TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
059 - KENAPA SEMUA JADI RUMIT BEGINI?


__ADS_3

Matahari pagi terbit dari sebelah timur. Selama itu terjadi, masih diterima tobat setiap hamba. Lain halnya bila matahari telah terbit dari sebelah barat.


Pagi itu Candra menyelinap pergi dari kamarnya. Mengendap-endap di belakang ayahnya yang sedang berdiskusi dengan beberapa petinggi yang baru kembali dari medan perang. Candra memelototi penjaga yang melihatnya dan hendak melapor pada sang ayahanda. Langsung saja Candra menaiki kuda kesayangannya, melaju menuju keraton.


"Pagi, kak. Bagaimana kabarmu?" sapa Candra muncul di daun pintu kamar Idaline.


Perempuan yang sedang berbaring di ranjang menengok sekilas lalu memutar kepalanya ke arah berlawanan.


"Eh, mata kakak kenapa?" tanya Candra melihat mata Idaline lebih besar daripada seharusnya.


"Uh Candra, ambilkan aku es," kata Idaline menutupi mata bengkaknya. Idaline tetap menutupi matanya meski Candra tidak dapat melihat wajahnya, Candra hanya bisa melihat punggung Idaline dari luar kamar. Namun Idaline terlalu malu atas dirinya sendiri, ia tahu matanya sangat mengerikan.


"Kakak dilarang minum es?" Candra menatap bingung Idaline sebelum melesat pergi mengambil potongan es. "Ini, kak." Candra menyodorkan baskom berisi es pada Idaline yang telah duduk di ruang tamu.


"Terima kasih." Idaline menaruh sepotong es di atas kain lalu ia ikat dan ia tempelkan ke kelopak matanya membuat Candra bertanya-tanya.


"Apa gerangan yang dilakukan perempuan ini? Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa esnya taruh di mata? Ngga dingin?" batin Candra. Ia duduk berlutut di samping Idaline, menemani sampai wanita itu selesai dengan kegiatannya. Mata Candra terus memperhatikan Idaline yang diam menempelkan kain berisi es di kedua matanya.


"Yang Mulia, sarapan sudah siap." Dayang memberi tahu dari luar kamar.


"Ya," sahut singkat Idaline.


"Kak, aku mau menagih sambalnya," tutur Candra saat para dayang berbondong-bondong membawa nampan berisi berbagai macam makanan. Juru masak Kedaton Sedap Malam turut menyiapkan makanan bagi tamu majikannya karena waktu sarapan belum berlalu.


"Masih pagi, nanti saja," ucap Idaline meletakkan es dan mengelap matanya dengan kain yang disodorkan Candra. "Bagaimana kabarmu? Perjalananmu?" tanya Idaline mengusap kepala Candra yang duduk berlutut di sampingnya.


"Candra baik dan selama ini semua berjalan mengikuti arus," jawab Candra menikmati usapan itu.


"Bagus dong kalau begitu," ujar Idaline mendengar nada jengkel dalam ucapan Candra.


"Semuanya mengalir begitu saja."


"Hm? Apa itu buruk?" tanya Idaline mendengar suara datar Candra.

__ADS_1


"Tentu saja kak. Kalau terus ikut alur bagaimana bisa kita menikmati pemandangan?"


Idaline mengangkat alisnya. Ia menggeser tubuhnya lalu ia tuntun Candra untuk duduk di sebelahnya. "Coba ceritakan," katanya sambil memberikan piring berisi makanan.


Candra melahap makanan di depannya sambil bercerita.


Dahi Idaline mengerut, alisnya bertautan mendengar cerita mulus Candra yang mampu mempelajari semua sihir di Pendopo Srengenge.


Candra juga masuk Akademik Kerajaan satu tahun lebih muda dari teman-teman sekelasnya namun karena kecerdasan dan pengetahuan luasnya, Candra lulus dengan tepat bersama mereka.


Begitu lulus Candra langsung pergi ke medan perang, membuktikan diri kepada senior-senior yang sudah berjaga di sana bahkan memenggal kepala Senopati Wengker.


"Aku tidak bertarung dengannya, hanya sebuah keberuntungan anak buah Yuwamentri terhempas saat mengisi air di sungai perbatasan akibat sihir yang dipasang pasukan Wengker, kemudian dia diculik oleh salah satu Ksatria Wengker yang menjaga perbatasan. Aku mengikuti jejaknya hingga ke goa tempat ksatria-ksatria Wengker bertapa."


"Siapa sangka mereka sedang sekarat, organ-organ dalam tubuh mereka rusak karena memaksakan energi, tidak pantas melewatkan hal itu. Dan tanpa pikir panjang, Yuwamentri menghabisi komandan tersisa di tenda-tenda mereka."


Candra bercerita bagaimana ia bisa memenggal kepala Senopati Wengker yang kabar burungnya lelaki itu sudah setara dengan Penyihir Agung. Nyatanya Senopati Wengker justru sekarat ketika hendak menyerap energi sihir di goa terdalam Wukir Mahendra yang mereka temukan.


"Candra juga sangat berkontribusi. Tanpa mata warisan keluargamu, tidak akan ada yang bisa melihat aura kacau dalam tubuh mereka dan kalian akan berlalu begitu saja karena ragu tentang kekuatan mereka." Idaline memuji Candra yang berusaha merendahkan diri.


"Semuanya sudah berhati-hati selama bertahun-tahun. Tidak mungkin gegabah masuk ke dalam sarang musuh yang mungkin sudah bertambah kuat." Idaline turut menarik kedua sudut bibirnya.


"Kalau organnya rusak berarti itu adalah energi sihir, kenapa tidak mengembangkan diri kalian terlebih dahulu?" tanya Idaline kembali serius. Sangat bagus bila tukang sihir mendapatkan energi tersebut.


Dari prasasti yang Idaline ketahui, dahulu ia hendak melakukan yang Candra lakukan dengan menjebak mereka untuk menemukan goa terdalam lebih cepat, tetapi tidak ada kelompok yang dapat membantu Idaline, semua orang sibuk dan semua orang sudah berada di posisinya. Idaline tidak mungkin memberi tahu dengan gamblang hal yang ia ketahui.


"Sudah kami lakukan. Kami memusnahkan Wengker beberapa hari sebelum ibu suri mangkat, kemudian Yang Mulia Maharaja menyuruh kami mempelajari dan menyerap sihir itu dan juga ilmu kanuragan," terang Candra memenuhi keingintahuan Idaline.


Idaline mangut-mangut mendengarnya. "Baguslah. Kalian pantas mendapatkan energi itu terlebih dahulu daripada yang lain."


"Yang Mulia Maharaja sangat bijak. Kakak gimana selama ini?" Candra bertanya balik.


Candra sempat merasa buruk saat tidak dapat mengetahui kabar tentang Idaline. Keberadaan Idaline ditutup rapat oleh keraton. Kemudian Candra berusaha mendapatkan posisi tinggi melalui peperangan dengan Wengker. Dari posisi tinggi itulah ia dapat mengakses informasi yang ditutupi keraton.

__ADS_1


Tetapi kini posisi tersebut tidak lagi berguna. Menjadi pasangan murid Petapa Agung berarti tidak boleh terikat dengan satu daerah saja.


"Yah, hanya mengikuti Petapa Agung ke sana kemari. Dia mengajar dengan ketat."


Mengingat itu Idaline merasa kesal. Hanya ketika bertemu Djahan, Idaline dapat menikmati suasana desa, selebihnya Idaline terkurung di dalam penginapan atau goa untuk bertapa dan mempelajari buku-buku. Baru di tahun kelima Idaline diperbolehkan menampakkan diri dan menghadapi publik, juga berjalan-jalan keliling desa tanpa ada lagi pengawasan ketat.


"Yang Mulia, Tuan Sanjaya meminta izin bertemu," ucap dayang memberi tahu.


Idaline menghilangkan kerutan di dahinya, ia menatap pintu masuk, tempat sang dayang bersimpuh. "Persilakan masuk," sahutnya memberi izin.


Tanpa menunggu, Indra langsung memasuki rumah utama. Senyuman yang semula bertengger di wajahnya perlahan menghilang mendapati orang lain di ruang tamu bersama Idaline.


"Tuan muda Ekadanta sangat santai," sindir Indra mengambil duduk di depan Candra. Seharusnya tuan muda Ekadanta itu memiliki kesibukan yang banyak.


"Tidak ada pekerjaan maka harus santai." Candra tersenyum miring. Pria di hadapannya itu memiliki nyali yang besar. Melamar Raden Ajeng di Aula Ageng di hadapan Maharaja dan tamu-tamu penting.


"Idaline, aku meminta maaf harus menunda. Keluarga pamanku sangat tamak. Ketika dua tetua mangkat tahun lalu, mereka berani mengambil alih keluarga Sanjaya dan membuat Sanjaya hampir saja hancur."


Indra merenggut melihat tiga anak buahnya mengintip di jendela dan mengangkat tangan menyuruh dirinya kembali bekerja.


"Aku akan menyelesaikannya dahulu dan kembali dengan cepat," tambah Indra menjetikkan jarinya, masuklah beberapa dayang membawa berbagai macam hadiah untuk Idaline.


Sementara itu Idaline termenung, Idaline teringat akan pemberontakan Kuti. Meski secara resmi keluarga besar Sanjaya menyatakan diri tetap berada di pihak ratu, beberapa pembesarnya termasuk tiga dari lima tetua bergabung pada pemberontak. Sekalipun sudah bertobat, permusuhan di dalam keluarga tak terelakkan.


"Aku melanjutkan tugas dulu. Pembicaraan ini kita lanjut nanti," pamit Indra melesat pergi.


"Tunggu!" teriak Idaline sambil berdiri mengejarnya hingga ke gapura. Idaline harus menyelesaikan janji di antara mereka. Janji itu hanya sebuah senda gurau, Idaline berpikir ia akan pergi makanya ia berani berjanji demikian. Ternyata semuanya bertambah rumit.


"Kenapa semua jadi rumit begini?" batin Idaline.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 18 September 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2