![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Di antara keramaian, Idaline hampir menangis karena menahan tawa melihat gamparan yang dikenakan Hayan.
Gamparan merah muda buatannya terpasang di kaki sang Maharaja.
Gamparan merah muda itu bertaburkan pernak-pernik love, bintang, dan segitiga di pinggirannya, persis seperti sendal anak-anak.
Tetapi kelak gamparan tersebut akan dipakai terus setiap harinya saat Hayan bertugas.
"Bodoh. Itu kan buat di rumah, kenapa jadi gamparan resmi?" Idaline menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran tentang gamparan.
Hayan berbalik ke arah orang-orang yang hadir lalu maju selangkah. Hayan mengangkat kedua tangannya menunjukkan lencana dan tombak kepemimpinan.
"Hidup Maharaja!"
"Hidup Maharaja!"
Suara teriakan penuh semangat terhenti saat Hayan menempelkan tombak ke tanah. "Aku akan menyatukan kepulauan-kepulauan menjadi satu di bawah satu kepemimpinan dan akan terus memperjuangkannya hingga akhir hayat," pidatonya singkat.
"Hidup Maharaja!"
Hayan berjalan naik ke singgasana lalu duduk menyaksikan upacara yang belum selesai.
Kripala mengangkat tangannya menyuruh tamu-tamu diam dan memulai lagi acara pemberian gelar.
"Yang Mulia Ibu Suri selalu membuat keputusan dan kebijakan dengan memikirkan kepentingan rakyat, Maharaja memberikan gelar Tribhuwana Tunggadewi karena kebijaksanaan beliau. Ayah sang raja, Bhre Tumapel, telah membantu ratu Tribhuwana Tunggadewi melakukan banyak hal untuk Bhumi Maja, Maharaja memberikan gelar Kertawardhana." Kripala membacakan kertas bersegel Bhumi Maja di tangannya.
Mantan ratu yaitu Gitarja yang kini menjadi Ibu Suri dan suaminya yaitu Dhara menerima lencana lalu duduk satu tingkat di bawah singgasana Hayan.
Netarja, Indudewi, dan Sudewi maju bersimpuh di depan Kripala. Adik rakryan demung itu mengambil gulungan pertama di atas nampan yang dibawa dayang, orang-orang bersujud mendengarkan titah pertama Maharaja.
"Tuan Puteri Paramarta mendapatkan gelar Rajasaduhiteswari sebagai adik kandung Yang Mulia Maharaja. Yang Mulia Maharaja memberikan Pejeng sebagai hadiah, bersamaan dengannya, satu juta koin emas, seribu ton benih sayur, seribu ton bibit bunga, seribu ton benih ikan, seribu gulung kain, dan seribu prajurit. Tiga ratus sepuluh kuda dan empat gajah diberikan sebagai kendaraan. Mana Catra sebagai salah satu lulusan terbaik dan sudah membuktikan dirinya sebagai Yuwamentri I Sirikan, diberi tugas membantu Bhre Pejeng. Dengan ini diharapkan Pejeng mendapatkan permulaan yang baru." Kripala menggulung kertas perintah lalu mengikatnya.
"Yang Mulia Maharaja memberikan seperangkat Gamelan Kulem pada Rajasaduhiteswari." Kripala menyerahkan gulungan kertas itu pada Netarja.
"Semoga kemakmuran selalu dalam bhumi kita." Netarja menerima gulungan lalu menaruhnya ke depan dada.
"Sebagai adik sepupu Yang Mulia Maharaja, Raden Ajeng Falguni mendapatkan gelar Rajasaduhirendudewi. Yang Mulia Maharaja memberikan Lasem sebagai hadiah, bersamaan dengannya, satu juta koin emas dan tujuh ribu ton benih tanaman. Dua ratus tujuh puluh kuda dan satu gajah diberikan sebagai kendaraan. Eko Sapta akan membantu Bhre Lasem. Dengan ini diharapkan Lasem mendapatkan permulaan yang baru." Kripala menggulung kertas perintah.
"Yang Mulia Maharaja memberikan seratus gulung kain pada Rajasaduhirendudewi." Kripala menyerahkan gulungan kertas itu pada Indudewi.
"Semoga kemakmuran selalu dalam bhumi kita," Indudewi menerima gulungan yang diletakkan Kripala ke tangannya yang menengadah.
"Sebagai adik sepupu Yang Mulia Maharaja, Raden Ajeng Ganeeta mendapatkan gelar Rajasaduhirendudewi. Yang Mulia Maharaja memberikan Wirabhumi sebagai hadiah, bersamaan dengannya, satu juta koin emas, empat ribu benih tanaman, seribu ton bahan makanan, dan empat ratus gulung jarik. Dua ratus tujuh puluh kuda dan satu gajah diberikan sebagai kendaraan. Topa Pandya akan membantu Bhre Wirabhumi. Dengan ini diharapkan Wirabhumi mendapatkan permulaan yang baru." Kripala menggulung kertas perintah.
"Yang Mulia Maharaja memberikan seratus gulung kain pada Rajasaduhirendudewi." Kripala menyerahkan gulungan kertas itu pada Sudewi.
"Semoga kemakmuran selalu dalam bhumi kita," ucap Sudewi.
__ADS_1
"Selanjutnya adalah pertunjukan. Orang pertama yang akan tampil adalah Nona Widya Sipta. Nona Widya Sipta akan membawakan tari taledhek."
Netarja, Indudewi, dan Sudewi, juga semua orang bangun lalu menuju tempat duduk masing-masing. Idaline berdiri menunggu ketiga gadis itu mendekat ke arahnya lalu duduk bersebelahan.
"Siapa orang itu? Berdiri tanpa takut dan tidak menghargai acara ini dengan tidak memakai perhiasan satu pun," bisik seorang wanita berselendang hijau.
"Nona Visya Adhyasta, kecilkan suaramu atau semua orang akan mendengar," omel perempuan berselendang biru.
Visya memerah menyadari orang di sekitarnya menatap ke arah mereka. "Nona Triya Wistara sangat tahu banyak," geramnya.
"Mungkin nona Visya yang sudah pikun. Raden Ajeng ada tiga orang," balas Triya.
"Oh yang sudah lama tidak muncul?"
"Aku tidak pernah melihatnya,"
"Kalian dengar kalau dia adalah rakyat jelata yang dapat belas kasih Yang Mulia Ratu?" pancing manusia yang pernah membuat Idaline kesusahan, Awah Catra.
"Yang Mulia Ratu sudah tidak muncul lagi di pergaulan, sekarang baru muncul?"
"Mungkin dia pikir dirinya adalah bangsawan. Xixixi,"
"Nona Awah Catra," panggil Triya.
"Ya?" sahut Awah.
"Saya juga menganggap dia berpikir terlalu jauh. Mungkin dia tidak diajari tata krama makanya berdiri dengan tampang bodoh." Triya tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Yang Mulia Maharaja sangat menyayangi adindanya," bisik seorang gadis berselendang kuning di belakang mereka.
"Apa kamu bercanda? Bukannya Pejeng jauh? Harus menyeberangi laut?" ucap Visya.
"Benar. Pejeng baru ditaklukan empat bulan yang lalu," Awah mengangguk.
"Pejeng sudah dibenahi Yang Mulia Maharaja setelah Tuan Mahapatih menaklukkannya. Kerajaan yang sudah melalui rebutan antar pangeran selama lima tahun, akhirnya tenang dan kembali menjadi tanah seni. Semuanya sangat indah dan orang-orangnya pandai dalam seni. Kerajaan kita jauh lebih unggul namun sekarang terfokus pada penaklukan-penaklukan jadi tidak berkembang," jelas Triya.
"Bagaimana dengan Wirabhumi? Kudengar para prajurit banyak dikirim ke sana."
"Di sana baru saja terjadi bencana gempa dan longsor."
Idaline menelan makanannya dengan kasar. Meski Widya lebih lentur dalam bela diri daripada dirinya sebagai Udelia, namun gadis yang dua puluh cm lebih tinggi darinya itu sangat kaku dalam menari. "Terima kasih." Idaline menerima air dari Indudewi.
"Saya dengar Widya Sipta ini sangat bagus dalam kesenian," ucap Netarja menatap Idaline.
"Saya menantikannya." Idaline menutup mulutnya menahan tawa. Ia sudah membayangkan kakunya gadis itu dalam menari.
Tetapi kemudian mata Idaline melebar, mulutnya yang tertutup membentuk huruf o terkejut melihat tarian lembut Widya. Wanita kasar itu sudah berubah menjadi gadis lembut.
__ADS_1
"Saya sudah bilang kan?" kata Netarja membuyarkan fokus Idaline. "Bagaimana kalau Anda juga menari?" bujuknya.
"Rajasaduhiteswari! Murid Petapa Agung tidak bisa melakukannya. Anda jangan mengucapkan sesuatu diluar batas," tegur Sudewi.
"Saya kan hanya bertanya." Netarja memandang malas Sudewi.
"Tetapi tidak terdengar seperti itu."
"Kalian akan tampil?" tanya Idaline melerai dua manusia yang mulai tampak urat-uratnya.
"Daftarnya sudah penuh. Sampai camilan sore pun belum tentu selesai. Semua putri bangsawan tinggi dan menengah tampil menari, bermain alat musik, dan berpuisi. Bangsawan rendah juga sudah mendaftar, entah masih tersisa waktu tidak," terang Indudewi. Ingin sekali dirinya tampil sebelum waktu-waktu sibuk menanti, tetapi takdir berkata lain.
"Ya ampun panjang sekali. Apa tidak bisa berkelompok saja?" keluh Sudewi.
"Kamu bodoh ya? Mereka ingin dilihat kakanda," balas Netarja.
Idaline jadi bersimpati pada Widya yang pasti dipaksa ayahnya untuk tampil. Idaline tahu sahabatnya itu paling malas melenggak-lenggokkan badannya karena katanya geli seperti cacing kepanasan.
"Untung saja tubuhnya terbiasa. Latihan sebentar sudah kembali ahli. Padahal selama ini bermain-main dengan selir kesayangan ayahnya dan putri-putri yang licik." Idaline memperhatikan Widya yang keluar menyudahi tariannya.
"Mbakyu, padahal Anda dan kakanda sangat cocok dan saling melengkapi," lempar Sudewi. Netarja melunakkan urat-uratnya dan memperhatikan Idaline bersama Sudewi.
"Oh aku belum memberitahu ya?" Idaline tersenyum menggoyangkan gelasnya. "Aku akan menikah dengan mahapatih,"
"APA?!" teriak Netarja menghentikan para pemusik dan penari. "Maafkan saya berdiskusi terlalu kencang. Silakan lanjutkan."
"Kalian kuundang. Tapi hanya pesta kecil-kecilan," lanjut Idaline tersenyum canggung pada ketiga gadis yang memandangnya penuh rasa ingin tahu.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 02 September 2021
Makasih guys atas dukungan like, komen, vote, dan hadiahnya
Baca terus ya agar author selalu semangat
Sheat selalu semuanyaaa
Love, Al-Fa4
Today In History :
03 September 1621 M
Dimulainya Perang Khyton
Khilafah Utsmani
__ADS_1
vs
Pasukan Polandia-Lithuania