![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Putriku.."
"Terimalah akibat kalian terus mencela ayunda!" bentak seorang putri di depan makam.
"Putriku."
"Paman, maaf kamu jadi terlibat."
"Sri Sudewi!"
"Ananda menghadap Prabu Sri Perbangkara." Perempuan yang dipanggil Sri Sudewi berbalik membelakangi makam, dia membungkuk pada Sri Perbangkara, Raja dari Kerajaan Sunda.
"Jawablah. Di mana mata-mata yang kamu jumpai?"
"Ananda hanya menyampaikan beberapa kata, tidak ada pertemuan yang disengaja. Balasannya membiarkan kita menyatukan yang telah pecah." Sri Sudewi, Tuan Putri dari Kerajaan Sunda menatap mata ayahnya, Perbangkara.
Perbangkara menghela napas panjang. "Betapa polosnya putriku. Maharaja muda itu ingin mengendalikan kita, kelak akan menyerang setelah kita berpenat."
"Persetan dengan itu!" geram Sudewi. "Ayahanda, Anda adalah raja yang seharusnya menaiki tahta dengan lengkap," sungut Sudewi.
Ayahnya ini adalah Raja resmi Kerajaan Sunda Galuh yang diakui raja sebelumnya dan para leluhur. namun kekuasaan ayahnya hanya bertahan dalam beberapa tahun sampai pamannya sendiri merebut tahta sang ayah.
"Jangan mengungkit yang tidak perlu," ucap lembut Perbangkara.
Dia merasa siapa pun anak ayahnya boleh saja menaiki tahta bila memiliki kemampuan yang mumpuni.
Padahal seseorang ditunjuk untuk menjadi pemimpin adalah karena dia harus fokus belajar dalam bidang ini untuk menjadi pemimpin yang agung.
Bukan sekedar dikenal tetapi tidak tahu cara-cara memimpin hingga musuh bisa saja bersembunyi di balik layar tanpa ia sadari.
"Galuh berpisah dari Sunda karena kelicikan mereka. Kakanda Sri Sadewa cacat karena ulah mereka. Dan ayunda Sri Sumbi jadi gila karena sihir mereka, mana ada wanita yang cerdas dan cantik sepertinya menikahi anjing!"
Sudewi mengingatnya dengan jelas!
Ketika ayahnya masih berkuasa atas Kerajaan Sunda Galuh, kakandanya yang gagah berani memenangkan banyak pertempuran, dan ayundanya yang menawan memikat banyak raja sekitar.
Saat itu mereka berada di posisi tertinggi. Dan mereka bahagia.
Lalu semuanya berakhir saat Lingga Buana merebut tahta Perbangkara.
"Sadewa jatuh dari kuda dan Sumbi–"
"Kakanda diikat di kuda oleh Lingga Buana!" potong Sudewi.
Sudewi mengernyit. "Ayahanda, Lingga Niskala baru memasuki usia dewasa, dia baru berusia sepuluh tahun, banyak yang tidak mengenalnya. Sepupunya telah mengibarkan bendera perang. Keluarga besar mereka terpecah menjadi dua bagian. Dan Jalu sudah berangkat.."
"..Kita juga harus bersiap."
"Putriku, perebutan tahta tidak ada habisnya. Kita berdiri di belakang sepupumu, Lingga Niskala. Sekarang katakan di mana mata-mata itu? Kita harus memusnahkannya."
Siji yang sedang memakan nasi timbel terus terganggu dengan bersin yang menyerang hidungnya. Sepertinya udara pegunungan tidak cocok untuknya!
"Ayahanda terlalu lembut dan mendiang paman tidak dapat mengatur anak buahnya," cecar Sudewi berbalik pergi.
"Adinda, maafkan putriku yang terlibat." Perbangkara menebar bunga di atas kuburan Buana. "Semoga kamu dan keluargamu berkumpul di sana."
__ADS_1
Lalu dia menebar bunga di atas kuburan Bangkara. Bangkara adalah anak dari adik ibunya, dia sangat dekat dengan Sri Sudewi sebelum memutuskan masuk ke istana Kerajaan Galuh yang lebih menjanjikan.
"Sudewi, kamu akan kembali sekarang?"
"Hamba memberi salam kepada Yang Mulia Maharani." Sudewi sedang terburu-buru membawa berkas terpaksa menghentikan langkahnya dan membungkuk pada Idaline yang berdiri di jalannya.
Dia ingin cepat-cepat pergi menyelamatkan nyawa rakyatnya tapi menyapa Maharani juga adalah suatu keharusan atau kelak dia akan mendapat kesulitan.
"Menjawab Yang Mulia, sekarang hamba akan kembali. Mohon maaf belum bisa memberikan hadiah, semoga Anda dan bayi Anda selalu diberikan kesehatan."
"Terima kasih. Kalau ada yang diperlukan, jangan sungkan."
"Terima kasih atas kebesaran hati Yang Mulia. Hamba izin berangkat sekarang juga," pamit Sudewi merasa setiap detiknya begitu berharga untuk menyelamatkan rakyatnya yang masih tersangkut di pohon.
Dia tahu Maharani tidak akan menahannya begitu lama dan akan memaafkan ketidaksopanannya hari ini.
"Silakan." Idaline melambaikan tangannya pada Sudewi yang sesekali berbalik menatapnya.
Kemudian Idaline melanjutkan langkahnya masuk ke ruang kerja yang tinggal selangkah.
"Maharaniku kenapa kemari? Istirahatlah di kamar," sambut Hayan memegang kedua tangan Idaline.
"Maharaja, ada hal yang ingin kulakukan. Mohon izinkan aku ke Kadiri." Idaline mengecup tangan Hayan sebagai tanda kesopanan seorang istri pada suaminya.
"Maharaniku ingin apa? Semua akan dibawa kemari."
"Aku ingin jalan-jalan."
Hayan berpikir wanita ini akan diam setelah Djahan aman.
Tapi Idaline memang bukan milik siapa pun. Idaline milik dirinya sendiri.
Jadi Hayan hanya bisa membiarkannya.
"Baiklah. Pergi bersama Dio dan Duo."
"Terima kasih."
Kemudian Hayan mengantar Idaline hingga masuk ke dalam kereta. Dia bersedia menunduk dan menaikkan sedikit rok Idaline agar perempuan itu aman menaiki tiap-tiap tangga.
Inilah perilaku yang dibenci ibu suri. Hayan terlalu merendahkan dirinya di depan Idaline.
"Yang Mulia, Anda tidak pergi bersama beliau?" tanya Huna melihat kereta Maharani dan rombongan berjalan menjauh.
Perempuan itu baru saja izin sudah langsung pergi.
"Dia meminta izin bukan mengajak," ujar Hayan.
"Namun mohon maaf, Yang Mulia. Ini berbahaya. Situasi di luar masih tidak aman dan beliau sedang mengandung. Kita seharusnya mengirimkan beberapa ksatria lagi. Jika beliau menolak kita bisa menempatkannya beberapa meter ke belakang dari tempat beliau."
"Tenanglah. Ada Dio dan Duo," kata Hayan kembali masuk ke ruang kerjanya.
Dio dan Duo adalah dua ksatria yang dididik Hayan secara langsung. Dia sudah memastikan kesetiaan anak-anak ini dan mengembangkan mereka sampai pada tahap mampu melawan beberapa anggota Bhayangkara yang dibanggakan Djahan.
"Hamba merasa tidak tenang." Huna menyusul Hayan mengekor di belakangnya.
__ADS_1
"Kalian penurut dan tidak banyak omong seperti Huna," hina Loro teringat tangan kanan Maharaja yang sering membuatnya panas.
Huna ini sebelum berada di sisi Hayan merupakan penasihat tertinggi dalam dunia militer. Setiap mengambil tempat untuk maju dan bicara, Huna selalu menyemburkan kata-kata sampai hari berubah terik.
"Bagaimana kalau kukatakan kita sedang menuju medan perang?" Loro tersenyum lebar.
"Loro!" Siji meletoti Loro. "Jangan bicara sembarangan," gumamnya memejamkan mata.
Dio dan Duo menatap Siji dan Loro bergantian.
"Yaks! Berpakaian begini lebih nyaman." Idaline keluar dari kamar penginapan. Segala riasan di sekujur tubuhnya ia lepaskan dan Idaline menggunakan setelan celana kaos pria.
"Kamu menyewa kamar hanya untuk berganti pakaian," cibir Loro.
"Tidak nyaman kalau di kereta."
"Buang-buang uang aja. Padahal dulu perhitungan banget."
"Iyalah mana mau kupinjamin ga jelas. Aku yang dagang mas yang pacaran. Enak aja."
"Andin tersayangku jadi pergi karena ga dapat cokelat sekilo yang promo itu."
"Ya ampun kekanakan sekali, putus cuma gara-gara–"
"Ehem." Siji menatap jengah dua adiknya yang bertengkar tidak tahu tempat.
"Dio, Duo. Kami akan ke Sanggahan. Hutan Sanggah." Idaline berucap dengan serius.
"Baik, Yang Mulia," kata Dio dan Duo patuh.
"Oh? Kalian tidak bertanya?" Idaline menarik sudut bibirnya.
Anak-anak ini menarik perhatiannya!
Banyak yang tidak berani bertanya pada Idaline namun untuk melihat seseorang yang tidak peduli dengan apa yang akan dia lakukan adalah hal yang jarang.
Semua yang tidak bertanya pasti memandang dengan penasaran sampai kemudian berusaha mengorek-ngorek informasi dari tempat lain.
Dio dan Duo terlihat benar-benar tidak peduli dan hanya berniat mengekor di belakang Idaline.
"Yang Mulia Maharani selalu penuh pertimbangan."
"Padahal arus laut di pantai sangat kuat," ujar Idaline memperhatikan keduanya tetap teguh dan tidak penasaran. "Kita pergi ke hutan di dekat pantai!"
Setelah memastikan semuanya lengkap dan siap, mereka berlima pergi menaiki kereta lain yang lebih sederhana.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 10 November 2021
Hayo hayo ada yang bingung?
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote ya teman-teman terkasihku
SELAMAT HARI PAHLAWAN!
__ADS_1
JANGAN LUPAKAN JASA PAHLAWAN YANG TELAH MENGUSIR PENJAJAH KEJI DARI NEGERI KITA!
JANGAN LUPAKAN JUGA JASA PAHLAWAN TANPA TANDA JASA YANG SUDAH MENDIDIK KITA!