![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Yang Mulia Maharaja, kami semua tahu Anda memilih Yang Mulia Maharani karena kecerdasan dan kebijaksanaan beliau. Namun.." ucap Madhu Buntala, salah satu anggota sapta prabu. Ia menatap ketiga rekannya yang mengangguk padanya.
Sapta Prabu adalah kelompok yang terdiri dari tujuh tetua. Kelompok ini biasanya memutuskan masalah di luar tugas pemerintah yang dijalankan Maharaja kecuali Maharaja sendiri telah melewati batas, mereka akan memutuskan bila Maharaja tidak mampu.
Selain itu tugas utama mereka yang biasanya dijalankan tiap pergantian pemimpin adalah menentukan pasangan resmi pemimpin; Raja, atau yang sekarang menjadi Maharaja. Selanjutnya Maharaja diperbolehkan memilih perempuan lainnya.
Maharani harus melewati tugas dari Sapta Prabu untuk mendapatkan restu mereka, tidak boleh ada satu pun anggota Sapta Prabu yang tidak setuju.
Untuk yang sekarang menjadi Maharani pertama, siapa yang dapat menolaknya?
Siapa yang dapat melawannya?
"Kertawardhana Bhre Tumapel dahulu menjanjikan secara lisan pada Prabu Lingga Buana dari Kerajaan Galuh untuk mempersatukan Yang Mulia Maharaja dengan Tuan Putri Citra Resmi," ujar Madhu.
Janji adalah hal yang harus dipenuhi!
"Mentri Madhu mengingat dengan jelas," sarkas Hayan.
"Hamba sudah membawa potret beliau barangkali Yang Mulia lupa setelah berpisah saat belum memasuki usia dewasa." Madhu berkata dengan berani.
Ia harus mendapatkan bagian hadiah lebih banyak!
Berbicara dengan lancang pada pemimpin yang dikenal kejam oleh mereka merupakan tindakan menghantarkan nyawa secara sukarela.
"Janji meski tidak tertulis harus ditepati, Yang Mulia," timpal Baga Sapta. Ia tidak menginginkan hadiah. Hanya saja ia melakukan hal yang seharusnya dilakukan.
"Tuan Baga, Yang Mulia Maharaja tidak akan melakukannya. Janji itu dibuat oleh Kertawardhana, bukan Yang Mulia Maharaja. Tidak ada kewajiban bagi beliau untuk melaksanakannya," tutur Djahan. Mana mungkin dia membiarkan perempuan dari kerajaan lain masuk ke dalam kawasan tertinggi Bhumi Maja?
Dan dia tidak ingin ketenangan Idaline terganggu.
Waktu Idaline, tidak, waktu istrinya tinggal sedikit lagi untuk kembali ke dunia .
"Padahal saya sedang membantu Anda," ucap Baga dalam hati.
Baga ingin maharaja menikahi perempuan yang telah dijanjikan ayah maharaja dan Idaline pun bisa terlepas dari genggaman tangan maharaja.
Putrinya menganut keyakinan satu pria untuk satu wanita dan satu wanita untuk satu pria.
Jika bukan gurunya yang mengajarkan. Siapa lagi?
"Tuan Mahapatih, ini akan menyatukan Kerajaan Galuh dengan Bhumi Maja. Lalu di pulau ini tidak akan ada kerajaan lain. Hanya ada Bhumi Maja. Tuan Putri Citra Resmi adalah putri mahkota Kerajaan Galuh," ungkap Catra Yuswanto yang telah menyetujui bersama beberapa anggota Sapta Prabu lainnya.
"Masih ada kerjaan Sun-"
"Beliau memiliki banyak kemampuan. Lukisannya indah, kaligrafinya bagus, dan beliau menguasai seluruh bidang kesenian, akademisnya termasuk yang terbaik, bela diri pun dipelajari beliau dengan tekun," tambah Yuswanto.
"Cantik," ucap Hayan yang sedang memegang lukisan. Setelah beberapa saat terdiam memperhatikan dengan saksama, Hayan merasa perempuan di lukisan itu sangat cantik.
Dan entah mengapa jantungnya berdebar pada mata yang menatap tajam seperti menembus padanya.
"Mentri Madhu, lamarlah Putri Citra Resmi untukku. Katakan aku akan menjadikannya Ratu Bhumi Maja," imbuh Hayan menitahkan sapta prabu yang sedang membujuknya.
"Yang Mulia Maharaja, Anda baru saja menikahi maharani!" tegur Djahan tidak terima.
Jika menduakan Idaline, lebih baik pria itu tidak mengambil Idaline dari tangannya!
__ADS_1
Djahan jadi ingin menggerakkan pasukkannya sekarang juga!!
"Mahapatih, kita hampir kehilangan jiwa seni karena terus berperang dan berdagang. Putri Citra Resmi sangat pas untuk menghidupkan kembali seni di Bhumi Maja," tutup Hayan tidak ingin dibantah.
"Hoek..hoek..uhuk uhuk."
"Kak!" Candra memberikan air pada Idaline.
"Ternyata rasanya ane- hoek, sekali wkwk."
Merasa bosan memantau renovasi kedaton Sedap Malam yang berjalan mulus, Idaline mencoba mencampurkan jamu pahit dengan jus yang dingin. Tapi rasanya menjadi benar-benar aneh dan ia mendapatkan mual yang tidak dapat dihentikan. Setelah minum ia terus mual tanpa suara dan terbatuk-batuk.
"Uhuk uhuk."
"Yang Mulia, hamba akan memanggil tabib," ucap dayang pribadi Idaline.
"Tidak perlu. Aku hanya merasa pahit. Ambilkan cokelat manisku saja." Idaline menjauhkan kendi dari wajahnya. Perutnya kini membutuhkan cokelat untuk menetralkan segala macam rasa pahit yang tersisa di lidahnya.
"Kakak bilang cokelat tidak baik bila dikonsumsi terus menerus. Bagaimana kalau ini?" Candra menjetikkan jarinya. Dayang yang tadi disuruh Candra, berjalan dengan tergopoh-gopoh, ia baru saja sampai di gapura!
Tidakkah orang itu berpikir jauhnya gapura dan tempat mereka duduk?! Belum lagi dia harus berjalan memutar karena banyaknya bahan bangunan yang tergeletak di tanah.
"Candra memang yang paling pengertian," puji Idaline meminum teh peppermint yang sempurna berada di gelasnya tanpa ada tumpahan meski terguncang-guncang.
"Untuk menghilangkan pahitnya, aku siapkan kue cincin kak." Candra mengambil piring dari nampan dan meletakkannya di depan Idaline.
Dia tahu! Candra tahu Idaline akan merasa pahit. Tidak ada yang bisa menandingi kepahitan jamu kesehatan yang rutin diminum Idaline.
"Rasanya sudah tidak kuat~" keluh Idaline memegang perutnya.
Idaline buru-buru meletakkan kue cincin dan kue cikak di pisinnya. Perpaduan sempurna untuk mengembalikan rasa lidah yang pahit!
"Kakak tetap memakannya," cibir Candra.
"Idaline."
"Mahapatih datang berkunjung?" tanya Idaline, ia dan Candra sedang melihat orang berlalu-lalang membawa barang.
"Aku sudah melihat desain untuk bangunan keraton," jawab Djahan tanpa basa-basi.
"Bagus kan? Bahan-bahannya sudah kutunjukkan tempatnya."
"Tidak bisa. Kamu tahu sendiri bentuknya terlalu aneh." Djahan memberikan gulungan.
"Mahapatih, bersikaplah yang sopan pada Yang Mulia Maharani," tegur Candra. Selan dirinya, tidak boleh ada yang tidak sopan pada Idaline, tentu saja maharaja berbeda.
"Anda harus mengatakan hal itu pada diri sendiri. Berani sekali duduk di samping Maharani."
Pada awalnya Djahan memaklumi kedekatan Idaline dan Candra, ia juga tidak masalah bila terkadang Idaline menceritakan tentang Candra.
Tapi rasanya kali ini ia melihat sesuatau yang berbeda.
Tatapan Candra pada Idaline bukan hanya sekedar tatapan seorang adik pada kakaknya seperti yang Idaline katakan.
"Saya diperintahkan untuk duduk, maka harus duduk." Candra menampilkan senyum tipis. Perkataan ini bahkan bisa membungkam pria tertinggi Bhumi Maja, Maharaja.
__ADS_1
"Tetap tidak sopan duduk bersama, hanya berdua di depan umum. Dan Maharani-" Djahan menghentikan ucapannya melihat Idaline sedang menonton mereka.
"Aku belum menghabiskan kueku," sela Idaline saat kedua pria itu menatapnya, ia jadi menikmati alunan pertengkaran keduanya yang tidak terelakkan setiap bertemu.
"Djahan, batalkan saja. Itu desain uji coba, siapa tau kamu kepikiran membuatnya." Idaline memandang penuh harap pada Djahan.
Djahan menghela napas panjang. Apakah Idaline sudah melupakan asalnya sendiri? Bagaimana Idaline memasukkan budaya dari dunianya ke dunia ini?
Rumah kotak tanpa atap? Apa-apaan itu!
"Saya tidak kepikiran membuat hal aneh," cetus Djahan.
"Ya sudah buang saja, kenapa diberikan kemari?!" kesal Idaline.
Ia sudah bersusah payah memadukan gaya bangunan kuno dengan gaya bangunan modern agar cocok dengan masa ini.
Di atap itu, Idaline berharap bisa menikmati waktu melihat bintang bersama Djahan tanpa perlu khawatir terjatuh. Ia juga bisa membawa beberapa camilan ke atas meja yang tersedia atau menggelar kasur dan tertidur di bawah langit.
Tapi nampaknya mereka tidak cocok dalam hal ini.
Idaline lupa, Djahan adalah seorang pria yang sangat membanggakan sukunya. Sudah suatu keberuntungan besar Djahan mau menerima 'dirinya' yang merupakan suku campuran.
Tapi benarkah Djahan menerimanya?
Bila ia datang sebagai Udelia yang merupakan campuran dua suku besar pulau ini.
"Yang Mulia, saya hanya ingin berkata, Anda harus ingat!" jawab Djahan. "Permisi." Tanpa mendengar izin, Djahan melenggang pergi.
"Kak, mahapatih begitu tidak sopan," adu Candra setelah kepergian Djahan. Ia ingin pria lain yang tak sopan pada Idaline dihukum, namun mahapatih tidak bisa ia hukum dengan kedua tangannya sendiri.
"Sebenarnya Djahan adalah mantan suamiku," ujar Idaline menghela napas berat. "Atau masih? Dia tak kunjung menandatangani kertas cerai," gumamnya. Situasi ini benar-benar membingungkan bagi Idaline.
Idaline jadi mengerti perasaan nyai yang menikahi kekasihnya di masa penyamaran dan ketika pulang ke pendopo dinikahkan dengan adik seperguruan oleh gurunya. Nyai itu tidak memilih di antara keduanya dan lebih memilih untuk sendiri.
Andai saja Idaline memiliki kebebasan, untuk sekarang ia juga tidak akan memilih antara keduanya.
Djahan sangat ia cintai. Tetapi rasanya ia tidak bisa mengkhianti Hayan.
Idaline benar-benar merasa mengerti perasaan nyai meski sebagian orang mencibirnya sebagai seorang pengecut.
"Kakak, kamu benar-benar diinginkan!" seru Candra dengan tatapan memuja.
"Idaline yang diinginkan." Idaline tersenyum kecut.
"Bukan aku."
••••••••••••••••••••
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 21 Oktober 2021
__ADS_1