![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Sejuknya Lapangan Bubat tidak mampu memadamkan hawa panas yang menjalar di dalam hati Lingga Buana. Rombongannya yang telah mendapatkan penjelasan dari para pelayan, mengepalkan tangan dan berusaha menghakimi Papat.
Namun mereka dikejutkan dengan kedatangan pasukan besar yang dipimpin pemimpin bergajah. Pasukan berkuda, kavaleri, dan pasukan pejalan kaki, infanteri, datang tanpa menimbulkan suara.
Mereka berbaris rapih di depan tenda raja Kerajaan Galuh.
"Prabu Lingga Buana. Di Jawa Dwipa ini hanya tinggal kerajaan Anda."
Tampak Djahan duduk di atas gajah lengkap dengan seragam ksatria dan senjatanya.
Sebagian besar pasukannya menunggang kuda, dan seluruh pasukannya menggunakan seragam perang lengkap dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Jika Galuh telah ditundukkan, maka Sunda pun akan takluk. Sekarang ini Sunda berada di bawah tekanan Galuh.
"Mahapatih, Anda bergerak tidak berdasarkan perintah Yang Mulia!" tuding Buana dengan jarinya.
Dia sekarang mempercayai ucapan pelayannya.
Dia berharap Maharaja akan segera datang membantu keadaan di sini!
"Apa yang Anda katakan? Yang Mulia Maharaja itu ingin menyatukan seluruh kepulauan. Anda yang keras kepala dan congak atas kekuasaan yang tidak seberapa harusnya sadar dengan cepat. Sekarang, serahkan putrimu!"
"Jangan bercanda!"
"Saya tidak bercanda," balas Djahan. "Ambil upetinya lalu kita kembali!" titah Djahan merujuk pada penyerahan Resmi sebagai upeti.
Balamati, pasukan khusus kerajaan Galuh bergegas melingkar di sekitar Resmi dan Resi. Resmi dan Resi saling memunggungi bersiap untuk berperang.
Mereka hanya perlu menunggu sampai pasukan Maharaja datang!
Djahan tersenyum miring. "Sayang sekali, Bhayangkaraku bisa memporak-porandakan istana. Bagaimana bisa pasukan kecilmu bertahan, Prabu Lingga Buana yang terhormat?" ejeknya menatap rendah Balamati yang sudah berkeringat.
Mereka tahu Bhayangkara mustahil dikalahkan!
Bahkan bila seluruh Balamati bergabung.
Buana menggertakkan giginya tidak bisa mengelak ucapan Djahan. Dia menatap Balamati dan memberikan perintah dengan tergesa. "Bawa permaisuri dan para putri. CEPAT!"
"Ayahanda!" teriak Resi melihat ayahnya masuk ke dalam pertarungan.
Bhayangkara yang lengkap dengan kuda dan pakaian perang sangat tidak seimbang dengan Balamati yang hanya dibawa setengah oleh Buana.
Setelah Djahan mengangguk, Bhayangkara langsung menyerang pasukan kerajaan Galuh dengan jumlah seimbang.
__ADS_1
Mereka tidak ingin mencoreng nama besar mereka dengan mengeroyok orang lain.
Setiap satu dari mereka akan melawan satu prajurit Galuh.
Meski sebenarnya pasukan sesedikit itu dapat sekejap mereka habisi termasuk Balamati yang telah hilang dari Lapangan Bubat.
Rumput yang hijau dengan cepat berubah merah terkena cipratan darah para prajurit kerajaan Galuh.
Bhayangkara seperti tidak benar-benar berperang. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berdarah ataupun sobek bajunya.
Sedikit demi sedikit mereka mundur dan membiarkan rekan-rekan mereka mencoba ilmu yang telah mereka latih.
Bhayangkara tersisa menghentakkan kakinya di tanah untuk menutupi jumlah asli yang sedang bertarung dengan prajurit-prajurit Kerajaan Galuh.
Tak berselang lama satu per satu Bhayangkara keluar dari arena pertarungan menyisakan satu orang yang terus mengayunkan tombaknya pada musuh.
Satu orang itulah yang akan menghabisi seluruh pasukan Kerajaan Galuh.
"Tuan putri!" Bangkara menarik Resi yang mencoba meraih Buana. Perempuan itu menggila memasuki medan perang tanpa perlindungan. Tujuan Resi hanyalah keselamatan ayahandanya.
"Jangan mengganggu Prabu. Lebih baik Anda berkumpul ke kereta bersama para wanita!" Bangkara menyeret Resi dan menjauhkannya dari titik tempur.
Resi menggertakkan giginya lalu berlari sambil mengeluarkan air mata. Dia menaiki kereta yang telah menunggu. Kereta pun akhirnya berangkat menjauh dari Lapangan Bubat.
Semula kereta kuda yang melebihi kapasitas itu berjalan dengan mulus di atas tanah namun ketika sampai di jalan berbatu, roda kereta rusak dan tidak dapat digunakan.
Darah yang mengucur deras dari telapak kaki dan wajah tergores yang terkena ranting tidak mereka pedulikan, mereka fokus berjalan menjauh dari pandangan musuh.
"Yang Mulia Prabu Lingga Buana telah tewas dan tidak ada tanda-tanda kehidupan pada seluruh prajurit dan para ksatria," ujar tabib yang berhasil lolos setelah memantau pertarungan dari balik semak-semak.
"Tidak mungkin, kita bahkan belum berjalan jauh!!" bantah Resi. Dia tidak percaya ayahandanya telah mangkat, tabib ini pasti ingin membagi fokus mereka!
Tapi tabib legendaris Kerajaan Galuh tidak akan berbohong.
"Hamba juga berharap begitu. Namun semuanya tewas. Lapangan yang hijau telah berubah menjadi merah darah," ucap Tabib menegaskan.
Semua wanita terjatuh mendengar kabar kematian orang-orang yang baru saja pagi tadi bercengkerama dengan mereka.
Suara tangisan keluar dari setiap mulut. Mereka berpelukan menguatkan satu sama lain.
"Bagaimana dengan pelayan itu? Bagaimana?! BAGAIMANA!!! DIA SUDAH SAMPAI KE TEMPAT MAHARAJA KAN?" Resmi berteriak menghabiskan suaranya.
"Dia.. Sudah mati," cicit permaisuri, istri Lingga Buana yang juga ibu dari Citra Resmi dan Citra Resi.
__ADS_1
"Ibunda?"
"DIA SUDAH MATI! IBUNDA YANG MEMBUNUHNYA!" teriak permaisuri frustasi.
Nenek pelayan itu adalah satu-satunya orang yang peduli pada Lingga Buana saat ibunya sendiri mengabaikan Lingga Buana untuk mencari perhatian suaminya, Raja Sunda Galuh.
Rumor mengatakan putri dari si nenek akan menjadi selir Lingga Buana. Mengangkat derajat keluarga nenek dan menjadikan nenek sebagai ibu dari Lingga Buana meski hanya sebatas ibu mertua.
Tetapi perempuan itu lebih memilih menjadi istri kusir kepercayaan raja dan melahirkan anak laki-laki yang kini jadi pelayan khusus.
Permaisuri merasa posisinya telah aman namun raja terus saja memperhatikan keluarga kecil itu dan rutin memberikan hadiah. Hal ini mengusik hati permaisuri namun permaisuri mampu menahan diri.
Akan tetapi kelancangan pelayan tempo hari menambah benci di hati permaisuri. Permaisuri pun tidak ingin ada lintah yang menempel.
Permaisuri khawatir suaminya sang raja akan mendengarkan si pelayan dan membatalkan pernikahan yang begitu membanggakan.
Maka permaisuri memerintahkan pengawalnya untuk menghabisi si pelayan jika pelayan berada di luar jangkauan rombongan.
Siapa yang tahu ternyata pelayan itu menjadi harapan terakhir untuk meminta bantuan?!
Resmi memiringkan kepalanya mengambil tusuk konde di rambut. Orang-orang dengan lesu memperhatikan tuan putri kesayangan mereka tanpa ada niat menghentikannya.
"Djahan Mada, selama kamu hidup di dunia ini, tidak akan pernah bersatu kamu dengan orang yang kamu cintai! Kamu tidak akan menemukan cinta di dunia ini!!" kutuk Resmi menggetarkan tanah.
Resmi memegang tusuk konde dengan kedua tangannya lurus di depan wajah, ia dongakkan kepala lalu dengan cepat menusukkan tusuk konde itu ke lehernya.
Resi menutup matanya tidak kuat menyaksikan kematian kakaknya, dengan teguh ia ambil tusuk konde di rambutnya sendiri dan melakukan hal serupa.
Kemudian disusul para wanita lainnya bersamaan karena terdengar suara kuda yang semakin mendekat ke arah mereka.
Mereka memberikan sumpah serapah pada dalang kehancuran mereka, Djahan Mada.
Langit bergelegar dan petir menyambar seolah pertanda alam bahwa kutukan dan sumpah serapah mereka direstui.
Djahan tidak memedulikannya, dia tersenyum mendengar kematian semua pendatang termasuk Balamati yang ikut lari untuk melindungi para wanita.
Djahan tidak peduli. Yang penting posisi istrinya telah aman!
Istrinya tidak perlu memikirkan hal berat di akhir waktu dia berada di dunia ini.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 01 November 2021
__ADS_1