanya dari berkas di tangannya. Ia sebenarnya gugup berada di satu ruangan dengan Idaline pada malam-malam buta seperti sekarang.
Baru saja beberapa waktu lalu Hayan berniat ingin sekali lagi egois, sekarang otaknya malah beku dan tubuhnya kaku. Hayan tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Dahulu selalu Idaline yang datang padanya.
"Eh? Kapan? Malam adalah waktunya beristirahat!" Idaline mengernyit berpikir keras. Dirinya tadi memperhatikan peta bukan membaca berkas! "Sangat berbeda melihat gambar dan membaca berkas," batin Idaline mencari pembenaran.
"Oh saat itu!" seru Idaline mengingat waktu sebelum berkelana bersama Fusena. Saat itu ia membaca semua literatur yang dirasa dapat menyelamatkannya, tapi ternyata semuanya hanya sia-sia belaka.
"Waktu itu 'kan aku masih kecil. Sekarang istirahatlah, kan ada aku yang akan membantu." Idaline berharap Hayan tidak akan jatuh sakit. Apabila sekali saja Maharaja terserang sakit, banyak pihak akan mencari kesempatan.
Hayan meletakkan kuasnya dan menatap hangat Idaline. "Kalau itu keinginan maharaniku." Ia membereskan berkas dan langsung menuju tempat pembaringan.
Idaline memeluk erat tubuh Hayan yang berbaring di sebelahnya. Ia mencari kehangatan di malam yang dingin.
Tubuh Djahan dan Hayan jauh berbeda. Mungkin karena Djahan berada di luar jadi tubuh pria itu tidak terlalu hangat, berbanding terbalik dengan Hayan yang selalu berada di dalam ruangan dan dibalut berbagai macam kain, tubuh Hayan selalu hangat.
Idaline mengerjapkan matanya berusaha menghilangkan perbandingan kedua pria itu.
"Kenapa kamu tidak marah?" tanya Hayan. Ia memilin ujung rambut Idaline.
"Karena aku akan melakukan hal yang sama jika melihat pasanganku seperti itu. Dan aku ingin menjalankan sisa waktu dengan tenang," jawab Idaline menatap lampu minyak di atas meja kecil ramping panjang yang berada seberang ranjang.
"Toh kamu tidak akan mengembalikanku kan?" gumam Idaline sebelum terlelap.
"Iya."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 11 Oktober 2021
__ADS_1