![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ida!" Djahan berhambur keluar begitu mendengar pengawal bayangannya melihat Idaline memasuki kediaman Mada. Ia mengecek tubuh Idaline lalu menuntunnya masuk ke dalam kamar pengantin. "Apa kamu baik-baik saja, istriku?"
Lamunan Idaline buyar. Idaline menarik pikirannya kembali sadar dan menatap Djahan yang berlutut di depannya. "Maaf tadi ada hal mendadak."
"Yang penting istriku baik-baik saja." Djahan bangkit dan mengelus rambut Idaline. Ia berlalu menyiapkan minuman untuk menenangkan istrinya yang tampak linglung.
Idaline mengangkat pinggulnya dari kursi, ia berjalan mendekat pada Djahan dan memeluk punggung Djahan yang sedang menyiapkan teh.
"Aku tidak ingin meminum teh." Idaline melepaskan genggaman Djahan pada cangkir dan teko. "Aku ingin melakukan hal lain."
Djahan berbalik dan menggendong Idaline dengan gaya pengantin. Gadis itu menangkup wajah Djahan lalu melu*mat bibir Djahan dengan tergesa-gesa.
"Ceritalah jika ada masalah." Djahan mendudukkan Idaline di kasur.
"Djahan apa kamu tidak ingin menghabiskan malam ini?" tanya Idaline terengah-engah. "Apa aku tidak pantas?" tambahnya sedih.
"Mana mungkin." Djahan menjatuhkan Idaline hingga punggung gadis itu menyentuh kasur empuk yang dibawa Idaline dari Janapada. Djahan menaikkan lututnya ke atas kasur, menangkup tubuh Idaline lalu membenamkan wajahnya di leher Idaline menggambar bercak merah di sana, tangan Djahan kebingungan membuka kancing piyama.
Idaline mendorong pelan tubuh Djahan. "Begini." Idaline membuka satu persatu kancing piyamanya tanpa melepaskan pandangan dari wajah Djahan. Djahan menelan salivanya dengan kesusahan.
Mata Idaline melebar menyadari kain merah tipis yang membalut tubuhnya. Malu-malu Idaline tutupi tubuhnya dengan atasan piyama yang telah terlepas.
Djahan meraih kain biru itu dan melemparnya jauh-jauh. Djahan mengungkung Idaline dan sinar matanya memuja keindahan lekuk tubuh Idaline. Djahan mendekatkan wajahnya meraih lagi bibir ranum semanis cokelat.
Idaline membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan Djahan menurunkan tali bahunya. Ketika Idaline mengambil napas, Djahan meraih pucuk cokelat yang telah membulat. Satu tangannya memijat agar pucuk tetap bulat dan tangan lainnya meloloskan kain merah agar ia bisa lebih leluasa. Idaline menggelinjang karenanya.
Djahan mengelus-ngelus hutan yang telah dipangkas sebelum memasuki goanya. Idaline mengernyit kala jari Djahan masuk ke dalam dirinya. Tak lama Idaline menarik kepala Djahan dan mengarahkannya ke sisi lain yang sedari tadi minta dibuai.
"Manis sekali," ucap Djahan menjilat jari-jemarinya.
Wajah Idaline merah padam tetapi tidak bisa menghentikan Djahan karena di detik selanjutnya tubuhnya dibalik. Djahan menciumi punggung Idaline tanpa ampun dan Djahan menjadi tahu punggung Idaline adalah kelemahannya. Perempuan itu mencapai kenikmatan hanya dengan beberapa cetakan merah di punggungnya.
Lembut Djahan mengembalikan posisi Idaline dan melebarkan kedua kakinya. Djahan menyingkirkan anak rambut yang menutupi netra hitam yang telah berkabut, Djahan mengunci netra hitam itu dan tersenyum lembut.
"Boleh?" izin Djahan berusaha menahan diri. Bagaimanapun ia tidak ingin memaksa.
Idaline mengangguk. Ia mencengkeram seprai di sisi kanan dan kirinya kala Djahan berusaha memasuki dirinya. Saat dirinya memenuhi Idaline, Djahan mengecup seluruh wajah Idaline dan merenggut bibirnya agar sakit yang dirasakan Idaline beralih. Djahan baru menggerakkan tubuhnya setelah Idaline mengalungkan tangannya ke leher Djahan.
Malam panas itu berlalu dengan panjang.
Ketika ayam berkokok Idaline membuka matanya, ingatan semalam sangat memalukan. Idaline mengutuk dirinya yang tidak mampu berpikir jernih saat dikuasai amarah.
"Selamat pagi, istriku," sapa Djahan yang juga baru terbangun.
"Ah iya," canggung Idaline.
Djahan mengecup kening Idaline. "Ingin mandi bersama?" tawar Djahan.
"Aku akan menyiapkan air." Idaline hendak bangun namun Djahan menahannya.
"Tidak perlu." Djahan menggendong Idaline membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kya! Djahan tutupi dulu tubuh kita!" teriak Idaline menyadari tubuh mereka tidak memakai satu helai benang pun.
"Kita akan mandi untuk apa menutupinya?" Djahan mendudukkan Idaline ke pinggir kolam yang berisi air belerang. Dengan cekatan Djahan meraih handuk kecil dan mengusap paha Idaline yang terdapat darah dan cairan yang kering.
"Sakit?" tanya Djahan menatap Idaline sendu.
Respon Idaline justru menyesakkan Djahan, gadis yang telah berubah menjadi wanita itu sedang berusaha menahan desahannya dan dua pucuk yang membulat membuat Idaline semakin terlihat erotis.
Djahan mensejajarkan tubuhnya dengan Idaline yang duduk di kursi jongkok, Djahan meraih tengkuk Idaline merenggut bibir manis yang bengkak karena ulahnya. Idaline mencakar bahu Djahan masih belum terbiasa jari panjang itu berada di dirinya.
__ADS_1
Pelan-pelan Djahan merebahkan Idaline di sisi kolam dan Idaline mengikuti keinginan suaminya yang juga diinginkannya.
Djahan menggendong Idaline keluar dari kamar mandi dan mengeringkan tubuh Idaline lalu mengambil pakaian dari lemari.
"Haha." Idaline tertawa melihat Djahan kebingungan memegang pakaian yang telah dipilih pria itu. "Begini caranya." Idaline memakai atasan lalu membungkuk memakai cela*na da*lam\, ia memakai minyak aroma terapi di tulang selangka. Mengancing satu persatu kancing blouse polos dan menaikkan resleting rok batik.
Djahan memperhatikan setiap detail dengan saksama membuat Idaline malu. Wanita itu berjalan dengan kaku ke arah lemari.
"Kamu juga pakailah."
"Bukannya itu pakaianmu?"
"Bukan." Idaline menggeleng kemudian ia berjongkok memegang kaki Djahan. "Angkat kakimu." Idaline memakaikan celana dan kemeja dari tempat peninggalan Atem, semua pakaian modern ia bawa untuk menghindari kekacauan.
"Terima kasih, istriku." Meski nyaman namun Djahan merasa bawahannya terlalu tipis karena terbiasa memakai kain berlapis dan kemejanya terasa aneh. Djahan tersenyum menghilangkan ekspresi lainnya. Idaline membalas senyumannya.
"Aku buatkan sarapan."
Djahan menggendong Idaline ala pengantin, wanita itu sontak mengalungkan tangannya. "Ayo," ajak Djahan.
Djahan meliburkan seluruh pekerjanya atas permintaan Idaline. Rumah yang sepi menjadikan jalanan terasa lebar. Idaline mengeratkan pelukannya, menggesekkan rambutnya di leher Djahan. Idaline berharap waktu tidak cepat berlalu.
Djahan menurunkan Idaline di depan meja, ia mengambil seluruh bahan yang diperlukan.
"Pedas kan?"
"Iya." Djahan membersihkan ayam. "Istriku terampil sekali," pujinya melihat Idaline memotong sayur-sayuran.
"Aku tidak pandai memasak," bantah Idaline. "Hanya sop, tempe, tahu, ayam goreng, dan sambal."
"Sambal," beo Djahan.
"Eh kita buat ayam geprek saja!" seru Idaline menemukan tepung di lemari penyimpanan.
Djahan tersenyum tipis. Istrinya itu benar-benar keras kepala. Tapi Djahan tidak bisa mengengkangnya, Idaline memiliki hati yang teguh dan Djahan tidak ingin hal kecil berubah menjadi sebuah perdebatan. Djahan akan membiarkan Idaline berjalan-jalan sedikit.
"Apa pun yang istriku mau," ucap Djahan mengulek bumbu sayur sop.
"Kamu terampil sekali." Idaline memasukkan bumbu halus hasil ulekan Djahan ke dalam air mendidih berisi potongan kecil ayam, kentang, wortel, dan buncis. Idaline mengaduknya lalu mencicipinya.
"Pas," komentar Idaline mematikan kayu bakar dan memasukkan daun bawang, kol, seledri, dan tomat yang sudah dipotong-potong.
"Hati-hati," ucap Djahan mengambil baskom ayam tepung dari tangan Idaline. "Aku saja yang goreng."
"Tanganku sudah terlanjur kotor, kamu goreng tempe dan tahu saja." Idaline merebut kembali baskom yang dipenuhi bubuk berwarna putih.
Djahan menuruti Idaline menggoreng tempe dan tahu sambil memperhatikan istrinya yang terlihat bersemangat.
Sebelumnya Djahan mendengarkan cerita tukang kebunnya yang telah berpengalaman menikahi dua gadis, dua-duanya kesulitan berjalan hingga satu pekan padahal hanya melakukan satu ronde.
Djahan sangat khawatir terlebih lagi Idaline dan dirinya melakukan berulang kali di sepanjang malam dan melanjutkannya pada pagi hari.
Rasa khawatir Djahan sirna begitu saja memperhatikan Idaline sangat bersemangat, Idaline membuat minuman seraya bersenandung ceria.
Djahan meniriskan sekumpulan tempe terakhir lalu menata semua makanan di atas nampan besar. "Sudah semua?" tanyanya.
"Sudah." Idaline menutup teko es teh dan membawanya bersama empat gelas, dua untuk es dan dua untuk air bening.
"Kalau mau kita panggil saja satu atau dua dayang dan pelayan."
"Jangan, mereka sedang berlibur." Idaline meletakkan nampan di tengah meja.
__ADS_1
Djahan menata makanan di atas meja kemudian mereka makan bersama. "Enak sekali," ujarnya mencicipi semua hidangan.
Idaline tersenyum. "Aku kuliah di luar kota, kalo di sini wanua. Tinggal sendiri dan harus berhemat, sesekali aku buat lauk pauk sendiri. Sempat khawatir ga sesuai lidahmu."
"Apa pun buatan istriku pasti enak dan indah."
"Djahan, aku tidak sehebat yang kamu bayangkan."
Djahan menempelkan jari telunjuknya ke bibir Idaline. "Jangan mencela diri sendiri," nasihatnya sembari menggelengkan kepala. "Dan sayangku, bisakah memanggilku dengan sebutan lain?"
"Kangmas?"
"Merdu sekali," goda Djahan mengusap pipi Idaline.
Idaline mengelus punggung tangan Djahan beberapa saat kemudian Idaline menjauhkannya dan mengecup punggung tangan itu. Djahan menjadi salah tingkah padahal semasa sebelum dilantik menjadi mahapatih murid-muridnya sering mencium tangannya saat berjumpa dan saat berpamitan.
"Bagaimana kalau kita berkeliling? Tempat ini belum kuubah sejak pertama masuk, jadi terlihat sangat kuno," ajak Djahan membiarkan piring kosong berserakan di atas meja.
Idaline mengetahui kediaman Mada memiliki banyak jenis bunga dari dalam dan dari luar Bhumi Maja, tetapi ia tidak menyangka di setiap rumah ada taman indah, begitu pula di kediaman para dayang dan pelayan.
"Jadi, mereka semua adalah murid-murid kangmas?" tanya Idaline berjalan mengelilingi kediaman sambil memeluk lengan Djahan.
"Mereka hanya mengikutiku karena tidak ada tujuan. Murid-muridku adalah Siji, Loro, Telu, Papat, dan Indra."
"Oh iya Indra, bagaimana kabarnya?"
"Dia baik–Idaline, suamimu ini cemburu." Djahan menggeser Idaline dan memeluknya dari belakang. Djahan tidak suka jika Idaline membahas pria lain di hadapannya.
"Aku Udelia bukan Idaline." Idaline menjauhkan wajah Djahan dari lehernya, geli.
Djahan mengulurkan tangannya memetik bunga kantil di depan mereka. "Ceritakanlah tentang dirimu supaya aku teringat." Djahan memasangkan bunga kantil ke telinga Idaline.
"Ceritaku tidak terlalu menarik dan monoton..."
Idaline berbalik dan memeluk tubuh Djahan dengan erat. Karena hanya ada mereka berdua, udara di sekitar bak di pegunungan, lebih dingin dari biasanya. Idaline menenggelamkan wajahnya di dada bidang Djahan yang kini tertutupi kemeja putih.
"Mau tambah selimut?" tawar Djahan membawa Idaline duduk di pendopo.
"Tidak. Begini saja sudah cukup." Idaline merasa amat lemas.
"Telu, panggil tabib," perintah Djahan melihat Idaline menutup mata di lengannya.
Muridnya yang satu itu memang kepala batu. Liburan baru sehari sudah kembali lagi. Beruntung ia dan Idaline dalam keadaan normal. Setelah ini Djahan akan menyuruhnya pergi jauh agar tidak mengganggu waktu berdua dirinya dan sang istri tercinta.
"Ngga usah," potong Idaline membuka matanya. "Aku hanya lelah."
"Istriku..?" Djahan menghela napas lega mendengar detak jantung normal Idaline yang tiba-tiba terpejam.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 07 September 2021
Terima kasih banyak guys atas dukungannya.
Like komen selalu yaa
Vote dan Hadiah juga boleh
Sehat terus sakabehe
Love, Al-Fa4
__ADS_1