![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Idaline mengetuk-ketukkan jarinya di meja. Perayaan berakhir dua hari lebih cepat daripada jadwal seharusnya. Ia belum mendapatkan berita apa pun karena orang-orang terus berkunjung ke kediamannya, tentu saja untuk bertemu Hayan.
Namun yang sangat kerepotan adalah dirinya. Idaline harus memastikan sendiri semua makanan aman dan tidak ada trik-trik kotor yang dilakukan antara satu perempuan pada perempuan lain. Kelicikan perempuan dengan obsesi tinggi lebih mengerikan daripada strategi perang.
Kalau masuk dunia peperangan, para wanita itu mungkin kecerdasannya bisa setingkat dengan Syajarah Ad Durr yang menjadi otak kemenangan perang dan keberhasilan menawan Loius IX atau menjadi seperti laksamana perempuan pertama di dunia, Keumalahayati, yang mampu memimpin para wanita di garda terdepan melawan penjajah.
Idaline menghela napas. Entah sudah berapa bubuk racun dan benda-benda santet ia temukan hampir mengenai para korban.
Idaline sekali lagi menghela napas. Banyak dari tamunya yang sehari adalah korban, di hari selanjutnya ia adalah pelaku. Semua bukti Idaline serahkan pada Hayan yang menjadi sebab perang dingin itu.
"Kenapa dia belum datang?"
Sudah lewat puluhan menit Hayan masih saja belum menunjukkan batang hidungnya. Idaline merasa cemas perang benar-benar terjadi karena Hayan tidak pernah terlambat berkunjung di pagi hari.
"Yang Mulia Pangeran mulai ikut rapat pagi, Yang Mulia." ujar dayang yang menemaninya.
"Sepagi ini?"
Langit masih kemerahan setiap Hayan datang ke Kedaton Sedap Malam, berarti baru sekitar pukul setengah enam. Sedangkan rapat selalu dimulai saat matahari sudah naik guna penerangan dalam ruangan lebih jelas.
"Sangat jelas ini karena perang." gumam Idaline semakin cemas.
"Guru, kamu sudah menunggu." Itu adalah pernyataan bukan pertanyaan. Dalam hati Hayan tersenyum semringah melihat Idaline bersiap di tempatnya menunggu dirinya.
"Sudah aku bilang panggil saja Ida."
Hayan menjawabnya dengan senyuman misterius.
"Jangan lupa aku ini inang sihir hitam."
"Guru tidak perlu khawatir. Mahapatih sudah menceritakan kejadian di kediamannya. Ada Petapa Agung menemani guru yang terbaring sakit."
"Bagaimana situasinya?" Idaline memberikan cangkir teh pada Hayan.
"Wengker telah merebut Wukir Mahendra, membantai keluarga dan pekerja Ki Ageng Lawu, mengusir orang-orang desa dan melarangnya kembali, serta merebut sumber daya beberapa kerajaan kecil di sekitar mereka. Tidak ada jalan lain."
"Apa itu benar-benar terjadi?" Idaline masih berpikir itu hanyalah kabar angin.
"Dopo sendiri yang memimpin pasukan."
Udelia menuliskan naskah itu dari prasasti yang dipegang warga. Karena tidak terbaca, negara membiarkan warga memilikinya dan warga tetap menganggapnya sakral meski tidak diakui oleh pemerintah sebagai prasasti.
Saat Udelia datang, ia bisa membacanya dengan lancar. Aneh memang karena ia sudah melupakan pelajaran aksara jawa dan juga sulit mengikuti les bahasa sansekerta, ikut tim peneliti pun ia hanya merapihkan dokumen atau membuat rangkuman.
Udelia tidak mengatakan ia mengerti artinya ketika Dewi, seseorang yang cerdas bahasa sansekerta dan kuno dalam tim peneliti, menyatakan tidak ada satu pun kata yang tertulis. Dewi menerangkan itu hanyalah sebuah gambar atau coretan tanpa makna, akhirnya Udelia berkata mengarang alur cerita dari beberapa kata yang muncul di tembok goa.
"Memang sulit mempercayai orang lain. Lebih baik kita mengurusnya sendiri." ucap Hayan.
"Kalau begitu namanya serakah."
"Serakah?"
"Menyimpan sendiri hal yang harusnya dibagi dengan orang lain." jelas Idaline.
"Apa serakah itu dilarang?"
"Tentu saja."
"Ida tidak suka orang serakah?"
"I-iya," gugup Idaline belum mempersiapkan hati, tidak menyangka Hayan tiba-tiba merubah panggilannya.
"Kalau serakah akan seseorang juga ngga boleh?"
"Hah? Apa?" sahut Idaline tidak fokus.
"Kalau kita menginginkan seseorang terus berada di sisi kita. Tidak boleh ada yang mendekatinya. Harus kita saja yang diperhatikan. Apa tidak boleh?" Hayan menatap intens Idaline, ia tersenyum kecil ketika Idaline membalasnya.
"Tidak boleh." Tatapan mata Idaline berubah serius namun juga menerawang jauh. "Tapi kalau aku, pasti akan menahan orang itu. Hanya aku yang boleh mendapat perhatiannya." Idaline mengerjapkan matanya menyadari ucapannya. "Ah lupakan saja. Itu hal tidak baik."
Setelah beberapa menit tidak membalas ucapan Idaline, Hayan mengalihkan pembicaraan ke pelajaran kemarin yang belum usai.
••••••••••••••••••••
Idaline menatap Parikesit yang lewat di depannya, kepergian Cethi sama sekali tidak mempengaruhi lelaki itu.
"Tuan, mari minum teh sebentar." ajak Idaline sedikit berteriak karena jarak mereka memang agak jauh.
Parikesit menghentikan langkahnya mendengar ajakan Idaline. "Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita." ucap Parikesit membungkukkan sedikit tubuhnya tanpa bersimpuh.
"Tidak perlu sungkan."
"Mohon maaf sekali, Yang Mulia. Saya terburu-buru."
"Kristal kaca." lirih Idaline.
Parikesit yang sedang menunduk memberanikan dirinya melihat wajah Idaline. Gadis itu mengulang kata-kata yang sama tanpa suara.
"Mari." Idaline masuk ke dalam halamannya. Para dayang membawa kursi yang Idaline pakai di luar pagar lalu menyusul Idaline.
"Seseorang yang diangkat jadi Raden Ajeng belum genap tiga bulan sudah mampu mendapatkan informasi lebih dari seorang ratu. Anda sangat mengesankan." Parikesit menerima tehnya, menghirup aromanya lalu meletakkannya kembali.
"Minumlah selagi hangat." Idaline mengambil gelasnya. "Padahal Anda tahu seberapa kuat bebatuan kristal yang belum lama ditemukan keluarga Anda. Apakah Anda ingin membuat perang skala besar?"
"Mereka belum tentu menemukannya. Kami saja baru melihatnya setelah tersesat pada bagian hutan terlarang."
"Apa Anda bodoh? Mereka hidup dikelilingi hutan terlarang, tentu saja hutan terlarang lainnya bukan masalah besar untuk mereka. Selanjutnya tidak mungkin memakan waktu untuk menemukan bebatuan kristal. Dan Anda ingin kerajaan Maja berperang dengan kerajaan Wengker yang sudah berkembang itu?"
Parikesit tertegun mendengar penuturan Idaline, ia tidak memikirkan apa pun selain ingin cepat-cepat memberitakan kejadian di tempatnya. "Saya salah tidak memikirkannya sampai ke situ. Tapi belum tentu mereka bisa menguasai dengan cepat."
"Setiap hutan terlarang memiliki rahasianya sendiri. Ketika merebut mereka pasti mudah memahami rahasia di dalamnya. Penguasaan batu kristal mudah untuk kaum penyihir, para petapa tidak terlalu bergantung pada hal-hal itu jadi sulit untuk menyatukannya."
Parikesit tersentak. "Apakah benar seperti itu?" tanyanya dengan tangan gemetar terbayang perang skala besar yang diucapkan Idaline.
"Ya. Saya memaklumi Anda tidak mendapat pengajaran lain ketika fokus bertapa. Namun Anda harus menghentikan perang yang sia-sia ini."
"Apa maksud Anda kerajaan Maja tidak akan memenangkannya?"
"Kerajaan Maja akan memenangkannya dengan kemenangan mutlak jika sesuai. Hutan terlarang di Kerajaan Wengker sudah membuat individu mereka setara dengan ksatria di sini, Wukir Mahendra jelas lebih kuat energinya. Kini entah seberapa jauh mereka berkembang."
"Saya yang petapa saja mendapatkan beberapa kemajuan berkat batu itu. Kalau penyihir bisa menyerapnya dengan cepat, maka gawat!" ucap Parikesit menyimpulkan.
"Anda tinggal memundurkan waktu. Saya memiliki cara untuk menyelesaikannya. Cukup dua bulan."
"Deklarasi perangnya sudah tertulis dan sudah dikirimkan pada kerajaan Wengker pagi ini."
__ADS_1
Idaline menekuk dahinya berpikir dengan serius. Dalam benaknya kalut mencari cara mengulur waktu. Hayan hanya berkunjung sebentar dan selalu menghindar ketika membicarakan perang. Djahan pun hanya mengantarkan camilan, tidak terlalu lama bertemu dengannya.
"Kalau tidak ada hal lain, izinkan saya pergi."
"Silakan." ucap Idaline langsung.
Parikesit memberi hormat pada Idaline lalu pergi keluar dari Kedaton Sedap Malam.
"Kerajaan Maja memiliki banyak sekali monster." gumam Parikesit sambil berlalu.
"Siapkan kereta kuda!" perintah Idaline pada para dayangnya.
••••••••••••••••••••
"Kita bertemu di pesta ulang tahun Yang Mulia Pangeran. Tapi seperti lama sekali."
"Saya juga, bu. Tapi kedatangan saya karena hal lain." Idaline menatap gadis-gadis yang berdiri menunduk di belakang Tuti.
"Mari." Tuti mengajak Idaline pindah ke ruangan lain.
"Wolu Deso di luar kerajaan memiliki batu unik yang mungkin membantu prajurit kita. Sejauh ini baru bisa digunakan penyihir tapi Candra bilang bisa digunakan untuk kanuragan jika dilakukan penelitian."
"Batu unik?" Tuti berpikir dengan serius, tatapan hangat yang selalu Idaline lihat menghilang begitu saja.
"Candra mungkin sedang menelitinya sembari belajar di daerah sana. Tapi saya rasa ini bisa membantu."
"Ucapanmu benar, tapi penelitian ini akan berlangsung lama. Bukan ingin menyanjung anak ibu, namun selama ini meski terus berada di dalam kamar, Candra selalu mengerti perihal banyak hal. Dalam penelitian, dia setara dengan enam orang ahli peneliti. Kalau kita kirimkan orang harus satu tim yang mana mungkin mengurangi kekuatan tempur kita."
"Peneliti yang ahli itu penyihir yang kuat?"
"Benar. Kalau ingin meneliti harus membawa banyak orang biar cepat selesai. Sayangnya perang sudah benar-benar di depan mata. Ah." Tuti merubah raut wajahnya, ia tersenyum hangat pada Idaline.
"Tenang saja, nak. Mereka tidak akan sampai sini, bahkan tidak akan mungkin menembus perbatasan." Tuti mengelus tangan Idaline.
"Bagaimana kalau saya katakan bahwa pihak Wengker menemukan batu sihir di Wukir Mahendra?"
Tuti mengelus tangan Idaline lebih cepat, otaknya berpikir dengan dalam dan penuh perhitungan. "Pikiran saya buntu. Namun akan saya sampaikan, mungkin ada yang akan menemukan solusi terbaik."
"Baik, ibu. Terima kasih."
"Jangan seperti itu. Semuanya yang harus berterima kasih atas info penting ini." Tuti mengelus kepala Idaline. "Saudari-saudarimu pasti telah menunggu. Ayo kita berjumpa dengan mereka."
"Ayo."
••••••••••••••••••••
Pagi telah menyingsing. Para pengawal, prajurit, dan ksatria menata ulang seluruh gudang dan kediaman mereka untuk menyambut saudara-saudaranya yang telah dipilih dari berbagai daerah.
Perang telah diumumkan, satu bulan lagi mereka akan berada di garis depan. Para penyihir yang Idaline harapkan dapat pergi sedang sibuk mengatur prajurit-prajurit baru. Idaline menghela napas panjang, dengan lesu ia meminum teh sambil memandang lalu lalang orang yang sibuk.
"Yang Mulia, ada pembawa pesan untuk Anda."
"Apa dari kediaman Ekadanta?" tanya Idaline bersemangat.
"Bukan, Yang Mulia. Beliau dari kediaman Yang Mulia Ibu Suri."
"Apa kamu bilang?" Idaline berdiri dari duduknya.
"Beliau dari kediaman Yang Mulia iIu Suri." ulang dayang.
Meski tidak memiliki kekuasaan di atas ratu, ibu suri tetaplah ibu kandung yang paling disayang ratu, bahkan ratu sekarang menjadi ratu karena perintah ibunya yang tidak mengerti politik.
Ratu dahulunya hanyalah seorang tuan putri yang tunduk pada kakaknya, raja sebelumnya, demi keselamatan dirinya dan adik perempuan juga ibunya. Raja sebelumnya selalu menghalangi mereka berdua dari belajar kecuali kesenian bahkan mereka dilarang menikah.
Namun kemudian ratu berlatih dengan keras selama beberapa bulan, memutar otak belajar sehari semalam tanpa istirahat hanya demi mematuhi perintah sang ibunda.
Jantung Idaline berdebar kencang, pikirannya mengurutkan seluruh kejadian untuk mengetahui kesalahannya.
"Yang Mulia, kita sudah sampai." ujar kusir menyadarkannya.
"Kukira orang yang bisa memalingkan cucuku adalah orang hebat. Ternyata hanya seorang gadis pelamun."
Seorang nenek berdiri di samping kereta kuda Idaline ditemani banyak orang dibekangnya sambil menundukkan kepala, Idaline memperkirakan ada dua puluh dayang dan lima pelayan.
"Maafkan ananda sudah membuat nenek menunggu." Idaline turun dari keretanya dibantu kusir yang mengantar.
Idaline melihat tangan ibu suri yang sedikit tersentak. Sekilas ia tersenyum mengetahui ibu suri bukanlah orang yang sulit.
"Ananda menghadap Yang Mulia Ibu Suri." Idaline memundurkan kaki kanannya lalu menekuknya sedikit sambil menundukkan kepala, kedua tangannya ia kaitkan di pinggang sebelah kiri.
"Bangunlah." perintah ibu suri dan Idaline pun berjalan di sampingnya. "Prestasi dan kecerdasanmu sangat luar biasa."
"Terima kasih, Yang Mulia."
"Panggil nenek saja." ucap ibu suri tidak mengalihkan pandangannya dari jalan di depan.
Idaline kembali tersenyum sebentar melihat telinga merah sang wanita yang telah lanjut usia. "Baik, nenek."
"Aku tidak meragukan penilaian ratu dan mahapatih. Namun tetap kamu sudah beberapa kali melewati batas."
"Mohon maafkan kelancangan hamba."
Idaline sebenarnya tidak mengerti. Apakah yang dimaksud melewati batas adalah ia yang tidak masuk kelas seni? Atau dia yang beberapa kali mengintrupsi di pesta ulang tahun pangeran? Entahlah. Wanita selalu benar dan bangsawan selalu benar.
"Sebagai hukuman, tinggallah di sini selama empat hari."
"Ya?" spontan Idaline tidak mempercayai pendengarannya.
"Barang-barangmu akan dibawa para dayang. Pergilah lihat kamarmu."
"Baik, Yang Mulia." Idaline mengikuti dayang yang menjadi petunjuk jalan.
Bola mata Idaline hampir meloncat keluar saat melihat isi kamarnya, jari telunjuknya menunjuk ke depan, ia menghadap kiri menatap dayang yang kepalanya masih tertunduk sejak menyambutnya.
"Apa-apaan ini?" lontar Idaline.
Di hadapan Idaline ada kotak-kotak emas bersinar terang hingga menyilaukan matanya. Di bawah kasur berserakan beberapa gelang, kalung sungsun, binggel kana, dan kelat bahu.
"Hamba sudah mengantar Yang Mulia dengan selamat. Hamba izin undur diri." Dayang yang mengantar Idaline melesat meninggalkan Idaline yang kebingungan dengan gunungan emas.
"Benar-benar deh." Idaline duduk dengan kaku di kursi yang tersedia.
Mata Idaline berkeliling ke penjuru ruangan, matanya menangkap rak buku besar di pojok kasur. Ia mengambil kertas-kertas yang menarik untuknya lalu kembali duduk di kursi ditemani cahaya perhiasan yang membentang di atas meja. Kasurnya tidak bisa dipakai karena penuh dengan perhiasan.
Langit yang biru telah berubah menjadi jingga. Idaline melewati jam makan siang karena tidak ada satu pun dayang yang datang bertanya padanya. Ia memegang perutnya yang terus berbunyi.
__ADS_1
Sebagai Udelia ia sudah sering berpuasa, namun Idaline masih dalam tahap pertumbuhan, ditambah ia tak makan sejak sore hari karena sibuk memikirkan jalan untuk menghentikan perang, dan tubuhnya yang perlu asupan merasa sangat lemas.
Helaan napas panjang terdengar keluar dari mulut Idaline, ujian ibu suri sangat jelas sekali.
"Ambilkan aku air putih." Idaline menggertakkan giginya tidak mendengar jawaban dari luar. "Hei. Aku minta air." ulangnya. Idaline mengernyitkan dahinya, pandangannya buram hingga tak lama semua berubah menggelap.
"Baru sepuluh jam berpuasa sudah tidak kuat?" Langkah ibu suri terhenti dan matanya terbelalak melihat Idaline tergeletak di lantai dengan kertas masih tergenggam di tangannya.
"Angkat dia ke ranjang!" Samar suara ibu suri masih terdengar di telinga Idaline.
••••••••••••••••••••
"Satu hari terlewat dengan sia-sia." tutur Idaline duduk di atas ranjangnya. "Tubuh ini sangat lemah." Idaline bangkit dari ranjang lalu menggerak-gerakkan tubuhnya melakukan peregangan.
"Tapi bukannya ditanami sihir hitam berarti tubuhnya unik?" lanjut Idaline dalan pikirannya.
"Yang Mulia, kami sudah menyiapkan air hangat untuk Anda."
"Tidak. Siapkan air dingin. Aku ingin melancarkan sirkulasi tubuh."
"Baik, Yang Mulia."
"Mohon diminum dulu susu madunya agar Yang Mulia cepat sembuh."
Idaline menenggaknya dengan semangat. Ibu suri yang bernama asli Gayatri pernah satu kali diculik oleh musuh raja, suaminya. Setelah hari itu Gayatri sering memakai baju prajurit untuk berlatih bela diri.
Di hari tuanya kini Gayatri tidak hanya minum teh dan bercakap-cakap ketika berkumpul dengan para putri, sesekali ia mengajari seni bela diri yang dikuasainya tanpa menurunkan martabat seorang putri kerajaan.
Idaline bukan cucunya jadi Gayatri tidak terlalu mengambil pusing, begitupula Idaline. Saat nenek itu tiba-tiba masuk ke dalam alur hidupnya, Idaline kesal sekali padahal ia sudah membuat beberapa rencana untuk segera pergi dari istana. Kalau ibu suri menaruh perhatian padanya, jelas sekali bukan hanya sebuah perhatian seorang nenek pada cucunya.
"Ibu suri pasti ingin mengambil keuntungan!" tuduh Idaline dalam benaknya.
"Makanannya enak?" tanya ibu suri dengan suara lembut.
"Apapun jika lapar akan masuk ke dalam perut, nek."
"Tidak kusangka tubuhmu sangat lemah."
"Tubuh siapa pun jika kekurangan cairan akan menjadi lemah. Apalagi air putih sangat penting bagi tubuh. Kalau kita kekurangan air putih, jantung akan berdebar sangat cepat bahkan tangan akan jadi gemetar."
Ibu suri terkesiap mendengar ucapan Idaline, sedetik kemudian ia membenarkan mimik wajahnya. "Benarkah?" tanyanya. Penjelasan Idaline seperti sebuah diagnosis untuknya.
"Iya."
"Darimana pengetahuan ini?"
"Dari guru yang sangat hebat."
"Jika benar-benar hebat maka ada cara menyembuhkan jantung berdebar dan gemetar kan?"
"Tentu saja, nek. Cukup minum air putih dengan benar. Lama-lama akan terasa. Meski lambat tapi selanjutnya tidak akan ada masalah karena air putih sangat sehat." Idaline manatap kendi yang mengebul di sisi ibu suri. Ibu suri selalu meminum teh herbal dan berbagai minuman herbal lain sebagai penambah energi.
"Kalau begitu sampaikan terima kasih pada gurumu. Setiap ilmu yang kamu kerjakan itu karena jasanya yang mengajar dengan sungguh-sungguh."
"Tentu saja. Itu hal yang harus dilakukan."
Sekilas ekspresi Idaline berubah sendu merindukan guru-guru dan teman-teman sekolah yang sudah lama tidak ia temui. Setiap reuni mereka tak lelah mengajaknya meski beberapa kali ditolaknya.
"Pengetahuanmu luas sekali, pantas putri manisku mengikatmu."
"Suatu kehormatan besar bisa menjadi Raden Ajeng meski ananda tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan."
"Kamu ..ehm.akan memiliki hubungan keluarga dengan kami."
"Senang sekali mendengarnya, nek." lontar Idaline tidak mendengar kata 'akan' akibat deheman.
"Syukurlah kalau kamu senang." Ibu suri tersenyum simpul. "Melihat kamu makan dengan lahap, hidangan lain telah dibuat." ujarnya saat para dayang menaruh makanan di atas meja.
"Terima kasih nek."
"Nak, jagalah cucu-cucu nenek." Ibu suri tersenyum penuh harap pada Idaline.
"Tenang nek. Banyak sekali~ para penjaga di istana~" Idaline menirukan ucapan anak kecil yang manja, ia berharap nenek di depannya ilfil padanya lalu membiarkan dia pergi dengan damai.
Ibu suri tertawa kecil. "Secerdas apapun memang kamu masih kecil. Syukurlah kelebihanmu tidak merampas apa yang harusnya kamu rasakan."
"Mohon maaf mengganggu Yang Mulia Ibu Suri dan Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita. Tuan Mahapatih mencari Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita." ucap kepala dayang bersimpuh di samping mereka.
"Ya ampun aku menahan orang yang sibuk. Pergilah nak. Jangan lupa sering-sering kunjungi nenek."
"Siap laksanakan nek." Idaline menempelkan telunjuknya di pelipis memberi hormat seperti hormat pada bendera. Ibu suri hanya tertawa kecil melihat kelakuan lucu Idaline. "Ananda izin undur diri."
"Antar Raden Ajeng dengan selamat." perintah ibu suri.
"Baik, Yang Mulia."
Idaline tersenyum dalam hati, Djahan telah menyelamatkannya dari hari-hari menegangkan.
"Tuan Mahapatih, Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita sudah sampai."
Djahan bangkit dari duduknya, ia menyambut Idaline yang berdiri menunggu di luar. "Pasti menakutkan ya di tempat ibu suri? Maaf aku tidak bertindak cepat." sesal Djahan.
"Kenapa kamu minta maaf? Dan meski canggung, ibu suri sangat baik padaku." jelas Idaline.
"Ah benar. Ayo duduk."
"Terima kasih." Idaline menerima gelas yang diberikan Djahan.
"Kamu benar-benar tidak sakit?"
"Aku hanya kelelahan. Kenapa kamu memanggilku?"
"Janji waktu itu belum aku penuhi. Malam ini bagaimana kalau kita makan bersama? Di luar ada berbagai makanan dari kerajaan-kerajaan lain yang mungkin kamu suka."
"Aku memang ingin sekali keluar keraton!" seru Idaline dengan mata berbinar.
"Setelah selesai aku akan datang ke Kedaton Sedap Malam." Djahan tak kuat menahan tangannya untuk ttidak mengacak rambut Idaline. Ekspresi gadis itu terlalu lucu di matanya.
"Kudengar kamu berada di istana ibu suri. Siapa menyangka malah berdua-duaan dengan Mahapatih?"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 15 Agustus 2021
__ADS_1