![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Seluruh tubuh Idaline merinding saat tangannya menyentuh sungai dingin yang mengalir dari puncak Sela Wukir.
"Di sini dingin," ucap Hayan menyelimuti punggung Idaline dengan kain tambahan. Dia tertawa kecil melihat tumpukan kain itu seperti melahap Idaline sampai tidak terlihat wujudnya.
"Hayan, kemari bersihkan dirimu." Idaline mengeluarkan satu tangannya menyuruh Hayan mendekat. Dia tidak bisa menyingkirkan tumpukan kain di tubuhnya karena udara Sela Wukir benar-benar sangat dingin.
Apalagi mereka ada di puncak dan Idaline bisa melihat bongkahan es terbawa arus sungai yang sedikit deras.
"Pria ini pasti menyia-nyiakan kekuatan lagi untuk menahan debit air yang turun di sungai ini," ucap Idaline dalam hati menatap jengkel Hayan.
Semua hal itu mesti dipakai seperlunya saja!
"Maharaniku, ada kolam belerang di dekat perbatasan akademik, ingin mandi di sana?" ajak Hayan.
Membersihkan diri di sungai yang berada di puncak Sela Wukir adalah cara terbaik untuk membersihkan diri dari kutukan keris mpu gandring dan menghilangkan luka sampai bekasnya pun tidak akan terlihat.
Namun udara di sekitar sungai sangat dingin dan airnya pun demikian, tidak mungkin masuk ke dalam sana saat kondisi Idaline tidak sepenuhnya baik.
Beberapa hal lain juga dapat dilakukan seperti minum penawar yang pernah diteliti oleh Raden Wijaya atau Raja Wijaya.
Saat masa Raden Wijaya, dia tidak bisa menemukan wukir sarawedi atau gunung rahasia karena keadaan yang masih kacau balau.
Akhirnya Raden Wijaya berinisiatif membuat penawar dari kutukan keris mpu gandring agar kelak berguna bagi keturunannya.
Dengan meminum penawar ini seseorang yang terkena tusukan keris Mpu Gandring dapat menahan kutukan itu agar tidak terjadi tapi membutuhkan waktu untuk sembuh dari luka.
Kolam belerang yang ditemukan Hayan belum lama ini memiliki kandungan yang baik lebih dari sungai puncak Sela Wukir.
Tempat ini ingin dia lupakan karena keberadaan energi besar yang dapat menjadi bencana jika digunakan oleh orang yang salah dan bisa saja menimbulkan pertikaian suatu saat nanti.
Akan tetapi keselamatan istrinya jauh lebih penting daripada perang perebutan yang belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
"Ayoo!" seru Idaline senang. Akhirnya ada tempat hangat baginya di gunung yang dingin ini.
Hayan menunduk memasukkan tangannya ke belakang lutut dan ke punggung Idaline.
"Hayan, aku bisa jalan."
"Jalannya menurun," ucap Hayan sambil menegakkan tubuhnya.
Idaline mengalungkan tangannya di leher Hayan kemudian dia menelusupkan tangannya ke dada bidang Hayan.
Wajahnya merenggut menyadari kecurigaannya benar, pria ini terlalu sehat untuk seseorang yang terkena kutukan mpu gandring!
"Maharaja, kamu sudah sembuh," tutur Idaline merenggut kesal.
Jika Hayan sudah sembuh seharusnya mereka tidak usah kemari!
Membuat Idaline kedinginan saja!
"Jangan menggunakan kekautan di saat tidak perlu, sayangku."
Hayan menggigit gemas hidung Idaline.
Perempuannya ini bisa-bisanya memakai kekuatan di saat lemah.
Dia mempercepat langkahnya agar bisa cepat-cepat menurunkan Idaline.
Idaline menarik tangannya dan mengusap hidungnya lalu kembali mengalungkan tangannya ke leher Hayan.
"Kalau sudah sembuh, kita tidak perlu kemari," sungut Idaline.
"Maharaniku dan bayi kita belum pulih," balas Hayan.
"Aku bisa menyembuhkan diri di keraton."
"Maharani sendiri yang bilang air di sini bisa menghilangkan kutukannya."
__ADS_1
Idaline diam tidak bisa membantah.
Dia kemudian memperhatikan wajah Hayan yang ceria.
Tidak apa-apa kan dia bertanya beberapa hal?
"Mengenai penyusup itu.. apa boleh aku bertemu dengannya?"
Idaline yakin penyusup itu adalah orang modern sebab penyusup itu jantungnya tidak hancur ketika menembus pertahanan Keraton Capuri.
Hayan tidak menjawab Idaline. Idalin epun sudah mengetahui jawabannya.
Idaline hanya berharap saat pria itu bangkit, pria itu bisa memilih jalan terbaik.
Seharusnya orang modern yang datang sadar bahwa ini adalah dunia yang nyata bukan sekedar tulisan dalam buku sejarah.
Jika sampai salah arah dia akan menjadi antagonis dalam sejarah.
"Sudah sampai!"
"Hayan, tentang penyusup itu.." lontar Idaline sekali lagi saat diturunkan Hayan ke atas kursi rotan.
"Sudah aku bereskan. Detailnya sedang diselidiki. Maharaniku tidak perlu memikirkannya. Kesembuhanmu dan bayi kita jauh lebih penting," jawab Hayan dengan berat hati.
Jika dia tidak menjawabnya bisa saja Idaline mencari jawaban dari orang lain dan ini merupakan hal yang tidak menyenangkan.
Hayan memastikan sendiri penyusup itu telah mati, bagaimana bisa berbicara dengan Idaline?
"Aku periksa airnya dulu." Hayan melesat pergi tidak ingin lagi mendengar pembicaraan tentang si penyusup.
Idaline menatap akademik yang terlihat di balik kabut dari tempat duduknya. Ia jadi merasa kasihan pada dayang yang menginap di sana harus bolak-balik membawa makanan dan barang lain yang dibutuhkan.
"Suhu airnya sudah pas." Hayan menuntun Idaline ke dalam kolam. "Tenang saja mereka tidak akan melihat kita," ucapnya pada Idaline yang terus menatap akademik.
"Hayan, bagaimana kehidupanmu di akademik?" tanya Idaline tiba-tiba.
Apalagi drama ngambek dan kabur yang dilakukan Hayan membuat mereka kadang canggung jika berduaan saja tanpa pekerjaan.
"Aku belajar dengan giat."
"Guru-gurumu mengajar dengan baik?"
"Bukan guru-guru tapi guru." Hayan mengedipkan matanya. Dia sedang melepaskan perhiasannya yang mengganggu. Karena kemarin terlalu khawatir, Hayan tidak memperhatikan keadaan dirinya.
"Jangan memujiku terus!"
"Kenapa?" Hayan memegang pipi Idaline. "Guru memang cerdas, Maharaniku sangat cantik dan harum." Ia mencium rambut Idaline. Mata Hayan melebar merasakan bibir lembut di tengkuknya.
"Di masa ibu suri, ibu suri mulai merekrut rakyat jelata untuk masuk ke akademik.." Idaline menghindari tangan Hayan yang berusaha menangkap kepalanya dan ingin balas menciumnya.
"Iya?"
"Berarti kamu berjumpa banyak orang, kenapa sangat terobsesi padaku?" Idaline menatap mata Hayan. Jika Hayan mencintainya tidak mungkin Hayan begitu kejam saat cemburu.
Bagaimana bisa seseorang yang begitu mencintai marah sampai berbulan-bulan lamanya?
Faktor bayi?
Tetap saja hal ini begitu menyiksa baginya, sedang bagi Hayan tidak terlihat menyiksa.
Idaline berkali-kali menyadari besarnya cinta yang dimiliki Hayan. Tapi begitu Idaline baru saja merasakan kenyamanan, Hayan malah menjauhinya.
Pria itu terlihat sangat berhati-hati dengannya seperti takut melakukan kesalahan. Dan sadari atau tidak oleh Hayan, Hayan justru melakukan kesalahan besar.
Meninggalkan istri yang hamil besar dan tidak mengajaknya berbicara, Hayan bilang untuk melindungi Idaline?
Idaline justru melihat Hayan telah memenuhi keinginannya menikahi Idaline dan tidak lagi membutuhkan Idaline.
__ADS_1
"Aku hanya mau Maharaniku," kata Hayan jujur.
Hayan menyadari kesalahannya mengabaikan Idaline.
Tapi dia tidak bisa menahan diri untuk berdiam diri ketika melihat Idaline dekat dengan pria lain.
Jika saja Hayan bertindak, dia takut mengekang Idaline dan akhirnya Idaline sendiri kabur dari dirinya.
Hayan sudah berusaha semaksimal mungkin dalam satu bulan ini untuk memperbaiki dirinya dan terus berada di sisi istrinya yang sedang hamil besar.
Namun ternyata pekerjaannya kali ini benar-benar menumpuk ditambah ritual tingkeban yang begitu mewah dari segala peralatan yang sakral, air yang juga sakral, dan makanan berkualitas tinggi membuat Hayan semakin sibuk.
Hayan jadi menyesal sudah menyia-nyiakan waktu luangnya dengan menghindari Idaline.
"Hayan, bukalah matamu."
"Aku sudah membuka dengan sangat lebar."
"Hayan.."
"Hust.." Hayan menutup mulut Idaline dengan telunjuknya. "Maharaniku tidak perlu khawatir, aku akan terus bersamamu, aku akan selalu berada di sisimu." Ia turun ke dalam kolam.
"Aku pastikan menemuimu sejauh apa pun kamu berlari," ucap Hayan menatap mata Idaline.
"Kalau begitu, apa kamu bisa berjanji tidak akan mendua?" tanya Idaline balas menatapnya.
"..iya."
"Kamu ragu."
Hayan ragu sebab Sapta Prabu pasti melakukan berbagai upaya agar dapat menempatkan seseorang yang dapat mereka kendalikan.
Idaline terlalu tinggi untuk mereka jangkau. Bahkan tanpa disuruh, sebagian besar anggota Sapta Prabu akan bersimpuh ketika memberi salam pada Idaline.
"Maharaniku boleh melakukan apa pun jika aku melanggarnya."
Idaline memutar malas kedua bola matanya. Hayan ini seperti sedang berniat untuk mendua! "Ucapanmu sangat basi."
"Dengan nyawaku, kamu boleh melakukan apa pun pada si wanita semisal aku mendua." Hayan menggosok punggung Idaline.
"Apa pun," tegas Hayan.
"Selamanya aku hanya mencintaimu, Maharaniku." Hayan mendekatkan wajahnya untuk membaca langsung ekspresi dari dalam mata Idaline. "Kalau Maharaniku? Apa kamu mencintaiku?"
Mata Idaline bergerak tak nyaman mendengar pertanyaan Hayan.
Dia sendiri tidak tahu apakah dirinya mencintai Hayan atau tidak.
Sangat egois. Dia memaksa Hayan untuk memperlihatkan cintanya tapi dia sendiri entah mencintai Hayan atau tidak.
Yang jelas, keinginan untuk bersama Djahan masih tersimpan rapih di hatinya.
"Aku senang bersamamu," jawab Idaline setelah diam beberapa saat.
"Aku akan bekerja keras sampai kamu mencintaiku."
Hayan tidak menyalahkan Idaline yang belum mencintainya dan lebih memikirkan Djahan.
Karena Hayan sendiri yang menyumpahi Idaline dan Djahan sebelum dengan dingin memenggal keduanya dengan tangannya sendiri.
••••••••••••••••••••
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 27 November 2021
__ADS_1