![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Guru, selain fokus pada Cepeng, kamu sudah berkeliling Kabalan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan terlibat dengan orang-orang penting. Karena penilaianmu bagus terhadap maksud seseorang, aku memohon jadilah penasihatku di sini," pinta Hayan.
Idaline mengangguk. "Aku akan melakukannya sampai Watek Kabalan kembali stabil. Di sisi itu aku akan mengajari keluarga Hasto yang tersisa,"
"Aku tidak ingin kamu mengajari orang lain," gumam Hayan.
Idaline yang mendengarnya menaikkan alis. Tidak ada keharusan baginya menuruti calon penguasa itu.
"Aku percaya pada pengajaran guru," ucap Hayan menyadari Idaline terus menatapnya.
"Ilmu akan bermanfaat jika disebarkan," Idaline memakai selendang di bahunya dan berdiri. "Aku lihat persiapan mereka dahulu," pamitnya.
Idaline merasa kesal harus memakai kemben dan selendang kembali. Karena meletakkan tasnya di lantai, dayang muda mencuci semua pakaiannya. Sedangkan pakaian di dalam cincin ruang terlalu modern. Ia tidak mau mencolok dan mengundang orang-orang yang ingin menyakitinya.
"Padahal dia sangat paham," Hayan melihat Idaline dari jendela ruangannya.
Mata Hayan beralih pada pintu utama, ia anggukkan kepala pada orang yang minta izin bertemu. Seorang pelayan berusia kisaran dua puluh lima tahun yang mengurus kediaman Wiyasa menghadap padanya.
"Yang Mulia, rumah kerja sudah selesai direnovasi," kata pelayan usai memberikan salam.
Hayan menjulurkan tangannya ke atas meja mengambil benda hitam yang kedua sisi atas-bawahnya dan lingkar di tengahnya terbuat dari emas. Ia memegangnya dengan sayang dan menggantungnya di pinggang. "Bawa semua berkas ke sana,"
"Baik, Yang Mulia," Pelayan berjalan menggunakan lututnya keluar dari ruangan Hayan.
"Bayu, di sarang penyamun kamu tidak memakai lapisan penghalang setebal dua hari terakhir," ucap Hayan menginterogasi.
"Sebenarnya hamba memiliki kesalahan pada Mahapatih dan Raden Ajeng," jelas Bayu tak enak. Masalah bertahun-tahun lalu belum selesai karena ia terlalu pengecut.
Bayu takut akan dihukum berat oleh keduanya, maka dari itu Bayu menerima tawaran menjadi prajurit bayangan yang sebelumnya tak ia minati. Hanya dengan berada di belakang Hayan ia bisa aman.
"Selesaikanlah ketika bertemu lagi," perintah Hayan dengan tegas.
"Baik, Yang Mulia,"
"Yang Mulia, para thani dan demang sudah berkumpul di aula," ucap pelayan aula memberitahu dari balik pembatas.
"Di mana Raden Ajeng?"
"Beliau sedang menuju aula bersama Hara Hasto dan dua adiknya,"
"Dia tidak menganggapku," kesal Hayan. Kalau begini Hayan menyesal memberikan izin pada Idaline, seharusnya ia menyuruh Idaline cukup berdiri di sisinya saja, tidak perlu melakukan apa pun. Orang-orang itu akan besar kepala bila diurus Idaline dan bisa saja menjadi tamak. "Tunjukan jalannya,"
"Silakan lewat sini, Yang Mulia," tunjuk pelayan.
Idaline memegangi tangan kedua anak lelaki yang berjalan dengan riang dan berisik. Holo Hasto telah menempatkan mereka di halaman belakang tanpa pendidikan yang benar. Hara membiarkannya karena tidak ada penyiksaan meski kedua adiknya dilarang keluar kecuali mendapat izin dari Holo.
Para dayang dan pelayan yang melakukan tugas sesuai perintah untuk menemani mereka tidak dapat membuat kesepian di hati kedua anak kecil itu hilang. Rawan dan Rowon, dua adik Hara, tinggal di rumah yang berbeda. Mereka hanya bertemu di hari-hari besar padahal rumah mereka bersebelahan.
"Wan, Won, jangan merepotkan Yang Mulia Raden Ajeng,"
"Bilang saja mas iri pada kami, bleh," ejek Rawan dan Rowon bersamaan.
"Tidak apa-apa," ucap Idaline menenangkan.
Hara tidak dapat berkata-kata lagi, perhatian Idaline yang besar bahkan dapat meluluhkan hatinya, apalagi kedua adiknya yang sudah sendirian begitu lama.
"Idaline, aku sudah menunggumu," Hayan berdiri di tengah jalan menghalangi langkah Idaline dan rombongannya.
"Kamu ngga bilang akan menunggu,"
"Ayo. Semua sudah kumpul," Hayan menjulurkan tangannya. Hayan menatap tak suka dua anak kecil yang berdiri di kanan dan kiri Idaline. Terlihat lemah tapi licik!
Rawan dan Rowon melepas tangan Idaline lalu berlari menuju Hara, tatapan dingin Hayan menakutkan bagi mereka karena mirip dengan tatapan Holo ketika melayangkan benda pada mereka.
"Kamu membuat mereka takut," tegur Idaline.
Tangan kanan Hayan menarik tangan kiri Idaline lalu tangan kiri Hayan menyentuh pundak Idaline. Hayan mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Idaline. "Lelaki harus kuat,"
Idaline merasa merinding. Tapi ia akhirnya dapat membuktikan bahwa traumanya sudah sembuh. Selama ini tidak ada yang terlalu intim seperti yang sekarang dilakukan Hayan.
"Mereka hanya belum terbiasa bertemu orang baru, Yang Mulia." Hara tidak ingin Idaline bertengkar karena mereka. Takut-takut ia menatap Hayan lalu mencondongkan tubuhnya ke depan sambil menangkup kedua tangannya di depan dada. "Yang Mulia Yuwaraja mohon maafkan adik-adik hamba,"
"Pestanya tidak akan lama. Bertahanlah sebentar," ucap Hayan menjauhkan diri lalu membawa Idaline pergi dari hadapan tiga orang itu.
"Ternyata dia tidak menakutkan," celoteh Rawan dari bibir kecilnya. Rowon mengangguk setuju.
"Bicaralah yang sopan. Beliau adalah calon raja kerajaan kita. Jaga sikap kalian ketika berhadapan dengan beliau dan dengan Raden Ajeng," Hara hanya bisa menguburkan perasaannya dalam-dalam.
Matahari terlalu bersinar dan bulat terlalu besar, tidak akan mungkin manusia sepertinya mampu menggapai benda luar biasa itu.
Idaline memegang tangan Hayan yang menariknya, ia pasang kuda-kuda lalu menerbangkan tubuh Hayan, Hayan yang tidak siap terjatuh ke tanah. Dalam satu kedipan mata, ujung tombak mengelilingi tubuh Idaline.
"Lepaskan dia," Hayan bangun dan membersihkan debu yang menempel di pakaiannya.
"Jangan menarik gadis dengan sembrono!" marah Idaline.
"Maafkan aku. Jadi, maukah kamu pergi bersamaku?"
"Seharusnya kamu lakukan dari tadi!" ketus Idaline berjalan di samping Hayan.
Pesta penyambutan Yuwaraja Kabalan berakhir cepat seperti yang dikatakan Hayan. Mereka hanya melakukan sesi perkenalan dan makan bersama tanpa hiburan.
Kemudian Hayan memberikan keperluan yang mendesak secara langsung seperti makanan dan pakaian. Dana bantuan diberikan menyusul setelah Hayan meninjau secara langsung.
••••••••••••••••••••
"Tiga wanua di utara, kondisi masyarakatnya sudah stabil. Para budak juga diberikan makanan yang sama agar kuat dalam bekerja. Dana yang diperlukan telah difokuskan pada bidang pertanian. Yang lainnya bisa ditinjau ulang ketika ada yang diperlukan," ucap Idaline meremas kertasnya.
"Kenapa wajahmu suram?" heran Hayan. Laporannya terdengar bagus. Apa yang mengusik gadis itu?
"Perbudakan tidak ada di tempatku," jawab Idaline.
"Apa maksudmu?"
"Haah," Idaline mengusap wajahnya. "Aku lelah sekali. Laporannya sudah ditulis dengan rinci, kalau ingin bertanya datanglah ke tempatku,"
__ADS_1
"Guru lebih jujur saat lelah," ucap Hayan menatap lekat mata Idaline. "Padahal guru bilang berbicaralah yang jujur pada keluarga, bijak pada rakyat, dan menjebak terhadap pengkhianat. Apa aku bukan keluargamu?"
"Pasangan. Bicaralah jujur hanya pada pasangan. Berbagi ceritalah dengannya. Karena keluarga bisa saja membuat tipu muslihat," koreksi Idaline.
"Guru sudah memilikinya?"
"Petapa Agung bisa diandalkan,"
"Beliau memang terpercaya. Namun orang untuk berbagi cerita, apa kamu sudah memilikinya?"
Aku selalu bercerita pada ibu. "Sedang kucari," jawab Idaline. Wajahnya sedikit suram merindukan ibunya.
"Orang di depanmu ini bersedia. Orang ini akan menjadi pendengar dan penjaga rahasia yang baik,"
"Nah tuan pendengar. Pertama-tama hilangkan panggilan guru. Kata itu terlalu berat untukku," pinta Idaline.
"Tidak bisa. Sekali menjadi guru selamanya menjadi guru,"
Idaline mendengus. "Setidaknya saat kita berdua,"
"Baiklah,"
"Sebenarnya aku ingin sekali bolu yang penuh dengan coklat, apalagi kalau redvelvet, pasti sangat nikmat. Petapa Agung selalu makan sayur-mayur, dia baik sih kasih aku daging, tapi aku tuh butuhnya yang manis-manis," Idaline menghela napas panjang. "Aku permisi mau cari jajanan,"
"Ternyata ada orang yang berbicara panjang dalam satu napas," ucap Hayan masih terkejut mendengar suara yang seperti pacuan kuda di arena balap.
"Bagaimana dengan pesananku?" tanya Idaline pada dayang yang dipercayainya membelikan makanan.
"Kami sudah membelinya. Semua ada di dapur. Silakan Yang Mulia,"
"Tinggalkan aku sendirian," perintah Idaline pada pelayan dan dayang yang sedang menata peralatan dapur.
"Baik, Yang Mulia,"
Idaline menggulung lengan baju hingga ke siku. "Hasta.. Hasta.. Susahnya tanpamu. (Eh maap, harusnya aku bersyukur kamu sudah kembali.)"
"Kamu kenal Hasta?" tanya Hayan muncul di pintu masuk dapur.
Idaline melihat Hayan sekilas lalu fokus pada bahan-bahan di depannya. "Iya. Masakannya sangat nikmat,"
"Makanannya aneh tapi memang enak," balas Hayan setengah setuju, saat makanan Hasta masuk ke lidahnya, itu akan terasa aneh namun bila dicoba selanjutnya baru terasa enaknya.
"Aku mau membuat yang mirip,"
"Suruh dayang saja," usul Hayan melihat Idaline mulai memecahkan telor.
"Mereka tidak tahu resepnya," terang Idaline memasukkan bahan lain.
Hayan memperhatikan Idaline begitu lihai memasukkan bahan-bahan dan mengaduknya. Mutiaranya itu memang pandai segala hal. "Aku bantu," ucapnya. Hayan tidak akan ketinggalan dari Idaline.
Bukan untuk menyainginya, namun untuk bersanding di sebelahnya. Pemilik hatinya itu terlalu pandai dalam banyak hal, jika ia tidak bisa menyamainya, ia tidak akan pantas bersamanya.
"Tidak usah. Kerjakan saja tugasmu,"
Idaline menatap kesal Hayan, akhirnya ia membiarkan Hayan membantu.
"Tampilannya sudah cocok. Tapi tekstur bolunya kurang mengembang," komentar Idaline melihat bolu yang berbalutkan coklat cair tergeletak di atas meja. Ia mengambil pisau, memotong bolunya lalu mencicipinya. "Syukurlah rasanya tidak mengecewakan,"
"Semangat sekali. Mulutmu sampai kotor," Hayan mengusap bibir Idaline dnegan selendangnya.
Idaline menatap lurus wajah Hayan yang serius membersihkan bibirnya. "Aku membawa saputangan," Idaline mengeluarkan saputangan dari saku bajunya. Ia memegang tangan Hayan lalu dijauhkan dari wajahnya. Kemudian Idaline mengusap bibirnya dengan saputangan. "Kainmu itu dipakai sepanjang hari. Bisa-bisa wajah berjerawat,"
Hayan menatap sedih tangannya.
"Jangan ngambek. Duduklah coba bolu ini," Idaline menyodorkan piring ke dekat Hayan.
"Enak sekali," ucap Hayan, ia terus menyuap hingga tidak ada sisa di piringnya.
"Mukamu belepotan sekali," Idaline menyondongkan tubuhnya ke arah Hayan, tidak ada suara napas dari wiyasa baru itu, hanya terdengar jantung yang berdetak keras saat Idaline mengusap sudut bibir Hayan. "Bibirmu lembut sekali," bisiknya sambil memberikan saputangan.
"A-APA SIH?" jeritnya malu, Hayan mengusap sisa coklat di bibirnya.
"Haha," tawa Idaline melihat wajah Hayan yang merah padam. "Kamu akan kalah dengan nona-nona bangsawan kalau tidak dapat menahan hal sekecil ini,"
"Ini kan karena guru menyerang dengan tiba-tiba,"
"Ya ampun jangan bicara yang membingungkan," Idaline menghentikan tawanya. "Ayo pergi. Sekarang harus mulai memasak makan malam,"
••••••••••••••••••••
"Bandit sudah pergi, yang sakit keras telah diobati, dan kalian diberi makan yang layak. Tetapi kalian masih meminta uang untuk diri sendiri? Padahal prajurit kita berjuang mati-matian di perbatasan untuk menjaga kalian, warga sipil. Mereka makan dengan tidak teratur dan hanya memiliki satu pakaian ganti," Idaline mengusap titik air di sudut matanya. "Oh malangnya para prajurit,"
Para thani, pemimpin wanua yang berada di bawah naungan kademangan, meminta pendapat Idaline tentang rakyatnya yang meminta uang pada pemerintah. Rakyat meminta agar hidup mereka membaik setelah bencana, padahal yang mereka inginkan hanyalah menjadi kaya dalam sekejap.
Semua bantuan sudah diberikan secara merata, tidak dipersulit apalagi dikorupsi.
"Tidak, Yang Mulia. Mereka tidak malang, mereka sangat terhormat membela kerajaan dan melindungi rakyat. Kamilah yang tamak,"
"Yang Mulia, terima kasih saat itu sudah mengusir bandit dan meyakinkan rakyat menerima keadaan lalu bangkit mulai kembali membangun Wanua," ucap salah satu thani yang ditangani Idaline.
"Panen kali ini berkat Yang Mulia. Silakan nikmati hidangan sederhana ini," kata thani yang lain.
"Betul sekali. Andai kami menuruti rakyat yang meminta uang untuk memulai hidup, bukannya membeli peralatan pertanian dan bibit-bibit, kami tidak akan sampai pada titik ini. Semoga Anda dan Yuwaraja selalu diberikan kesejahteraan," ucap thani terakhir.
"Aku juga berterima kasih kalian mau bekerja sama dengan baik dan jujur. Panen di masa sulit sudah sebanyak ini, ketika rakyat kembali pada keadaan normal, panen kalian mungkin bisa melebihi Janapada,"
"Mana mungkin bisa melebihi pertanian dan perkebunan Yang Mulia," Para thani tidak berani menyaingi desa yang dipimpin orang-orang tinggi.
"Aku akan senang kalau kalian bisa. Para prajurit dan ksatria membutuhkan asupan yang banyak,"
"Yang Mulia selalu baik hati,"
Idaline sarapan bersama dengan tiga thani dan keluarganya lalu memeriksa rakyat dan makan siang di sana lalu makan malam di pesta yang mereka adakan, mensyukuri keberhasilanan panen.
"Yang Mulia Yuwaraja memasuki ruangan,"
__ADS_1
"Hayan?" Idaline tidak menyangka Hayan pergi ke utara untuk menjemputnya. Idaline bukannya percaya diri, tapi niat Hayan terlalu jelas.
"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Yuwaraja," Para thani bersimpuh.
"Bangunlah," Hayan menghampiri Idaline. "Guru, hari sudah larut,"
"Tuan-tuan saya kembali. Selanjutnya kerjakan sesuai kesepakatan,"
"Baik, Yang Mulia. Kami akan melapor setiap pekan,"
Idaline mengangguk lalu pergi.
"Ada apa kamu datang?" tanya Idaline ingin mendengar langsung dari lisan Hayan.
"Sudah larut. Bahaya kalau bepergian sendiri,"
"Kamu meremehkan pasukan yang kamu rekrut sendiri?"
"Karena peperangan, bandit-bandit jadi berani berkeliaran. Kabalan adalah Watek yang luas. Bukan hanya Wiyasa yang membuat rakyat menderita, bandit merajalela bahkan beberapa thani yang kita eksekusi ada yang bekerja sama dengan mereka. Sekarang guru adalah penasihat Wiyasa, sangat mungkin mereka mencelakaimu,"
"Aku ini murid Petapa Agung, bahkan ketua sarang penyamun pun harus menunduk hormat," sombong Idaline.
Hayan terdiam sebentar lalu tertawa. "Haha. Hampir aku melupakannya. Tapi tetap saja sekarang kamu tanggung jawabku,"
"Hayan, kamu siapkan surat perintah untuk tiga thani di Wanua utara. Tanah mereka sangat subur tapi takut menyaingi Janapada. Sekarang kerajaan sudah semakin luas, banyak rakyat yang berbondong-bondong pindah juga suku-suku pedalaman yang keluar, bersatu dengan kita."
"Kerajaan-kerajaan besar termasuk Kerajaan Galuh sudah bekerja sama. Beras memang sudah cukup dari Janapada dan tanah yang mereka garap sekarang, namun mereka bisa menanam yang lain untuk dijual pada kerajaan sahabat,"
"Ide yang bagus. Tanaman apa yang akan ditanam?"
"Kalau kita mempopulerkan bawang goreng, bawang merah pasti cocok ditanami di sana,"
"Bawang goreng?"
"Iya,"
"Bawangmya saja?"
"Iya. Kalau mau tahan lama pakai garam. Enak banget buat taburan makanan. Sambal juga enak. Cabe masih jarang ditemukan padahal budidayanya gampang. Kita taman bawang merah, putih, dan cabe,"
"Seperti kata guru,"
"Ngomong-ngomong, Candra Ekadanta bagaimana kabarnya?" Idaline teringat janjinya membuat sambal yang lengkap setelah mereka sampai di Kerajaan Maja.
"Sihirnya sangat bagus. Begitu lulus dia langsung dikirim ke perbatasan,"
Idaline membelalakkan matanya, ia sudah tahu akan seperti itu namun tetap saja terkejut. "Candra kan masih kecil,"
"Kalau dia tidak bisa menangani maka sebagian besar penyihir kerajaan tidak bisa menangani," puji Hayan pada kecakapan Candra.
"Sihirnya mungkin hebat tapi mental juga berpengaruh pada hasil,"
"Yang kamu katakan tidak salah. Tapi seorang penyihir melatih mental mereka terlebih dahulu untuk mengendalikan energi jiwa. Kalau mengikuti perasaan nanti akan terjadi ledakan besar,"
"Semoga perang cepat berakhir,"
"Aamiin," Hayan terkejut saat Idaline menariknya hingga terjatuh ke dalam pelukan gadis itu. Suara dentingan terdengar tepat di belakang kepalanya.
Idaline memasukkan kembali belati ke cincinnya, telapak tangannya ia hadapkan ke wajah musuh, dirapalkan beberapa kata lalu angin besar keluar dari telapaknya menghempaskan lelaki bertopeng keluar dari kereta kuda.
"Jangan bengong," tegur Idaline sudah di luar kereta. Lalu menghilang dari pandangan Hayan.
"Padahal ada kereta pengecoh," Hayan mengambil keris di pinggangnya.
"Ternyata selama ini tuan Bayu berada di dekat saya," ucap Idaline pada Bayu yang saling memunggungi.
"Saya pengawal bayangan. Mana bisa muncul dengan tiba-tiba tanpa keperluan,"
"Mohon bantuannya," kata Idaline sebelum mereka meloncat ke arah berlawanan menghimdari pamah yang menghujam.
"Luar biasa aku tidak bisa mengikuti gerakan mereka," Para prajurit terbengong melihat pertarungan di depan mereka.
"Yang Mulia, mohon tunggu di dalam. Raden ajeng dan tuan Bayu sedang turun tangan,"
"Minggir!" Hayan turun melepas sarung kerisnya. Suara dentingan senjata dan dentuman kekuatan telah berakhir.
Idaline menggerakkan tangannya ke arah Bayu membangun dinding besar di punggung Bayu saat penyamun menargetkan tengkuknya. Ia turunkan tangannya ketika Bayu berbalik melawan si penyamun di belakangnya dan melemparnya jauh lalu melawan dua penyamun yang datang dari kiri dan kanannya.
Bayu melemparkan sihir apinya ke atas kepala Idaline, panah yang mengarah dari selatan hangus begitu saja. Ia lempar bola api yang lebih besar, membakar pohon dan orang-orang yang bersembunyi dalam kegelapan.
Bayu mengusap darah di lengannya yang terluka saat ia fokus pada Idaline. Pupil matanya berubah merah, ia rubah butir-butir darahnya sendiri menjadi bara api, melemparnya pada semua lawan di hadapannya.
"Baru kali ini aku lihat perpaduan kerja sama antara petapa dan penyihir,"
Idaline dan Bayu mendarat di depan Hayan. Mereka mengatur napas sambil tersenyum.
"Kami sudah melumpuhkan mereka–" ucapan Idaline terhenti saat hawa panas menyebar dengan cepat di belakangnya.
"Hayan, apa yang kamu lakukan?!"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 22 Agustus 2021
Mohon berikan like dan komen agar semangat author terpacu :)
Terima kasih atas vote, hadiah, dan shareannya ya
Selalu berada di jalan kebenaran semuanyaaaa
Love, Al-Fa4
Today In History :
Apa ya..???
__ADS_1