TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
062 - KENAPA TIDAK ASING?


__ADS_3

Selama ini cerita legenda Tangkuban Parahu hanya berfokus pada permasalahan rumah tangga Dayang Sumbi. Namun bila menilik jauh sebelum Dayang Sumbi memutuskan menikahi anjingnya, banyak raja-raja, pangeran, dan bangsawan yang tertarik pada Dayang Sumbi kemudian berperang satu sama lain hanya untuk memperebutkannya.


Siapa yang tahu akhirnya Dayang Sumbi justru memilih hewan peliharaannya dibanding beberapa raja yang telah berkuasa atas kerajaan-kerajaan rivalnya?


Memang Dayang Sumbi mengasingkan diri karena bersedih hati perang demi perang terjadi sebab memperebutkan dirinya. Namun orang-orang masa itu hanya mengerti bahwa Dayang Sumbi merupakan penyebab perang antar penguasa.


Andai saja Dayang Sumbi menikahi salah satu penguasa, setidaknya beberapa perang dapat dihindari atau bahkan tidak akan ada perang yang tercetus.


"Mungkin dari lisan-lisan pedih para korban perang jadi rumah tangga Sumbi ngga bahagia," batin Idaline melangkahkan kakinya masuk ke Kedaton Sedap Malam tanpa sambutan. Ia mendapati wajah-wajah yang baru dilihatnya.


"Yang Mulia, Anda akhirnya kembali!!!"


Kedaton yang semula sibuk mendadak sepi mendengar ucapan dayang kamar Idaline yang memekakan di tengah ramainya suara jangkrik.


"Aku hanya pergi sebentar." Idaline sedikit bernapas lega, setidaknya dayang kamarnya tidak dirubah. Meyakinkan orang-orang kolot untuk tidak menyentuh tubuh orang sembarangan adalah hal yang amat sulit.


Tubuh adalah aset seseorang yang mestinya dijaga ketat, ada batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Pasangan hidup adalah yang berhak melihat dan mendapatkan semuanya. Bila sudah dipegang-pegang orang lain, sudah tidak ada lagi kebanggaan dalam diri sebesar apa pun ketidakpedulian di masa muda.


"Ta..tapi Yang Mulia, sekarang sudah lima belas hari," ucap dayang takut menyinggung sang majikan.


"(APA??)" Mulut Idaline menganga dan matanya melebar. Ia terlalu asik berkelana jadi tidak memperhatikan waktu. "Ternyata sudah selama itu," gumam Idaline duduk di kursi dan menopang dagunya sambil mengangguk-anggukkan kepala membayangkan hari demi hari dihabiskan di tempat berbeda.


"Benar, Yang Mulia. Syukurlah Anda sudah kembali." Dayang lain membuka suaranya. Mereka bingung akan pekerjaan yang harus dilakukan. Sebab kamar sudah rapih begitu pun pakaian di dalam lemari dan tidak ada pakaian kotor yang dibawa Idaline.


"Mata kalian.." singgung Idaline melihat kantung mata para dayang berwarna kehitaman. "Laporkanlah aku sudah kembali. Tidak perlu melayani, aku ingin istirahat." Idaline menggerakkan tangannya mengusir dayang-dayangnya kemudian beranjak menuju tempat tidur.


"Baik, Yang Mulia."


Idaline melemparkan tubuhnya ke atas kasur lalu berguling-guling ke kanan dan ke kiri. "Ah nyamannya. Semoga Nawang dan Jaka bahagia," lirihnya sebelum terlelap. Ia sempat menginap di Telogo. Tadinya hanya ingin melihat perkembangan alur cerita, malah jadi menginap lima hari empat malam karena pernikahan Nawang dan Jaka digelar sangat meriah.


Nenek moyang desa itu meninggalkan beberapa literatur seperti jenis-jenis burung yang hidup di Kepulauan-Kepulauan di sana, sangat lengkap dari mulai ciri-ciri sampai cara mengendalikan burung-burung tersebut. Dan yang tidak kalah berguna adalah tulisan mengenai kekuatan para bidadari dan bidadara yang berbeda warna.


Nawang yang menggunakan energinya saat berburu gajah untuk dijadikan tunggangan diketahui oleh seorang warga dan saat diintai beberapa warga, Nawang dengan sembrono mengeluarkan kekuatannya. Akhirnya para warga menyimpulkan Nawang sebagai keturunan bidadari dan memberinya penghormatan yang besar.


"Kenapa tidak berganti pakaian setelah perjalanan jauh?" gumam Djahan sedang membaca buku di sisi lain ruangan.


"Tuan Mahapatih, ini sudah larut," tegur kepala dayang kamar Idaline memperingati.


"Aku akan mengganti pakaiannya dulu. Kalian keluarlah." Djahan mengusir para dayang yang masih betah di kamar. Ia tahu Idaline sangat tidak suka menunjukkan tubuhnya pada sembarang orang termasuk para wanita.


"Ya?" sahut kepala dayang kamar terkejut. Sangat tidak pantas seorang pria menggantikan pakaian wanita.


"Apa perlu aku ulangi ucapanku?"


"Ti-tidak perlu, tuan. Kami mohon pamit." Kepala dayang kamar membungkuk sebentar lalu pergi keluar kamar.


"Bagaimana ini?" khawatir dayang pada rekannya.


"Tuan mahapatih adalah suami sah Raden Ajeng," ujar yang lain.


"Tapi beliau akan jadi maharani.."

__ADS_1


"Singkirkan pertanyaan kalian kalau kalian adalah dayang yang cakap, jangan menggali apa yang diputuskan majikan kita."


"Baik, nona kepala."


Kepala dayang kamar Idaline sebenarnya merasa cemas meninggalkan mereka berduaan saja namun tanda di dahi Idaline dan Djahan masih utuh pertanda mereka masih sepasang suami istri.


Ia hanya berharap tidak ada keributan di malam ini. Dayang dan pelayan Kedaton Sedap Malam telah melewati hari-hari lelah menunggu kepulangan majikan mereka bersamaan kecemasan akan hukuman gantung karena telah lalai menjaga calon maharani.


"Yang Mulia Maharaja mohon jangan datang. Anda dan Raden Ajeng sedang dipingit." Halang Bejo yang mendengar kedatangan Idaline lalu disusul berita Hayan berkunjung. Bisa habis mereka semua kalau Hayan tahu setiap hari Djahan menginap di Kedaton Sedap Malam.


"Aku sangat khawatir padanya," kata Hayan tak sabar.


"Beliau baik dan aman. Mohon bersabarlah, cukup tiga hari lagi Anda akan berjumpa dengan Yang Mulia Raden Ajeng." Nada suara Bejo sedikit gemetar. Bagaimanapun ia tahu sifat Hayan yang tidak suka dibantah. Jika sekali saja menolak keinginan Hayan, hanya ada kerugian yang besar.


Hayan menatap Bejo yang berwajah penuh tekad meski menutup matanya dan sedikit menunduk. "Baiklah. Jaga dia baik-baik. Jangan sampai aku mendengar dia kabur lagi!" tegas Hayan.


"Siap laksanakan, Yang Mulia."


Hayan yang memakai baju santai berbalik lalu menunggang kudanya kembali ke Keraton Capuri.


Bejo menghela napas lega melihat Idaline sudah bersih dan berganti pakaian sebelum tidur. Ia mundur perlahan lalu menutup pintu dengan hati-hati. Pandangan Bejo beredar ke setiap sudut rumah utama, sekali lagi ia menghela napas lega mengetahui sang mahapatih telah pergi dari Kedaton Sedap Malam.


"Setidaknya Tuan Mahapatih menepati janjinya untuk pergi begitu melihat keadaan Raden Ajeng baik-baik saja," batin Bejo.


"Yang Mulia Raden Ajeng sudah bepergian dalam waktu lama. Kerjakan persiapan tersisa dengan tenang. Hal-hal yang membuat ribut dilakukan sejauh mungkin dari bangunan utama," perintah Bejo pada para dayang dan pelayan.


"Baik, ibu pengasuh."


••••••••••••••••••••


Idaline kembali duduk di panggung yang sama dengan suasana yang lebih meriah, lebih banyak orang, dan yang duduk di sebelahnya adalah orang berbeda.


Ia tersenyum pada Widya yang memandang penuh rasa bersalah dan pada Netarja yang khawatir.


"Saya, Nirankara Hayan Wijaya, Maharaja Bhumi Maja. Bersumpah akan menjaga Idaline sepanjang hidup saya, menjadikan Idaline istri dan Maharani yang berharga, memberikan yang terbaik, dan menerima dengan sepenuh hati semua perihal tentang dirinya," ucap Hayan menatap Idaline di akhir kalimatnya.


"Bagaimana dengan Raden Ajeng Paramudita?"


"Saya, Idaline, murid Petapa Agung. Bersumpah akan menuruti semua ucapan dan keputusan suami saya sekaligus Maharaja Bhumi Maja di atas jalan yang benar, dan menerima semua yang diberikan dengan hati yang lapang," ucap Idaline kukuh menghadap Lebai Mihir, pengganti Kripala Mihir.


"Pasangan baru telah resmi. Semoga Maharaja dan Maharani dapat memenuhi janji-janjinya dan membawa kemakmuran bagi Bhumi Maja," tutup Lebai.


Idaline dan Hayan saling berhadapan melempar gantal, kemudian Hayan menginjak telur dan Idaline berjongkok membasuhnya dengan air kembang tujuh rupa. Hayan membantu Idaline berdiri lalu mengambil gelas dari nampan yang dibawa Netarja, menempelkan gelas itu ke mulut Idaline dan meminumkan air degan kepada Idaline, begitu juga Idaline bergantian meminumkan degan dari gelas yang sama kepada Hayan.


Selanjutnya mereka membuat simbol aura di masing-masing dahi, Hayan sedikit kesusahan sebab tanda di dahi Idaline masih belum dihilangkan. Setelah itu Hayan mengucurkan emas dan permata ke kantung merah yang dipegang Idaline. Lalu mereka saling suap tiga kali dari tumpeng yang jadi santapan utama, dan ritual yang terakhir adalah sungkem kepada Gitarja dan Dhara sebagai orang tua.


Gajah yang sudah dihias dan diberi rengga dengan posisi menunduk dinaiki Hayan dan Idaline. Mereka berkeliling sepanjang jalur utama Trowu, ibu kota Bhumi Maja, yang sudah dipenuhi masyarakat dari berbagai daerah yang sangat antusias melihat maharaja dan maharani.


"Ini kesempatan yang belum tentu kita dapatkan," komentar salah satu warga.


"Iya, kapan lagi kita bisa melihat wajah Yang Mulia Maharaja dan Yang Mulia Maharani?" sahut yang lain.

__ADS_1


Pesta di dalam dan luar istana dimulai setelah barisan pawai kembali ke dalam keraton. Melewati semua itu, Idaline tidak merasa asing. Selama ini Idaline sering menunggang hewan, namun disaksikan banyak orang, terasa tidak asing baginya, perasaan akrab seperti sudah biasa.


"Kenapa tidak asing? Apa mungkin karena dulu sering naik depok? Haha," kata Idaline di dalam hatinya teringat kesenian Depok yang berasal dari daerah di Pantai Utara Jawa.


Kesenian Depok biasanya berbentuk singa maka di tempat asalnya dinamakan Singa Depok, namun tak menutup kemungkinan bentuk lain seperti Ular Naga Jawa. Depok akan dipanggul empat orang dan orang yang duduk di atas depok akan mengikuti irama sesuai goyangan keempat orang tersebut.


"Kalau lelah kembali saja duluan," ucap Hayan melihat wajah pucat Idaline.


"Tidak apa-apa," jawab Idaline. Ini adalah percakapan pertama mereka setelah terakhir bertemu di Bale' Ndamel.


"Tapi wajahmu sangat pucat." Raut khawatir nampak jelas di wajah Hayan.


"Sebentar lagi berganti pakaian. Riasan wajah akan menutupi wajah yang pucat."


"Bukan begitu." Hayan menatap Idaline dengan kelopak mata yang menurun. Idaline berada di sampingnya namun bagi Hayan terasa sangat jauh. "Jangan terus bicara formal, maharaniku."


"Iya." Idaline memandang ke seluruh penjuru tak menemukan Djahan, ia menggigit bibirnya yang gemetar. Idaline sangat merindukan pria itu. "Aku mohon izin berganti pakaian," pamit Idaline berdiri memandang Hayan.


Mulut Hayan yang terbuka berubah menjadi senyuman. "Tidak perlu izin dariku. Cukup beri tahu." Ia memegang hatinya yang pilu melihat setitik air di ujung mata Idaline. "Apa sebegitu besarnya penyesalanmu?" gumamnya.


Tak berselang lama Hayan turut turun dari pelaminan dan berganti pakaian.


"Yang Mulia, kalau Anda tidak tahan. Bisa hamba izinkan pada Yang Mulia Maharaja," ujar Bejo melihat Idaline sangat lemah.


"Aku sehat." Idaline menatap wajahnya yang segar karena riasan. "Hari pertama haid memang selalu sulit," katanya.


"Kami–" Bejo menghentikan ucapannya melihat orang yang datang.


Hayan memegang bahu Idaline. "Ayo, maharaniku," ajaknya.


Idaline menatap lurus pantulan wajah Hayan di cermin. "Hari masih terang," ucapnya beralasan. Kaki Idaline gemetar dan sakit, juga terdapat nyeri di punggung bagian bawah tubuhnya.


Hayan mengambil duduk di samping Idaline. Bejo dan para dayang menunduk hormat lalu keluar menutup pintu. "Ingin makan? Seharian kamu hanya makan dulangan," tanyanya lembut.


"Aku tidak lapar," tolak Idaline.


"Idaline, maafkan aku." Hayan merasa sangat asing dengan perempuan yang kini menjadi istrinya tetapi ia tidak bisa memberikan wanitanya pada pria lain. Meski ia sudah berjanji, namun janji itu ia ucapkan dalam keadaan marah. Hayan tidak akan melepaskan Idaline lagi.


Rasa sakit di tubuh Idaline tiba-tiba beralih ke dalam hatinya. Mendadak ia bangkit dari duduknya dan memandang ke sembarang arah. "Ayo berangkat," ajaknya.


Hayan menghela napas lalu memberikan lengannya.


"Aku sedang datang bulan," tambah Idaline mengalungkan tangannya di lengan Hayan.


Bukannya merasa kesal, Hayan justru merasa bahagia.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 26 September 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2