![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Sepertinya ada yang aku lupakan?" gumam Idaline menempel di batang pohon.
"Hoaam. Apakah kita sudah sampai?" Dina merenggangkan tubuhnya, karena angin yang sejuk tak sadar dirinya tertidur, tubuhnya benar-benar mengikuti ke mana pun Idaline pergi.
"Iya. Kita sekarang ada di Pragota," Idaline menggeliat menuruni pohon lalu merubah tubuhnya ke bentuk manusia ketika mendarat di tanah.
"Apa tidak akan jadi masalah kalau kamu pakai baju khas daerah lain? Orang kuno kan sangat anti dengan suku lain?" khawatir Dina pada Idaline yang terus berjalan ke arah kerumunan.
"Tenang saja. Pragota itu pelabuhan jadi pasti banyak orang-orang berbeda datang,"
"Aku terlalu fokus belajar sihir kuno malah lupa belajar sejarah," keluh Dina pada dirinya sendiri. Matanya menyapu seluruh sisi daerah, berbagai macam orang datang dan pergi, tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan pakaian dan bahasa orang-orang. "Oh iya bagaimana ceritamu ada di sini? Selama ini aku terus yang cerita," ucapnya penasaran.
"Tidak ada yang istimewa. Aku kelelahan karena bekerja, mimisan, pingsan, lalu terbangun di sini. Sudah lima tahun berlalu,"
"Berarti kamu merasuki tubuh orang?" tebak Dina.
"Iya. Kok kamu tahu?"
"Di dalam buku yang aku pelajari, dijelaskan syarat untuk memasuki dimensi lain. Kamu tidak memenuhi kriteria tersebut. Kusimpulkan kamu sedang koma jadi jiwamu terbang ke sini,"
"Apa ini akan berakhir kalau aku terbangun?"
"Itu hanya perkiraanku. Lagian ada juga penjelasan kalau ingin masuk ke dimensi ini bisa kalau diculik, seperti kakekku,"
"Loh berarti kakekmu merasuki orang?" Idaline jadi teringat kalau tubuh kakeknya Dina sudah ditemukan setelah lima pekan pencarian. Semuanya terkejut karena tubuh mbah Gedhe masih utuh dan hidup ketika ditemukan di hutan belantara.
"Sepertinya begitu,"
"Maka hasilnya satu persen pun belum tentu," Idaline merasa semuanya jadi sia-sia.
Dina tersenyum canggung melihat wajah lesu Idaline. Ia sudah memperkirakan hal tersebut namun Dina tidak akan lelah mencari kakeknya. Tubuh kakeknya masih tersimpan rapih di kediaman sang kakek karena banyak dari keluarganya yang menyaksikan kejadian penculikan Mbah Gedhe dan percaya dia akan kembali meski ada juga sebagian yang menyerah karena ketika ditemukan sudah tidak lagi sadar.
"Bagaimana kehidupanmu di sini?" tanya Dina penasaran.
"Idaline seorang anak pemilik kebun di Janpada–" Idaline menghentikan kakinya di depan toko alat tulis. "Bisa-bisanya aku melupakan hal penting,"
"Terima kasih non," ucap penjaga toko melambaikan tangan pada Idaline dan pegawainya yang mengantarkan belanjaan Idaline ke tempat penginapan. "Jarang sekali orang Kerajaan Maja ke sini," gumamnya menghitung kepingan emas bergambar buah maja.
Idaline menuliskan surat untuk Djahan agar tidak khawatir dan surat untuk Hayan meminta perpanjang waktu cuti beralasan ingin berpetualang. Ia memberi gelang cantik yang dilihatnya dari pedagang Timur pada masing-masing gulungan surat.
Dina dan Idaline ditemani Ruru yang terbang didekat mereka, berkelana dan menginap di setiap desa di Pragota. Setiap sudut jalan mereka datangi memulai pencarian Mbah Gedhe.
"Aku tidak tahu ternyata sulit sekali mencari kakek," meski transparan, Dina merasakan kelelahan karena Idaline berjalan dengan cepat. Ia membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Sudah sebulan tak ada satu jejak pun,"
"Menurutku kakekmu tidak masuk badan orang lain deh tapi disegel. Karena pasti repot kalo jadi manusia," terka Idaline menyedot jus di tangannya. Ia tersenyum merasakan kenikmatan melewati tenggorokannya. "Untung dapat es yang belum dipakai," Idaline menggoyangkan gelasnya hingga terdengar suara tabrakan antar es.
"Masalahnya kakek bilang kalau diculik, orang akan dijadikan budak. Pasti dimasukkan ke badan orang untuk mempekerjakannya. Mana mungkin cuma jadi koleksi,"
"Hm.. Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan," Idaline bangkit berganti pakaian.
"Kamu yakin?' khawatir Dina melihat pakaian Idaline. Ia makin cemas melihat Idaline hanya tersenyum membalasnya lalu berjalan menuju tempat sesuai perkiraannya.
••••••••••••••••••••
"Kalian kembalilah ke istana. Perkuat penjagaan di sana. Cepat," ucap seorang pria yang wibawanya tak hilang meski tak memakai baju kebesaran. Matanya menatap lalu lalang prajurit lain dengan bebas. Rahangnya mengeras meremas surat di tangannya.
"Tapi Anda dan–"
"Jangan buat aku mengulangi ucapanku," potongnya.
"Baik, Yang Mulia,"
"Prayogi, Ambil pakaian dan cincinku di kuda,"
"Baik, ayahanda,"
"Selamat datang tuan," ucap penjaga penginapan. Prayogi mengangguk mewakili ayahnya yang diam dengan raut wajah penuh amarah.
Prayogi memasuki kamar dengan sang ayah membantunya mengganti pakaian dan pakaiannya sendiri. Cincin dengan batu akik besar mereka pasang di jari tengah.
"Siapa yang menginap di lorong bawah kamarku?"
"Kalau hari ini ada sepasang suami istri yang baru masuk. Selebihnya menginap dari beberapa hari lalu. Bulan ini cuacanya sangat bagus untuk berlayar," jelas seseorang yang memakan apel di belakang meja kasir.
"Aku mau daftarnya," pintanya pada sang sahabat.
"Ayahanda, apakah ada orang mencurigakan?" tanya Prayogi.
"Selain tamu istimewa di luar sana. Mungkin ada tamu lain yang sudah datang terlebih dahulu," tebaknya menatap lantai atas bangunan penginapan.
"Ananda akan menyuruh orang mengawasi di sana,"
Kemudian mereka bergegas kembali ke tempat semula menyambut tamu istimewa yang telah sampai.
"Apa pantas berperilaku seperti ini, Tuan Mahapatih?"
"Saya sudah mengirim surat izin mencari seseorang di sini, Yang Mulia Pracara,"
__ADS_1
"Surat?" kesal Pracara, ia baru mendapatkannya ketika sedang menyamar. Itu berarti Djahan mengirimkan surat ketika sudah sampai di Pragota.
Saya Djahan Mada mohon izin memasuki wilayah Anda karena sesuatu yang mendesak.
"Itu izin atau sekedar pemberitahuan?" kesalnya bertambah mengingat secarik kertas yang bahkan tidak tersegel. Pracara lantas menatap lurus Djahan. "Saya tidak bisa menoleransi tiga ratus tujuh puluh lima ksatria berkeliaran di wilayah saya."
"Anda mempertanyakan kualitas ksatria Kerajaan Maja?" tuduh Djahan.
"Saya tau Anda sekalian sangat memegang harga diri dan janji ksatria. Tetap saya tidak bisa diam saja,"
"Saya katakan, Raden Ajeng menghilang ketika berlatih bersama para prajurit dan ksatria. Apa mungkin ingin menginspeksi wilayahmu?"
Pracara terbelalak, sedetik kemudian ia mengerutkan dahinya. Pragota adalah wilayah yang diberkati Petapa Agung karena menghilangkan sistem perbudakan, karenanya alam selalu berpihak ketika kapal-kapal Pragota berlayar menjemput orang-orang asing di negeri-negeri mereka.
"Yang Mulia Raden Ajeng pasti sedang melakukan tugas dari Petapa Agung," ucap Pracara kembali serius air mukanya. Semua wilayah yang diberkati tahu identitas murid kedua Petapa Agung.
"Akan menyulitkan kalau dia menemukan tempat itu. Saya datang ingin membawanya kembali," Djahan meminta kerja sama. Ia tidak terlalu mempermasalahkan perbudakan karena itu cara terbaik mengendalikan banyak orang oleh sedikit orang meski Djahan sendiri tidak melakukannya.
"Informasi Anda sangat cepat sekali. Saya bahkan baru mendapatkan laporan sebulan yang lalu," puji Pracara.
"Yang melakukan adalah orang di sekitar Anda. Tentu mereka menutup akses yang akan sampai pada Anda. Dan pekerjaan Anda tidak bisa fokus pada satu masalah. Tapi Petapa Agung sangat adil pada semua orang. Anda yang tidak mengetahui dapat membuat nyawa ribuan orang melayang,"
"Kesalahan saya. Kalau begitu mohon bantuannya,"
"Apa Anda sudah menemukan tempatnya?"
"Seperti kata Anda, akses saya sangat terbatas. Tapi saya merasakan kekuatan murni di penginapan," Pracara mengepalkan tangannya. Sudah sepuluh tahun ia berkuasa namun semua orang benar-benar meremehkannya. "Tuan, kami ingin lautan tak terbatas,"
"Ayahanda?!" pekik Prayogi. Arti ucapan ayahandanya adalah ingin tunduk di bawah Kerajaan Maja. Prayogi mengerti posisi sulit Pracara selama ini namun menyerahkan diri pada orang asing adalah hal yang tidak pantas.
"Pikirkanlah dengan tenang jangan terbawa emosi. Kita sudah bersahabat sebagai tanah yang diberkati," Djahan menilai Pragota terlalu jauh walaupun memiliki sumber daya yang menguntungkan bagi Kerajaan Maja.
Namun bila Pragota menyerah, kerajaan lain juga akan menata pikirannya. Dan itu semakin menambah pekerjaannya.
"Benar ayahanda. Sekarang kita harus fokus meratakan rumah perbudakan," ucap Prayogi memperingatkan.
"Saya benar-benar serius," ucap Pracara.
"Saya tunggu dokumen resminya," Djahan berjalan menuju Bayu yang ikut bersamanya.
"Hamba sudah menemukan jejak kutukan yang sama ke arah selatan," ujar Bayu.
"Kumpulkan semuanya. Pergi ke sana," Djahan menaiki pelana kuda
"Ayahanda. Bagaimana kita bisa tunduk tanpa perlawanan?!" marah Prayogi.
"Tanah yang diberkati adalah keinginan semua orang. Tapi benarkah diberkati adalah sebuah berkat? Nyatanya berkat akan menjadi bala bila tidak memenuhi keinginan berkat," ucap Prayogi mengingat isi buku.
Pracara mengangguk mendengar kalimat yang diucapkan anaknya. "Raden Ajeng Paramudita adalah murid Petapa Agung. Jarak dari Kerajaan Maja ke Kerajaan Pragota adalah beberapa hari namun kalau untuk memenuhi tugas Petapa Agung, perjalanan akan singkat. Di penginapan aku merasakan kekuatan murni dan suci sama seperti yang ada di dalam sini," Pracara mengusap cincinnya.
"Kalau begitu kemungkinan besar Yang Mulia Raden Ajeng sudah mengetahui rumah perbudakan dan mengambil berkat dari tanah kita. Tapi cincin berkatnya.."
"Cincin ini diberikan untuk melindungiku. Kalau berkatnya hilang, kekuatannya juga hilang. Berkat kita adalah tidak adanya perbudakan di kerajaan, kalau muncul satu saja maka berkat akan jadi bala. Apalagi rumah perbudakan sudah berjalan selama lima tahun, entah hukuman apa yang akan diturunkan,"
"Jadi ayahanda ingin bergabung agar tidak ada hukuman?"
"Iya, kita akan mendapat perlindungan Kerajaan Maja. Dan krisis yang akan menimpa rakyat bisa saja tidak terjadi,"
"Bagaimana dengan mereka yang bersalah? Ayahanda nyatanya hanya memikirkan diri sendiri!" tukas Prayogi.
"Kerajaan Maja sangat adil,"
••••••••••••••••••••
"Apa yang kalian lakukan?! Jangan bermalas-malasan! Cepat jalan! Pemilik tempat ini akan datang. Bersikaplah yang baik, siapa tahu kalian akan dipilih menjadi pelayan kediaman beliau." kata pria bertubuh kekar membangunkan orang-orang di dalam sel.
"Udel, sepertinya zaman kuno semua orang memakai budak. Bisa saja kakek ada di tempat lain. Lebih baik kita keluar," ucap Dina takut-takut. Ia belum pernah melihat perbudakan secara langsung. Keadaan orang-orang sangat miris, banyak di antara mereka tinggal tulang-belulang belum lagi bau yang tak sedap karena tak pernah mandi.
"Petapa Agung sudah tua jadi jarang mengecek tanah-tanah yang diberkatinya. Aku dengar tentang rumah perbudakan di sini," kesal Idaline.
Pujian-pujian masyarakat pada adik sepupunya itu seperti omong kosong belaka baginya, Idaline selalu memperhatikan Fusena tak fokus pada rakyat setempat ketika mereka beristirahat.
Adik sepupunya itu malah seperti seorang pramusiwi, orang yang merawat bayi, terhadap dirinya. Jadilah banyak kejahatan yang terlewat dari pandangan mereka seperti rumah perbudakan tempatnya kini berpijak.
"Udelia?!" panggil Dina diabaikan ucapannya.
"Mbakyu kenapa muka mbakyu pucat?" tanya anak kecil yang duduk di sebelah Idaline.
"Aku hanya kedinginan," Idaline memeluk kakinya dengan erat sambil mengeluarkan napas panas dari mulutnya. "Kamu umur berapa dik?" tanyanya penasaran.
"Tujuh tahun,"
"Ini baru benar. Aku sepertinya kelebihan gizi," Idaline melihat tangan lebarnya. "Siapa namamu dik?"
"Aku Ilir,"
"Ilir? Kipas?" Idaline tertawa kecil.
__ADS_1
"Nama mbakyu siapa?" tanya Ilir jengkel mendengar ejekan Idaline.
"Kari," jawab Idaline memikirkan kuah ramen.
"Kari? Ketinggalan?" Ilir tertawa.
"Tawamu akan mengundang masalah," Idaline menggerakkan alisnya ke arah penjaga sel.
"Aku selalu tertawa mendengar nama penghuni di sini. Ilir itu lebar dan tipis seperti tubuhku," Ilir menghentikan tawanya. "Ini karena kita diberi makan sesekali saja. Mbakyu beruntung masuk pas pemimpin akan kemari, makanannya enak supaya kita kuat. Biasanya sih makanan sisa yang dicampur air,"
"Sekarang wanita cepat berdiri!" teriak penjaga menggebrak-gebrak pintu sel. Perempuan-perempuan lemah bangun dengan pelan, banyak dari mereka kehilangan kecantikannya karena tubuh mereka kurus dan tak terawat. Penjaga tak sabar kemudian menarik mereka paksa hingga berdiri.
"Oh mas Jono sepertinya dipilih," ucap Ilir riang melihat para lelaki kembali masuk sel.
"Ilir selalu riang," ucap ketua penjaga.
"Iya dong kan bisa saja hari ini aku keluar terus jadi permaisuri~ Seperti ibu suri sekarang~"
"Sampai bisa disapa dengan lembut oleh orang yang menyiksa setiap orang di sini. Udel kamu harus berhati-hati dengannya," ucap Dina memperingati.
"Iya," Idaline mengangguk. "Kamu fokus saja. Aku akan melakukan hal lain," kata Idaline memikirkan sebuah rencana pembebasan seluruh tawanan.
Dina mengangguk meninggalkan Idaline lalu pergi melihat-lihat para budak dan penjaga.
"Aduh ikatanku menyambung ke mbakyu. Bagaimana kalau mbakyu ikut aku ke ruang terpisah?" ajak Ilir. "Kamu dari mana? Sepertinya bukan budak yang kesusahan? Apa tuanmu menjualmu ke sini? Tapi kudengar dari ketua, kamu ditangkap oleh pengawal ketika di perjalanan bersama tawanan yang tiba-tiba kabur dari kereta," batin Ilir.
"Aku sudah bicara pada pemilik tentang kecerdasanmu. Tapi kamu tidak bisa membawa orang," kata Ketua Penjaga memperingati.
"Ayolah ketua. Dia juga sangat pintar menilai situasi tidak menangis meraung-raung setelah dijual orang yang dipercayanya," pinta Ilir namun ketua penjaga mengabaikannya.
Idaline menaikkan alisnya. "Aku tidak pernah cerita begitu," ucapnya dalam hati. "Urgh," Idaline memegang jantungnya yang terasa panas. "Huft. Huft," pandangannya memburam ketika jatuh ke tanah.
"Aw," Ilir ikut jatuh. "Mbakyu gapapa.."
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya ketua yang memegang talinya. "Mana temanmu?"
"Ah itu. Semua diminta tuan muda menghadap,"
Ketua menyipitkan matanya menatap Ilir. "Jangan menunda lagi,"
"Untung mbakyu berubah di lorong sepi," Ilir menatap Idaline di genggaman tangannya kemudian menaruh di bahunya, ia tutupi tubuh Idaline dengan rambut panjangnya yang terurai. "Oh aku lupa bilang. Semalam mbakyu berubah menjadi keong mas saat malam hari. Untung semua tidur lelap karena kenyang dan penjagaan lebih longgar karena mereka pesta daging sapi,"
"Apa kamu bilang?" tanya ketua.
"Aku sedang mikirin ucapan apa yang bisa meyakinkan hati pemilik," Ilir berkedip perlahan. "Aku ga mandi dulu?" tanyanya merasakan tubuhnya lengket.
"Tuan buru-buru. Kamu ga usah basa basi,"
"Baik ketua,"
"Tuan Joyo, ini adalah anak yang saya katakan,"
"Wajahmu lumayan. Katakan apa isi otakmu?"
"Saya Ilir–"
"Ehem," dehem ketua penjaga memperingati Ilir agar tidak berbasa-basi. Ketua penjaga melirik Ilir untuk segera menunjukkan kecerdasannya agar mendapat tempat di rumah pemilik rumah perbudakan tempat mereka berjumpa selama satu setengah tahun terakhir.
Ia sangat menyayangi Ilir dan berharap Ilir mendapatkan tempat terbaik
"Tuan, kenapa Anda tidak membeberkan tempat ini?"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 27 Agustus 2021
Teman-teman jangan lupa bubuhkan like dan komen yaaa untuk menyemangati author
Maaf kalau ceritanya agak membingungkan semoga author semakin lebih baik
Terima kasih atas like komen vote dan hadiahnya
Sehat selalu semua
Love, Al-Fa4.
Today in History :
27 Agustus 1781 M
Kemenangan di Perang Pollilur
11.000 tentara British
vs
10.000 Mujahid Kesultanan Mysore
__ADS_1
Tipu Sultan berhasil menangkap 200 tentara dan 3.800 sepoy