![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Matahari mengintip memancarkan sinarnya dan cuaca yang cerah sangat pas untuk sekedar bersantai maupun bekerja dengan semangat.
Tetapi hati Hayan pagi itu berkabut begitu mendengar berita kedatangan orang nomor dua ke Bale' Ndamel di waktu yang tak biasa, waktu yang seharusnya mengajarkan dirinya tetapi datang untuk meminta hal yang membuat panas hatinya.
"Guru akan menikah dengan mahapatih?" tanya Hayan sesaat setelah sampai di Bale' Gawe, tempat kerja Yuwaraja.
"Iya. Dia belum datang karena pergi menemui Ibu Ratu. Hal yang baik harus dilakukan pada pagi hari." Idaline tersenyum menikmati suasana yang mendukung.
"Kenapa guru menyukainya?"
"Dia sangat perhatian dan mengerti aku padahal kadang aku sendiri tidak paham apa yang aku inginkan. Yah pokoknya itu karena dia adalah dia. Cinta itu tidak bisa diukur tapi harus dibuktikan." Idaline menarik senyumnya hingga kedua pipinya terangkat. "Bagaimana denganmu? Setelah pemilihan maharani kan kamu boleh menikahi orang yang kamu suka?"
"Tidak ada pemilihan." Hayan mengalihkan pandangannya kemudian duduk di mejanya. "Pernikahan akan diadakan setelah mengangkat menteri-menteri baru. Aku melihat banyak potensi di akademik."
"Oh? Siapakah wanita yang sangat beruntung ini?"
"Guru."
"Haha," tawa Idaline. Hayan memang selalu menggodanya jika ada kesempatan, entah belajar dari mana. "Jangan bercanda." Idaline mengubah ekspresinya menjadi serius dan bangkit dari kursinya.
"Ini rangkuman tahun 128, tahun 126, dan tahun 125. Tahun 129 bisa kamu minta di kantor administrasi. Belum ada rekapannya." Idaline menaruh berkas di atas meja Hayan dan menatap lekat-lekat calon maharaja itu. "Atau mau kuambilkan?"
"Aku serius." Hayan mengunci pandangan Idaline dan mengelus tangan Idaline yang masih berada di atas meja.
"Mahapatih memasuki ruangan!" seru pengawal yang menjaga pintu.
"Tidak perlu terlalu tegang begitu." Hayan tersenyum memutuskan kontak mata mereka. "Aku ambil sendiri saja." Hayan beralih menatap Djahan yang masih berdiri lalu melewatinya begitu saja.
"Aku sudah berbicara pada ratu. Semuanya terserah kamu." Djahan mengelus kepala Idaline. "Dia minta kamu datang ke ruang kerjanya."
"Sekarang?"
Djahan mengangguk. "Iya."
Di dalam kereta kuda, Idaline memandang taman-taman keraton sambil berpikir serius. "Apa karena aku belum memberi salam dengan benar?" gumamnya memikirkan alasan ratu memanggilnya.
Selama ini tidak pernah ratu mengundangnya kecuali memberikan hadiah atau mengajaknya jalan-jalan. Tetapi sekarang bukanlah waktunya memberi hadiah maupun jalan-jalan.
"Yang Mulia Raden Ajeng, kita sudah sampai," ucap kusir.
Idaline menerima uluran tangan kusir dan pelayan yang menunggu mengantar Idaline hingga ke depan pintu Bale' Ndamel.
"Silakan, Yang Mulia." Penjaga pintu menegakkan tombaknya mempersilakan Idaline masuk.
"Ananda menghadap Ibu Ratu, semoga kebijaksanaan dan kemuliaan selalu milik Ibu Ratu." Idaline menekuk sedikit kakinya tanpa menunduk.
"Duduklah." Ratu menunjuk kursi dengan seluruh jarinya lalu melirik orang yang sedari tadi berada di ruangannya.
"Baik, Yang Mulia. Hamba mohon undur diri." Pamasi Wistara, rakryan kanuruhan tersenyum pada Idaline sebelum keluar dari pintu yang lain.
"Kita berangkat."
"Eh?" Wajah bingung Idaline membuat ratu terkekeh. Idaline berjalan dengan waspada mengikuti ratu sampai ke kereta kuda. "Apakah Ibu Ratu merestui ananda dengan Mahapatih?" tanya Idaline tanpa basa-basi. Bukankah seharusnya saat ini mereka membahas pernikahan hal itu?
Ratu membuka bibirnya selama beberapa saat lalu tersenyum. "Pada akhirnya kamu akan menikah." Ratu memegang wajah Idaline hingga netra mereka bertemu. "Tidak terasa semuanya sudah besar. Ibu Ratu harap kamu terus membantu Hayan."
"Ananda akan menjadi bayang-bayangnya di tengah rakyat."
Mata ratu melunak, senyumnya yang dingin berubah menjadi senyuman hangat. "Tidak perlu. Lakukan saja yang seharusnya." Ratu mencium pipi Idaline. "Gadis cantik sudah besar."
Bulu kuduk Idaline merinding merasakan ciuman di pipinya dan bisikan di telinganya. Idaline mengalihkan pandangannya pada pemandangan yang sudah lama tak dilihatnya.
"Ini Sela Wukir?" tanya Idaline melihat ke luar jendela.
"Benar." Sekilas mata ratu terlihat ada kesedihan yang mendalam.
Idaline diam dan mengekor di belakang ratu. Saat sampai di sebuah pintu, ratu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Idaline memasuki ruangan yang mendadak terang ketika mereka melangkah masuk.
"Haha tidak kusangka ratu sangat cerdas. Kupikir Anda akan mengamuk pada ipar yang tidak menjaga adik kesayangannya dengan benar. Malah mengasuh putri-putrinya? Haha,"
Suara Sudomo terngiang di pikiran ratu. Ratu mengepalkan tangan dan tanpa sadar mencengkram tangan Idaline tetapi Idaline tidak menyadarinya, pemandangan di depan Idaline membuatnya tercengang.
"Ini.." Mata Idaline yang terbuka lebar menyisir tiap-tiap ruang yang berada di sisi kanan dan kirinya. Ruangan-ruangan itu terdapat orang-orang kurus yang digantung tangannya ke langit-langit, ada pula yang menempel tubuhnya di tembok dengan kaki tidak menyentuh tanah. Yang paling membuatnya mual adalah mereka yang mengeluarkan banyak darah dari kaki dan tangan yang terputus tetapi mereka tidak diperbolehkan mati.
"Mereka tidak mau bekerja sama," ucap ratu menjawab kebingungan Idaline. "Di sini yang mau bekerja sama, kami terus menghimpun informasi yang didapat." Ratu memegang kenop pintu yang terdapat beberapa sihir rumit.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, terbentang halaman luas berisi banyak pepohonan dan sayur-sayuran yang baru selesai dipanen, serta banyak manusia dengan berbagai rantai di kaki dan tangannya. Meski pakiannya bersih, rambut yang ikal dan kuku-kuku yang panjang tidak menghilangkan jejak bahwa mereka tidak pernah membersihkan diri.
"Dua budak yang dibawa Hayan telah pergi. Kalau menurutmu ada yang cocok, pilihkanlah." Mata ratu menyapu barisan rapih para budak yang dirantai kakinya. "Oh iya, mereka adalah budak moden. Ciri mengetahuinya sangat mudah. Selanjutnya kamu yang mengatur tempat ini." Ratu memberikan lencana kepemilikan pada Idaline.
"Baiklah." Idaline menahan air matanya. Bahu budak-budak moden itu bergetar hebat, takut tetap tinggal tempat itu tetapi terlihat jelas juga mereka takut akan dipilih. Beberapa di antara mereka menatap kosong ke depan, pasrah pada keadaan.
"Apa anak gila sembilan tahun lalu datang lagi?" ejek seseorang yang terikat di pohon. Sedetik kemudian ia mengerang. Kulit putihnya yang tinggal tulang itu memerah.
"Jaga ucapanmu." Seorang prajurit mencambuknya secara berulang.
"Bagaimana menurutmu?" tanya ratu tidak mempedulikan kehebohan di sisi lain ruangan terbuka itu.
Idaline menggeleng lemah. "Tidak ada yang cocok,"
"Selanjutnya mungkin ada. Kita mampir ke akademik." Ratu tersenyum puas karena Idaline memperhatikan semua orang dengan teliti, ia yakin putri sahabatnya nanti akan memberikan yang terbaik.
"Iya, Ibu Ratu," Idaline menggerakkan tangannya gelisah. Kemudian Idaline menggigit jempolnya sambil menatap pemandangan di luar menghindari mata ratu yang kini terlihat menakutkan.
Saat ratu menyentuhnya, Idaline terlonjak kaget. Ratu tersenyum simpul mengira Idaline sudah paham maksudnya, ratu ingin Idaline tetap di ibu kota atau bahkan tinggal di Sela Wukir karena sudah mendapatkan tugas menjaga rumah budak moden.
Ratu menuntun Idaline ke ruangan kepala akademik.
Berbagai jenis makanan terhidang di atas meja. Minuman hangat tak luput untuk menemani di gunung yang dingin. Idaline memejamkan matanya tidak berselera.
"Ini adalah Raden Ajeng Paramudita, guru sepantaran Yuwaraja. Dia bisa membuat anak yang kebingungan itu dalam sekejap menjadi paham semua materi. Mungkin bisa membantu kalian, ya kan Ida?"
"Semua yang meminta bantuan untuk kebaikan harus diterima," jawab Idaline tersenyum kecil.
"Memang murid Petapa Agung," puji pria yang di tangannya terdapat bercak merah. Idaline semakin gelisah.
"Dia adalah Pamget, kepala akademik,"
"Senang bekerja sama dengan Raden Ajeng Paramudita," ucap Pamget. Idaline mengangguk pada Pamget. "Silakan dinikmati,"
Idaline makan dengan terpaksa karena perutnya terasa bergejolak. Ratu dan Pamget berbincang dengan seru. Pengajar-pengajar yang hadir memakan hidangan dengan tenang.
"Apa ratu ingin aku mengawasinya?" pikir Idaline melirik Pamget karena yang lainnya tidak dikenalkan. "Padahal tidak ada konflik," Idaline sudah memutar otak memikirkan cerita dari mulut Fusena tentang ratu tetapi tidak ada konflik yang terjadi antara ratu dan kepala akademik.
Idaline kini mengerti alasan Fusena menceritakan masa lalu ratu.
"Terima kasih atas kunjungan Anda. Semoga Yang Mulia Ratu selalu diberi kebijaksanaan,"
Idaline kembali duduk di dalam kereta. Ia sedikit terkejut saat ratu membuat kereta menjadi kedap suara. "Akankah aku mati? Ratu sudah tahu aku juga orang moden moden itu?" batinnya.
"Budak moden datang dari tempat yang jauh. Mereka selalu berkata itu adalah dunia lain. Namun aku berpikir ada tempat yang belum diketahui. Perhatikanlah gerak gerik mereka," kata ratu seperti sebuah titah tapi ratu berkata dengan lembut.
Biasanya Idaline merasa nyaman mendengar tingkat nada dari suara ratu, tetapi kini rasanya suara itu sangat menakutkan.
"Apakah Pamget juga?" tanya Idaline menyembunyikan ketakutannya.
"Itu tidak perlu," Ratu menyeringai semakin membuat Idaline kalang kabut. Ratu meraih tangan dayang dan turun kembali ke Bale' Ndamel. "Dia..hm, dia ingin mengatakannya sendiri," Ratu menggerakkan tangannya menyuruh kereta kuda berangkat lalu ratu berjalan masuk ke ruangannya.
Idaline menatap lencana di tangannya. Ia berharap tidak akan berhubungan dengan ratu lagi malah mendapatkan penjara yang penuh dengan teman satu nasib dengannya.
"Aku ingin membebaskan kalian. Tapi..," Idaline ingat ketika kepala dayang Keraton Capuri menemaninya berjalan ke kereta kuda.
"Budak moden beberapa kali melakukan pemberontakan, pernah dahulu menghasut tabib istana untuk meracuni raja terdahulu. Adik beliau wafat saat diculik, tubuhnya ditemukan terpotong-potong bersama selir yang menjadi gila, selir itu terus menggaruk kepalanya yang sudah penuh darah,"
"Aku buat tempat yang layak saja," Idaline kembali ke Bale' Gawe dan duduk di meja tambahan. Matanya mencari penghuni ruangan tetapi tidak ada siapa pun. Idaline memutuskan merangkum kejadian-kejadian selama ratu berkuasa agar tidak lagi diganggu ratu.
••••••••••••••••••••
Nona, saya memiliki panggilan di pulau seberang. Maaf tidak bersama karena jalannya sangat curam dan terjal. Angin laut pun sangat mengkhawatirkan.
Idaline memasukkan surat ke dalam cincin. Sudah lima belas hari berlalu dan cuaca di Pragota berangsur membaik meski masih hujan angin dan tidak ada matahari.
Sambil berbaring Idaline menatap langit-langit kamarnya dengan kesal. Ruru dibawa oleh Ekata dan Fusena masih bertapa tidak dapat dihubungi.
Hari-harinya untuk bersantai di samping penerus Petapa Agung pupus sudah. Kedua tangan Idaline terangkat ke atas memegang buku coretan. "Di sini banyak kerjaan, magerin banget," Idaline berbalik dan tengkurap. Tangannya memegang pena, mencoret-coret sesuai isi pikirannya.
"Djahan sudah menemukan Yuwamentri. Tapi perpindahan tugas pasti lama.." keluh Idaline.
"Yang Mulia, Tuan Mahapatih datang bertemu," ucap dayang. Idaline sudah berpesan mengizinkan Djahan datang kapan pun dia mau datang.
"Panjang umur," Idaline loncat dari kasurnya lalu berlari dengan riang ke ruang tamu di depan kamarnya. Ingin Idaline memeluk calon suaminya tetapi banyak dayang dan pelayan, bisa saja muncul hal sulit jika orang-orang itu salah mengartikan.
__ADS_1
"Djahan, bagaimana kalau kita menikah sebelum perpindahan tugas? Waktunya sulit ditentukan karena pekerjaanmu banyak. Bisa saja sampai satu tahun," usul Idaline meletakkan bukunya di atas meja.
"Iya begitu saja. Karena terus berperang, hubungan diplomatik dengan kerajaan sahabat jarang terjalin. Setelah penobatan, Yuwaraja mungkin akan fokus membetulkan masalah ini,"
Idaline mangut-mangut. Ketika itu terjadi, Djahan akan bepergian ke setiap kerajaan sahabat untuk menjalin kembali hubungan diplomatik. "Kamu belum berbincang dengannya?" tanya Idaline karena Djahan terdengar menebak-nebak.
"Dia masih memantau para menteri yang baru. Sepertinya akan ada perbedaan," Djahan juga heran. Agak sulit menemui calon maharaja itu setelah calon maharaja itu memahami tugasnya.
"Memilih orang kompeten tidak bisa dilakukan secara asal," Idaline membenarkan tindakan Hayan.
"Untuk pernikahannya ingin Ida tambahkan apalagi?" Djahan melihat kertas-kertas coretan Idaline.
"Kebaya putih,"
"Lalu aku akan memakai kain putih,"
"Eh? Tidak apa?" ucap Idaline terkejut. Biasanya paes ageng, riasan pengantin bangsawan tingkat atas, menggunakan pakaian berwarna merah dan cokelat.
"Apa pun untukmu," Djahan tersenyum manis.
"A-apa sih," Idaline mengusap hidungnya malu.
Djahan berhenti di halaman penanggalan dan melakukan weton. "Sekarang bulan Kalima. Bagusnya di Pon kedua bulan Kadasa," ujarnya setelah mendapatkan perhitungan.
Idaline juga tidak mau kalah. Ia mencondongkan tubuhnya dan melakukan perhitungan weton dengan cepat. "Hari ketiga bulan Kasa juga bagus. Tapi tahun baru pasti banyak pesta. Meski mengundang sedikit orang, kita harus menghargai liburan mereka," Idaline mengernyit mendapatkan hasil lainnya. "Eh, Apitkayu juga bagus," tunjuknya.
Idaline dan Djahan saling bersitatap lalu tertawa bersama. "Pftt. Haha,"
"Kita serahkan pada orang lain saja. Rasanya aneh menghitung Weton sendiri," usul Djahan.
"Haha benar,"
"Ayo, tuan putri,"
Idaline tersenyum, ia berjalan di samping Djahan.
"Hayan sejak kapan berdiri di situ?" Mata Idaline menangkap Hayan yang berdiri di samping pintu rumah utama Kedaton Sedap Malam.
"Pemilihan menteri sudah selesai," jawab Hayan menatap Idaline lalu matanya beralih pada Djahan. "Masih banyak yang harus kupelajari, mahapatih,"
"Ayo kita pergi bersama," ajak Idaline.
"Guru bukannya pergi hari ini?" tanya Hayan. Setahu Hayan Idaline akan kembali berkelana bersama Ekata. Tetapi ketika sampai di Kedaton Sedap Malam, tak hanya masih berada di sana, Idaline justru sedang berdiskusi tentang pernikahannya dengan mahapatih.
"Kak Ekata pergi ke pulau lain," jawab Idaline.
"Mahapatih tidak memberitahu saya,"
"Apa semua hal harus dilaporkan?"
"Tentu saja. Semua yang terjadi di tanah ini harus diketahui pemiliknya kan, mahapatih?"
"Kalian semua benar. Tergantung posisi dan situasinya," lerai Idaline menggandeng mereka berdua untuk jalan.
Banyak gadis-gadis berlalu lalang, mereka adalah tamu para putri yang sedang beristirahat di tengah pelajaran yang padat, ratu mengizinkan pesta diadakan setiap sepuluh hari sekali.
Idaline malah melihatnya sebagai pelajaran lain untuk bergaul dan mengetahui kondisi terkini orang-orang.
Hayan memanfaatkan pesta adik-adiknya untuk mengundang para lelaki dan mengobservasi mereka di tengah pesta.
"Kamu benar sudah melihat para calon?" tanya Idaline melihat banyaknya orang. Tidak mungkin dapat cepat memilih dari banyaknya orang yang hadir.
"Mereka sangat antusias. Matahari belum muncul dan mereka sudah berangkat dari kediaman. Semuanya sarapan bersama."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 31 Agustus 2021
Hei hei makasih ya like, komen, vote, dan hadiahnya
Do'akan author semakin benar ngerevisiinnya
Sehat selalu semuany, para pembaca lama dan para pembaca baru
Love you all
__ADS_1
Love, Al-Fa4