![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Yang Mulia, mohon maafkan kelancangan hamba sebelumnya. Hamba bersedia menjadi Maharani," ucap Widya bersimpuh di tengah Bale' Ndamel milik Hayan. Bale' Ndamel raja-raja dan ratu terdahulu sudah tidak digunakan, tempat itu disulap menjadi tempat bersantai keluarga kerajaan. Hayan membuat Bale' Ndamel yang lebih besar.
Hayan tersenyum miring, ia berkeliling ruangan mengamati Widya dari setiap sudut. "Kamu pikir pantas?" cibir Hayan menatap dingin Widya sama seperti hari-hari sebelumnya. Widya sampai bergidik merasakan tatapan itu meski tidak melihatnya.
"Ka-kalau begitu... kenapa?" lirih Widya menerka-nerka alasan sang pemimpin tertinggi melayangkan surat titah untuk meminangnya. Dan ucapan Hayan selanjutnya membuat Widya menjadi yakin.
"Aku, Maharaja Bhumi Maja merestui pernikahan Widya Sipta dan Bimo. Pernikahannya dilakukan atas titahku dan lakukan persiapan pernikahan sebagai seorang Dyah," kata Hayan yang tiap hurufnya tertuang di atas kertas berlapis emas menggunakan tinta emas. "Huna, bawa Dyah keluar."
Widya yang masih berpikir keras berdiri mengikuti tangan kanan maharaja keluar meninggalkan Bale' Ndamel.
"Dyah mohon tunggu di sini. Titahnya akan saya ambil," ujar Huna kembali memasuki ruangan Hayan dan menggulung titah bertintakan emas yang sudah ditulisnya.
Daun telinga Hayan berkedut, wajahnya yang serius berubah ceria. Akhirnya orang yang ia tunggu datang juga. Hal yang seharusnya wanita itu lakukan beberapa hari lalu andai adik kesayangannya tidak menyulitkan anak buahnya.
"Guru, kenapa terburu-buru sekali?" Hayan berbalik menyambut Idaline dengan senyum lebarnya.
"Maharaja, kita harus berbicara," kata Idaline tanpa basa-basi. Awalnya ia sangat menghormati calon raja besar itu namun kemudian tingkah lakunya sangat tidak menyenangkan. Cara Hayan terlalu jelas bagi Idaline.
Huna Catra membungkuk pada Hayan dan Idaline lalu berjalan keluar meninggalkan mereka.
"Lepaskanlah Widya Sipta, aku akan memberikan berkat pada tanah baru di Bhumi Maja." Mata Idaline menangkap siluet tubuh yang dikenalnya di balik pintu yang lain.
Sementara itu Widya menatap marah dayang pribadinya. Dayang pribadinya pasti tahu perihal pernikahan Raden Ajeng yang menghebohkan kalangan atas. Widya merasa menjadi manusia paling bodoh di dunia karena berhasil dikelabuhi orang kecil itu sampai dirinya terhasut untuk memanggil Idaline di malam hari usai titah turun padanya.
Tidak ada yang tahu hubungan Idaline dan Widya kecuali mereka berdua, Fusena, dan dayang-dayang pribadi Widya yang setia menemaninya. Manusia-manusia lainnya hanya tahu bahwa Idaline dan Widya adalah guru dan murid, tidak lebih dan tidak kurang. Jika Maharaja sampai menggunakan Widya sebagai umpan, maka ada yang membocorkan hubungan spesial dirinya dan Idaline.
"Sepertinya ada banyak hal yang harus kita bicarakan." Widya menatap dingin dayangnya. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan, Widya selalu tenang dan tersenyum dalam keadaan apa pun termasuk dalam menghadapi perempuan-perempuan licik di kediaman Sapta.
Widya mengubah air mukanya saat Huna keluar, perempuan itu menampilkan senyuman kecil pada tangan kanan Maharaja. Widya menerima kertas titah lalu memasuki kereta dengan tergesa.
Di dalam kereta, dayang pribadi Widya menunduk dan memberikan sekantong emas yang dihadiahkan kepala dayang Bale' Ndamel karena sudah memenuhi tugasnya.
"Mohon ampuni hamba, nona! Antara titah Maharaja dan nona, hamba tidak bisa memilih."
"Aku membutuhkan Maharani bukan tanah yang diberkati," cetus Hayan membuat Idaline kembali memperhatikannya. Hayan berdiri satu meter di hadapan Idaline, ia memperhatikan wajah guru kecilnya dari dekat. "Bukannya Ki Ageng Ekata yang akan menebar berkat?"
"Maharaja sangat tahu banyak." Idaline menatap nanar lantai merah Bale' Ndamel, kini ia betul-betul mengerti arah permainan lelaki itu. "Apa kamu bisa mengubah pikiranmu? Hal yang kusanggupi akan kulakukan."
"Dia wanita dengan pangkat tertinggi dan memiliki kecerdasan. Menurut guru siapa lagi yang dapat menggantinya?" desak Hayan. Idaline masih saja meragu.
Sapta adalah keluarga tertinggi yang memiliki seorang putri yang sepadan dengan Hayan, sedangkan sepupu-sepupu Hayan tidak mungkin pria itu nikahi karena dalam persusuan yang sama.
Dan Idaline terlalu mengerti muridnya itu.
Di umur lima tahun saja Hayan mampu memusnahkan keluarga seorang guru yang telah menyinggungnya, apalagi saat sudah dewasa seperti sekarang.
Idaline mengangkat kepalanya menatap mata Hayan, ia membuka mulutnya dengan ragu, menutupnya, dan mengulanginya hingga beberapa kali. Hayan gemas melihatnya.
"Saya akan menggantikannya. Anda butuh pangkat dan kehormatan kan? Silakan gunakan itu sepuas Anda!"
Mata Idaline membara. Hayan terlalu ambisius padahal sudah berada di tingkat tertinggi, lebih tinggi dari dua raja besar di Jawa Dwipa, lelaki itu bahkan mampu menaklukkan banyak wilayah dalam waktu singkat. Tetapi Hayan masih saja menginginkan hal lain.
"Mohon jangan sentuh dia dan keluarganya setelah ini," pinta Idaline lalu melenggang pergi.
Hayan menatap sendu punggung yang menjauh itu. "Kalau ingin membunuhku, aku berlapang dada. Namun bila melihatmu bersama yang lain, aku tidak sanggup," batinnya.
••••••••••••••••••••
"Yang Mulia, Anda tidak boleh keluar dari kediaman sampai hari pernikahan." Ksatria yang menjaga gapura menyilangkan tombak mereka untuk menghalangi Idaline pergi. Perasaan mereka tidak enak terhadap majikan yang sudah teramat baik pada mereka, tetapi perintah maharaja adalah hal mutlak yang tidak boleh dibantah.
Idaline menghela napas panjang, ia berbalik dan duduk di kursi taman. Pria yang mengekor di belakangnya turut duduk di depan Idaline.
__ADS_1
"Kakak menurut saja disuruh ini dan itu?" kesal Candra menangkup kedua pipinya dan memajukan bibirnya.
Idaline menatap Candra, pria yang lebih tinggi darinya itu sangat menggemaskan. "Ayo kita makan," ajak Idaline menutupi seringainya. Daripada memikirkan hal yang menguras otak, lebih baik ia melakukan hal lain. Ia akan mengembalikan wajah tampan itu menjadi tembam kembali karena pipi tirus tidak bisa ia cubit dengan gemas seperti dahulu.
"Oh iya, kakak janji kan mau buatkan sambal?" Mata Candra membesar penuh harap. Ia berharap kakaknya itu tidak melupakan janjinya.
"Pedas atau tidak?"
"Terserah kakak." Candra tersenyum manis membayangkan rasa yang sempurna.
Idaline menatap lurus Candra. Dayang memberikan perlengkapan yang Idaline butuhkan lalu Idaline menguleknya. Tangan Idaline tersentak saat menghirup aroma yang sangat dikenalnya, ia menundukkan kepalanya dan berucap maaf dengan lirih sampai-sampai hampir tidak terdengar.
"Duduklah." Idaline memberanikan diri bersuara meski terdengar gemetar. Ia menyuruh Djahan yang berdiri tanpa suara di hadapannya.
Candra mengamati Djahan yang mengambil duduk tanpa ekspresi, namun aura di sekitar pria itu sangat pekat. "Emosi yang sangat kuat," batin Candra melihat sekilas dengan pupil merahnya.
"Maharaja mengumumkan akan menikah." Djahan memperhatikan Idaline tanpa berkedip.
"Begitu.." lirih Idaline masih fokus membuat sambal. Ia meraih piring kecil sambil terus menunduk.
"Kak, kamu sudah janji membuatnya untukku, kenapa kasih ke dia?" gerutu Candra menghentikan sendokan Idaline ke pisin.
Mendengar gerutuan Candra, Idaline menegakkan kepalanya. Ia menatap Candra yang bertekad memakan habis sambal buatannya. "Kamu yakin bisa menghabiskan semua ini?" Sambal merah menggunung di tengah cobek membuat Idaline bertanya-tanya.
"Tentu saja. Aku sudah menantikannya selama bertahun-tahun," kata Candra percaya diri.
"Cicipi dulu," usul Idaline namun tatapan berbinar Candra tak bisa ditolak Idaline. Ia hanya bisa pasrah, adik kecilnya itu selalu tahu cara membuat orang gemas. "Ya sudah," putus Idaline menggeser cobek ke sebelah piring Candra.
Djahan memandangi piring yang disiapkan Idaline tanpa berniat menyentuh nasi dan lauk pauk di atasnya. Rasa kesal Djahan bertambah besar melihat Idaline makan dengan lahap.
"Huaaa pedes banget," keluh Candra, mulutnya menganga, bibirnya memerah, dan ia kipas-kipaskan tangannya di depan mulut.
"Kenapa diambil? Huu. Belum aku habiskan," ujar Candra merenggut, cobeknya diambil Idaline.
"Lihatlah bibirmu sudah memerah," tunjuk Idaline menggunakan mata.
"Tidak apa-apa, kak. Segini mah dapat kutahan." Candra berusaha meraih cobek yang dijauhkan Idaline.
"Perutmu akan sakit," tambah Idaline.
"Aku masih mau, kak," rengek Candra membesarkan pupil matanya. Ekspresi yang tidak akan bisa ditolak Idaline. Dan saat Idaline hendak memberikan cobek, kepala dayang masuk menginterupsi dirinya.
"Yang Mulia mohon maaf mengganggu, dayang dari kediaman Ekadanta datang meminta izin bertemu," kata kepala dayang dari jauh.
"Persilakan." Idaline memberi izin dan meletakkan cobek di sisi kirinya, jauh dari Candra.
"Hamba, Ijen, dayang kediaman Ekadanta memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng, Tuan Mahapatih, dan tuan muda Ekadanta." Ijen bersimpuh memberi salam.
"Sudah lama ya, Ijen," sapa Idaline. Ia tidak pernah bertemu pelayan Candra itu setelah Candra masuk ke Pendopo Srengenge. "Ada urusan apa sampai datang kemari?"
"Berita kemenangan di Wukir Mahendra sudah tersebar. Tuan besar khawatir karena tuan muda belum juga kembali. Kemudian tuan muda kelima Wistara memberi tahu keberadaan tuan muda saat beliau bertamu di Kediaman Ekadanta," jelas Ijen alasan ia tahu tuan mudanya berada di Kedaton Sedap Malam.
Idaline mangut-mangut mendengarnya. Tuan muda kelima Wistara adalah keponakan dari salah satu selir Candraaji Ekadanta, ayah Candra. Ibu pria itu meninggal sejak dirinya bayi dan kemudian diasuh oleh sang bibi sampai sang bibi melepas status lajangnya. Tuan muda kelima Wistara terus berkunjung dan lebih sering menghabiskan waktu di Kediaman Ekadanta daripada di Kediaman Wistara.
"Padahal baru pagi ini aku sampai." Candra bermuka masam. Ia tidak ingin pulang terlebih dahulu. Bukannya tidak merindukan kedua orang tuanya, tetapi tugas tidak menyenangkan menunggu dirinya dan Candra belum mau berpisah dari Idaline.
"Tuan besar melihat pasukan Anda namun tidak ada Anda," balas Ijen.
"Pulanglah. Ibumu pasti rindu," kata Idaline sendu. Ia jadi memikirkan ibu dan ayah yang sudah ditinggalnya bertahun-tahun, meski di dunia modern mungkin belum berlalu terlalu lama.
"Tapi sambalnya.."
__ADS_1
"Nanti kubuatkan lagi yang pas pedasnya."
"Oke, kak. Janji loh ya!"
"Ini." Idaline meraih kotak di atas nampan yang dibawa dayang kamarnya dan memberikan kotak tersebut pada Candra.
"Selamat sudah menang." Idaline tersenyum formal pada sang calon penyihir terbesar Bhumi Maja dan mungkin saja Candra akan menjadi Penyihir Agung berikutnya, Penyihir Agung yang sudah lama tidak muncul di Jawa Dwipa dan pulau-pulau sekitarnya.
Candra tersenyum lebar menerima kotak lalu pergi melambaikan tangan pada Idaline.
"Padahal Raden Ajeng sudah memberikan cokelat satu kotak penuh, wewangian, kapur barus, dan beberapa gulung kain," ujar Ijen mengingat hadiah-hadiah yang dikirimkan Idaline sebagai ucapan selamat atas kemenangan tuan mudanya.
Candra yang berada di dalam kereta tersenyum lebar. "Ini beda." Ia membuka kotak di tangannya dan kotak itu berisi sepasang sarung tangan.
"Idaline, apa aku terlihat tidak sungguh-sungguh saat menikahimu?" buka Djahan. Bagaimanapun ia pikirkan rasanya tidak ada masalah yang terjadi di antara mereka.
"Namaku Udelia bukan Idaline," koreksi Idaline. "Ada tawaran jadi Maharani kenapa harus kutolak?" Idaline memaksakan senyumnya. "Aku sudah mengirim kertas cerai. Mohon Mahapatih menandatanganinya." Idaline berkspresi datar sambil membasuh tangannya yang panas akibat cabai.
Djahan terus mengunci Idaline dalam tatapannya membuat wanita itu bergerak dengan kaku.
Idaline menghela napas berusaha menutupi kegugupannya. "Silakan kembali jika tidak ada hal lain," ucapnya memandang ke bawah.
"Istriku.." Djahan memegang dagu Idaline dan dengan lembut mengangkatnya. "Aku tidak pernah berpikir melepasmu setelah pernikahan." Djahan menatap hangat Idaline. "Aku ingin kamu terus berada di sisiku."
"Kalau tidak ingin pergi, aku yang masuk." Idaline menggerakkan kepalanya melepas tangan Djahan dari dagunya. Idaline hendak beranjak masuk ke rumahnya tetapi Djahan mencekal tangan Idaline.
"Aku akan membawamu kembali ke sisiku," tegas Djahan dengan tekad yang kuat.
"Djahan.." Idaline memandang sedih punggung Djahan yang terus menjauh. "Tolong jangan buat yang ada di pikiranku jadi kenyataan."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 17 September 2021
Terima kasih banyak guys atas dukungannya selalu
Terus dukungan author dengan
Like, Komen, Favorit, Vote, dan Hadiah yaa
Sehat-sehat selalu semuanyaa
Love, Al-Fa4
Today In History :
17 September 1176 M
Kemenangan di Pertempuran Myriokephalon
Kesultanan Rum. (Dipimpin Sultan Kilij Arslan II)
vs
Kekaisaran Byzantium, Kerajaan Hongaria, dan Kerajaan Antiokhia. (Dipimpin Kaisar Manouel I)
16-18 September 1982 M
Pembantaian Sabra dan Sathila.
Beralasan mencari 1.500 anggota Organisasi Pembebas Palestina yang nyatanya tidak ada di sana, 8.000 jiwa melayang dari bayi, batita, balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, sampai orang tua. Semua tanpa terkecuali.
__ADS_1