![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Ini desa terakhir sebelum kita berjalan kaki," urai Winarti turun dari kereta. Matanya mengintai mencari pasukan rahasia yang dibawa Idaline.
"Kamu tau tempat obat terbesar di sini 'kan?" yakin gadis yang mengganti kemben dan jariknya dengan kain biasa. Ia tinggalkan barang-barang tak penting di kereta. Garong membekalinya bermacam-macam pakaian dan aksesoris mewah.
"Saya hanya bisa memberikan gambaran sesuai informasi yang saya tahu. Tempat obat di sini terlihat seperti rumah biasa, dikelilingi dua pohon tangguh, menghadap barat," terang Winarti mengingat-ingat.
"Tangguh?" Idaline menaikkan alisnya. "Sepertinya itu deh," jarinya menunjuk rumah yang dihimpit pohon jati. "Sebentar," tahan gadis yang rambutnya digelung itu berlari kecil memasuki toko obat.
"Selamat datang," sambut pelayan toko berselonjor di amben.
"Lima kilo," Idaline meletakkan kertas di meja.
Tanpa bertanya pelayan toko membungkuskan obat tersebut, Idaline pun meletakkan kantong di meja. Koin demi koin jatuh dari kantong, pelayan hitung penuh teliti.
"Terima kasih. Silahkan datang lain kali." tuturnya memasukkan koin, tamunya langsung pergi begitu nilainya pas.
"Anda bangsawan putri pertama yang saya ketahui hanya membawa dua pasang pakaian untuk perjalanan panjang," celetuk Winarti pada Idaline yang sedang memasukkan bingkisan ke dalam tas.
Meski Winarti tidak bekerja sebagai pelacur, ia selalu melayani tamu-tamu wanita yang kebanyakan datang melabrak suaminya yang bergumul. Wanita-wanita itu membawa minimal satu peti pakaian, belum para pelayan berbaris panjang juga para penjaga garang bak ingin perang.
Awalnya dukuh Lege adalah tempat merekrut prajurit bayaran. Seiring berjalannya waktu, ada inisiatif membuka tempat pelepas penat untuk para prajurit. Hasilnya semua makin menjadi.
"Bawaan berat cuma menambah beban.," jelas Idaline menggendong tas di bahu. "Candra ingin membeli sesuatu?" tawarnya sedikit meringis, 5 kg tidaklah ringan.
Candra yang menunduk mengikat kuat tas di pinggang, menegakkan tubuh menghadap Idaline. "Tidak, kak." tolaknya.
"Baiklah. Pak kusir jaga kereta di sini. Kami akan kembali dalam sepuluh hari. Jika lebih dari itu, pulanglah."
"Tapi nona, saya harus menjaga Anda," bantah kusir mengingat pesan Garong.
"Bapak di sini saja. Nanti laporkan ke paman jika aku belum kembali. Ingat, tugas bapak adalah melaporkan. Jadi kami bergantung pada bapak,"
"Kalau nona berbicara seperti itu, saya akan melakukan sesuai perintah nona," pasrah kusir. Garong adalah orang baik namun amat tegas terutama jika ada kelalaian. "Tamatlah sudah. Setelah ini aku harus mencari kerja," keluhnya memperhatikan anak-anak masuk ke hutan.
••••••••••••••••••••
"Candra, kamu bantu Winarti. Kakiku sudah membaik," bisik Idaline di punggung Candra. Kaki kecilnya kram ketika memanjat beberapa meter kemudian anak lelaki itu menggendongnya ke atas. Di belakang mereka Winarti terengah-engah setelah berhasil menaiki jurang.
"Kamu tahu sendiri kondisiku,"
Idaline diam tidak dapat membantah. Bisa saja tangan Candra terbuka lalu membuat Winarti jadi butiran pasir. Ia melirik Candra yang terdengar marah.
"Kita istirahat di sini," putus Idaline.
"Tidak apa-apa, nona. Sebentar lagi ada goa," Winarti menahan napasnya yang tersengal, melepasnya ketika tidak dilihat.
"Semangatmu besar sekali. Candra turunkan aku," Idaline berontak minta diturunkan.
"Tidak. Energi kakimu masih lemah, kak. Tunggulah hingga sembuh total," tolak Candra mengeratkan tangannya. Terus melangkah tak peduli omelan teman barunya.
"Nanti malah kamu kecapean," cibir Idaline berusaha membuat Candra kesal.
"Aku tidak selemah kakak," bantah Candra.
Dahi Idaline berkedut, tampak otot menegang karena emosinya. "Kamu mulai mirip adikku," kesalnya teringat sang adik yang mewarnai harinya. "Wah kamu benar-benar menganggapku lemah? Aku lebih besar dan lebih tua tauuu. Yah energiku emang kurang tapi nanti aku akan jadi lebih kuat darimu," celotehnya sepanjang jalan.
Candra mengamati jalan panjang yang telah dilalui, ia tahu orang biasa akan sangat kelelahan melewati jalan terjal nan licin usai hujan semalam, kabut tebal pun memenuhi hutan pinus tempatnya berpijak. Dirinya bersyukur mulai belajar sihir meski otodidak dan masih banyak cela. Setidaknya energi dalam tubuhnya melimpah dan bisa mengarahkan kekuatan ke kaki untuk mendaki.
Suara air mengalir deras membuat Idaline melongok. "Kyaa! Ya ampun akhirnya air terjun!!" bahagianya menghirup aroma tanah basah. Sudah bertahun-tahun ia wacanakan untuk pergi menikmati air terjun namun selalu saja batal.
"Goanya ada di atas," Winarti menunjuk sisi kanan air terjun. Napasnya makin tersengal, ia kira perjalanan hanya perlu beberapa saat, ternyata memakan waktu cukup lama, setengah jam. "Maaf aku jadi beban," rintihnya dalam hati. Jalan mereka lambat karena menunggu dirinya.
"Sebentar kak. Masih harus mendaki," tegur Candra menarik tangan Idaline yang lepas dari lehernya.
Gadis itu merenggut menggoyangkan sandal gunung buatan Atem, ia sama sekali tidak mengeluarkan tenaga selama perjalanan.
"Aku akan pergi mencari buruan," cetus Candra menurunkan Idaline.
"Tidak. Aku yang akan cari. Kalian beristirahatlah di sini," hati gadis itu benar-benar tak enak hanya sekedar menumpang.
"Kita cari bersama," timpal Candra membantu Idaline menurunkan tasnya.
"Kamu jaga Winarti, aku cari makanan," balas Idaline.
"Di sini aman, nona. Saya tidak apa-apa."
__ADS_1
Idaline menatap wanita yang duduk kelelahan, Winarti mengangguk meyakinkan Idaline. Mereka berdua pun pergi membawa pisau yang dibeli di jalan.
Sesampainya di bawah, Idaline memotong sebatang bambu, membelah ujungnya jadi empat bagian, menajamkannya lalu mengikatnya dengan tanaman rambat.
"Kak, apa kau tidak tahu malu?" Candra menutup mata dengan telapak tangan, gadis di depannya membuka ujung jariknya.
Ia dinasehati Tuti dan Aji di malam mereka berenang bersama, bahwa tidak boleh melihat tubuh yang terbalut atau dia harus bertanggungjawab, pun tidak boleh sembarangan berbuka di dunia luar. Akan banyak konsekuensinya jika memperlihatkan bagian tertutup.
Idaline terheran, penyihir kecil menjadi pemalu padahal mereka berenang hingga malam datang. "Aku mau sekalian mandi. Sudah beberapa hari kita tidak mandi," ucapnya masuk ke sungai dengan kemben dan celana pendek elastis hadiah dari Atem. "Kamu pergilah cari buah. Aku cari ikan di sini,"
"Lebih cepat dilakukan bersama," kekeh Candra tak ingin berpisah.
"Ya sudah kemari,"
Candra menaikkan jariknya memasuki sungai membelakangi Idaline. Gadis itu tak percaya penglihatannya, di tangan Candra ada tombak sama persis seperti miliknya.
Mengabaikan pikirannya, Idaline fokus mencari ikan.
"Kakak mahir sekali menggosok punggung," sanjung Candra memejamkan mata. Idaline membuka paksa jariknya memandikan tubuh yang penuh tanah dan debu.
"Aku punya adik sepupu yang selalu mengikutiku dan akhirnya kita melakukan banyak hal bersama," Idaline mengenang dirinya sebagai Udelia. Di keluarga ibunya dia adalah satu-satunya putri di antara para sepupu. Semua kakak sepupu dan sepupu sebaya memperlakukannya seperti adik kecil yang perlu perlindungan ketat, dua adik kandungnya pun berperilaku bagai seorang kakak. Hanya adik sepupunya yang bisa ia ajak main bersama, kabur dari penjagaan ketat semua orang.
"Ah kapankah aku bisa kembali?" pikirannya bergelut. Keinginan kembali sangat kuat namun terbesit perasaan kecil nyaman tinggal di tempat yang udaranya bersih juga orang-orangnya.
"Kenapa tidak mengajaknya di pesta kemarin?" telisik Candra. Ia tidak berangkat namun mata dan telinganya bertolak. Segala kegiatan istana ia tahu.
Idaline tersenyum pahit di belakang Candra. "Dia meninggal saat kecil," itu adalah waktu mereka berenang di sungai. Malam sebelumnya tante mereka melihat buaya putih naik ke tepian. Tapi tidak ada yang percaya, semua orang tetap berenang.
Kemudian adik sepupunya terseret arus, nyatanya ia lihat lelaki kecil itu ditarik buaya. Kakinya sempat menginjak punggung buaya, Idaline pikir hanya tumpukan batu.
Candra diam tidak melanjutkan pembicaraan. Mereka menyelesaikan mandi lalu kembali. Winarti telah menyiapkan api dan dedaunan pisang segar juga daun-daun kering untuk alas tidur.
"Kenapa kalian terlihat aneh?" Winarti mengatupkan mulutnya, ia nyaman bersama Idaline jadi sesaat melupakan keberadaan Candra.
"Kami sudah mandi jadi mengantuk, Winarti mau mandi?" elak Idaline mengalihkan pembicaraan.
"Saya lap dengan air saja,"
"Ini ada air, tidak perlu turun." Candra menjulurkan tangannya memberikan kendi polos berwarna merah.
"Sejak kapan kamu membawa kendi?" heran Idaline tidak melihat benda itu sepanjang perjalanan. "Ngga mungkin masuk tas kan?" Idaline melirik tas kecil di pinggang Candra.
"Ini," Candra menggeser tasnya menunjuk batu di pinggang. "Petapa Agung telah membuat terobosan baru berupa batu penyimpanan,"
"Karena yang membuatnya petapa seharusnya kamu melakukan meditasi untuk menggunakannya," karang Idaline.
"Kamu terlalu lama memakai baju,"
"Aku belum terbiasa," Idaline tertawa canggung. "Batunya luar biasa sekali," alihnya tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
"Mau lihat?" Candra melepas tali yang menggantung batu, tangan kirinya mengambil tangan kanan Idaline, ia berikan batu hitam penuh sinar berwarna di dalamnya itu.
"Bagaimana bisa batu sekecil ini menyimpan kendi?" Idaline mengapit batu itu dengan jari telunjuk dan jempolnya, satu matanya tertutup meneliti isi batu. "Tunggu. Bukankah ini Kalimaya? Kalimaya. Kalimaya..Kali Maja. Kali di Maja? Eh. Ga gitu konsepnya. Emang gitu woi. Tapi bukan Maja yang ini. Tapi Maja. Ya tapi bukan yang ini," pikirannya bergelut. Seringkali muncul dua gagasan dalam otaknya yang saling bertolak dan bercekcok.
Candra menatap Winarti, gadis yang sedang takjub dengan batu yang dipegang Idaline menggigil merasakan tatapan dinginnya.
"Saya akan mandi dahulu," pamit Winarti merasa akan mati jika tetap di sana.
"Ah iya kami melupakanmu," lontar Idaline tersadar dari pikirannya. "Sini kubantu bawa kendinya," gerabah selengan orang dewasa tanpa moncong terlihat sangat berat di matanya.
"Tidak perlu. Segini sangat enteng," Winarti menenteng kendi dengan satu tangan.
"Batu ini hanya dimiliki kalangan atas dan beberapa pada bangsawan menengah, bangsawan rendah juga memiliki namun kebanyakan hanya kepala keluarganya, itupun tidak semuanya," jelas Candra. Idaline yang mengawasi Winarti masuk ke perut goa berbalik menatapnya.
"Wah benda yang berharga sekali. Ini kukembalikan," Idaline menjulurkan tangannya hati-hati.
"Aku berikan untukmu," niat Candra sebagai hadiah pertama.
"Aku tidak bisa menggunakan sihir," Idaline memegang tangan Candra.
"Kamu tidak perlu sihir untuk mengambil atau memasukkan benda, cukup pejamkan mata lalu pikirkan benda yang kamu ingin keluarkan. Sementara hanya ada beberapa benda," jelas Candra memegang punggung tangan Idaline.
"Beberapa benda?"
"Iya di tempat penyimpanan, baru kumasukkan sedikit. Cara kerjanya adalah kita memberi tanda sihir di gudang untuk menyimpan atau mengeluarkan benda dengan instan. Tidak peduli seberapa jauh, kita akan mudah mengambilnya selama energi jiwa kita masih ada di tempat itu. Biasanya ada di ruang bawah tanah yang ketat dan rumit. Oleh karena itu hanya bangsawan tingkat tinggi di mana semua keluarga inti dan hampir seluruh anggota keluarga cabang memiliki batu aju ini," Candra meletakkan batu di telapak tangan Idaline.
__ADS_1
"Aku benar-benar merasa tidak pantas menggunakannya," Idaline berpikir pasti berguna sekali batu itu di dunia modern untuk membantu anak-anak sekolah yang membawa buku berlebih, yang lebih besar dari tubuh mereka.
"Semua benda indah pantas untuk kakak," Candra menggores jempol tangan kanannya sendiri lalu tangan kirinya memegang bagian belakang kepala Idaline. Gadis itu sontak memejamkan mata menghirup bau amis dari dahinya.
"Sudah," bisik Candra tak lama setelahnya.
"Sudah?" Idaline tidak merasakan apa-apa, ia pegang dahinya dan tidak ada bekas apapun.
"Iya, sudah. Atau kakak ingin hal lainnya?"
Idaline mengernyit, anak lelaki yang lebih pendek beberapa senti darinya tiba-tiba menjadi tinggi dan semakin jauh, matanya seketika berat lalu pandangannya gelap.
••••••••••••••••••••
"Tuan, saya akan keluar mencari makanan,"
"Tidak. Kakak akan cemas kalau kamu menghilang. Cari kayu bakar dan buah di sekitar sini. Aku yang cari makanannya," Candra mengambil peralatan melangkah keluar goa.
"Baik, tuan." Winarti memandang penuh puja punggung Candra. Tuan muda itu memberinya ikan bakar tanpa berkata, juga air segar untuk minum dan mandi, merubah nilai di hati. Bersegera ia pergi mencari buah terbaik.
Perapian yang mulai padam adalah yang pertama Idaline lihat ketika membuka mata. "Semua ke mana?" gumamnya merasakan tubuhnya jauh lebih ringan daripada kemarin.
"Saya sudah menyiapkan air hangat. Silahkan nona," Winarti memberikan gelas.
"Terima kasih," kata Idaline meminum air.
"Aku kembali,"
Dua gadis itu bergegas keluar mendengar suara Candra, di punggungnya terdapat buruan.
"Oh kamu bisa memburu rusa?" keterkejutan Idaline semakin berkurang. Semua hal bisa terjadi.
"Aku juga bisa memburu buaya, kak." ujar Candra berwajah datar.
"Lalu buatlah tas kulit buaya," Idaline menyeringai, pikiran bisnisnya muncul seketika.
"Saya saja," sela Winarti mengambil buruan. Tubuhnya terhuyung ke depan tak kuat menopang tubuh rusa.
Candra menahan bahu Winarti menunggunya berdiri dengan stabil. "Kita gotongan," ia memegang sisi lain membawa ke pojok dan mengulitinya bersama.
"Winarti bagaimana kalau kamu beristirahat di sini? Sangat berbahaya kalau kamu kembali ke desa," usul Idaline berjongkok memetik cabai di depan goa.
"Baik, nona."
"Kakak kenapa memetik buah berbahaya itu? Tangan kakak akan panas dan perut akan sakit jika dimakan," Candra telah memangkas semua pohon 'racun' itu, ternyata ia melewati satu pohon yang menjorok ke jurang.
"Kalian urus dagingnya, aku akan buat sesuatu," Idaline turun dengan riang memetik berbagai macam rempah yang tumbuh bak tanaman liar.
"Oh kayanya negeriku," ia memandang sedih tanaman-tanaman subur berbuah lebat. Tanahnya kelak tidak akan bebas dinikmati, yang beruanglah yang dapat penuh kebutuhan dapurnya.
"Padahal tumbuh di atas negeri kita, tapi banyak yang mengikat pinggangnya." gumam Idaline membersihkan batu di pinggir kolam.
Dia bersemangat membawa sambal halus di atas batu pipih. Daging pun sudah matang. Winarti memotong kecil rapih daging ke tiap piring.
"Cocolkan dagingnya kemari. Coba sedikit dulu biar tau takaran pedas kita,"
"Wah. Hanya ditambahkan satu menu tapi rasanya berbeda sekali," puji Winarti menambah sambal.
"Akan lebih baik kalau ada garam," komentar Idaline mengunyah makanan.
"Ini sudah sangat mewah, kak. Untuk masakan di goa dalam hutan begini,"
"Candra, nanti aku buatkan sambal dengan rempah yang lengkap," agar kamu tau perbedaannya. Sambung Idaline dalam hati.
"Kutunggu sambalnya kak," tantang Candra. Ia jadi penasaran sambal buatan Idaline yang penuh keyakinan dirinya akan setuju.
Idaline mengangguk lalu mereka melanjutkan makan dengan tenang.
"Kami pergi sekarang, jaga dirimu baik-baik."
"Anda juga hati-hati, nona, tuan,"
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 18 Juni 2021
__ADS_1