TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
100 - TIDAK MAU TERJADI SESUATU YANG GAWAT


__ADS_3

Gitarja memandang dingin gambar Kamajaya yang masih utuh di cengkir gading itu. Padahal pecahan yang disebabkan Hayan ada di pinggir buah tapi airnya justru menampar wajahnya bukannya jatuh ke bawah sesuai lubang yang dibuat Hayan.


"Pertanda apa ini?" batin Gitarja curiga.


"Yang Mulia Ibu Suri," panggil dayang sekali lagi dengan nada yang rendah. Dia takut melihat eksprei Gitarja saat ini.


"Tidak perlu," tolak Gitarja, ia melepaskan kain gendongan dan pakaiannya tetap kering.


"Yang Mulia Maharani, sekarang adalah saatnya nyamping," ucap Iro mencairkan ketegangan.


Idaline pun dengan pasrah berganti pakaian hingga tujuh kali. Sebenarnya dia ingin beristirahat tapi apalah daya, ritualnya belum selesai.


Kali ini para dayang yang mengganti pakaian Idaline. Idaline sudah mempersiapkan hal ini dengan memakai dalaman putih agar perempuan-perempuan ini tidak melihat tubuhnya langsung.


Tapi semua pakaiannya harus diganti sampai ke dalam-dalamnya dengan kain yang sama.


Idaline rasanya ingin menangis karena malu. Saat kejadian cicak dahulu dia masih tidak sadar sebab terbayang ribuan cicak di gudang. Tapi sekarang Idaline sangat sadar.


Walaupun orang-orang yang mengganti pakaiannya sama dengan hari itu.


"Yah setidaknya sentuhan mereka tidak asing," ucap Idaline dalam hati. Waktu kejadian cicak itu dia mandi dan memakai berbagai jenis perawatan kulit sampai seharian.


Dayang-dayang itu membawa Idaline ke Iro Mihir yang menunggu di depan kamar rias lalu perempuan tua itu membawa Idaline ke depan khalayak.


"Pantes dereng?" tanya Iro.


"Pantes," jawab hadirin setelah enam kali berucap dereng.


Iro menyerahkan Idaline pada Hayan lalu mereka mengiringi Hayan dan Idaline pergi ke halaman tempat para suami dan anak-anak mereka menunggu.


"Ya ampun masih belum selesai," keluh Idaline. Dia tidak terlalu tahu ritual mitoni sebab tidak terpikir untuk hamil dalam waktu dekat apalagi di dunia yang asing ini.


Dia pikir setelah diserahkan pada Hayan, mereka berdua akan pergi ke rumah dan menghabiskan hari dengan tenang.


Nampaknya ritual ini masih berjalan panjang!


Di depan keluarga yang sudah berkumpul, Hayan dan Idaline memotong tumpeng, menyimpan bagian pucuknya lalu membagi sisanya pada para nyonya besar dan Nawang yang sudah membantu.


Sedangkan Gitarja, Dhara, dan tiga bhre memakan tumpeng yang dibuat langsung oleh Hayan dan Idaline meski hanya berupa tumpeng kosong tanpa laukan.


Mereka ingin mendapat berkat katanya.


"Haa. Aku sudah tidak tahu lagi," batin Idaline memperhatikan kelima orang itu. Sebelumnya dia ingin membuat laukannya juga tapi kelimanya menolak dengan tegas takut Idaline kelelahan.


Idaline jadi merasa sedang menelantarkan mereka berlima.


Usai tumpeng yang dipotong Hayan dan Idaline habis, tumpeng-tumpeng lain dikeluarkan dan dihidangkan pada para tamu yang telah menunggu di halaman aula Arjwa.


Hayan dan Idaline menghabiskan pucuk tumpeng bersama.


"Nona, aku akan kembali," pamit Nawang pada Idaline yang duduk sendirian. Di tangannya terdapat selendang merah bercahaya.


Idaline menyimpulkan Nawang datang tidak mengenakan kendaraan. Oleh sebab itu Hayan bisa menebaknya demikian.


"Tidak perlu buru-buru. Di mana Jaka?"


"Dia sedang menjaga anak kami." Nawang berkata tak enak hati. Dia ingin mencari alasan lain tapi dia benar-benar tidak bisa berbohong.


"Anak?" beo Idaline.


"Iya. Aku baru lahiran saat pesanmu datang. Benar-benar curang, aku tidak bisa menghubungi!" sungut Nawang yang tidak tahu alamat tempat tinggal Idaline.

__ADS_1


Dia kan berniat mengundang Idaline ke acara tingkebannya juga dan acara lahirannya!


Raut wajah Idaline berubah mendung. Dia telah memaksa seorang ibu yang baru melahirkan untuk datang ke acaranya!


"Hei. Jangan memasang ekspresi begitu. Aku sudah sehat. Bidadari itu tidak lemah, ya!"


Idaline mengamati tubuh Nawang yang telah pulih dan tidak ada tanda-tanda bekas melahirkan.


Tapi raut muka Idaline tetap mendung. Karena menurut cerita di dalam buku, Nawang akan berpisah dengan suaminya beberapa waktu setelah melahirkan.


Idaline memejamkan matanya lalu membuka matanya dan tersenyum. Dia tidak bisa menghancurkan hati seseorang yang sedang bahagia.


"Kukira bidadari tahu hanya dengan melihat," canda Idaline.


"Kami bukan malaikat!" kata Nawang sengit lalu mereka tertawa.


"Hm. Hm." Idaline menghentikan tawanya sebab orang-orang mulai memperhatikan mereka berdua.


Idaline meraih tangan Nawang dan berekspresi serius. "Aku akan mengirimkan hadiah. Terima kasih sudah datang dan memberi do'a."


"Terima kasih kembali."


Dalam satu kedipan mata, Nawang menghilang dari hadapan mereka.


"Tamumu sudah pulang, Maharani ingin beristirahat?" tanya Hayan mendekat ke tempat duduk Idaline.


Idaline mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru halaman. Dia mencari Sumbi dan keluarganya tapi tampaknya tidak hadir.


Saat pernikahan Idalin edan Hayan, Idaline sempat melihat ayah dari Sumbi tapi dia tidak sempat bertemu Sumbi karena keadaannya kacau.


Padahal Idaline berharap manusia-manusia modern akan kembali ke tempatnya dan semuanya akan berjalan kembali di tempatnya.


"Hamba benar-benar terkejut saat menerima abdi dari istana. Sekali lagi selamat, Yang Mulia." Seorang perempuan bangsawan melemparkan senyuman pada Ibu Suri, mantan Ratu mereka.


Dia dan teman-temannya saat ini sedang berkumpul di dekat Ibu Suri. Mereka ingin mendekati Maharani tapi Maharaja seperti mengisyaratkan untuk tidak mengganggu Maharani.


Jadi mereka hanya bisa berkumpul dengan mantan ratu dan para bhre.


"Anak itu juga baru memberi tahuku tiga bulan yang lalu," ujar Gitarja menyesap tehnya.


Dengan begini orang-orang pasti akan menganggap dirinya tidak lagi penting dan tidak mengganggunya.


"Beliau pasti menjaga Yang Mulia Maharani dengan penuh kasih."


Para perempuan itu saling melirik dan benar sesuai perkiraan Gitarja, mereka berpikir Gitarja telah dibuang. Apalagi berhembus kabar bahwa Gitarja diasingkan ke Sela Wukir.


Yang sebenarnya adalah Gitarja sendiri yang ingin hidup di pegunungan dan bertapa di tempat para pendahulunya dahulu pernah bertapa.


Orang-orang pasti tidak menyangka alasan raja kedua memindahkan ibu kota ke Trowu, selain karena pemberontak adalah karena wukir sarawedi atau gunung rahasia tempat bertapa kakek dan buyut mereka ada di sana, yaitu tidak lain dan tidak bukan adalah Sela Wukir.


Orang-orang tidak akan sampai di pikiran ini karena Jayanagara atau raja kedua Kerajaan Maja dikenal sebagai pemain wanita yang menyerahkan segala urusannya pada anak buahnya.


"Rajasaduhiteswari Bhre Pejeng akan menikah dengan Mana Catra, putra keempat keluarga Catra pada Apit Kayu tahun ini. Aku mengundang kalian semua," ucap Gitarja menunjuk Netarja dengan seluruh jarinya.


Netarja bersemu merah. Dia belum mempersiapkan diri untuk menyampaikan pada orang lain, ibunya malah tiba-tiba berkata di suasana yang ramai.


"Selamat bhre."


"Kami pasti datang."


"Terima kasih. Saya menantikan kedatangan kalian pada pahing kedua bulan Apitkayu."

__ADS_1


Netarja mengundurkan waktu pernikahannya yang semula pada bulan lalu yaitu bulan Kapitu. Ia ingin diberkati Maharani namun kakandanya melarang istrinya bepergian.


Netarja juga tidak bisa membantah demi keselamatan calon keponakannya dan pewaris tahta negerinya.


"Semoga semuanya lancar sampai hari H," kata salah satu orang kemudian yang lain berbondong-bondong memberikan do'a untuk Netarja.


Sementara itu Hayan menuntun Idaline untuk masuk ke kamar mereka. Dengan hati-hati dia menaikkan kaki Idaline ke atas kasur.


Kemudian Hayan melepaskan ronce melati di sanggul Idaline dan mengurai rambut Idaline.


"Lelah?" tanya Hayan memijat kaki Idaline yang terlihat membengkak.


Idaline menggelengkan kepalanya. "Para tamu masih menunggu."


"Biarkan saja. Aku lebih suka bersamamu," kata Hayan sambil membunyikan kuku-kuku Idaline.


Idaline merasa nyaman dengan yang dilakukan Hayan sampai dia hampir jatuh tertidur. Namun Idaline tiba-tiba merasa segar, nyaris saja dia melupakan yang ingin dia sampaikan!


"Hayan, aku ingin mengurus bayi di ruang yang sama."


"Baik, kita akan memodifikasi ruangan ini."


"Dan aku ingin ketika lahir, jangan mandikan bayinya dulu. Biarkan ia di dada telanjangku untuk menyusu pertama kali." Idaline mengelus perutnya sambil menatap gelombang yang muncul di perutnya.


"Baiklah."


"Dan jangan mandikan hingga sehari semalam."


"Maharaniku tau yang terbaik."


Idaline menatap Hayan yang biasanya selalu mementingkan adat dan budaya. Dia tidak menyangka semuanya disanggupi Hayan padahal semua keinginan Idaline bertentangan dengan adat yang berlaku.


"Benar?" tanya Idaline memastikan.


"Sesuai yang Maharaniku mau." Hayan tersenyum hangat.


Idaline meraih tangan Hayan yang sedang memijat kakinya. Pria itu tersentak kala Idaline menggigit jarinya.


"Aku mau kamu." Idaline mengedipkan matanya.


Jika tidak mau pergi, lebih baik menghabiskan waktu dnegan benar!


"Apakah.. boleh?" ucap Hayan ragu.


Selama ini Hayan telah menahan diri namun selama satu bulan belakangan setelah mereka berbaikan Hayan tidak pernah meminta haknya karena Idaline selalu terlihat lelah.


Dia tidak mau terjadi sesuatu yang gawat.


"Hari ini kamu tampan sekali. Aku tidak bisa menahan diri."


Idaline menatapnya dengan tatapan memohon dan Hayan tidak bisa menolaknya.


Suasana di luar adem sebab mendung yang tak nampak akan turun hujan berbanding terbalik dengan suasana di dalam ruangan yang semula sesejuk udara gunung berubah sepanas udara pantai di siang hari.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 23 November 2021


 


 

__ADS_1


__ADS_2