TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
048 - PENOBATAN


__ADS_3

"Mahapatih, saya ingin menyatukan seluruh kepulauan," kata calon maharaja dari kursi kerjanya.


"Keinginan yang sangat luhur," balas sang mahapatih.


"Anda juga kan?" tekan Hayan mengingatkan Djahan akan sumpahnya bertahun-tahun lalu.


"Tugas ini sangat berat dan penuh cobaan, maka saya Djahan Mada bersumpah akan melakukan puasa. Jika telah menaklukkan Pejeng, Buleleng, Goa Gajah, Kutri, Gianyar, Agung, Sugenep, Pamekasan, dan Bangkalan, saya baru melepaskan puasa."


Kalimat itu terucap ketika Djahan menerima tugas sebagai mahapatih setelah Arya Tadah mangkat dan ratu membujuknya dengan segala macam cara.


Djahan kemudian memutuskan menempati posisi itu karena titah dari Nararya Grama Wijaya atau Raden Wijaya, raja pertama Kerajaan Maja bahwa mahapatih selanjutnya harus Djahan Mada. Arya Tadah telah mengabdi sejak raja pertama diangkat.


Hayan memberikan cap pada kertas terakhir lalu melirik Djahan. "Atau Anda sudah melupakannya karena satu hal?"


"Sekarang yang saya inginkan hanya kebahagiannya. Dia senang berada di tempat yang damai. Di sini terlalu ramai." Djahan tersenyum, penaklukannya terhadap pulau di seberang sudah memenuhi sumpahnya, ia jadi bisa datang langsung menyampaikan maksud keinginan hatinya pada Idaline.


"Saya menyayangkan. Kenapa tidak buat saja istana yang diisolasi?" usul Hayan.


"Tidak perlu," tolak Djahan.


"Padahal kekuatan mahapatih sangat besar. Sudah memenangkan perang atas lima kerajaan dan membuat tujuh kerajaan menyerah dengan patuh. Orang seperti Anda apakah dapat ditemukan dengan mudah?" bujuk Hayan.


"Keputusan saya tetap sama. Semua harus atas kebahagiaannya. Akan saya tanyakan," kata Djahan tetap pada pendiriannya. Selalu pada pendiriannya. Dulu maupun sekarang.


"Saya bertanya pada Anda," kesal Hayan.


"Semua yang ingin saya lakukan sudah selesai. Kini keinginan saya hanyalah melihat Idaline senang," Djahan meletakkan kuasnya dan menatap Hayan. "Kami tetap akan mendukung,"


"Kami," batin Hayan. "Mohon bantuannya." Hayan mengulurkan tangannya pada Djahan yang duduk di meja yang terletak di sebelahnya.


"Kami juga." Djahan menjabat tangan Hayan.


"Kalian terus mengabaikan aku," pekik Idaline yang duduk di sisi lain ruangan yang hanya berbatas kayu pembatas.


"Oh bukannya kamu sedang fokus?" tebak Djahan tahu Idaline tidak ingin diganggu ketika fokus terhadap sesuatu.


"Aku masih bisa mendengar dengan jelas." Idaline meletakkan kertas ke atas meja Hayan. "Ini yang terakhir, salinlah."


Cara untuk cepat mengingat adalah membacanya berulang dan menyalinnya di atas kertas. Idaline mengajarkan hal itu secara terus menerus pada Hayan sedari kecil.


"Dan aku ingin berada di tempat lain. Kamu sangat mampu berdiri sendiri." Idaline menatap lekat-lekat mata Hayan. Lelaki kecil itu masih saja manja sampai usia dewasa.


"Kaki akan pincang jika sendirian." Hayan menatap lurus Idaline. Perempuan di depannya sangat mengerti keuntungan yang dimaksudnya, tetapi cintanya pada mahapatih sebesar itu?

__ADS_1


"Duduklah. Biar yang lain yang melakukan."balas Idaline. Idaline membunyikan buku-buku jarinya yang terasa kaku. "Besok hari penobatan. Istirahat yang cukup," pesan Idaline memutar-mutarkan pergelangan tangannya yang lelah akibat mengejar rangkuman tahun terakhir ratu berkuasa.


Tahun terakhir lebih banyak yang harus dirangkum untuk perkembangan mendatang, belum lagi Idaline harus membuat list hal-hal yang belum terealisasi.


"Duduk," tutur lembut Djahan meraih tangan Idaline. Gadis itu duduk di kursi di depan mejanya lalu ia pijat tangan Idaline. Idaline tersenyum menerima perhatian Djahan.


"Maharaja, Anda adalah yang pertama. Kami mengundang Anda. Kami akan menikah pada pon kedua di bulan Kadasa," kata Djahan menatap Hayan dengan menggenggam tangan Idaline.


"Saya tersanjung,"


"Jangan bicara terus, kita harus pergi." Idaline menarik tangannya dan berdiri. Tatapan tajam Hayan sering kali membuatnya tak nyaman. "Selamat malam, Hayan. Tidur yang nyenyak agar besok segar," pesannya sebelum meninggalkan ruangan.


"Iyaa,"


••••••••••••••••••••


Halaman-halaman istana dipenuhi dengan payung-payung besar perayaan, orang-orang mengambil tempat sesuai warna selendang mereka. Banyak pula gadis-gadis muda bangsawan masuk ke ruangan mempersiapkan diri untuk menampilkan bakat mereka dan tentu untuk merebut perhatian sebelum pemilihan dimulai.


Netarja, Sudewi, dan Indudewi memakai pakaian resmi senada yang penuh hiasan. Sedangkan Idaline memakai pakaian warna senada tanpa perhiasan selain sumping di kedua telinganya. Idaline tersenyum melihat udarabandha yang ia hadiahkan pada Netarja, Sudewi, dan Indudewi digunakan mereka bertiga di hari yang besar ini.


"Kalian cantik sekali," puji Idaline.


"Terima kasih," ucap Indudewi. Netarja mengangguk.


Netarja tersenyum mengamati daun telinga Idaline. Sumping darinya terpasang di sana. "Anda memakainya."


"Bagaimana mungkin pemberian tidak digunakan?" Idaline berniat memakainya di hari pernikahan, tapi..


"Anda harus memakai hiasan-hiasan kepala ini atau Anda ingin memakai wastra putih sepanjang dua puluh hasta?" Kepala dayang memerintahkan dayang membawa kain yang disebutkannya. "Silakan, Yang Mulia,"


"Aku ini Raden Ajeng Paramudita dan murid Petapa Agung. Pakaian resmi tanpa hiasan sudah cukup,"


"Tapi Yang Mulia..!"


"Aku pakai sumping dari Netarja saja," tunjuk Idaline ke kotak di pojok mejanya. "Bhre baru pasti sibuk. Mungkin tidak bisa melihat aku memakai ini di pesta," pikir Idaline.


"Baiklah."


"Eh? Mudah sekali?" Padahal Idaline akan menceramahi kepala dayang yang sering keras kepala.


Idaline mengerjapkan matanya, ia tetap berdiri tegak meski seluruh orang membungkuk saat Fusena, Hayan, ratu, dan suaminya memasuki ruangan. Wajah orang-orang yang hadir sangat serius seolah tidak boleh tersenyum sedikit pun.


Keempat orang itu berdiri di depan menghadap para tamu dan pengiring-pengiring berbaris rapih di belakang mereka. Fusena memegang guci kecil berisi air, Dhara memegang bokor emas, dan Hayan membawa delapan tangkai bunga wijayakusuma yang baru saja dipetiknya di halaman Aula Ageng disaksikan para petinggi. Ratu maju selangkah lalu mengangguk pada Kripala.

__ADS_1


"Yang Mulia Ratu telah membawa kejayaan pada kerajaan dengan penaklukan lima kerajaan dan bergabungnya tujuh kerajaan menjadikan tanah kita lebih luas. Maka tidak ada lagi Kerajaan Maja, kini yang ada adalah Bhumi Maja," ucap Kripala, punggawa ratu ketika menteri-menteri yang membawa peralatan penobatan masuk dari pintu utama.


"Yang Mulia Yuwaraja telah memberikan kemakmuran pada Watek Waluka dan Watek Kabalan, kecerdasan beliau tiada tara," ucapnya lagi saat Dhara berdiri di samping Gitarja. "Yang Mulia Ratu sudah memenuhi baktinya dan menyerahkan posisi pemimpin Bhumi pada Yuwaraja Kabalan yang kini menjadi Maharaja yang baru dengan gelar Maharaja Sri Rajasa Nagara."


"Ananda memohon do'a restu dari ayahanda dan ibunda agar ananda dapat memenuhi tugas dengan baik." Hayan meletakkan bunga di bokor kosong Dhara.


Dhara dan Gitarja meletakkan tangan kanannya di atas bokor kemudian bunga wijayakusuma berubah menjadi serbuk. "Berlakulah dengan adil maka alam akan menolong." Dhara menebar serbuk di kepala Hayan yang menunduk.


"Petapa Agung, saya memohon restu dan bantuan Anda untuk memimpin Bhumi Maja." Kini Hayan membungkuk pada Petapa Agung yang berdiri tak jauh dari kedua orang tuanya.


Fusena memercikan air ke kepala Hayan. "Teruslah berkepala dingin di setiap saat," pesannya setelah memberikan guci kecil yang berisi air suci pada Hayan. Hayan meminumnya dalam sekali tenggak.


"Yuwaraja Kabalan telah membuktikan dirinya dengan meramaikan lagi Watek Waluka yang sepi dan membuat Watek Kabalan yang hancur menjadi kota yang indah. Dan selama dua tahun Yuwaraja telah membuat kebijakan-kebijakan baru yang berdampak pada kemajuan negeri. Kerajaan telah menjadi Bhumi. Aku, Gitarja Wijaya, ratu kerajaan Maja, menyerahkan Bhumi Maja pada Maharaja Nirankara Hayan Wijaya." Ratu menyerahkan lencana ke tangan Hayan yang duduk bersimpuh dan menengadahkan tangan.


"Jadilah Maharaja yang adil pada rakyatnya dan jadilah contoh yang baik sebagai Maharaja pertama dari Wangsa Rajasa. Lahirkanlah generasi-generasi terbaik yang kuat menghadapi dunia!" Ratu mencopot makutanya lantas ia pasangkan ke kepala Hayan.


"Ananda berjanji akan memakmurkan Bhumi Maja lebih dari makmurnya Watek Waluka dan Watek Kabalan." Hayan berdiri kemudian menerima tombak kepemimpinan dari ratu. Dan Huna Catra, kakak Mana Catra sekaligus tangan kanan Hayan menerima payung dari Baga Sapta.


Fusena menyayat kedua jarinya lalu ia tempelkan pada dahi Hayan. Mata kedua orang itu terpejam. Fusena menggerakan bibirnya berucap tanpa suara hingga cahaya terang muncul dari jarinya dan darah di dahi Hayan menghilang.


"Aku mengakuimu sebagai Maharaja Bhumi Maja." lantangnya tidak memekakan tetapi terdengar hingga beberapa kilo meter.


"Berpijaklah dengan teguh," kata ratu saat Gamya Pandya memakaikan gamparan yang baru di kaki Hayan.


Di antara keramaian, Idaline hampir menangis karena menahan tawa melihat gamparan yang dikenakan Hayan.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 01 September 2021


Terima kasih guys atas dukungannya


Terima kasih atas like, komen, vote, dan hadiahnyaaa


Buat pembaca lama dan pembaca baru, ayo tambahkan author sebagai teman:


FB : Lee Lunaa Al-Fa4


IG : @alsetripfa4


Jangan begadang terus loh, ga baik.


Sehat selalu semuanyaaa

__ADS_1


Love, Al-Fa4


__ADS_2