![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Napas Idaline memburu, kakinya gemetar hebat hingga menekuk jatuh, dan detak jantungnya terpacu keras. Ia pegang dadanya takut-takut melonjak keluar. "Lemah sekali tubuh ini!" geramnya memukul-mukul kaki.
Cahaya bulan yang bersinar terang tiba-tiba menjadi gelap gulita. Ia donggakkan kepala terbelalak melihat gumpalan tanah melayang melewatinya kemudian jatuh tepat satu meter di depannya. Gadis itu terpental menjauhi desa.
Tumpuan empuk dan hangat menghentikan laju tubuhnya dan sepasang tangan besar menutupi telinganya, tiada ada satu suara pun terdengar.
"Sayang sekali aku terlambat."
Di bawah hujan deras samar Idaline lihat punggung kokoh berdiri menghalangi pandangannya. Ia diam mencerna yang terjadi.
"Sudah tidak ada kehidupan. Yang jahat dan yang baik seluruhnya mati. Hewan dan manusia darahnya bercampur. Amarah Tuhan tidak dapat dielak bila tiada niat bertobat pada diri yang berdosa."
"Nona, Anda tidak apa-apa?"
"Candra..?" gumam Idaline mengernyit menghalau air hujan jatuh ke mata.
"Candra berada di gubuk yang kami bangun di kaki gunung. Mari nona, udara semakin dingin." ucapnya halus memegang tangan mungil yang kotor karena tanah.
"Kamu siapa?" Idaline menjauhkan punggung dari dada penolongnya. Ia pikir lelaki itu adalah Candra, wajah keduanya sekilas mirip dan jarik yang digunakan pun bermotif sama. "Mungkin dijual bebas?" pikirnya mengamati garis lilin membentuk bunga kelor lengkap dengan daunnya.
"Saya Ekata Ekadanta."
Dengan terus menghalangi pandangan Idaline, Ekata menuntunnya sampai ke gubuk. Ia bersihkan tangan dan kaki Idaline. Kuku-kuku mungil berisi tanah ia gosok perlahan.
"Kakak tidak boleh melakukan hal itu lagi!"
Idaline terlonjak kaget mendengar sergapan Candra, ia mengira putra bungsu Ekadanta sedang tidur di atas ranjang.
"Maaf. Maaf," Idaline menerima kain pemberian Candra. "Siapa dia?" tanyanya mengusap rambut. Seseorang terbaring dengan kain berlapis menutupi tubuh.
"Nona Winarti. Kami menemukannya tergeletak lemah di goa." jelas Ekata memegang kepala Idaline mengeringkan raga dan pakaiannya. Senyumnya mengembang ketika sepasang mata cerah menatapnya polos. "Sudah," ujarnya melepas tangan lalu Idaline berlari memasuki gubuk.
"Wina, bagaimana keadaanmu?" Idaline duduk di sisi ranjang mengusap peluh Winarti.
"Maaf nona membuatmu melakukan perjalanan yang sia-sia."
"Tidak. Tidak. Aku yang harusnya minta maaf. Meninggalkanmu di tengah hutan hingga seperti ini."
"Ini bukan salah nona. Sejak saya menjadi beban bagi bunga, nyonya rumah Wangi memberikan beberapa obat yang membuat saya tidak bisa lepas. Saya kehabisan dua hari lalu makanya saya menjadi lemah. Maaf menyusahkan nona dan tuan." beber Winarti dari bibirnya yang memutih.
Idaline mengepalkan tangannya marah pada wanita serakah yang entah sudah berapa gadis habis di tangannya. Mata Idaline melebar teringat kejadian yang baru saja terjadi. "Ah..iya..desamu," ucapnya terbata.
"Saya merasakan gempa dahsyat di sini. Apa mereka terkena longsor?"
"Sayangnya semacam itu," Idaline menggosok-gosokkan tangan kasar Winarti berusaha menyalurkan panas tubuhnya.
"Lalu akhirnya kami dapat berkumpul dengan tenang." Winarti tersenyum kecil. "Sudah lama saya tidak tertidur lelap. Setiap malam mendengar isak tangis teman sebaya. Saya menyesal hanya memikirkan diri sendiri untuk selamat. Padahal ada beberapa waktu kami bisa melarikan diri. Sekarang saya akan minta maaf pada mereka."
Menahan rasa sakit yang muncul di seluruh tubuh, Winarti melirik Candra. Dia tersenyum sebagai ganti perkataan yang tak mampu terucap. Jiwanya senang, orang pertama dan terakhir yang ia sukai menemaninya di ujung kehidupannya. Padahal bisa saja lelaki itu pergi.
"Ya..Iya..Tidurlah yang lelap. Esok akan lebih baik," Idaline mengecup dahi Winarti. Suara hembusan napas panjang membuat air mata Idaline tak terbendung, mengalir deras membanjiri wajah Winarti. "Maaf. Maaf. Maaf."
Hujan berhenti bersamaan cahaya fajar mengintip dari ufuk timur. Gadis kecil itu menyudahi tangisnya memeriksa setiap denyut nadi dan tanda kehidupan.
"Meski tidak terikat darah, Winarti dan teman-temannya merupakan keluarga. Kita tidak boleh memisahkan tempat mereka," ucapnya menutup mata yang tak lagi mampu berkedip dan mengikat dagu menutup rahangnya.
"Saya saja." Ekata mengeluarkan kain putih dari tangannya kemudian membalut Winarti. Atas dan bawah kain berlebih diikat tali putih juga di bagian perut, kaki, dan tangan.
Idaline dan Candra membawa barang-barang Winarti sedangkan mayatnya digendong Ekata.
Ratusan orang dari 8 desa tetangga yang cukup berjauhan yang mendengar dan merasakan detuman dahsyat berbondong-bondong datang melihat. Bisikan-bisikan tak percaya mengudara, desa terbesar di sana hilang dalam satu malam.
"Apa yang sebenarnya mereka lakukan hingga Tuhan semarah ini?" salah seorang berucap cukup keras.
"Siapa mereka? Apa orang yang selamat?" tanya salah satu orang melihat kedatangan Idaline, Candra, dan Ekata. Kain lusuh yang mereka pakai membuat orang-orang berpikir mereka adalah pelayan.
"Nona Winarti adalah orang yang sangat berani. Melewati hutan dan pegunungan selama berhari-hari guna menyelamatkan orang-orang desanya dari kekejian. Tetapi hukuman dari Tuhan tidak dapat dihindari karena manusia terus berpaling melawan kehendak Tuhan."
Idaline menggelar dedaunan dibantu perempuan-perempuan yang menyaksikan. Ekata menaruh mayat Winarti di atasnya.
"Melawan kehendak Tuhan?" tanya seorang pemuda. Ikat kepalanya menunjukkan kedudukan di desa.
"Mereka berzina. Menggunakan satu wanita untuk banyak orang, menggunakan anak-anak untuk memuaskan, bahkan para penjaga dan pelayan yang seorang lelaki tak luput dari kebejatan." terang Idaline masih bersimpuh menatap sendu Winarti, membayangkan perjuangannya seorang diri.
"Maafkan kami tidak mendengar jeritanmu meski kami sedekat ini. Hingga kamu pergi ke negeri yang jauh." salah seorang nenek mengecup kening Winarti lama.
"Ah, kita terlalu sibuk bertengkar satu sama lain." sesal seorang paruh baya.
"Sedangkan kami saling berebut lahan.'
"Bagaimana mungkin? Beberapa bulan sekali kami datang memeriksa dukuh Lege dan tidak melihat kejanggalan."
"Begitulah yang terjadi," Ekata menatap seorang bapak yang tak percaya lantas wajahnya berpaling ke penggalan gunung Tang yang berpindah hanya dalam semalam sejauh hampir 500 meter tanpa kerusakan di kaki gunung.
Para pemuda diliputi perasaan bersalah. Dalam diam mereka membantu, menggali kubur dan memasukkan jenazah lalu menimbunnya dengan tanah.
__ADS_1
"Ini salah kalian! Aku sudah memberitahu bahwa adik lelakiku diculik dan dibawa paksa ke Lege, tapi kalian malah bangga karena akan dijadikan prajurit bayaran. Lihatlah hasilnya. Lihatlah hasilnyaaa!!" marah seorang wanita memukul-mukul dada lelaki paruh baya hingga terhuyung ke belakang. "Dia masih sangat kecil," gumamnya meluruh jatuh bersimpuh kemudian menangis dengan suara yang amat pedih.
Idaline mengambil selendang hadiahnya yang belum Winarti pakai, ia melangkah ke gundukan tanah yang masih baru. "Katanya kamu ingin menunjukkan kain terbaru ini pada kak Kembang." gumamnya melilitkan selendang di nisan.
Menarik napas lalu membuangnya, Idaline bangun menghadap orang-orang. "Yang sudah terjadi tidak akan bisa dirubah. Terimalah dengan lapang, jangan saling menyalahkan. Tetapi ingatlah selalu agar tidak terulang."
Langkah kakinya menghantar ke arah para pria dengan hiasan di seluruh tubuh, tebaknya mereka adalah kepala desa. "Jika tiga desa kalian sangat bangga dengan kekuatan, kenapa tidak membuat aula pertarungan sehingga tidak perlu lagi menunjukkan kekuatan dengan merusak desa atau membunuh orang? Yang lemah pun memiliki kesempatan menjadi kuat jika sudah menemukan hal yang sesuai dengan jati diri."
"Apa yang dibicarakan anak kecil ini? Apa dia tidak takut dipukul?"
"Dan desa yang sibuk dengan perniagaan di kota-kota, apa tidak bisa sekali saja memperhatikan desa sendiri dan sekitar? Bagaimanapun desa adalah tempat kembali. Kenapa harus membuat sekat-sekat yang justru membawa curiga?"
"Hm? Apa kita tidak memerlukan sekat?"
"Untuk dua desa yang saling berebut lahan, izinkan aku memberi masukan." Idaline memperlihatkan lencananya. Winarti selalu berharap tidak ada lagi anak seperti dirinya, diculik sedari kecil hingga tidak mengenali dirinya sendiri. Idaline ingin menyingkirkan bibit busuk dengan menyatukan desa.
Semakin banyak orang peduli, semakin sedikit kejahatan yang akan terjadi.
"Maaf, kami tidak tahu kami kedatangan orang penting."
"Tidak perlu basa-basi. Kita lihat gudang peralatan kalian."
"Tuan-tuan, mari ke desa Kulak. Kami mempunyai banyak barang dari beberapa kota dan kerajaan." ajak istri kepala desa Kulak, desa yang seluruh orangnya berdagang di kota-kota besar. Mereka membeli barang dari satu kota untuk dijual ke kota lain yang tidak memilikinya, lalu membeli di kota itu apa-apa yang belum dimiliki penduduk di kota selanjutnya. Perdagangan hitam dan putih mereka lakukan, namun kekejian di dukuh Lege tak pernah mereka bayangkan.
"Kamu ini bagaimana? Mereka pasti lelah dan lapar. Lebih baik ke desa Bentala kami." timpal nyonya yang lain. Mereka memakai gelang memenuhi lengan dan cincin dengan permata besar terpasang di seluruh jari.
"Kami akan bersama Raden Ajeng." tolak Candra menghampiri Idaline yang sedang berdiskusi.
"Mari, nona." ajak kepala desa Bentala percaya diri. Penduduk desanya selalu tepat waktu menyajikan makanan dalam keadaan apapun, ia yakin sekarang sayur sedang dipilah untuk dimasak.
"Bagaimana kalau ke Butala dulu?"
"Kita ke yang terdekat supaya tidak bolak-balik." lerai Idaline.
Ia dan kepala desa serta beberapa orang berkeliling melihat perlengkapan panen dan struktur desa kemudian menuju lahan yang ada di ujung kedua desa. Desa Butala dan Bentala membentang di antara danau kecil yang miring ke utara, lahan pertanian lebih condong ke bagian desa Butala.
"Aku bukan penguasa daerah di sini jadi tidak berhak mengatur kalian. Tetapi jika ingin menggunakan keputusanku, kalian harus menepati satu perjanjian yang telah aku tulis." Idaline menulis surat perjanjian ketika menggambar peta. Mereka duduk di bawah pohon besar di ujung utara danau, di antara desa Butala dan Bentala.
"Kami setuju." sahut kepala desa Bentala.
"Apa isi perjanjiannya?" tanya kepala desa Butala.
Idaline tersenyum. "Kalian hanya perlu menjual langsung ke kerajaan Maja hasil lahan kalian tanpa tangan kedua supaya masyarakat kami terpenuhi kebutuhannya."
"Tetapi ada desa Janapada di kerajaan Maja yang memiliki hasil panen lebih dari kami."
"Anda benar-benar tahu banyak."
"Kami tidak bisa menerimanya. Bahkan kami berebut untuk tiga tanaman tersebut karena hanya ada beberapa tanaman yang tumbuh. Carica kami coba menanamnya tetapi selalu gagal." cetus pemuda dari Butala yang ikut berkumpul.
"Aku tahu cara membudidaya, ehm, memperbanyak mereka. Kalian tidak perlu takut kekurangan."
"Berarti Anda harus menunggu,"
"Tidak masalah, karena kalian harus menjualnya bukan memberi. Jual dengan harga panen."
"Kalau seperti itu kami terima. Bagaimana dengan keputusannya?"
"Lahan yang ada di Utara danau akan dikelola oleh desa Butala melihat dari geografis-ehm, melihat dari posisinya." tunjuk Idaline ke peta yang ia gambar.
"Kami tidak menerima!" tolak kepala desa Bentala berdiri penuh marah.
"Dengarkanlah sampai habis, tuan Tala."
"Kamu dapat tenang seperti itu karena dia memihakmu," tukas Tala menunjuk wajah saingannya.
"Duduklah, tuan Tala. Kita harus mendengar penawaran hingga selesai," kata kepala desa Kulak ikut menimbrung.
"Tuan Ulul, Anda tidak pergi berniaga?" sinis Tala.
"Keadaan kacau begini mana ada hati pergi berdagang."
"Lurah Bentala, desa Anda tidak memiliki peralatan yang memadai." ujar Idaline. Seluruh mata tertuju padanya.
"Karena kami menggunakan otot-otot kami,"
"Benar. Maka dari itu saya mempunyai solusi yang menarik." Idaline menarik sudut bibirnya.
Candra tersenyum tipis, satu-satunya orang yang tidak terpengaruh kutukannya juga tidak terpengaruh intimidasi orang lain, Idaline semakin bersinar di matanya. Saudari-saudarinya cerdas, namun belum ia lihat wanita yang percaya diri mengutarakan pendapatnya di tengah kumpulan pria asing.
"Baiklah. Aku memberimu satu kali kesempatan menjelaskan dengan benar,"
"Kalian bergulat hingga berdarah-darah tetapi tidak sampai ada kematian karena hati yang masih menyimpan rasa persaudaraan,"
Ucapan Idaline membuat suasana mendadak hening, dua desa yang berperang sore kemarin, sekarang memasak bersama di pinggir danau ditemani udara yang menyejukkan jiwa dan raga, dibumbui canda dan tawa.
__ADS_1
"Ide yang saya berikan tidak serta-merta membuat lahan menjadi milik desa Butala, karena di kemudian hari mungkin saja Bentala lebih mampu. Tetapi sekarang saya lihat ada kemampuan lain yang warga Bentala miliki," mata Idaline mengamati badan-badan kekar. "Di gunung Tang yang telah menjadi bukit itu, ada sumber kapur yang sekarang sedang eksis untuk dijadikan bahan bangunan bagi para bangsawan dan orang-orang kota." paparnya. Ia mencermati struktur tanah saat digendong Candra.
"Benar. Ketika kami datang ke kota, bangunan sudah banyak berubah. Tidak lagi menggunakan kayu. Memang bentuknya mirip dengan kapur sirih," sela kepala desa Kulak membayangkan rumah-rumah di berbagai daerah.
"Kapur yang aku bicarakan ini bak tanah yang kita injak. Di bukit Tang pusatnya ada di perut gunung, sekarang mudah mengambilnya. Hal ini tidak serta-merta menjadikan bukit Tang milik Bentala, kalian hanya mengelola."
"Di balik musibah pasti ada hikmah," gumam Ulul memperhatikan gambar Idaline. Ia hampir memuncratkan air liurnya melihat gambar gadis itu hanya sebuah denah, gambar garis-garis dengan nama di atasnya. Ia pikir itu lukisan luar biasa. Candra menusuknya dengan tatapan tajam membuatnya merinding.
Idaline mengabaikan Ulul yang mentertawakannya. Ia tatap kepala desa yang sedang berdiskusi dengan orang-orangnya. "Setiap orang berhak bekerja di lahan maupun di bukit dan menerima upah dengan sesuai. Butala tidak perlu memberikan hasil panen pada pekerja kalian."
"Bagaimana mungkin? Mereka telah bekerja keras."
"Kalian jual setengah harga ke warga Butala dan Bentala secara merata, jadi tidak ada perselisihan, dan uangnya masuk untuk keperluan lahan. Untuk desa, jangan memungut uang dari rakyat, ambillah keuntungan dari hasil penjualan. Dengan ini tidak akan memberatkan penduduk."
"Bagaimana Bentala akan menangani pertambangan? Kami bisa bekerja keras, tetapi perlu peralatan, sedangkan tidak ada yang memiliki."
"Hal ini bisa desa kalian beli di kota sama dengan Butala yang harus membeli gerobak besar untuk panen mendatang. Kalian tidak boleh memasukkan pihak lain dalam perjanjian bagaimanapun keadaannya. Jika dirasa ingin bertukar peran, bertukarlah dengan baik. Tapi sekarang jalani dahulu selama satu atau dua tahun,"
"Ini..bisa diterima. Bagaimana denganmu Bubut?" setuju Tala, kepala desa Bentala.
"Jika warga kita semuanya menerima." putus Bubut, kepala desa Butala.
"Kami merasa ini baik untuk kedua belah pihak," sepakat pemuda Bentala.
"Benar," pemuda Butala mengangguk.
"Baiklah, kami menerimanya."
"Bentala juga menerimanya."
"Kalian caplah surat ini dengan darah lima jari kalian."
Tala dan Bubut tanpa ragu menggores kelima jarinya menstempel kertas perjanjian.
"Lalu siapa pun yang melanggar akan terkena kutukan dari Tuhan. Pasang perjanjian ini di sini. Buatlah papan agar tidak merusak kertas ini." Idaline menyerahkan kertasnya.
"Terima kasih, Yang Mulia. Silahkan beristirahat."
"Belum. Beberapa orang mungkin masih ragu tentang kapur di bukit Tang. Mari kita lihat,"
Mereka semua berbondong-bondong menuju gunung Tang yang telah terpotong tak ada pucuknya. Di utara dan tengah gunung terdapat longsor kapur yang melimpah.
"Karena kapurnya tidak keras, kalian bisa membawanya dengan cangkul dan gerobak sayur. Pertama berikanlah sebagai contoh untuk panggung tubruk desa Gulat, Gelut, dan Gulet." usul Idaline menggenggam batu putih.
"Bahan ini tergolong mahal jika diberikan percuma." komentar Ulul, kepala desa Kulak.
"Kata siapa gratis? Mereka harus memilih petarung terbaik untuk mendampingi para penjual kapur ke kerajaan Maja dan ke tempat lain tanpa dibayar selama dua waktu pengiriman."
"Mungkin mereka belum sekuat prajurit bayaran yang beridentitas, tetapi tetap akan aman jika membawa beberapa orang." tambah Tala.
"Meski para pekerja kuat, tetap saja pertarungan butuh teknik. Datanglah lihat para prajurit tangguh kami setelah panggungnya jadi." lontar pemuda perwakilan Gulat.
"Kami akan buat malam ini biar besok sore bisa dipakai,"
"Tetua kami sudah menyetujui pembangunan panggung. Posisinya di persimpangan desa yang biasa digunakan untuk berperang," tutur pemuda Gulet yang terlibat dalam perundingan tiga desa lalu ikut melihat gunung.
"Jangan lupa kita berdo'a untuk orang-orang yang tidak bersalah di dukuh Lege yang turut menjadi korban." pesan Idaline menuruni bukit.
"Desa kami, desa Jati, sudah mempersiapkannya." kata kepala desa Jati, desa terdekat dari Lege.
"Desa Rotan sudah mencoba memindahkan puncak gunung sedikit demi sedikit, tetapi tiada ada habisnya."
"Kalian tidak perlu memindahkannya. Kita kubur dan basuh darah yang menyiprat keluar." Idaline yakin seniornya di tim SAR akan melakukan hal yang sama. Tanah 'longsor' terlalu luas dan dalam, desa yang menjorok kini rata dengan sawah di seberang yang awalnya lebih tinggi, seolah menjadi lahan pertanian baru.
"Tidak ada darah yang keluar. Semua mayat sepertinya ada di tengah desa."
"Kalau begitu biarkan tanah ini menjadi kuburan mereka." Idaline menepuk pelan dinding tanah yang lebih tinggi darinya.
"Baiklah. Beritahu para pemuda untuk kembali," perintah kepala desa Rotan pada tangan kanannya.
"Saya sempat berpikir Anda mencuri lencana milik ayah Anda. Mohon maafkan kelancangan saya,"
"Tidak perlu. Saya juga terlalu muda untuk menerima ini,"
"Anda pantas menerimanya,"
"Terima kasih." tutup Idaline. Jauh di lubuk hatinya ia ingin menyiram dengan pasir setiap orang yang memujinya. Ia tidak suka pujian.
Ketika langit berwarna jingga mereka mulai menaburkan bunga di atas reruntuhan lalu berdo'a agar amal mereka diterima dan dosa mereka diampuni.
Hari semakin gelap dan orang-orang mulai membubarkan diri. Idaline berdiri di sebelah lelaki yang sepanjang hari menatap reruntuhan. Sementara itu Candra menarik Ekata menyingkir dari hadapan orang-orang.
"Aku tidak bertemu dengan beberapa temanku sejak lulus SD, tetapi tetap mengenali mereka dari punggungnya meski berada di tengah keramaian." buka Idaline membuat lelaki itu menatapnya.
•••BERSAMBUNG•••
__ADS_1
© Al-Fa4 | 25 Juni 2021