![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
"Sudah tiga belas purnama terlewat dan Anda masih tidak membebaskan saya, nona penyihir?"
"Tuan putri Kirana, ucapanmu sangat kasar. Terdengar aku seperti orang jahat saja,"
"Anda sudah menculik saya dan bilang tidak jahat?"
"Yah kalau aku jahat bukannya kamu tidak akan bisa bersantai?"
"Ugh," Ucapan perempuan bertudung mengena di hatinya, Kirana menegakkan tubuhnya dan menatap tajam sang penyihir.
"Siapa yang bersantai?" kesalnya. Dia meraih bungkusan menggelembung di atas meja kemudian meletakkan tubuhnya dengan menegakkan punggungnya. Kirana memegang kedua sisi bungkusan tersebut, menariknya berlawanan hingga terkoyak.
"Kamu sudah ahli membukanya," Penyihir bertudung bangkit dari duduknya dan mendekat pada Kirana. "Putri ndut, sekarang bukan waktunya makan. Sana olahraga," Ia merampas snack Kirana, matanya menunjuk ke ujung goa. Di sana lengkap berbagai peralatan gym abad dua puluh satu.
"Aduh, saya sudah melakukan itu semalam. Biarkan saya bersantai hari ini," Kirana merebahkan badannya.
"Kamu baru melakukan lima menit lalu tertidur. Bangun-bangun makan bolu coklat dan susu full cream. Belum lagi kamu bikin daging berminyak. Sumpah ya!" gerutu penyihir bertudung sambil menggulung bungkus snack. "Treadmillnya sudah nyala. Cepet sana olga,"
"Duh males banget," Kirana menggeliat di sofa.
"Siapa yang menyangka putri yang lemah lembut dan sempurna dalam berbagai hal ternyata punya hobi malas-malasan?" gumam penyihir.
"Putri yang sempurna ya?" Kirana menerawang ke masa-masanya melewati berbagai pesta dan penilaian publik. "Saya melakukan semua itu karena menjaga martabat seorang putri. Terima kasih loh karena Anda, saya bisa merasakan hal yang saya pikir hanya jadi mimpi belaka," Kirana bangkit dari sofa.
Bermalas-malasan adalah mimpinya, ia hidup sebagai putri kerajaan harus sibuk selama dua puluh empat jam penuh menerima pendidikan dan pekerjaan belum lagi menghadapi siasat-siasat licik dari para putri dan putra bangsawan, juga keluarganya sendiri.
"Ramuanku untuk mengutuk sudah hampir selesai loh," Penyihir memalingkan wajah memerahnya. Mana bisa dia menyihir orang lain. Memenjarakannya saja sudah tak enak hatinya.
"Anda sudah katakan itu lebih dari seribu kali," Kirana berjalan dengan santai di atas treadmill. "Nona penyihir!" teriaknya saat treadmill ditambah kecepatannya.
"Aku sudah memperingati kalau hari ini kamu akan dikutuk,"
"Ya ya, kutuk saja," tantang Kirana santai telah menguasai kecepatan treadmill. "Kalau Dewi Galuh tahu, dia akan menghardikmu habis-habisan loh. Sudah lama, kamu belum juga mengutukku,"
"Kamu ingin sekali dikutuk ya?" Penyihir bertudung mengeluarkan tangannya, cahaya hijau muncul menerangi jubahnya yang gelap.
"Lakukan saja, haha," Kirana tertawa meremehkan.
Kirana dan penyihir terkejut mendengar suara desingan yang memekakan telinga datang dari pintu goa.
"The f*ck," ucap penyihir terkejut. Dengan refleks ia mengarahkan sihir hijau di tangannya ke langkah kaki yang semakin mendekat.
"Aa–" tak sempat mengelak, tak sempat berteriak. Pandangan orang yang datang menjadi putih.
••••••••••••••••••••
"Di balik gerbang ini adalah tempat yang dilarang dikunjungi oleh pihak luar," ucap Dewi Galuh menghalangi jalan Idaline.
"Ucapanmu ini sangat mencurigakan,"
"Mohon maaf, Yang Mulia. Di sana adalah makam leluhur kami. Bahkan keluarga sangat terbatas untuk akses ke sana," Kerta muncul bersama Djahan dan beberapa selirnya setelah mendapat pesan dari pelayan yang dikirim Dewi Galuh.
"Bagaimana kalau kukatakan putrimu ada di sana?" Idaline melirik Dewi Galuh yang gemetar.
"Benar-benar murid Petapa Agung!" marah dan takjub Dewi Galuh menjadi satu.
"Itu..tidak mungkin, baru tiga bulan yang lalu kami mengadakan ritual do'a di sana," jawab Kerta.
"Yah itu belum pasti sih. Tapi ada dua kehidupan di dalam goa di sana," Idaline menunjuk barat daya yang penuh dengan pepohonan.
"Pfft. Anda bercanda ya? Ini adalah makam leluhur, tidak mungkin ada goa," Dewi Galuh berusaha menahan Idaline, ia menatap Kerta agar rahasia itu tetap tersembunyi.
Selama ini goa itu disembunyikan karena memiliki kekuatan yang pekat, bahkan anak-anak raja tidak banyak yang tahu kecuali penerus raja.
"Ayah..?" panggil Dewi Galuh pada sang ayah yang mematung.
"Kalau begitu mohon bantuannya," Kerta membungkuk pada Idaline. Goa itu tidak bisa sembarangan untuk masuk dan keluar, goa itu seperti memiliki pemikirannya sendiri. "Biarkan tamu kita masuk," perintahnya pada penjaga.
"Siap," penjaga menegakkan tombaknya.
Idaline melangkah dengan cepat, perasaannya sejak datang terus mengarah pada goa tersebut, seolah memanggilnya untuk datang. Awalnya ia tidak merasakan kehidupan, setelah bertapa semalaman baru ia rasakan dua gerakan kehidupan.
"Tenanglah," ucap Djahan yang mengikuti. Ia khawatir melihat air muka Idaline.
Idaline menghela napasnya. "Kenapa kamu ikut? Bukannya harus melatih pasukan?"
"Pasukanku sudah membaur dengan pasukan di sini. Latihannya akan lebih mudah, aku hanya mengawasi,"
Idaline dan Djahan berhenti di depan goa yang sepi tanpa tanda kehidupan. Djahan meletakkan tangannya di dinding goa. "Aku merasakan aliran kekuatan tapi tidak dengan kehidupan seseorang,"
Idaline tersenyum, ia mengulurkan tangannya mengambang di pintu masuk goa.
Pintu goa terbuka dan beberapa saat kemudian goa yang kosong menjadi penuh dengan perabotan. Seorang gadis cantik terkejut dengan kaki masih berjalan di treadmill dan seseorang yang menggunakan pakaian ala penyihir lengkap dengan tudung yang Idaline tahu dari buku-buku komik, mengeluarkan cahaya hijau di tangannya.
"The f*ck," ucap penyihir mengarahkan tangannya pada Idaline.
__ADS_1
"Aa–" Tak sempat Idaline mengelak dan berteriak. Pandangannya semua menjadi putih.
Mata Kirana dan Djahan membelalak, mereka berada di luar setelah cahaya hijau terlempar ke arah Idaline. Pintu goa kembali tertutup.
"(Anjir, gimana ini.. aduh gimana..)" khawatir penyihir.
Idaline menatap kaki raksasa di depannya. Ia memejamkan matanya, bertapa dan fokus menyebar aura yang ia dapat.
"Oh kamu kembali," Penyihir itu menghela napas lega.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan? Tubuhku berat sekali," Napas Idaline terengah ketika ia melepas petapaannya, ia memejamkan mata membuka wadah dalam dirinya dan mencoba mengalirkan energi tersisa.
"Mmm ya ini salahmu mengagetkanku. Tanganku tergelincir karena terkejut,"
"Alasan,"
"Sini kureset kutukannya,"
"(Siapa namamu?)" Idaline berdiri di hadapannya dengan tubuh sedikit gemetar. Ia tidak terlalu bisa menahan kutukan dari si penyihir.
"(Dunia ini penuh kejutan.)" Penyihir tersenyum memegang tangan Idaline. "(Aku Dina. Kamu?)" ucapnya memperkenalkan diri dan membuka tudungnya. Wajah Dina sangat khas nusantara, mungil dan menggemaskan, namun mengesalkan di mata Idaline. Bagaimana tidak? Ia telah dikutuk!
"(Namaku Udelia, panggil saja Udel.)"
"Pfft," Dina tidak dapat menahan senyumnya. "Maafkan aku,"
"Tidak masalah," ucap Idaline sudah terbiasa diejek namanya.
"Jadi Udel, di dalam sini kamu masih bisa mempertahankan bentuk. Untuk keluar mudah saja tapi kamu akan kembali menjadi keong mas,"
"Ini benar-benar lucu. Aku datang ingin melihat legenda, malah terkena kutukan dalam legenda,"
"Silakan duduk dengan nyaman," ucap Dina mengalihkan pembicaraan.
Idaline duduk di sofa yang lembut. Rasanya ia tidak mau keluar. "(Barang-barang ini, kok bisa sampai di sini?)"
"(Ini mungkin akan sedikit panjang.)" Dina memberikan kaleng soda pada Idaline.
Ayah Dina bekerja di luar kota dan ibunya bekerja di luar negeri, dia dititipkan ke kakeknya. Keluarga mereka memiliki keris pusaka, awalnya digunakan sebagai senjata oleh leluhur pertama yang membuatnya, setelah beberapa generasi digunakan untuk santet yang akhirnya meminta tumbal berupa pemuda-pemudi.
Seiring bertambahnya waktu, mereka menyadari praktik itu salah. Tumbalnya sendiri berubah menjadi anak-anak lalu bayi lalu kerbau, kemudian yang paling terakhir adalah ayam.
Saat pusaka itu jatuh ke tangan kakeknya, sang kakek tidak mau mewariskan benda merepotkan pada anak cucunya. Ia berniat memutus kontrak, dipelajarinya buku-buku kuno dan meminta yang lebih tahu untuk mengusir penghuni di dalam keris. Kerisnya kembali setelah dibuang hingga akhirnya kakeknya Dina dipaksa ikut ke dimensi mereka.
Dina yang tetap memutuskan tinggal di rumah kakek meski keluarganya sudah berkecukupan dan kembali berkumpul, dengan terpaksa kakeknya mengajari semua ilmu yang didapatnya memikirkan kondisi dirinya sudah sangat lemah.
"Apa tidak berbahaya?"
"Karena takut membahayakan keluarga, setiap kepala keluarga yang mewarisi keris tersebut terus melakukan praktik persembahan. Imbalannya adalah kekayaan, keberuntungan, dan kekuatan. Asumsi kakek adalah kekuatan kami telah bercampur dengan mereka, jadi tidak masalah. Kakek kadang datang ke dunia ini untuk berdiskusi dengan mereka,"
"Kamu benar baik-baik saja?"
"Iya. Hanya tidak dapat pergi dari tempat ini. Pintu goa ini terlihat seperti lukisan bagiku,"
"Lalu bagaimana dengan keong mas? Seharusnya Dewi Galuh memohon pada penyihir hitam di perbatasan Kerajaan Daha," Idaline menatap curiga.
Dina memperhatikan soda yang masih utuh di tangan Idaline. "Tentu saja kita harus waspada," Ia menenggak sedikit soda lalu tersenyum.
"Aku menemukan sihir itu di buku dongeng lama. Tidak ada bedanya dengan salah satu versi yang beredar di internet, hanya sampul dan halamannya yang terlihat usang. Tetapi aku melihat isi yang berbeda di bawah gerhana. Kalau aku memberikan kutukan ini, aku bisa pergi keluar mengikuti sang korban. Mungkin saja aku bisa bertemu kakekku," urai Dina.
"Eh tunggu. Aku sebelumnya melihat keong mas di sungai perbatasan," ucap Idaline mengingat ketika ia keluar dari portal dan membasuh wajahnya.
"Kata Kirana sih hewan mitos, entah maksudnya apa,"
"Hewan mitos ya.." gumam Idaline. "Berarti kuat melawan singa normal?" pikirnya mengira-ngira.
"Kalau mendengar namanya mungkin saja mirip. Tapi keong mas yang aku kutuk sama seperti di sejarah. Kamu hanya perlu mencari cinta sejati,"
"Cinta sejati..apa aku pantas?" gumam Idaline. "Bagaimana Dewi Galuh bisa kemari? Itu bukan kebetulan kan?"
"Aku merasakan emosi dari dinding goa. Jika fokus pada satu emosi, kita bisa berbicara di dalam pikiran mereka,"
"Begitu.."
"Kalau kamu meminta aku mengeluarkanmu dari sini sepertinya tidak bisa. Aku pernah coba bawa sepupu yang mempercayai ucapanku namun akhirnya gagal," ujar Dina dengan tatapan serius.
"Lalu kakekmu?"
"Anggap goa ini adalah pintu masuk dan keluarku. Kakek juga memiliki yang seperti itu. Dia hanya tidak bisa pergi dari cengkraman mereka," Dina mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Ini adalah wajah kakek,"
"Oh ini kan mbah Gedhe tetanggaku? Atau mirip doang?"
"Kamu tahu kakekku?"
"Tapi kayanya bukan. Mbah Gedhe tinggal bersama keluarga teh Eva," Eva adalah tetangga Idaline dan salah satu teman rumahnya, satu SMK dengannya namun berbeda dua tingkat.
__ADS_1
"Iya, kakek tinggal bersama budhe Entik, ibunya Eva, setelah aku dapat panggilan kerja di Jakarta. Ohh apa kamu de' Li?"
"Kok tahu nama panggilan teh Eva ke aku?"
"Inget gak ada yang menegurmu saat melamun di depan gudang di rumah mbah Gedhe?"
Rumah kakeknya Dina dan rumah Eva bertetangga desa, Idaline saat itu berkunjung untuk meminjam seragam. Eva yang kehilangan kakeknya mengambil cuti sekolah selama satu bulan untuk membantu pencarian melalui kantor IT yang sudah menjanjikan karirnya karena kecerdasaan Eva saat praktek lapangan.
"Iya. Aku melihat makhluk yang berbentuk manusia dengan aura tebal di sekitarnya. Biasanya makhluk seperti itu langsung pergi saat kita pelototin, tapi dia bersikeras diam di pojokan," ungkap Idaline merinding. Ia belum mengatakan pada siapa pun karena hanya akan dianggap lelucon.
"Itu karena tempat tinggalnya di sana. Dia terkurung di dalam guci, bisa keluar setelah kakek sedikit merenggangkan segel dalam gucinya namun belum bisa benar-benar bebas," jelas Dina.
"Takut sekali aku saat itu," Idaline mengusap-usap bulu kuduknya yang masih berdiri.
"Haha. Wajahmu tidak ada rasa takut sama sekali," Dina tersenyum. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan Eva dan keluargaku,"
Dina yang terus mengurung diri di tempat latihan tahu Udelia sering berkunjung menemani Eva yang bersedih karena kehilangan kakek kesayangannya dan juga selalu menyempatkan waktu melihat gudang memastikan makhluk yang dilihatnya tidak membuat masalah.
"Aku memberitahumu takut kamu belum mengetahuinya. Di sini waktunya lebih cepat daripada di dunia modern. Sebulan di sini adalah sehari di sana," alih Idaline tidak mau mengingat kebaikan yang telah diperbuatnya. Takut dirinya akan besar kepala.
"Setidaknya aku sudah berusaha," Dina tersenyum penuh semangat.
"Baiklah. Ayo berangkat!"
"Eh? Kamu tidak ingin bersantai dulu? Aku tidak akan berani meracuni seseorang,"
"Aku tahu. Kirana baik-baik saja saat ditemukan, malah lebih subur," Idaline tertawa kecil lalu pergi keluar.
Idaline melangkah keluar dan kembali berubah menjadi keong kecil. Seluruh pemandangan terlihat sangat besar dan jauh dari mata Idaline. Dina menarik napasnya, ia menjulurkan tangannya dan keluar dari pintu. Tubuhnya berubah menjadi transparan.
"Jalanmu lebih cepat seratus kali lipat dari siput biasa,"
"Apa kamu akan nyaman?" khawatir Idaline. Tubuh transparan terlihat seperti hantu dan bisa saja tanpa sengaja tapaan atau sihir menyerangnya. Banyak orang masih takut pada hantu dan memasang segel menyakitkan.
"Aku akan terus berada beberapa meter di sekitarmu. Justru kamu. Maaf ya,"
"Aku tidak berada di sisi kakek saat ia menghembuskan napas terakhir. Bahkan permintaannya di hari itu untuk melihat semua cucunya, hanya karena lelah dari ujian aku langsung pulang dan tertidur. Bagaimana bisa aku tidur senyenyak itu?" Idaline menceritakan kakeknya yang penyayang.
Kakek Udelia dirawat di klinik yang tak jauh dari rumahnya. Ia yang selesai ujian ketika matahari sudah tenggelam, langsung pulang dan tertidur. Ayah dan omnya sudah memberitahu permintaan kakeknya untuk berkumpul, dengan alasan lelah ia mengabaikannya.
"Saat itu juga.."
"Jon," lemah sang kakek.
"Lagi keluar mbah!" teriak Udelia menggenggam pakaian basah di tangannya. Saat ini perempuan muda yang masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan itu sedang mencuci pakaian dengan tangan karena mesin cuci sedang rusak.
Ketika langit berubah warna, Udelia terbelalak melihat kakeknya digotong oleh para lelaki keluarganya. Itu adalah hari pertama kakeknya menjalankan perawatan dan lima hari sebelum kakeknya menghembuskan napas terakhir.
"Aku tahu rasanya menyesal tidak melakukan apa pun." Idaline tersenyum kecil berharap kakeknya mendapat tempat terbaik. "Kamu, apa pun hasilnya nanti, ketahuilah bahwa kamu sangat luar biasanya."
"Terima kasih,"
"Di mana kakekmu?" tanya Idaline.
"Sebenarnya aku ga tau," Dina mengusap kepalanya sambil tertawa.
"(What the.?!)"
"Keris itu dibuat di Semarang. Aku ga tau nama kerajaannya,"
"Kamu tahu di mana asal legenda keong mas?"
"Tahu,"
"Lalu kamu ingin aku jalan sejauh itu dengan tubuh keong?!" Idaline menatap Dina tak percaya. Maja terletak di Jawa Timur sedangkan Semarang terletak di Jawa Tengah. Berjalan saja sudah bergidik dan Idaline harus mengesot dengan tubuh keongnya?!
"Jalanmu lebih cepat dari keong biasa,"
"Tetap saja!!"
"Kalau begitu," Dina menjentikkan jarinya, melontarkan tubuh keong Idaline ke dalam arus sungai. "Kita akan cepat sampai," Dina mengambangkan tubuhnya di atas air mengikuti arus sungai.
"Bisa tidak hati-hati? Cangkangku adalah kulitku. Tergores sama saja membuat luka!" marah Idaline.
"Cangkang keong sangat kuat kok,"
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 25 Agustus 2021
Terima kasih atas Like, Komen, Share, Vote, dan Hadiahnya teman-teman..
Like dan Komen sangat menyemangati author untuk terus update.
Semoga karya ini semakin berkembang dan nyaman dinikmati.
__ADS_1
Sehat selalu semuanya.
Love, Al-Fa4