![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Hayan, bagaimana dengan ini?" Idaline membuka gulungan di depan Hayan. Saat ini Idaline sedang mengunjungi Hayan di Bale' Ndamel. Bisa saja ia menyerahkan pekerjaan saat mereka berdua berada di keraton Capuri, tetapi Idaline ingin melakukan pekerjaan dengan profesional.
"Kemarilah." Jari-jari Hayan bergerak ke bawah menyuruh Idaline mendekat.
Idaline memutari meja dan berdiri di samping Hayan, namun tiba-tiba pria itu menariknya hingga jatuh terduduk di atas pangkuannya. "Apa yang kamu lakukan?!" seru Idaline mendorong dada Hayan.
"Hmm aku merindukanmu, maharaniku." Hayan memeluk erat Idaline.
Wanita itu terus saja bekerja di rumahnya dahulu yang telah menjadi ruang kerja hingga beberapa hari tidak menampakkan diri di meja makan. Idaline bangun lebih pagi dari dirinya jadi bagi Idaline sangat mudah menyelinap keluar saat Hayan masih terlelap.
Ketika pulang ia selalu mendapati Idaline telah tertidur lelap, Idaline sibuk mendesain ulang Kedaton Sedap Malam dan juga sibuk menghindarinya.
Hayan membiarkan Idaline untuk menata hati. Namun kini ia tidak mau melepaskan posisi yang teramat nyaman.
"Hayan, lihatlah dulu desainku." Idaline berusaha lepas dari belitan Hayan. Posisinya dan tempat yang terbuka membuatnya malu setengah mati.
"Aku suka semua yang maharaniku inginkan." Hayan menadahkan tangan ke atas dan menutupnya dalam sekali gerakan, bersamaan dengan itu semua jendela dan pintu tertutup. Lalu jari telunjuk Hayan menekuk ke ibu jari dan menggerakkan ke depan membuat gerakan selentik, kemudian api di mejanya menyala.
"Desainku hanya sekedar peralatan. Untuk ukiran dan lainnya, benar-benar membingungkan." Idaline pesimis gambarnya bisa dibaca atau tidak. Tapi seharusnya desain kasar bisa dimengerti. Merekrut orang pun, Idaline harus menambah detail seorang diri.
Ini adalah keraton, tempat yang diperuntukkan bagi kepala negara. Jadi detailnya tidak boleh tercium dari luar.
"Oh begitu." Hayan menaruh kepalanya di bahu Idaline. Ia meraih kuas dan mulai menggerakkannya di atas kertas. "Ukiran di sini seperti ini dan yang sebelah sini begini."
"Maharaja pandai dalam segala hal," puji Idaline puas dengan ukiran-ukiran rumit yang Hayan gambar. Jika di dunia modern, Hayan mungkin bisa menjadi komikus handal dan terkenal.
"Ini karena maharaniku dulu mengajari dengan yakin. Padahal aku sendiri sudah menyerah." Hayan menghirup dalam-dalam aroma rambut Idaline.
Mendengar perkataan pesimis, Idaline menengok melihat wajah Hayan. Ia tersenyum lalu berkata, "Semua orang berbeda dalam belajar, tidak bisa dikerucutkan menjadi satu jalur. Akan lebih baik berkumpul bersama dengan yang sejalan."
Hayan menatap mata bulat Idaline yang terlihat polos. Ia lalu menjatuhkan kepalanya ke bahu Idaline. "Maharaniku terlalu merendah," katanya mengeratkan pelukan. Aroma keringat Idaline berbau batang pohon yang baru saja dibelah, membuatnya sedikit berkelana.
"Hayan kamu jangan nakal," ucap Idaline merasakan benda keras di sela kakinya dan tangan Hayan turun ke bawah.
__ADS_1
"Salah maharaniku terlalu menggoda." Hayan memasukkan tangannya ke dalam kaos Idaline dan mencari buah yang terus menghantuinya selama beberapa hari belakangan. "Pakaianmu sangat apik," bisiknya sembari menghembuskan napas ke telinga Idaline.
"Maharaja, ini jam kerja." Idaline menangkap tangan Hayan yang berusaha melepas pelindung buahnya.
"Yang menentukan waktu kerja atau bukan adalah aku." Tangan Hayan lebih cepat dari tangan Idaline, ia berhasil melepas pelindungnya dan me re mas benda di delamnya, ia juga menggigit kecil telinga Idaline dan menji la tinya membuat Idaline mele nguh.
"Hmmph."
"Bangunlah," titah Hayan di depan telinga Idaline. Tubuh Idaline bangun begitu saja mengikuti ucapan Hayan. Hayan tidak melepaskan tangannya, ia turut bangun dan mengusap perut Idaline lalu turun ke bawah.
Idaline memegang pinggiran meja kala Hayan mengelus dan memasukkan jari ke inti tubuhnya. Ia hampir mengeluarkan de sa han saat seseorang menginterupsi mereka.
"Yang Mulia, saya membawakan laporan dari perbatasan."
"Mahapatih, saya belum mengizinkan Anda masuk!" tegur Hayan. Buru-buru Hayan menarik Idaline ke pangkuannya.
"Erm..Hayan." Idaline menyikut lemah dada Hayan. Ia tidak bisa menyembunyikan napas memburunya karena tangan Hayan terus bergerak di bagian bawah tubuhnya.
"Saya selalu keluar masuk sejak dahulu." Darah mendesir naik ke wajah Djahan melihat tangan Hayan di tubuh Idaline. Pria itu tidak melepaskan tangannya seolah ingin menunjukkan pada Djahan sejauh mana hubungan dirinya dan Idaline.
"Perhatikanlah tempat kalian. Kita bukan hewan yang bisa melakukan hal itu di mana pun!" Djahan berkata dengan marah sebelum meninggalkan Bale' Ndamel.
"Djahan.." panggil Idaline. Ia tidak pernah ditatap dengan sengit oleh Djahan. Djahan selalu menatapnya dengan teduh dan penuh kasih.
"Maharaniku berani memanggil pria lain saat di depanku?"
"Hayan, banyak berkas di sini!" tegur Idaline saat Hayan mengangkatnya ke atas meja. "Hnnn. Berhentilah, hhh itu kotor." Idaline berusaha menarik kepala Hayan yang menunduk di sela kakinya. Tetapi tanpa sadar Idaline justru menekan kepala Hayan dan berharap lebih.
Hayan tersenyum melihat Idaline yang tak berdaya di atas meja dengan rok karet yang sudah turun setengah ke bawah. Hayan memposisikan diri dan memasuki liang yang telah basah lalu menunduk memakan buah tanpa melapaskan pakaian Idaline.
Hayan mendapatkan cap lima jari di wajahnya setelah menyelesaikan kebutuhan biologisnya. Dia menyesal telah terbawa suasana, sebagian berkas di mejanya hancur termasuk laporan Djahan dan peta buatan Idaline.
"Jadi, maharani datang untuk memberi tahu berkas laporanku hancur?"
__ADS_1
"Iya," jawab Idaline menundukkan kepalanya sambil memilin roknya yang kusut.
Karena Idaline menggelung rambutnya akibat gerah, Djahan jadi bisa melihat tanda merah di leher dan pundak Idaline. Djahan mengepalkan tangannya. Tidak mungkin tanda darinya masih bertahan sampai sekarang.
"Idaline, kamu datang ingin memamerkan hal itu?" tukas Djahan mencengkram bahu Idaline.
Idaline takut-takut menatap Djahan kemudian kembali menunduk. "Tidak. A a aku minta maaf," cicitnya.
"Bagaimana kalau kukatakan.." Djahan mencengkeram wajah Idaline membuat Idaline mendongakkan wajah ke arahnya. ".. aku baru memaafkanmu setelah melakukan ini?" Djahan mendekati wajah Idaline dan memiringkan kepalanya.
Idaline menggigit bibirnya dan memandang arah lain, matanya menggenang. Idaline tidak ingin membuat keributan antara dua orang tertinggi di bhumi, itu sama saja menghancurkan negara. Dua orang berkedudukan tinggi pasti memiliki kebanggaan yang besar.
Mereka tidak akan menyerah dengan mudah antara satu sama lain.
Djahan menutup matanya lalu menjauhi wajah Idaline. Djahan mengelus wajah Idaline, lantas wanita itu memperhatikannya.
"Aku melepasmu untuk memimpin bhumi bukannya bermain bersama Maharaja," ujarnya tersirat kesakitan yang besar.
"Djahan, Hayan adalah suamiku." Perkataan itu lolos begitu saja dari mulut Idaline. Idaline sontak menutup mulutnya rapat-rapat.
Djahan tertegun. Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah Idaline sudah melupakan dirinya? Apakah janji suci mereka begitu mudah diingkari? Apakah wanitanya tidak sungguh-sungguh untuk terikat dengannya?
"Apa aku bukan suamimu?" tanya Djahan masih dengan sendu.
"Kamu selalu berada di hatiku. Tolong pahami keadaanku." Hanya itu yang bisa Idaline katakan.
Tidak mungkin ia mengakui memiliki dua suami.
Keadaan macam apa itu?
••••••••••••••••••••
••• BERSAMBUNG •••
__ADS_1
© Al-Fa4 | 17 Oktober 2021
Jangan like, komen, vote, dan hadiah supaya author semangat:)