![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Author up kalo tiga bab terakhir udah tembus 250 like yaa
...
Idaline terus berusaha mengejar kuda Indra yang hilang di belokan, ia berniat meluruskan janji yang tidak serius ia lakoni. Karena fokus berlari, Idaline tidak memperhatikan keadaan sekitar, ia menabrak seseorang yang melintas di persimpangan jalan. Tubuh Idaline limbung namun Idaline dapat dengan cepat kembali berdiri tegak di atas kedua kakinya.
"Nona Idaline? Benar ini Nona Idaline 'kan?"
Seorang pria yang memakai selendang merah di pinggangnya, seseorang yang tadi ditabrak Idaline kini berdiri menjulang di hadapan Idaline. Hanya tersisa jarak lima langkah di antara mereka. Keduanya saling menilai satu sama lain.
"Sirang??"
Idaline agaknya tidak akan mengenali Sirang jika saja Sirang tidak mengenakan koin tembaga sebagai kalung, koin yang Idaline berikan dengan tangannya sendiri.
Sebuah lempengan bulat tembaga yang berubah dari sisik hitam ular dengan corak yang sangat khas. Zaman ini plagiarisme masih belum marak dilakukan, apalagi pola rumit yang terbentuk dari kekuatan sang ular tidak akan mudah ditiru.
Idaline sempat tidak mengenali Sirang karena perubahan Sirang sangat jauh berbeda. Sirang sudah menguasai penguasaan mental dan menjadi induk ular raksasa yang menempati bukit Jana.
Penampilan Sirang tidak sesuram dahulu. Karena bertapa di dalam gua, kulit Sirang lebih bersinar dan pakaian bersih tanpa noda menambah nilai plus penampilan pria tersebut.
"Ya, nona. Saya sudah mampu mengendalikan ular itu! Saya sangat berhutang pada Anda." Sirang menunjukkan bukti induk di lengan atasnya, mirip seperti tato ular dengan corak belang berwarna hitam dan putih. "Sekarang saya menjadi ksatria keraton," tambah Sirang.
Idaline tersenyum kecil. "Itu karena kamu mempelajarinya dengan serius," lemparnya. "Tunggu, ini kan ular weling? Bukannya dia warnanya hitam semua?" tanya Idaline setelah memperhatikan lebih dekat.
"Iya, nona. Dia menutupi warna putihnya agar lawan lengah," jawab Sirang.
Idaline mengangguk mengerti. Kebanyakan manusia maupun hewan atau makhluk lain membagi-bagi kelompok lawannya dan mereka akan meremehkan kelompok yang lemah, padahal yang terlihat lemah bisa jadi paling mematikan.
"Hmm..anu nona, nona berkenan menerima ajakan saya wedangan bareng?" tawar Sirang ragu-ragu. Perempuan itu berada di sini mungkin sedang bekerja, seharusnya jangan diganggu 'kan?
"Jangan terlalu formal. Ayo, tempatku di dekat sini." Idaline mengajak Sirang duduk di halaman Kedaton Sedap Malam.
"Eh? Sekarang??" gumam Sirang berjalan di belakang Idaline.
"Selamat sudah menjadi ksatria keraton. Kamu memang berhak. Seratus tiga puluh dua anak dan remaja selamat berkat kamu. Sebenarnya aku merasa kamu masih berhak mendapat beberapa hal lainnya," kata Idaline setelah mengintruksikan pelayan untuk menyiapkan camilan.
Idaline mengenang anak-anak yang selamat di Watek Kabalan, semua itu berkat campur tangan Sirang yang muncul atas rekomendasi Kepala Desa Janapada. Melalui berbagai jenis racun di lidah ular weling raksasa, Sirang dapat mengelabui kelompok penculik dan membawa anak-anak pulang dengan selamat.
Idaline tidak sempat berjumpa dengan Sirang karena Sirang telah ditempatkan di medan perang ketika Idaline bangkit dari kematian.
Candra yang semula termangu di dalam ruangan karena kedatangan dan kepergian Indra yang mendadak, kembali tersadar sebab langkah para dayang terdengar keras. Candra mengikuti mereka ke tempat Idaline berada.
Sirang mengerutkan dahinya berusaha mengingat orang yang duduk di sebelah Idaline. Rasanya orang itu sangat sering ia lihat di medan perang. Mengabaikan pikirannya, Sirang kembali fokus pada Idaline.
"Itu semua karena kerja sama tim sangat bagus. Semua ikut terlibat," ucap Sirang mengingat tim dadakan yang terbentuk tanpa rencana. Semuanya kompak karena tujuan mereka sama, yaitu menyelamatkan anak-anak yang diculik dari desa mereka.
Orang-orang itu tidak bisa diam menunggu. Mereka lebih nyaman turun langsung dan berusaha sekuat tenaga meski tahu taruhannya adalah nyawa.
"Tetap saja kamu yang maju mempertaruhkan nyawa dalam mengumpulkan informasi dan menyusup ke markas musuh. Tanpamu akan sulit menyelamatkan anak-anak, semua orang berpikir para penculik itu adalah setan yang sulit ditangkap."
"Kalau ingin berbicara yang pantas. Andalah yang pantas menerima semua itu. Saya hanyalah pemuda biasa jika Anda tidak mendorong saya untuk menjadi lebih kuat." Sirang tersenyum simpul mengingat Idaline menyuruhnya berlatih keras ketika Idaline mengunjungi Janapada.
"Jangan terlalu merendah.." Idaline balas tersenyum.
"Nona.. sebenarnya ada yang ingin saya katakan." Sirang berkata dengan ragu.
__ADS_1
"Silakan."
"Saya menyukai nona.."
Sirang memperhatikan raut wajah Idaline yang terkejut. Perempuan itu mengira Sirang dan Gecko adalah sepasang kekasih. "..maukah nona menikah dengan saya?" imbuh Sirang.
"Saya sudah menyukai nona sejak bertahun-tahun lalu. Maafkan kekurangajaran saya yang mencintai nona tanpa tahu status. Tetapi saya benar-benar senang dan ingin selalu bersama nona. Maukah nona menjadi pasangan saya? Saya akan berusaha keras memberikan yang terbaik untuk nona," papar Sirang.
Senyum kecil terbit di bibir Idaline. "Maaf waktu itu tidak mengundangmu dengan benar."
"Maksud nona?"
Idaline tidak menjawab melainkan menyingkirkan rambut yang menutupi dahinya.
Sirang bukanlah orang bodoh. Ia paham arti tanda di dahi Idaline. "Maafkan saya sudah begitu lancang."
Sirang kemudian teringat kala bibi Sri membantu sebuah pernikahan di keraton tepatnya di salah satu kedaton atau tempatnya kini berpijak. Ia kira kebun Idaline mendapat pesanan untuk pernikahan tersebut. Ternyata pemiliknya lah yang menikah.
Sirang mengetahui Idaline adalah Raden Ajeng baru di saat ini, saat mereka berjumpa setelah bertahun-tahun tidak bertemu.
Perempuan itu begitu mudah menyuruh dayang-dayang dan dayang-dayang menaruh hormat yang besar pada Idaline, maka tidak ada jawaban lain selain Idaline adalah pemilik Kedaton Sedap Malam, yaitu seorang Raden Ajeng tepatnya Raden Ajeng Paramudita. Sirang merasa dirinya sangat lancang.
Semua orang yang tahu menutup rapat tentang identitas asli ketiga Raden Ajeng yang merupakan anak angkat ratu. Sirang merasa amat kecil mengingat pujian orang-orang terhadap tiga Raden Ajeng yang memiliki bakat berbeda-beda.
"Sirang.." panggil Idaline terdengar merdu di telinga Sirang.
"Ya?" sahut Sirang masih linglung. Idaline tidak menegaskan dirinya adalah Raden Ajeng tetapi Sirang bukanlah orang bodoh dan Sirang masih mencoba membuka matanya bahwa nona manis itu bukan hanya satu tingkat di atasnya, perempuan itu berada di langit yang tinggi.
"Tidak ada yang salah dalam menyukai dan mencintai seseorang. Asal kamu jangan serakah atasnya. Membahagiakannya tidak harus kamu. Kamu jangan salah artikan cinta yang suci dengan sesuatu yang kotor. Jangan dengarkan bisikan setan."
"Saya mengerti.. Kalau begitu, bolehkah saya berteman dengan nona?"
"Tentu."
"Terima kasih banyak nona." Sirang menerbitkan senyum yang terlihat sekali dipaksakan. "Saya permisi."
Idaline menghapus senyum dari wajahnya. Ia memandang lurus ke depan tak sadar alisnya telah bertautan dan giginya saling bergemeretak.
Candra yang berada di sebelah kanan Idaline tidak berani membuka mulut. Selama ini ia belum pernah mendapati Idaline berwajah masam, wanita itu benar-benar dalam keadaan marah.
"Yang Mulia, ada titah dari Yang Mulia Maharaja."
"Candra, sepertinya kamu harus pulang," ucap Idaline melihat gulungan kertas bersegel.
Meraih kertas emas di nampan, Idaline lantas masuk ke dalam kamar. Matanya menjurus menatap kaca buram yang terletak di atas meja rias. "Semuanya menyukai diri ini karena kecantikannya. Huh, apa kalian akan melihatku bila aku yang asli berada di sini?"
Idaline mengepalkan tangannya. Ia tidak merasa senang menerima pernyataan cinta dari orang lain. Karena baginya, orang-orang itu hanya melihat dari luarnya. Mungkin termasuk mantan suaminya atau seorang pria yang sekarang masih menjadi suaminya.
••••••••••••••••••••
"Yang Mulia, hamba mengerti semua keputusan Anda untuk kebaikan Bhumi Maja. Namun untuk menikahi Raden Ajeng, bukankah ini sudah melewati batas? Mahapatih pasti tidak akan diam saja," nasehat Huna.
"Kita semua tahu beliau memiliki dayang dan pelayan sekuat rangga. Dan nona Widya Sipta tidak menolak titah, bahkan mempertanyakannya dengan berani di sidang pergantian para menteri kemarin," tambah Huna.
Hayan terus menggerakan kuasnya mendengar semua ucapan Huna. Ia diam beberapa saat sebelum menjawab. "Mahapatih tidak akan sembarangan. Benar kan, tuan?" Hayan menatap Djahan yang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Maharaja selalu bijak," balas Djahan masuk dan berdiri di depan meja kerja Hayan. "Orang-orang sekuat rangga itu akan saya kirimkan ke istana untuk menggantikan keberadaan Idaline." Djahan berharap tidak perlu ada keributan.
"Tuan Mahapatih, Anda serius?" Huna menutup mulutnya yang lancang berkomentar. "Maafkan hamba. Hamba permisi," pamitnya keluar sebelum mulutnya tidak bisa lagi digunakan.
"Saya tidak membutuhkan pasukan tambahan," tolak Hayan.
"Anda yakin tidak mau menerima tawaran ini?" geram Djahan.
Hayan menghentikan gerakan kuasnya. Ia letakkan ke tempatnya lalu mendongak menatap Djahan. "Kita tidak boleh memaksakan kehendak. Bagaimana kalau Anda menanyakan pendapat calon istriku?" Hayan tersenyum menunjuk pintu masuk dengan seluruh jarinya.
"Mahapatih, kita sudahi ini. Saya memutuskannya dengan sadar dan dengan pertimbangan. Mohon hargai kehendak saya." Idaline memakai baju resmi Raden Ajeng yang belum pernah dilihat Djahan.
Idaline mengepalkan tangannya menahan emosi yang membuncah. Meski suaminya kemungkinan hanya melihat rupa Idaline, ia tetap merasa nyaman berada di sisi Djahan. Pria itu sangat mengerti dirinya.
"Idaline.." Tangan Djahan hendak menyentuh pundak Idaline namun terhempas kasar oleh tangan mungil yang dalam beberapa hari terakhir sering menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan mesra.
"Mohon Mahapatih tahu posisinya. Jika Anda sudah mengerti, berpikirlah dengan bijak." Idaline menatap dingin Djahan.
Djahan membalasnya dengan senyuman hangat. "Mau kamu jadi Maharani atau apa pun, aku tidak akan menceraikanmu," tuturnya tegas.
"Djahan, dinginkan kepalamu."
"Mahapatih, pekerjaan kita banyak. Silakan kembali ke ruanganmu," perintah Hayan sebelum sang calon kembali ragu.
"Maharaja, pikirkan dengan baik." Djahan menatap Hayan singkat sebelum meninggalkan Bale' Ndamel.
"Tolong jangan bertindak sembarangan atau aku tidak akan mau melihatmu lagi," lirih Idaline. "Jadilah mahapatih bijak sama seperti hari-hari kemarin," tambah Idaline menatap punggung Djahan yang terhenti di sampingnya, mendengar setiap kata yang meluncur keluar dari mulutnya.
Djahan menatap sendu Idaline, gadis itu melengos lalu mendekat pada Hayan. Djahan kembali melangkah dengan perasaan bercampur aduk.
"Kalau panggilan Anda adalah karena hal ini, saya pamit pergi. Selanjutnya tidak usah melakukannya, saya yang akan menjelaskan dengan benar." Idaline langsung melenggang pergi. Hati-hati ia berjalan di belakang Djahan dengan jarak yang lumayan jauh. Namun kemudian Idaline memutuskan menaiki tandu kembali ke Kedaton Sedap Malam.
"Sabarlah jangan gegabah!" harap Idaline.
Hayan memandang pilu Idaline. Ia menangkup wajah lalu mengusapnya dengan kasar.
"Dahulu kamu melihatku dengan yang lain saja tidak sesakit itu. Apa kamu benar-benar mencintai mahapatih?" gumam Hayan.
Hayan menyandarkan punggungnya ke kursi, ia letakkan lengannya ke atas mata dan tampak air mengalir di kedua pipinya.
"Mungkin ini balasan untukku karena perbuatanku.."
"..dan ucapanku sendiri."
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 20 September 2021
Terima kasih banyak atas dukungannya semua
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen agar author semangat
Sehat selalu semuanya
Love, Al-Fa4
__ADS_1