TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
074 - KUMOHON KEMBALILAH


__ADS_3

"Ayunda, akhirnya ayunda berhasil menarik perhatian Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja!" Citra Resi, adik Citra Resmi, tersenyum pada kakaknya. Dia memberikan senyum terbaiknya.


"Semuanya tidak akan terjadi kalau para tetua tidak menyetujui." Resmi memindai ke atas dan ke bawah tubuh Resi. Adiknya itu berpakaian tidak seperti biasanya. Resmi menjadi sedikit curiga. "Kenapa kamu berpakaian seperti itu? Ke mana semua hadiah perhiasan dari tunanganmu?"


"Perjalanan kali ini sangat jauh. Aku lelah memakainya. Lagi pula sekarang adalah waktunya ayunda bersinar." Resi berkata dengan teguh. Dia memakaikan siger, mahkota perempuan, ke kepala Resmi dan dia merasa puas. "Sebentar lagi kita akan sampai. Pertahankanlah siger kita meski kakak berada di suku Jawa."


Resmi meraba siger yang dikenakannya. Dia meyakinkan hatinya bahwa adik kesayangannya itu tidak akan merencanakan sesuatu yang merugikan.


Selama mereka hidup bersama, Resi tidak pernah mengeluh dan selalu membantu dirinya dengan setulus hati.


Harusnya dirinya memikirkan perempuan lain yang lebih berbahaya, Maharani.


Perempuan itu tidak hanya berpengaruh di kalangan atas, bahkan kalangan bawah memuji-mujinya.


Tidak ada yang bisa menandingi kepopuleran Maharani.


Jika kamu adalah perempuan dan kamu populer, kamu pasti dibanding-bandingkan dengan Maharani Bhumi Maja sang murid dari Petapa Agung.


"Bagaimana dengan murid Petapa Agung?"


"Jangan khawatir, Yang Mulia Maharaja sangat bijaksana. Yang Mulia Maharani tidak pernah terlihat di acara besar ataupun acara kecil, juga di tempat rapat, bahkan hampir tidak pernah terlihat di keraton," terang Resi tentang informasi yang didapatnya.


"Meski beliau ada di keraton, aku tidak akan kecewa. Berada di samping Yang Mulia sudah cukup. Baik untukku maupun untuk kerajaan kita."


Resmi sedikit tidak percaya tapi dia harus mempercayai laporan mata-matanya.


Laporan jikalau Maharaja menikahi Maharani hanya demi statusnya.


Dan Madhu Mihir, utusan Bhumi Maja, berkata Maharaja memujinya kala anggota-anggota Sapta Prabu membicarakan tentang dirinya.


Seharusnya posisinya lebih kuat dari siapa pun yang berada di keraton.


Cinta Maharaja adalah kuncinya!


Barangsiapa mendapat cinta dari Maharaja, sekecil apa pun orang itu, tidak akan ada yang bisa meremehkannya meski murid Petapa Agung sekalipun.


"Yang Mulia Tuan Putri, kita akan bermalam di sini," ucap dayang dari luar kereta.


"Adinda, ayunda keluar duluan."


"Hati-hati," kata Resi masih dengan senyum di bibirnya. Resi menengadahkan tangan, dayang pribadi Resi memberikan cermin ke tangannya.


"Ayunda sangat polos sekali. Dandanan seperti itu sudah dilakukan banyak gadis bangsawan di sekitar Yang Mulia Maharaja. Apa ayunda tidak berpikir kenapa Yang Mulia Maharaja sampai menikahi murid Petapa Agung?" ucap Resi bermonolog sambil memandang cermin.


"Katakan, apa aku sudah berpakaian dengan benar?" tanya Resi pada dayang-dayangnya.


"Yang Mulia Tuan Putri memakai gagampang dengan benar. Yang Mulia Maharani hanya memakai sumping saat penobatan Yang Mulia Maharaja Bhumi Maja," jelas dayang yang ikut Buana, raja dari Kerajaan Galuh, sewaktu menghadiri upacara penobatan Hayan.


"Resi, jangan kacaukan rencana kakakmu. Gunakan kecerdasanmu itu untuk membantu." Bangkara si tangan ajaib berdiri di balik tirai kereta. Dia tahu gadis kecil ini sedikit nakal.


"Guru selalu membela ayunda!" Resi berkata dengan sebal.


Padahal mereka sama-sama Tuan Putri Kerajaan Galuh tapi semua orang hanya memperhatikan Citra Resmi!


Sampai-sampai dirinya dijodohkan dengan menteri pertahanan yang tidak mempunyai banyak kuasa dan harta, menteri itu hanya mengikuti titah orang-orang di atasnya!


Jika hanya diam saja bukan Resi namanya.


Resi harus membalas orang-orang yang sudah mempermalukannya.

__ADS_1


Bila dia bisa berada dalam kekuasaan tertinggi di pulau ini, dia bahkan bisa menekan tetua-tetua yang selalu memandangnya rendah.


"Aku memikirkan yang seharusnya," balas Bangkara. "Turunlah. Kemah sudah jadi dan makanan sudah siap," ujarnya memberi tahu lalu berbalik akan pergi.


"Guru," panggil Resi menghentikan langkah Bangkara. "Daripada menggunakan otak hanya di dalam istana yang kecil. Lebih baik berdiri bersama yang memiliki pegangan yang luas."


Awalnya Resi menyukai Bangkara yang bersikap tulus padanya, tapi Bangkara sama saja seperti yang lainnya. Semua orang hanya menyukai kakaknya, Citra Resmi.


Dan Resi akhirnya hanya bisa kembali mengandalkan dirinya sendiri.


"Kalian memang kakak beradik," sanjung Bangkara. "Bertarunglah dengan sehat," pesannya.


"Guru pasti bahagia jika ayunda tidak jadi menikah," tutur Resi hampir tidak terdengar.


"YANG MULIA! ANDA TIDAK BOLEH PERGI!!"


Resi terlonjak kaget mendengar teriakan itu, dia membuka tirai kereta dan melongokkan kepalanya memperhatikan yang terjadi di luar sana.


"KITA HARUS PUTAR BALIK!"


Resi turun dari keretanya, dia dan Bangkara berjalan cepat ke arah teriakan.


"Ada apa?" tanya Resi berdiri di belakang Resmi.


"Pelayan ini tiba-tiba masuk dan membuat keributan," jawab Resmi.


"Yang Mulia! Kumohon dengarkanlah. A-anda tidak boleh pergi ke Maja, kembalilah ke Galuh. Kumohon, kumohon. Kumohon kembalilah."


"Pemuda ini sudah gila!" seru ksatria di sisi penjagaan lalu beralih berdiri di samping si pelayan.


"Hentikan!" Buana mengangkat tangannya. "Anak ini, nenek dan ibunya sangat berdedikasi, begitu pula ayahnya. Tidak mungkin dia akan menyakitiku."


"Meski begitu, semua kebaikan yang beliau terima dan berikan hanya dianggapnya sebagai sebuah kewajiban. Untuk masuk ke dalam hatinya, amat sulit bahkan bagi anak-anaknya. Berarti.. nenek, ibu, ayah, dari pelayan ini ... sudah memberikan hal yang membekas bagi beliau." Ksatria itu memperhatikan si pelayan.


"Bangunlah, nak. Katakan apa mimpimu?"


"Huh? Mimpi?" tanya pelayan terbingung-bingung.


Dia hanyalah seorang anak sekolah yang sedang belajar sejarah. Dia baru saja mempelajari tentang Kerajaan leluhurnya.


Karena pelajaran sejarah dimulai di akhir jam pelajaran, semua siswa terserang kantuk. Dia hanya terlelap seperti yang lainnya, tetapi dirinya malah bangun di tempat yang sangat kuno.


Dia berpikir orang-orang sedang melakukan syuting, tapi wajah dan perkataan mereka terlalu serius.


Kesimpulan yang paling pas adalah dia sedang bermimpi!


Jika benar ini adalah mimpi maka dia sedang berada di atas kuasa dalam mimpinya. Kemudian dia pun berani menegur sang raja yang sedang bersantai.


Tetapi sekarang di dalam mimpinya, dia dan sang raja malah membahas tentang mimpi.


Dan mimpinya ini terasa tidak berada di dalam kendalinya.


"Uh, ya, hamba bermimpi ada sekelompok orang yang menyerang tenda kita dengan pasukan yang besar," jawab si pelayan mengikuti alur.


"Serangan serigala semalam pasti sangat membekas di benakmu. Tabib, rawatlah anak muda ini dengan nyaman," titah Buana pada tabib kerajaan.


Orang-orang mulai memperhatikan si pelayan. Meski raja mereka sangat baik hati, ada hal-hal yang menjadi batas bagi kebaikan beliau termasuk di antaranya adalah tentang fasilitas.


Seseorang yang tinggi tidak boleh memakai fasilitas yang diperuntukkan untuk kalangan bawah, begitu pun sebaliknya.

__ADS_1


Tetapi pelayan kecil ini malah mendapat kesempatan diperiksa oleh tabib legendaris di kerajaan mereka.


Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang sumbangsih yang diberikan nenek, ibu, dan ayah si pelayan!


"Baik, Yang Mulia."


"Tidak, Yang Mulia! Sekelompok itu bukan hewan, melainkan manusia. Mereka. Mereka.. mereka dipimpin petinggi Maja!!"


Dia tidak mungkin membeberkan namanya.


Dia belum tahu jalannya perang seperti apa. Apakah orang itu akan memimpin langsung ataukah hanya memberi perintah dari jarak jauh.


Jika dia menyebutkan nama, sudah pasti nanti dia akan dituduh yang tidak tidak.


Apalagi orang itu punya citra yang bagus selama berpuluh-puluh tahun!


"Berani sekali penyusup ini ingin kita menjadi ragu!" geram Resmi.


Sudah susah payah dia merencanakan segalanya untuk naik ke tahta Bhumi Maja, tetapi pelayan ini tiba-tiba datang berusaha meragukan mereka.


Resmi mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menyentuh si pelayan karena ayahandanya terlihat sangat memperhatikannya.


Pelayan ini harusnya bersyukur diberi tempat dan barang-barang yang bagus!


Resmi memperhatikan pakaian si pelayan setara dengan bangsawan kelas rendah. Ayahandanya benar-benar memperhatikan si pelayan.


"Putriku, Resmi. Mimpi adalah hal suci," kata Buana menenangkan putrinya yang duduk di sebelahnya. "Katakan, nak. Apa di mimpimu Yang Mulia Maharaja menyerang?"


"Ayahanda!" seru Resi dan Resmi bersamaan. Bagaimana bisa ayahanda mereka mendengarkan orang kecil!?


"Itu.."


"Katakan saja."


"Tidak, Yang Mulia."


"Kalau begitu tenanglah."


"Tapi.. bagaimana jika beliau tidak membantu?"


"Yang Mulia Maharaja tidak akan melupakan calon istrinya. Bukankah begitu tuan Mihir?"


"Yang Mulia Maharaja selalu bijaksana," jawab Madhu Mihir.


"Haha benar. Aku jadi tidak sabar menyatukan putriku yang cantik ini dengan Yang Mulia Maharaja yang selalu bijaksana." Buana mengelus pipi Resmi. "Putriku sudah besar."


"Ayahanda.." Mata Resmi berkaca-kaca.


Dia tidak mau jauh dari ayahandanya tetapi dia harus pergi untuk menggapai cintanya juga statusnya.


Dengan begitu tidak akan ada lagi yang meremehkan Kerajaan Galuh.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 25 Oktober 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2