TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
079 - ISTIRAHAT


__ADS_3

"Maharani hamil?" tanya Hayan pada Ra Konco yang sedang memberikan resep pada dayang.


Pagi-pagi buta tadi Ra Konco diperintahkan Hayan untuk datang karena Idaline terus memuntahkan air.


Ra Konco melakukan formalitas memeriksa nadi Idaline dan memberitakan seolah itu informasi yang baru didapatnya.


Majikan perempuannya ini belum memberitahukan berita kehamilannya pada Maharaja menilik pria itu sangat cemas dan hampir memberikan jamu penguat tubuh yang tidak baik untuk kandungan.


"Benar, Yang Mulia," jawab Ra Konco menunduk sopan. "Karena Yang Mulia Maharani pernah keguguran, beliau harus dipantau dengan hati-hati. Jangan sampai ada pikiran yang membebani," jelasnya.


"Hoek.. Hoek.."


Bergegas Hayan menuju Idaline yang sedang mengarahkan wajahnya ke kendi, ia ambil handuk dari dayang dan membantu Idaline mengelap wajahnya. "Terima kasih. Terima kasih," ucapnya sembari memeluk sang istri.


Idaline tersenyum, ia mengelus punggung Hayan yang bergetar. Pria besar ini sedang menangis. Idaline jadi ikut menitikan air mata.


Dayang-dayang pun menghapus bulir air yang keluar di mata mereka. Berita ini tentu saja menggembirakan bagi Bhumi Maja.


Hayan melonggarkan pelukannya dan mengecupi perut Idaline yang masih rata. Dia tidak peduli meski jarik Idaline sedikit basah terkena cairan yang tadi dimuntahkan istrinya.


Idaline terkikik geli merasakan hembusan napas Hayan di perutnya.


Hayan menegakkan punggungnya dan menatap hangat sang istri. "Sayangku harus istirahat."


"Benar. Aku harus istirahat." Idaline menegaskan lalu mengalungkan tangannya ke leher Hayan yang sedang menggendongnya ke kasur.


Hayan harus membuat Idaline beristirahat total dan tidak memikirkan hal berat.


Hayan mengulang perkataan ini dan mengukirnya di dalam ingatan sambil menunggu Idaline terlelap.


Sementara itu di tempat yang tidak terlalu jauh namun juga tidak terlalu dekat dari keraton, sekelompok besar pasukan memasuki kawasan tempat beristirahat pasukan dari negeri tetangga, negeri yang akan menjadi besan dengan negeri tempat tinggal mereka.


Mereka mulai menaikkan kewaspadaan sebab menjumpai suasana lapangan yang sangat sepi. Padahal ini adalah waktu pagi, waktu seharusnya aktivitas dimulai.


Pemimpin pasukan besar itu yaitu Indra membeku di tempat tidak dapat menggerakkan tubuhnya.


Lapangan Bubat telah berubah menjadi kolam darah.


Tenda-tenda yang diberitakan tidak ada bekasnya di atas tanah. Dia mengarahkan pandangannya ke kanan, di sana terdapat Bhayangkara sedang mengumpulkan tubuh-tubuh pasukan Balamati.


Pertarungan kemarin terjadi hingga sore hari karena pasukan Balamati lumayan menyeimbangi anggota-anggota Bhayangkara. Malam harinya Djahan menyuruh Bhayangkara beristirahat dan berjaga-jaga terlebih hari mendung dan turun rintik hujan sampai fajar menyapa.


Jadi baru pagi ini mereka membersihkan tenda-tenda dan tubuh-tubuh yang berserakan.


"Mahapatih, apa yang terjadi ..?" tanya Indra pada Djahan yang berdiri dengan pandangan datar di depan gajahnya.


"Daripada bingung, bawa pergi Rangga dan siapkan kapal untuk mengirim semua jasad ini." Djahan menatap dingin Rangga, pasukan khusus Bhumi Maja.


Jika sekarang dalam keadaan normal, dia pasti menghukum berat pasukan tertinggi Bhumi Maja itu karena datang terlambat.


"Saya diperintahkan membawa mereka ke keraton. Bukan memanggil kapal!" bantah Indra.

__ADS_1


"Tuan! Semua wanita melakukan belapati, tidak ada yang hidup dan juga tabib yang kita biarkan turut melakukan belapati," ujar pemimpin regu yang diperintahkan Djahan untuk mengumpulkan dan mengurus jasad-jasad perempuan yang berada di luar Lapangan Bubat.


"Mahapatih, saya yakin tidak ada rencana seperti ini." Indra menuntut penjelasan.


"Rakryan Tumenggung, mari menghadap Yang Mulia Maharaja. Apakah semua jasad ini akan dibawa ke keraton dahulu atau langsung dikirim pulang?" Djahan berkata dengan ringan lalu menaiki kudanya. Gajah milik Djahan menghilang begitu Djahan meninggalkan Lapangan Bubat.


"Rangga, awasilah Bhayangkara. Jangan ada siapa pun yang pergi dari sini!" perintah Indra mengendarai kudanya di belakang sang guru.


Hari telah siang saat Indra dan Djahan sampai di keraton. Indra yakin sekarang Maharaja sedang bekerja jadi dia langsung mendatangi Bale' Ndamel. Namun ternyata Maharaja sedang bersama Maharani.


Hayan terus tersenyum sepanjang hari. Tangan kirinya mengelus perut Idaline dan tangan kanannya menyuapi bubur buatannya sendiri.


Apabila memungkinkan, selama priode kehamilan Idaline, Hayan ingin membuat masakan dengan tangannya sendiri.


Namun tampaknya itu tidak memungkinkan karena sekarang saja seorang dayang datang tergesa dan bersujud di depan kamarnya. Siluet dayang terlihat dari kain yang menutupi jalan masuk.


"Yang Mulia, Rakryan Tumenggung izin bertemu," ujar dayang setelah memberi salam.


Idaline mengalihkan tatapannya dari mata Hayan yang berubah mengecil pupilnya dan menghilang senyumnya.


Pria itu tidak merasa senang mendengar berita yang dibawa dayang. Dia juga merasa bersalah pada sang istri karena harus mendengar berita yang tidak menyenangkan.


Berita tentang istri kedua.


Rakryan Tumenggung datang pasti untuk memberitakan kedatangan calon istri keduanya!


Hayan meletakkan mangkuk kosong ke meja, ia ambil gelas lalu meminumkannya pada Idaline. "Hari ini, aku tidak ingin diganggu," ucapnya setelah beberapa saat.


"Baik, Yang Mulia." Dayang terkejut merasakan seseorang berjalan melewatinya dengan cepat dan memasuki kamar Maharani tanpa permisi. "Tuan Ekadanta..!"


"Ekadanta, perhatikan sikapmu!" Hayan berkata sambil menggertakkan gigi. Suasana hatinya sedang senang namun orang-orang senang sekali mengusiknya!


"Jangan marah. Aku yang memintanya membawakan sum-sum." Idaline memegang tangan Hayan dan menenangkannya kemudian dia kembali fokus pada Candra. "Candra, kembali saja. Hari ini tidak ada yang dikerjakan."


"Baik, kak." Candra meletakkan sum-sum di meja. "Hamba permisi, Yang Mulia."


"Kenapa Ekadanta masuk ke sini?!" Hayan mengerucutkan bibirnya. Dia adalah seorang pria jadi dia sangat tahu yang pria inginkan ketika berduaan dengan seorang perempuan.


Apalagi perempuan itu sangat menarik perhatian seperti maharaninya!


Maharaninya bisa mawas diri namun laki-laki bisa menawan wanita dengan godaan-godaannya yang tidak mencolok.


Dan Candra ini bersikap terlalu dekat!


"Dia hanya membantu. Aku tidak ingin membebanimu." Idaline menangkup wajah Hayan agar tidak lagi melihat punggung Candra. Dia tersenyum kecil dan mengusap rahang Hayan.


"Kamu bukan beban, sayangku." Hayan menangkap tangan Idaline dan mengecupnya. Dia tidak mau melewati batas.


Istrinya harus beristirahat.


"Kamu sibuk dengan pernikahan," cetus Idaline mengunci manik mata Hayan.

__ADS_1


Hayan merasa menjadi manusia paling jahat di dunia.


Istrinya sedang hamil, dia malah mempersiapkan pernikahan dengan perempuan lain.


"Tuan muda Ekadanta," panggil Indra melihat Candra mengambil kudanya di kandang.


"Iya," sahut Candra.


"Apakah Yang Mulia Maharaja ada di dalam?" Indra tidak bisa menunda atau jasad-jasad itu akan membusuk.


"Beliau tidak bisa diganggu," jawab Candra menuntun kudanya keluar. Tidak ada kewajiban baginya untuk meladeni Rakryan Tumenggung. Pria itu pasti ingin membuat Candra berbicara pada Maharani.


Semua orang membicarakan kedekatannya dengan Maharani dan kadang dia dibuat kerepotan dengan permintaan-permintaan yang tidak pernah ia sampaikan pada Maharani.


Candra hanya ingin menghabiskan waktu bersama Idaline tanpa memikirkan orang lain seperti saat dirinya bersama Idaline di Kediaman besar Ekadanta.


"Bersama Yang Mulia Maharani memang penting. Tapi–"


"Kakak sedang hamil," potong Candra. "Yang Mulia Maharaja dan Yang Mulia Maharani ingin menghabiskan waktu bersama. Mungkin bisa beberapa hari." Candra menatap Djahan yang terbelalak.


"Maharani hamil?" beo Djahan dengan pikiran kosong. Tidak mungkin istrinya mengkhianati dirinya!


Waktu di Bale' Ndamel, Idaline pasti dijebak dan setelahnya Idaline tidak mungkin melakukan hal itu!


Namun apa katanya? Hamil!?


"Iya, kakak ha-mil." Candra menekan kata hamil agar pria di depannya sadar.


Sadar bahwa tidak lagi mungkin mengejar Maharani.


Indra memandangi kedua orang yang saling menatap dengan sengit.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 02 November 2021


SsSt ini time travel bukan sejarah sebenarnya yah..


Jadi ceritanya agak beda atau bahkan sangat berbeda dengan sejarah yang sebenarnya.


Ditambah legenda-legenda yang sengaja dimasukkan.


Ada yang bertanya kenapa ga pake nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada?


Karena bagi author sejarah itu sudah mutlak meski ada berbagai variasi cerita.


Jadi author ngga mau membuat-buat kisah tentang mereka yang telah tertulis dalam tinta sejarah.


Bisa saja kelak malah membingungkan anak cucu kita.


Gitu alasannya ya gengs.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote.


Kasih kopi dan bunga juga boleh :D


__ADS_2