TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
106 - ANGIN YANG BERHEMBUS KENCANG


__ADS_3

"Cucuku kenapa jadi malas begini?" tanya nenek Uwe, nenek yang dahulu rumahnya menjadi tempat Idaline menginap sedang membereskan nampan bekas makan keluarganya bersama cucu laki-lakinya.


"Nek, ada hal yang menggangguku."


Perasaan Indro, cucu nenek Uwe, tidak enak meski hari cerah dan rombongan telah berangkat untuk berdagang ke luar desa.


Bukan pada mereka yang berangkat, justru dia merasa berat meninggalkan desa. Akhirnya kali ini dia membolos tidak berdagang.


Biarpun dia dicemooh dan disindir, Indro merasa harus tetap tinggal di desa Telogo.


"Masa remaja memang penuh dengan emosi," sindir nenek Uwe. "Kemari bantu nona Nawang yang baru saja lahiran." Nenek Uwe mengajak cucunya yang sudah selesai membereskan dapur.


"Tapi nek aku pria, bagaimana bisa membantu?" Indro benar-benar tidak paham tentang ibu hamil ataupun wanita.


Semasa di dunia modern dia adalah anak yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya, dia sangat jarang berinteraksi dengan perempuan sebab tidak bersekolah dan hanya membantu pekerjaan-pekerjaan rumah atau melakukan pekerjaan kasar yang berisi pria saja.


"Justru karena pria kamu harus membantu mereka. Suaminya harus fokus mengurus istrinya. Kamu carilah kayu dan buruan untuk mereka. Masakanmu juga tidak kalah."


"Aku akan masak di sini." Indro merasa canggung bila harus bersama para wanita.


Pria-pria ini sebagian besarnya telah pergi berdagang dan sebagian lainnya sibuk di bagian pembuatan peralatan rumah tangga guna dijual ke luar desa.


Di rumah Nawang semuanya berisi para perempuan.


"Tidak boleh. Harus masak di sana supaya dibimbing dukun beranak atau bawahannya." Nenek menggelengkan kepalanya.


"Nenek 'kan tahu bahan-bahan yang boleh dan tidak," bujuk Indro.


"Cu, cu, nenek sudah tua. Ayo berangkat."


Indro menghela napas panjang. Tidak ada yang bisa membujuk neneknya, akhirnya Indro menyetujui untuk berangkat ke kediaman Nawang.


"Aku cuci muka dulu." Indro mencuci wajah dengan cepat dan berlari menuju Uwe yang sudah berjalan keluar.


Indro menatap sekitar dan sesuai dugaannya hampir semuanya perempuan, namun ada juga beberapa pria yang datang membawakan buruan.


Indro sangat bersyukur karena tinggal memasak sebab sayuran sudah dibawakan oleh para perempuan.


Sayur-sayuran ini sangat lengkap dengan rempah-rempahnya.


"Maafkan nenek baru datang sekarang."


"Cuacanya memang begini, nek. Mari masuk nek," ucap Jaka bersiap mengubur ari-ari. Langit mendung dan angin berhembus kencang membuat Jaka berharap tidak turun hujan sebelum ia menyelesaikan ritualnya.


Indro dan neneknya bahkan tidak bisa keluar untuk membantu Nawang melahirkan karena angin yang sangat kencang.


Indro mengulurkan tangannya pada Jaka yang memanggul cangkul. "Kubantu,"


"Tidak. Aku yang akan mengubur ari-ari. Semuanya tolong bantu do'a," kata Jaka pada hadirin yang datang.


Jaka mengubur ari-ari beserta sesajennya memberikan nasi kuning pada orang-orang yang hadir.


Setelah memastikan semuanya mendapat bagian Jaka memasuki rumahnya dengan tergesa.


Indro yang sedang menikmati nasi kuning hampir mengeluarkan isi di dalam mulutnya karena pukulan keras di punggungnya, nenek memelototi Indro dan menunjuk karung di lantai menggunakan matanya.

__ADS_1


Dengan berat hati Indro meletakkan nasi kuning porsi kuli itu ke tempat yang didudukinya dan membawa masuk karung. Di dalam rumah dia malah mendengar nada-nada manja.


"Sayang, benar kamu akan berangkat?" tanya Jaka tersirat nada keberatan.


Jaka khawatir pada kondisi Nawang apabila menggunakan kekuatannya untuk menghadiri acara tingkeban Idaline padahal beberapa jam lalu Nawang baru saja melahirkan.


"Tidak akan lama, sayang!" Nawang berkata dengan gemas sebab suaminya ini memperlakukan dirinya seperti manusia lemah.


Dia kan bidadari!


Dia tidak merasakan sakit melahirkan seperti manusia, hanya terasa sedikit nyeri di bagian tubuhnya yang masih melebar.


Bagian itu akan merapat jika dia berendam di air terjun atau membiarkannya pun akan sembuh sendiri.


"Tapi tubuhmu.."


"Tenang, sayang. Aku tidak selemah itu!"


Indro yang hanya mendengar ucapan Nawang merasa sangat malu. Dua orang ini perempuannya baru saja melahirkan masa sudah begituan?


Tapi Indro tidak terlalu merasa aneh sebab di dunia ini ada sihir-sihir penyembuh dan Nawang yang dia tahu dari gosip memiliki sihir-sihir yang kuat.


"Jangan menguping!" tegur dukun beranak pada Indro yang berdiri di tengah dapur.


Sebenarnya rumah Jaka dan Nawang terbilang kecil dan hanya terbuat dari kayu-kayu juga anyaman membuat percakapan keduanya dari dalam kamar sangat mungkin terdengar.


"Mbah, saya bawa buah, sayur, dan daging rusa melihat persediaan gudang habis untuk menjamu," ujar Indro membawa rusa buruan kemarin petang sebelum cuaca ekstrim menyerang desanya hingga pagi baru sedikit reda.


Tidak biasanya cuaca desa sangat menyeramkan. Jika saja dia tahu, dia akan memburu beberapa ekor lagi untuk persediaan.


"Kalau bisa tolong bawakan rumput-rumput yang aku sebutkan ciri-cirinya," pinta dukun beranak.


"Nggih, mbah. Saya bantu-bantu masak dulu." Indro melihat cuaca mulai sedikit hangat dan orang-orang pun berdatangan.


"Sudah banyak. Anak-anak ini akan bersamamu." Dukun beranak menunjuk pada tiga orang di belakangnya.


"Baiklah."


Indro dan ketiga anak itu berjalan menuju hutan, sesekali Indro menatap desanya hingga masuk ke bagian terdalam hutan.


Indro dan yang lain berhasil mengumpulkan seluruh rumput yang diperintahkan dukun sebab tanahnya ini sangat kaya dan mudah menemukannya, tapi ada satu tanaman yang berada di bagian hutan terdalam.


"Kita ke gua," putus Indro setelah mereka tak kunjung menemukan satu rumput terakhir. Dia dan ketiga orang bersamanya sudah mencari satu rumput terakhir itu sampai hari berubah malam.


"Mas, kita menginap saja di sana. Malam sudah larut."


"Tenang, ada bulan sebagai petunjuk. Tanaman ini dibutuhkan segera." Indro mengacak rambut anak lelaki yang ikut bersamanya. "Kalian lelah?"


"Kalau tanamannya dibutuhkan, kita kembali mas."


"Anak lelaki harus seperti itu." Indro mengacungkan jempolnya.


Namun pada akhirnya mereka beristirahat beberapa kilometer dari gua setelah menemukan rumput yang dicari karena beberapa orang terkulai lemas.


"Maaf merepotkan mas," kata seorang anak yang masih terbangun.

__ADS_1


"Kalian sudah bekerja keras. Dari kemarin badainya sangat kuat tapi kalian tetap membantu yang membutuhkan. Benar-benar hebat!"


"Suatu kehormatan bisa membantu nona Nawang melahirkan. Meski kami hanya membawa barang."


"Dukun beranak tidak bisa mengambil semua barang sendiri. Kalian hebat dan cekatan sampai menghapal tanaman berharga."


Indro tidak berlebihan dalam memuji mereka karena di hari kemarin dia sendiri hanya tergelung hangat di dalam selimutnya, sedangkan anak-anak ini membantu seseorang yang sedang mempertaruhkan nyawa.


"Terima kasih, mas." Anak itu ingin berjaga tapi malah ketiduran.


Indro terjaga sepanjang malam mengawasi hewan-hewan yang mendekat. Napas lega dihembuskannya ketika fajar telah menyingsing.


"Hah. Kita kesiangan!" seru si anak yang memaksa bangun, otaknya memperingatkan dia untuk berjaga tapi ternyata matahari malah sudah nampak.


"Santai saja. Mbah dukun belum mencari berarti tidak darurat."


"Tanaman bagus diracik pada pagi hari, mas. Ayo banguun." Anak laki-laki itu membangunkan kedua temannya.


Indro mematikan perapian dan membagikan tas masing-masing anak lalu mereka berjalan kembali.


"Anginnya kencang sekali."


Indro berusaha menahan angin dengan tangannya. Dia saja merasa hampir terbang karena angin kencang ini. "Kalian pegangan padaku!"


"Lihat! Rumah-rumah terbang lalu hancur di pusaran angin." Salah satu anak menunjuk desanya yang sebagian hancur.


"Di sana. Di sana. Ada petir besar."


"Tetap tenang, anak-anak. Ugh, bagaimana kalau kalian kembali ke gua? Aku akan mencoba menyelamatkan yang lain. Rumah tidak bisa menahan angin sekencang ini."


"Manusia juga tidak mas! Ayo bersama."


"Kalian memiliki peran penting memegang tanaman ini. Berhati-hatilah!" Indro menyerahkan tasnya lalu bergegas pergi.


"Kita ikuti ucapan mas Indro. Angin di arah sana tidak kencang,"


"Lalu kita akan menjadi pecundang yang hanya memikirkan diri sendiri?!"


"Lalu kita bisa apa? Hanya merepotkan orang-orang dewasa! Mereka juga sedang menyelamatkan diri."


Setelah ketiga anak itu berdebat sengit akhirnya mereka kembali ke gua dan berharap ibu mereka yang ada di desa selamat.


"Nenek!" teriak Indro setelah berhasil menembus angin yang berhembus kencang. Dia mencari-cari neneknya di rumah yang telah porak poranda tapi tak menemukan neneknya.


Akhirnya Indro pergi ke luar rumah dan menemukan sebuah bayangan. Namun ketika Indor mendekat, bayangan itu menunjukkan seseorang sedang menggendong orang lain.


Sudah pasti itu bukan neneknya. Indro pun mencari ke tempat lain.


"Sial. Bukan hanya para kakanda, para ayunda juga datang semua?!" gerutu Nawang menggendong Jaka yang sedang menggendong bayi mereka.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 01 Desember 2021


Hayo hayo Idaline ada di mana??

__ADS_1


__ADS_2