TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
023 - KESEJAHTERAAN DAN PETUNJUK (2)


__ADS_3

••••••••••••••••••••


Idaline memejamkan matanya merasakan udara sejuk menerpa wajahnya. Hari-hari yang monoton telah berlalu.


Siji dan Loro juga bersikap seperti para ksatria pada umumnya yang tidak banyak berbicara.


Idaline bersyukur karena urusan mereka telah selesai dan menjalani hidup kembali seperti semula.


Kembali ketika Siji dan Loro tidak mengenalnya dan hanya bekerja sesuai perintah.


"Siapa dia?" bisik orang-orang yang lewat.


Tidak seperti pesta pangan yang dihadiri oleh perwakilan keluarga saja, pesta ulang tahun pangeran tidak memiliki aturan yang ketat.


Para bangsawan diperbolehkan membawa seluruh anggota keluarganya.


Sedikit perubahan di mana tahun-tahun sebelumnya hanya beberapa keluarga yang diundang secara khusus ke keraton. Sekarang seluruh bangsawan bahkan yang tinggal di pelosok diperbolehkan datang.


Hal ini memunculkan dugaan bahwa ratu ingin mencari pasangan untuk pangeran.


"Ratu sangat murah hati membiarkan orang-orang pelosok datang."


Idaline memutar bola matanya malas. Ucapan itu pasti keluar karena Idaline tidak merias heboh dirinya. Idaline hanya menggunakan bedak melati agar wajahnya lebih segar dan memberikan sedikit pemerah bibir.


Rambutnya yang dikonde tidak diberi hiasan karena sudah terasa berat. Perhiasan yang menempel di tubuh Idaline hanyalah sebuah kalung menutupi kekosongan di lehernya dan beberapa sabuk di pinggang agar kainnya tidak jatuh.


"Jaga ucapanmu." tegur seorang gadis dengan kemben berwarna biru senada dengan selendangnya.


"Nona Awah Catra?" gumam salah seorang.


"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita. Semoga Yang Mulia selalu dilimpahkan kesejahteraan."


"Bangunlah." ucap Idaline melihat seorang nona bersimpuh memberi hormat padanya.


"Terima kasih, Yang Mulia." Awah menatap ragu pada Idaline.


"Aku sedang menunggu seseorang. Masuk saja duluan."


"Baik, Yang Mulia."


"Ka-kami memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita. Semoga Yang Mulia selalu dilimpahkan kesejahteraan." Orang-orang yang berbisik tentangnya bersimpuh memberi hormat.


"Masuk saja duluan."


"Baik, Yang Mulia."


Karena Awah, Idaline terus menerima salam. Ia yang semula diabaikan kini dari yang tua sampai anak-anak bersimpuh padanya. Sangat risih, namun Idaline tidak bisa menolak salam mereka.


Bagaimanapun ia adalah Raden Ajeng membawa nama Kerajaan Maja. Ia harus memperlihatkan pada kerajaan lain bahwa Maja terbaik dari segala sisi termasuk tata krama.


"Kaki kalian akan sakit." batin Idaline kadang mendengar suara lutut bertemu tanah karena terbentur terlalu keras.


"Hamba memberi salam kepada Raden Ajeng." ucap salah seorang bangsawan kepada seseorang di belakang Idaline setelah memberi salam kepada Idaline..


Indudewi menganggukkan kepalanya pada Idaline yang memandang dirinya. "Acara akan dimulai."


"Oh begitu ya."


Idaline berjalan ke arah Indudewi dan mereka melangkah masuk bersama.


Dalam diam Idaline memperhatikan Indudewi yang mengabaikan seluruh salam.


Idaline sedikit tidak menyangka karena Indudewi selalu bersikap ramah.


Namun Indudewi tetaplah seorang bangsawan, pasti ada bagian dirinya tidak merasa cocok kecuali dengan yang setara.


Idaline jadi berpikir bila ia datang sebagai rakyat jelata yang tidak memiliki kedekatan dengan keluarga kerajaan, apa hidupnya akan lebih mudah atau akan sulit karena menghadapi banyak kekuatan yang semena-mena?


"Kenapa kamu terus berdiri di depan?" tanya Indudewi tetap melihat ke depan.


Idaline terdiam sebentar, ia melayangkan pandangannya menyapu bersih Aula Arjwa kemudian berujar, "Aku menunggu seseorang."


Idaline juga tidak yakin, tapi perasaannya tidak tenang seperti akan berjumpa dengan seseorang yang sudah ditunggu-tunggu.

__ADS_1


Namun Fusena akan datang saat tahun baru bukan sekarang.


"Apa dia datang?"


"Sepertinya." Idaline mengambil tempat duduk di antara Sudewi dan Indudewi. Netarja duduk bersama Hayan dan ratu juga suaminya di atas singgasana.


"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Ratu, Yang Mulia Bhre Tumapel, Yang Mulia Pangeran, dan Yang Mulia Tuan Putri." kata orang-orang yang hadir bersimpuh termasuk para Raden Ajeng.


"Duduklah dengan nyaman." balas ratu pada salam orang-orang yang hadir.


"Terima kasih, Yang Mulia Ratu."


"Aku sangat bersyukur melihat antusias kalian semua. Semua undangan datang tidak ada satu pun yang tertinggal."


"Suatu kehormatan bagi kami." ucap salah satu menteri senior mewakilkan orang-orang.


"Karena banyak wajah baru yang belum pernah datang ke keraton, aku perkenalkan pada kalian putra pertamaku sekaligus kandidat terkuat pewaris tahta ini, Pangeran Hayan."


"Semoga Yang Mulia Pangeran selalu diberikan kebijaksanaan."


"Senang bertemu kalian semua." singkat Hayan kembali duduk.


"Kemudian selanjutnya adalah satu-satunya putriku, Tuan Putri Netarja."


"Semoga Yang Mulia Tuan Putri selalu diberi keindahan dan keharuman."


"Apa-apaan itu!?" gumam Idaline sambil berdiri bersama Indudewi dan Sudewi.


"Wajah yang terlihat kembar ini, yang sebelah kanan adalah Raden Ajeng Indudewi dan sebelah kiri adalah Raden Ajeng Sudewi."


"Semoga kedua Raden Ajeng selalu diberi keindahan dan keharuman."


"Lalu yang di tengah adalah Raden Ajeng Paramudita."


"Semoga Raden Ajeng Paramudita selalu diberi kesejahteraan."


Sudewi, Indudewi, dan Idaline merapatkan kedua tangannya di depan dada, kaki kanan mereka mundur satu langkah dengan ujung jari menopang kaki, mereka menekuk lutut sedikit sebanyak satu kali lalu kembali duduk.


"Semoga kerajaan kita selalu penuh berkah." kata salah satu menteri setelah ratu memperkenalkan semua orang.


"Yang Mulia, izin mengumumkan penerimaan hadiah untuk Pangeran." ucap Kripala selaku pemimpin segala upacara dalam istana.


Ratu mengangguk memberi persetujuan.


"Saya Kripala Mihir, Punggawa Yang Mulia Paduka Sri Ratu, akan membacakan para pemberi hadiah. Yang pertama adalah perwakilan dari Wanua Badam Aswattha, Arana Kubang selaku Thani Wanua Badam Aswattha."


"Ini..kenapa dari yang rendah?" bisik Sudewi. Idaline ikut terbingung, membuat perasaannya semakin tidak tenang.


"Semua bangsawan datang memberi selamat dan para rakyat mewakili tiap daerahnya termasuk kabuyutan-kabuyutan yang jauh." jawab Indudewi.


Idaline dan Sudewi mengangguk mengerti. List terbawah didahulukan agar memberi muka pada para bangsawan karena bagaimanapun kalangan bawah diperbolehkan memberi hadiah bersama yang tak menutup kemungkinan lebih banyak dari pemberian para bangsawan.


Harta bangsawan memang lebih melimpah namun biasanya mereka memberikan lebih sedikit dari bangsawan tingkat di atasnya untuk saling menghormati.


Tetapi sekarang ada dugaan besar ratu akan memilih pendamping pangeran, maka bisa saja bangsawan tingkat rendah bahkan rakyat jelata mengeluarkan seluruh harta mereka agar dilirik.


"Hamba Arana Kubang, Thani Wanua Badam Aswattha yang menaungi kabuyutan Adamar, kabuyutan Adang, dan kabuyutan Adanu izin mewakili untuk memberi hadiah."


"Silakan." ucap Kripala memberi izin.


Kubang memberi jalan pada ajudannya mengumumkan daftar hadiahnya.


Orang-orang tercengang melihat bongkahan emas dan permata-permata yang merupakan bahan pembuatan batu keris untuk menyimpan sihir maupun kanuragan.


Wanua Badam Aswattha adalah Wanua terendah dan tidak ada hasil bumi untuk sekedar mencukupi kehidupan warganya. Mereka adalah Wanua yang paling banyak menerima bantuan pangan dan sandang. Namun kini membawa banyak emas dan permata.


"Yang menentukan nilainya adalah Mpu Chantas, tapi sekali lihat saja berguna untuk para pemula." komentar salah satu orang di dekat para Raden Ajeng.


Idaline selanjutnya menebak bahwa gudang penyimpanan tidak akan muat menyimpan hadiah.


Orang-orang yang hadir semakin tercengang pada pemberian masing-masing perwakilan. Para bangsawan juga tidak ketinggalan memberikan hadiah atas nama keluarga besarnya, keluarga kecilnya, dan dirinya sendiri.


Mereka memberikan berlipat-lipat lebih banyak dari catatan yang dipegang Kripala.

__ADS_1


"Selanjutnya adalah Mahanta, pangeran kedua dari Kerajaan Wengker."


"Saya Pangeran Mahanta dari Kerajaan Wengker memberi salam pada Yang Mulia Ratu. Semoga kerajaan kita makmur selalu." ucap seorang pria berambut kemerahan. Ia bersimpuh memberi hormat pada ratu dari kerajaan yang lebih besar dari kerajaannya.


"Bangunlah."


"Sebelumnya saya ucapkan selamat atas penaklukan Ijen yang membawa banyak berkah dan selamat atas penaklukan daerah-daerah lain. Kami juga mengucapkan selamat atas berdirinya Watek-Watek karena Kerajaan Maja semakin luas."


"Daerah kami selalu terbuka untuk semua sahabat." balas ratu.


"Terima kasih atas hati lapang Anda, Yang Mulia Ratu. Mohon diterima hadiah kami yang tidak seberapa ini." Mahanta memanggil ajudannya.


Ajudan Mahanta memberitahukan berbagai hadiah yang dibawa. Beberapa orang berbisik atas hadiah yang hanya sedikit lebih banyak dari hadiah para wiyasa, pemimpin watek yang baru diangkat.


"Semakin makmurlah kerajaan kita semua." tutup Kripala pada penerimaan hadiah dari pihak kerajaan sahabat.


Mahanta mengepalkan tangannya, kerajaan sahabat selalu lebih tinggi kedudukannya dari para menteri.


Pada acara yang dimulai dari bawah ini, para menteri kerajaan akan dipanggil setelah mereka.


Ia menatap perwakilan kerajaan lain yang menikmati camilan dengan tenang. "Dasar tidak punya harga diri."


"..dan yang terakhir adalah tuan Baga Sapta, penasihat kerajaan yang telah mengabdi selama enam belas tahun di samping ratu." Kripala membacakan list terakhir pemberi hadiah.


"Hamba Baga Sapta memberi salam pada Yang Mulia Ratu, pada Bhre Tumapel, pada Yang Mulia Pangeran, pada Yang Mulia Tuan Putri, dan pada Raden Ajeng sekalian. Semoga Anda semua selalu diberikan kesejahteraan dan petunjuk."


"Petunjuk?" gumam Idaline. Ia menatap Sudewi dan Indudewi yang juga menatapnya.


"Kenapa?" tanya Sudewi dan Indudewi bersamaan.


"Artinya ada yang ingin dia laporkan." jawab Idaline.


"Di saat begini?" ucap Sudewi tidak percaya, ia menatap serius pada Baga yang menundukkan badan terlalu rendah.


Ratu menatap Baga selama beberapa saat membuat suasana mencengkam. Tak lama ia tersenyum sambil berkata, "Bangunlah. Jangan sungkan."


"Terima kasih, Yang Mulia Ratu." Baga berdiri masih menundukkan kepalanya. "Berikut adalah hadiah-hadiah dari hamba."


Ajudan Baga masuk bersama para dayang dan pelayan membawa hadiah dari Baga.


"Lalu yang terakhir, Parikesit, anak dari Ki Ageng Lawu datang ingin menghadap Yang Mulia Ratu." ucap ajudan Baga menutup kertas di tangannya.


Ratu mengangkat tangannya memperbolehkan.


"Masuklah." ajudan Baga menghadap ke pintu masuk.


"Hamba Parikesit, anak Ki Ageng Lawu penjaga Wukir Mahendra memberi ucapan terima kasih yang banyak kepada Yang Mulia Ratu sudah mengizinkan menghadap."


"Jangan sungkan. Kamu dan ayahmu juga merupakan tamu undangan."


"Sayangnya merpati merah tidak pernah sampai pada kami."


Merpati itu awalnya putih lalu berubah jadi merah karena berlatih kanuragan. Merpati merah merupakan merpati yang mengantar surat-surat resmi dengan cepat.


"Merpati merah?" gumam Idaline.


"Hamba saat itu sedang bertapa di Goa Caya. Saat waktunya kembali, kediaman Lawu sudah hancur." Parikesit menggertakkan giginya. "Yang melakukannya adalah para ksatria Wengker."


"Jangan memfitnah!" Mahanta berdiri saat Parikesit menunjuk dirinya.


"Anak pelayan hamba yang juga merupakan anak angkat ayahanda Lawu menyaksikan kejadian mengerikan itu. Dia juga membawa robekan baju dan patahan tombak yang hanya dimiliki oleh para ksatria Wengker." terang Parikesit meyakinkan orang-orang.


"Ini fitnah! Yang Mulia Ratu mohon jangan dengarkan orang tidak jelas ini."


Ratu menatap Parikesit dan Mahanta bergantian menimbang di antara mereka yang berbohong. "Bawa masuk anak itu." perintah ratu ingin mendengar kesaksian dari pihak Parikesit.


Semua orang mengalihkan pandangannya pada seseorang yang memasuki ruangan. Nampak seorang gadis berpakaian serba putih dan di tangannya ia memegang nampan yang ditutupi kain merah.


•••BERSAMBUNG•••


© Al-Fa4 | 08 Agustus 2021


 

__ADS_1


 


__ADS_2