![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Udel, kenapa kamu sangat ketakutan ketika identitasmu diketahui?" tanya Dina terombang-ambing mengikuti arus sungai.
"Kuberitahu, orang kerajaan harus yang terakhir tahu kita bukan bagian dunia ini," jawab Idaline.
"Kosekuensinya sebesar itu?"
"Sangat,"
"Ngomong-ngomong, Udel. Kenapa kita terus terjatuh ke bawah?"
"Aku juga sangat bingung. Dari atas terlihat sangat kecil ternyata sangat dalam,"
"Tunggu, arus ini semakin kuat. Kya.."
Jika terbang tidak akan menimbulkan suara dan anginnya sangat sejuk, suara arus jatuh memekakan telinganya. Dina dan Idaline terjatuh terseret air terjun.
Idaline menahan napasnya saat tubuhnya kembali menjadi manusia, ia pejamkan mata melihat sekitarnya penuh dengan sinar.
"Manusia semakin berani saja!" geram sebuah suara yang terdengar maskulin.
Idaline mengerjap merasa sinar di sekitar mulai bersahabat dengan netranya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya seseorang berambut kuning mendekatkan wajahnya ke wajah Idaline.
"Kyaaa!" Idaline menamparnya hingga terpental jauh kemudian Idaline meloncat keluar dari air. "Apa-apaan ini?!" Idaline menutup wajahnya, di depannya ada lima orang lelaki dengan rambut berwarna-warni dan bertelanjang dada.
"Aku sudah menangkapnya," Seseorang berambut hijau mengangkat Idaline menggunakan satu tangannya.
Idaline menyikut orang yang menarik kerah belakangnya. "Rumput?" gumamnya melihat rambut yang memiliki warna selaras dengan rumput.
"Kukira Jene hanya akting ternyata sangat sakit," keluh si 'rumput' mengusap dadanya.
"Mas Wilis, kita tidak ada waktu untuk bercanda," Orang yang dipanggil Jene mendarat di depan Idaline.
"Satu manusia saja tidak bisa kalian tangani?"
Satu pria berambut hitam panjang mengkilap turun dari pohon. Rambutnya yang sedikit bergelombang membuat Idaline teringat akan rambut miliknya sebagai Udelia.
"Mas Cemeng.." ucap Wilis dan Jene bersamaan.
"Manusia semakin berkembang saja. Lelakinya bisa membawa bidadari pulang dan perempuannya tahan menghadapi kita bertujuh," pria berambut biru muncul di belakang Cemeng.
"Apanya yang bertahan? Aku bahkan tidak bisa berkutik, ya kan Din? Din? Dina? Eh kenapa kamu pingsan?" Idaline menatap raga transparan Dina yang tergeletak di pinggir danau.
"Endrawila, kamu atau aku?" tanya pria berambut dan bermata nila.
"Mas Bintu, dia sudah melihat wujud kita dan tidak terjadi apapun," jawab pria yang memiliki rambut berwarna biru dan mata berwarna biru. Ia tidak mau mereka terjebak dengan manusia merepotkan.
"Wungu," Cemeng menatap dingin pria berambut violet yang memegang tangannya yang hendak meraih leher Idaline.
"Dia tidak terpengaruh dengan kita. Mas Cemeng pasti sadar," Wungu menjauhkan tangan Cemeng dari depan wajah Idaline.
"Hahaha sepertinya aku salah arah. Bye," Idaline berlari sekuat tenaga menuju desa yang ramai penduduk. Untung saja raga Dina terus mengikutinya kalau tidak ia akan semakin bingung di situasi membingungkan itu.
Dina terbangun ketika mereka sampai di rumah makan.
"Ada apa tadi? Kepalaku sangat berat setelah terjatuh," ucap Dina memegang kepalanya.
"Kayanya kamu terbentur. Ada kan semacam itu,"
"Sepertinya,"
Saat ada seseorang yang menarik kursi di depan mereka, Dina dan Idaline sontak melihat orang tidak sopan itu. Di sana duduk orang berambut ungu. Aneh, tapi cocok untuk garis wajahnya dengan hidung sedikit mancung, bibir ranum tipis lembab seperti memakai lim blam, dan mata bulat yang juga berwarna ungu meski sedikit lebih terang dari rambutnya. Mungkin karena matanya tampak jelas dari jauh, jadi rambutnya tidak kelihatan aneh.
"Aku tidak menghilangkan kutukanmu karena kamu terlihat tidak peduli pada kutukan itu," Wungu duduk di depan Idaline.
"Kenapa bisa ada orang berambut ungu? Matanya juga?" bisik Dina.
"Aku juga tidak tau." jawab Idaline yang juga baru melihat manusia seperti itu. Di dunia modern mungkin tak aneh, tetapi belum ada lensa kontak di dunia yang belum mengenal kaca mata. "Mereka yang mengeluarkan cahaya itu," balas Idaline berbisik pada Dina. Idaline menatap Wungu. "Penampilanmu akan jadi masalah,"
"Setiap orang yang melihat pasti lupa. Kamu sepertinya berbeda jadi aku ingin meminta tolong,"
"Mana ada orang meminta tolong tanpa sopan santun," cibir Dina.
"Kami sedang berbicara dengan murid Petapa Agung, kenapa hantu transparan ini seenaknya berbicara?" Cemeng duduk di sebelah Wungu.
Mata Dina menyipit mendengar celaan Cemeng. "Hantu transparan? Aku ini manusia!"
Kali ini Dina tidak bertanya pada Idaline karena mata hitam dan rambut hitam terlihat normal bagi seorang masyarakat nusantara.
"Oh. Kamu adalah orang yang mengutuknya lalu mengikuti ke sana ke mari." Cemeng menilai Dina dari atas ke bawah. "Ingin aku hilangkan dia?" tawar Cemeng pad Idaline.
"Mas, nona ini tidak terlihat datang untuk menghilangkan kutukan. Mungkin ada sesuatu yang lain," Kali ini seorang pria berambut biru dan bermata biru mengutarakan pendapatnya.
"Lalu untuk apa dia datang ke Sekar Langit?" tanya Wilis.
"Kalian ini berbicara dan berspekulasi seenaknya! Udel, ayo pergi,"
"Kami belum selesai bicara dan kalian manusia berani membantah?" Mata Cemeng berubah merah.
Jantung Idaline dan Dina terasa panas dan terasa tertusuk-tusuk, mereka memegang dadanya menahan perih. Idaline mengernyit tidak dapat menetralkan sakit itu dengan kekuatannya maupun kekuatan Fusena.
__ADS_1
"Mas!" tegur Wungu. "Sudah kukatakan cukup aku dan Endrawila yang turun ke bumi," Wungu memegang bahu Idaline dan Dina menghilangkan kekuatan Cemeng dari dalam jantung mereka.
"Sudahlah Wungu, kita tidak perlu lagi berbicara dengan mereka," Cemeng menatap rendah Idaline dan Dina.
"Dina, kamu ingat Jaka Tarub?" bisik Idaline mengambil kesimpulan.
"Kamu ingin bilang mereka berubah jadi pria?"
"Aku masih belum memahaminya. Ayo kita dengarkan dulu," ajak Idaline. Dina mengangguk, rasa penasaran yang ditumbuhkan Idaline membuat Dina tidak peduli ketakutannya. Dina menatap sinis Cemeng dan berniat membalasnya jika memiliki kesempatan.
"Apa kalian sudah selesai berdiskusi? Pelanggan lain sangat ketakutan," Jene mengintip dari balik jendela, ia duduk sendirian di luar ruangan. "Meski mereka akan lupa, trauma tetap tertinggal dan tempat ini jadi sepi deh,"
"Kami akan dengar kalau dia pergi," Dina menunjuk Cemeng.
"Kangmas.." bujuk Wungu.
"Adik bungsu tercintaku hilang, kalian ingin aku diam saja?" Cemeng melipat kedua tangannya di atas perut.
"Kangmas kan bisa cari di tempat lain? Biar cepat," usul Endrawira.
"Abaikan saja aku,"
"Baiklah. Katakan," putus Idaline.
"Adik bungsu kami, Nawang, mengikuti manusia dan tinggal di tempatnya. Kami tidak bisa berlama-lama di bumi membantunya mencari selendang miliknya, saudari-saudari kami yang lain akan kesulitan," jelas Wungu.
"Tidak perlu detail begitu. Suruh saja mereka mencari dengan benar," sela Cemeng.
"Maka dari itu kami mohon bantuannya. Kamu lihat selendang kami kan? Selendangnya berwarna merah. Lebih jelasnya, Rekto kemarilah!" pinta Wungu mengabaikan kakak tertuanya.
"Saya di sini, Kangmas," muncul lelaki berambut merah dan tentu warna matanya pun merah. Mata Dina membola melihat keindahan tiada duanya itu, warna merah sangat seksi baginya.
"Seperti ini selendangnya. Rambut kami akan berubah seperti kebanyakan manusia di sekitar kami jika kami lepas dari selendang kami setelah beberapa hari,"
"Aku bukannya tidak ingin membantu. Hanya memiliki kepentingan lain," tolak Idaline. "Merepotkan sekali membantu orang besar. Hadiah besar, hukuman pun besar," batinnya.
"Tiga hari. Mohon usahakan tiga hari. Kalau berhasil kami akan memberikan hadiah," Wungu menatap Bintu, pria berambut nila mengangguk lalu hujan deras yang tenang turun dengan cepat. Tanpa mengucapkan hal lain, mereka bertujuh hilang dari pandangan Idaline dan Dina.
"Kenapa ada pelangi berwarna hitam?" gumam Idaline menatap cahaya hitam terbang ke langit bersama cahaya lainnya.
"Udel, di sini tidak ada kakekku. Lebih baik kita kembali. Sudah lama aku tertidur nanti badanku pegal-pegal,"
"Din, mau lihat dongeng Jaka Tarub dan selendang bidadari?" hasut Idaline. Sudah lama ia tidak bermain dengan teman yang satu frekuensi.
"Baiklah. Beberapa jam lagi tidak masalah,"
••••••••••••••••••••
"Yang kuingat adalah Jaka Tarub seorang pemburu yang kuat. Kenapa di sini malah kelihatan lemah dan kurus begitu? Mana bicaranya bikin greget," kritik Dina menerawang dari lubang-lubang di sebuah kamar yang berguna sebagai tempat cahaya masuk dan untuk sirkulasi udara.
"Haduh aku tidak mengerti pasangan baru itu. Wanitanya pergi mencari buruan, si pria melakukan pekerjaan rumah," Nenek pemilik rumah tempat Idaline menginap muncul membawa susu. "Minumlah nak. Susu baik untuk pertumbuhan,"
"Terima kasih nek," Idaline tersenyum kikuk. Tubuhnya sudah besar dan harus semakin besar?! Idaline berdiri dan memperhatikan tubuhnya hanya sebatas dagu sang nenek.
"Bagaimana dengan tawaran orang-orang desa, nak? Mereka akan pergi esok hari," tanya nenek merujuk pada warga desa yang akan mencari nafkah di luar.
"Tidak perlu, nek. Ada yang akan menjemput Ida, nanti mereka kesulitan kalau Ida berpindah-pindah,"
Idaline yang sedang berdiri di bawah air hujan melihat-lihat setiap rumah di desa Telogo, mencari keberadaan bidadari yang hilang. Kepala desa mengira dirinya anak tersesat lalu membawanya pulang, dari beberapa orang yang mengajukan diri, nenek yang tinggal sendiri karena anak dan cucunya pergi bekerja di luar, dipilih oleh kepala desa untuk tempat Idaline menginap.
"Nenek akan pergi menenun. Ida beristirahatlah lebih lama,"
"Terima kasih nek," Idaline kembali menatap selendang yang dijemur di rumah seberang. "Di sini menghasilkan selendang yang berkualitas,"
"Iya. Kulihat terkadang emas digunakan untuk polanya," sahut Dina. "Mungkin karena aksesnya sangat tertutup jadi tidak populer,"
Idaline mengangguk setuju. Persis seperti ucapan nenek, seorang wanita keluar dari rumah itu membawa panah memasuki hutan belantara. Idaline memegangi kedua sisi jendela lalu meloncat keluar.
"Ada apa?"
"Selendang itu menggangguku,"
Idaline mengendap-endap mengintip seorang pria yang sedang bersiap keluar.
"Aaa," teriak pria itu melihat Idaline.
"Halo,"
"I..iya halo. A-ada apa ya?"
Idaline menangkap gerakan ganjil jari si pemuda. "Mau bekerja?"
"A-aku mau mendaftar untuk ikut menjual barang di luar desa,"
"Oh ya silakan," Idaline memberi jalan lalu mengikutinya ke arah rumah kepala desa. "Kita belum kenalan loh. Aku Ida, siapa namamu?" Idaline mengulurkan tangannya.
"Aku Jaka,"
Idaline menyipitkan matanya melihat gerakan yang sama. "(Oh Jaka, bagaimana kamu bisa kemari?)"
Jaka menghentikan gerakan jari di dahinya, matanya bersinar menatap Idaline. "A-ah haha. Haha," Jaka mengusap air matanya yang keluar karena tertawa berlebihan. "Maaf. Maaf. Aku terlalu senang,"
__ADS_1
"Oh kita sudah sampai," Idaline menunjuk rumah kepala desa dengan jempolnya, ia berjalan mendahului begitu melihat nenek yang sedang sibuk menenun. "Aku bantu nek,"
"Sudah nenek bilang istirahat dulu,"
"Oh anak muda, ada apa kemari?' tanya ramah kepala desa pada Jaka.
"Saya ingin ikut rombongan menjajakan barang,"
"Boleh. Boleh. Kalau begitu langsung ikut latihan bersama rekanmu yang lain. Raga harus kuat untuk menempuh perjalanan jauh," kepala desa menunjukkan ototnya.
"Ah, baiklah," Dengan lemas Jaka berjalan menuju lapangan.
Sementara Idaline menatap jari-jarinya yang keriting. Sudah banyak percobaan tetapi ia selalu gagal untuk menenun. "Aku memang tidak punya bakat,"
"Jangan bersedih. Segitu sudah cukup untuk pemula,"
"Benar, benar. Tidak buruk,"
Hibur ibu-ibu membuat Idaline sedikit tenang.
"Aku bantu, mbak," Idaline beralih mengambil nampan kue yang dibawa perempuan untuk camilan ibu-ibu yang sedang menenun.
"Terima kasih,"
Idaline membagikan kue pada orang-orang yang lewat lalu pergi ke Jaka yang masih berbaring di atas rumput.
"Makanya olahraga supaya tidak cepat lelah," Idaline memberikan air pada Jaka.
"Terima kasih,"
"Bagaimana kamu bisa berakhir di sini?" tanya Idaline duduk di samping Jaka.
"Yah aku sedang berlibur di air terjun Sekar Langit, lalu muncul di balik air terjun,"
"Lalu kamu bertemu bidadari merah?"
"Ahaha bukan begitu. Tidak ada siapa-siapa di sana, saat itu malam dan aku kedinginan lalu melihat kain yang tergeletak, aku lilitkan ke tubuh atasku yang telanjang. Malam itu kali pertama aku berada di hutan sendirian, sangat mencekam sekali," tubuh Jaka merinding mengingat malam yang gelap. "Nawang muncul meminta selendang yang kuambil. Melihat selendangnya terlilit di tubuhku dia memintaku mencucinya, akhirnya dia menemaniku dan mencarikan rumah untukku tinggal,"
"Bukannya sudah terlalu lama?" tanya Idaline.
"Aku yang memutuskan untuk tinggal," Nawang berdiri menjulang di depan mereka.
"Saudara-saudaramu turun ke bumi loh untuk mencarimu," balas Idaline.
"Aku tidak merasakan kehadiran mereka," Nawang mengerutkan dahinya mencoba sekali lagi merasakan keberadaan para bidadara.
"Sebelumnya mereka di Sekar Langit," lontar Idaline.
"Pasti mereka bermain air sampai lupa waktu," kesal Nawang.
"A-ayo kita kembali. Hasil buruanmu kali ini apa?" saran Jaka.
"Aku mendapat ikan,"
"Ba-baiklah. Ayo buat ikan bakar," Jaka berjalan di depan.
"Padahal selendangmu berkibar di depan rumah. Kenapa tidak kembali?"
"Sudah kukatakan, aku yang memutuskan,"
"Hmm," Idaline menyeringai.
"A-apa sih?" ucap Nawang merasa tak enak.
"Udel, apa ada yang sudah kulewatkan?" tanya Dina.
"Tidak kok. Hanya dongeng di sini berbeda," Idaline membantu mengulek sambal.
"Kamu benar. Berbeda sekali," Dina tercengang melihat Nawang memotong kayu-kayu besar menjadi kayu bakar dan Jaka mengerik sisik-sisik ikan.
"Ini kecap," Idaline memberikan botol pada Jaka.
"Te-terima kasih,"
"Santai saja. Sambalnya sudah kubuat, cobalah," Idaline mencolek sambal dengan timun, menyuapkannya pada Jaka. Dia menyeringai pada Nawang di belakang punggung Jaka, Nawang menaikkan alisnya melihat interaksi mereka.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 30 Agustus 2021
Terima kasih dukungannya teman-teman.
Terima kasih untuk pembaca setia dan pembaca baru.
Terima kasih atas like, komen, vote, dan hadiahnya.
Sehat selalu semuanya.
Love, Al-Fa4
August in History :
__ADS_1
28 Agustus 767 M
Lahirnya Imam Syafi'i di sekitar wilayah Gaza, Palestina