![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Idaline memandangi kereta kuda yang terparkir di halaman kedai. Ia seharusnya memberitahu tentang pernikahan lebih cepat agar diizinkan keluar.
Berkali-kali Idaline mencoba keluar keraton untuk sekedar berjumpa Hasta dan Atem namun rasanya ia seperti berbicara pada tembok yang tidak menjawab dan tidak bergerak, atau terkadang seperti berbicara pada radio rusak yang terus mengatakan, 'Anda tidak diizinkan keluar'.
Dan permintaannya untuk bertemu ratu selalu kandas di tengah jalan. Tetapi permintaan bertemu yang ia kirimkan terakhir langsung di balas hari itu juga, luar biasa sekali!
"Kenapa melihat ke luar terus?" tanya Hasta memberikan jus pada gadis yang sedang bersandar di jendela hitam yang tidak terlihat dari luar namun jelas di dalam.
Idaline menatap wajah orang yang bertanya, haruskah ia menyampaikan pengalamannya di istana dan menerima hipotesis apa yang sebenarnya diinginkan pangeran kerajaan ini?
Setiap hari Hayan datang bagaikan murid teladan.
Akan tetapi bila tidak bertemu, Hayan seperti tidak menganggapnya.
Jamuan-jamuan yang Hayan adakan, sekali pun tak pernah mengundang Idaline.
Kedatipun semua kebutuhan dan keinginan Idaline langsung datang keesokan harinya setelah berbicara pada kepala dayang Kedaton Sedap Malam, semisal karpet yoga.
Raden Ajeng pertama dalam sejarah yang mendapatkan gelar sebelum putra-putri raja dan ratu itu dilarang keluar.
Jadwalnya bertemu dengan para bangsawan di kediaman mereka pun bak hilang ditelan bumi.
Idaline menggeleng pelan tidak ingin melibatkan Hasta dan Atem juga manusia lainnya.
"(Makasih)" Idaline menerima minuman berwarna kuning hasil buah berbentuk bintang dihancurkan hingga lembut kemudian dicampur air dan es tanpa gula karena sudah manis buahnya.
"Kedaimu sangat rame ya, di sini dan di cabang." puji Idaline melihat kepadatan pengunjung di luar kedai.
"Mungkin karena makanannya unik. Benar, kenapa tidak bertemu saat di sana?"
Idaline menatap sekilas Hasta lalu kembali fokus pada minumannya. "Kamu yang tinggal di sini pasti ada urusan penting hingga harus ke cabang di desa yang jauh. Btw di mana tante?"
"Nona Atem sedang dipanggil para bangsawan untuk membuat pakaian. Jadwalnya padat karena pangeran satu-satunya kerajaan ini akan berulang tahun. Tahu kan Kerajaan Maja adalah salah satu dari tiga kerajaan besar di pulau ini. Semua berusaha tampil sempurna."
"Ya ampun berarti aku telah mengganggu waktu istirahatnya."
Idaline mengingat saat ia berkunjung ke butik bunga setelah sembuh dan memesan banyak jenis pakaian yang membutuhkan banyak waktu membuatnya.
Padahal pasti para bangsawan sudah memesan pakaian sejak jauh-jauh hari dan saat Idaline berkunjung, proses pembuatannya sudah setengah jalan.
Hari itu tidak ada aktivitas besar di butik, kemungkinan besar adalah waktu beristirahat.
"Menolong rekan lebih penting daripada istirahat, begitu yang sering nona Atem bilang."
Idaline mengangguk mengerti. Kemudian hening melanda ketika Hasta fokus pada kertas-kertas di tangannya. Idaline juga menikmati pemandangan orang-orang yang datang dan pergi dari kedai, banyak pula yang menyatakan cinta dengan ayam goreng tepung di sekitar kedai.
Idaline tertawa dalam hati melihat hal itu.
"Aku akan menikah dua bulan lagi." cetus Idaline terpengaruh suasana.
Sempat Idaline ragu harus menyampaikannya atau tidak, karena pernikahan ini hanya sementara.
Lantas Idaline memutuskan memberitahu Hasta dan Atem daripada mereka mendengarnya dari orang lain.
__ADS_1
"Kamu akan menikah?" tanya Hasta memastikan.
"Iya. Mumpung masih ada di sini."
"Apa kamu sudah menemukan jalan keluar?"
Sejak awal Hasta merasakan keinginan kuat Idaline untuk kembali sama seperti dirinya dan Atem, tidak mungkin orang seperti itu tiba-tiba ingin terikat dengan orang lain di tempat asing.
"Kamu cerdas sekali." puji Idaline. Bukannya memberi selamat malah menanyakan jalan keluar, Hasta paham ini bukan pernikahan yang serius.
"Tahun baru. Tapi belum kupastikan karena itu aku belum memberitahu."
"Bagaimana caranya?" Hasta meletakkan dokumennya dan mendengarkan jawaban yang akan dilontarkan Idaline dengan saksama.
Idaline mengusap dagunya, dalam otaknya ia merangkai kata menyederhanakan penjelasan Fusena yang berbelit-belit.
"Sesuatu mengeluarkan jiwa lalu melemparnya keluar dari batas dimensi ini kembali ke dunia kita."
Hasta mengernyit, penjelasan Idaline seperti memiliki arti menyerahkan jiwa pada orang lain. "Benar-benar meragukan."
"Maka dari itu." Idaline mengangguk setuju.
"Kamu benar-benar akan menikah?" tanya Hasta tak suka.
Ia tak suka orang-orangnya bercampur dengan orang-orang dari kerajaan dan yang Hasta tangkap ketika mereka berbincang, Udelia juga memiliki prinsip yang sama.
Apa beberapa pekan menjadi Idaline sudah mengubah pikirannya?
"Dan karena bibi pengasuhku bilang aku, ehm, Idaline sendiri yang merengek ke orang tuanya, jadi harus kupenuhi bukan?"
Hasta makin menampakkan wajah tak sukanya. Alasan Idaline sungguh tidak masuk akal.
"Aku tidak tahu harus mendukungmu atau tidak. Dia adalah orang yang baru kamu kenal." ujar Hasta menekuk dahinya.
"Aku belum bertemu dengannya."
Perkataan Sri masuk ke dalam logika Idaline. Ia jadi santai dan tidak terlalu bertanya-tanya bagaimana rupa dan sifat Nandana.
Karena dari semua cendekiawan yang dikenal Agni, orang tua Idaline menjatuhkan pilihan pada Nandana.
Pria itu pasti memiliki budi luhur yang menyejukkan jiwa.
"Maka aku dan nona Atem tidak akan mendukung." Hasta menatap aneh Idaline. Belum bertemu tapi memutuskan menikah?
"Dan..kamu sangat menyukai kehidupan zaman kuno. Jika terlanjur nyaman bagaimana?" imbuhnya.
"Aku tahu batasku. Dan sesukanya aku pada zaman ini, tetap saja aku manusia yang dilahirkan di dunia ketika teknologi menguasai. Aku juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan keluargaku. Sama seperti kalian."
Hasta menggeleng mendengar jawaban Idaline.
Ucapan Idaline terdengar teguh tapi kenyamanan bisa menerobos dan menghancurkan tembok yang susah payah dibangun bertahun-tahun.
Hasta dan Atem mungkin akan merasakan itu jika tidak berada di bawah tekanan kuat.
__ADS_1
Hasta dan Atem mungkin akan menyerah atas kehidupan di dunia mereka jika bisa leluasa menerima kenyamanan yang diberikan orang-orang sekitar.
"Coba bertemu dulu. Dua bulan sepertinya cukup kalau kamu menghabiskan waktu bersama setiap hari untuk saling mengenal." usul Hasta.
Bagaimanapun ia harus menghormati keputusan Idaline dan ia tidak berhak mencampuri terlalu jauh apalagi melibatkan perasaan tidak sukanya.
Semua manusia berkuasa atas jalannya sendiri.
Entah menapaki jalan yang benar atau jalan yang salah.
Setiap manusia mengemban tanggung jawab pada jalan yang dipilihnya.
Bisikan dan godaan sesungguhnya tidak dapat memaksa kehendak manusia.
"Ah iya, karena kedaimu sangat terkenal di berbagai kalangan. Apa bisa carikan dia?" pinta Idaline.
"Mungkin. Katakan nama dan pekerjaannya, apa dia bangsawan?"
"Dia bukan bangsawan, namanya Nandana dan dia guru di akademik."
"Oh guru dari rakyat jelata."
Idaline mendelik mendengar pernyataan Hasta. "Benar sih. Tapi kok nyelekit?"
"Hanya ada satu di akademik. Orang ini selalu datang berkunjung kalau kedai buka. Mungkin karena ujian, dua hingga tiga pekan terakhir belum terlihat. Tapi karena pekan ujian telah selesai, kamu bisa mencarinya di lantai dua."
"Kalian memperlakukannya seperti bangsawan."
Lantai dua kedai hanya diperbolehkan untuk kaum bangsawan dengan fasilitas dan suasana berbeda seratus delapan puluh derajat dari lantai pertama yang sesak dan penuh bau keringat.
"Karena akademik mendaftarkan semua gurunya."
Tagihan para guru semuanya dibayar akademik. Dan para guru akan dilayani terlebih dahulu karena akademik membayar lebih. Bisa dikatakan mereka adalah pelanggan VIP.
"Berarti kamu punya informasi tentangnya?"
"Yah kedai sebesar apa pun tetaplah kedai. Mereka hanya memberikan lukisan dan namanya. Sebentar aku carikan." Hasta menggeledah laci di mejanya.
Idaline memandang keluar memperhatikan muda-mudi saling bercengkrama, adapula adik-kakak dengan harmonis masuk ke dalam kedai, tak jarang juga orang-orang yang rambutnya penuh uban masih sehat berjalan memasuki kedai.
"Ini." Hasta memberikan gulungan pada Idaline. Ia terkejut saat sedetik kemudian Idaline menaruh lukisan di atas meja sambil menggebraknya.
"Ini!"
Sebagai Udelia, ia mungkin sering lupa terhadap wajah seseorang dan hanya mengingat punggung mereka.
Namun setelah menjadi Idaline, kekuatan ingatannya naik dengan pesat hingga sekali melihat saja sudah terekam bak melihatnya dengan detail.
"Ada apa?" tanya Hasta melihat garis wajah Idaline memerah menahan marah.
"Katamu dia ada di lantai dua ya?"
"Ya? Iya!"
__ADS_1