TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
038 - JEJAK SIHIR


__ADS_3

Di sebuah halaman besar, berkumpul para prajurit dan ksatria, mereka meraih senjata yang mereka kuasai dan menghalau benda besar yang menutupi cahaya matahari dari rumah besar yang mereka lindungi, rumah Wiyasa Kabalan.


"Hentikan! Turunkan senjata kalian!" perintah Hayan. Para ksatria dan prajurit menurunkan senjatanya yang mengarah pada burung besar yang terbang di atas mereka.


"Petapa Agung mohon redakan amarah Anda! Kita bisa berbincang jika ada masalah!" teriak Hayan ketika Petapa Agung tetap terbang di atas kediamannya, tidak turun setelah pasukan bubar dari tengah lapangan.


Tak lama berselang usai memindai kediaman dengan kekuatannya dan tak menemukan Idaline, Fusena terbang merendah dan burung tunggangannya mengecil menyesuaikan ukuran halaman.


"Katakan. Di mana muridku?"


Dalam petapaan, Fusena merasakan aura Idaline lenyap dari jangkauannya. Ruru, burung garuda panggilannya memberitahukan lokasi terakhir ia melihat Idaline adalah kediaman Wiyasa Kabalan. Tetapi Fusena tidak menemukan Idaline, hanya terdapat kekuatan samar dari bekas portal yang dibuka Idaline.


"Idaline pergi ke–" Belum sempat Hayan menjelaskan, Fusena terbang tinggi dengan kekuatan cahaya, menerbangkan pepohonan dan ksatria-ksatria yang berdiri dengan tegap.


Fusena berhenti di bantaran sungai. Ia masukkan tangannya ke dalam air menangkap tubuh keong Idaline.


"Kenapa mbak kena kutukan yang jelas seperti ini? Bahaya sekali, arus sungainya sangat deras," omel Fusena bercampur khawatir. Fusena meletakkan tubuh Idaline ke atas tanah.


Menyalurkan sedikit kekuatannya lalu sebuah cahaya keluar dari tubuh keong Idaline. Fusena menghela napas lega melihat siulet yang dikenalnya telah kembali.


"Tenanglah. Aku hanya ingin mencoba hal baru," Idaline memeras rambutnya yang basah.


Fusena menatap tajam tubuh transparan Dina. "Ruru akan ikut dengan mbak," ucapnya sebelum menghilang.


"Kenapa tidak membebaskan kutukannya?" tanya Ruru.


"Dia punya rencana. Kalau sudah sampai batasnya halangilah. Kamu tahu keras kepalanya,"


"Ya. Dulu Ewo si gajah ingin bertapa di atas lava yang akan meletus. Tahu dirinya akan terinjak, tetap saja nona Lin menahan Ewo agar tidak pergi ke sana,"


"Jagalah dia dengan baik,"


"Pasti,"


"Ru, mending kamu jadi burung kecil deh," Idaline tersenyum, Ruru langsung berubah menjadi burung gelatik jawa yang terlihat lembut dan menggemaskan.


"Sekarang bawa aku ke barat," Idaline kembali menjadi keong mas dan menempel di punggung Ruru.


"Kenapa tidak bentuk manusia saja?" tanya Dina. Mereka sedang terbang di atas awan. Tubuh Dina mengikuti ke mana tubuh Idaline pergi.


"Butuh kekuatan besar untuk melawan kutukan. Mempertahankan bentuk manusia sangat sulit. Sekarang aku bertapa dulu," Idaline terpejam dan berusaha fokus.


Sedetik kemudian Idaline mengernyit dan membuka matanya yang terpejam karena getaran dari tubuh Dina sangat mengganggunya terlebih sekarang mereka terikat karena sebuah kesalahan.


"Itu..siapa dia?" tanya Dina dengan raut ketakutan.


"Ada apa?" tanya balik Idaline melihat wajah pucat Dina. Ia memperhatikan sekeliling dan mencoba merasakan kekuatan tetapi tidak mendapati siapa pun.


"Kekuatannya sangat besar sampai rasanya aku akan tenggelam ketika dia menatap tajam,"


Idaline berpikir keras lalu tidak menemukan orang lain selain Fusena yang telah bertemu mereka. "Dia Petapa Agung," jawab Idaline kembali memejamkan matanya dan mulai bertapa mengosongkan pikiran agar tidak lagi terganggu.


"Dia? Bukan beliau?" pikir Dina heran.


••••••••••••••••••••


"Tuan, terima kasih telah menyelematkan saya," Kirana merapatkan kedua telapak tangannya ke depan dan badannya sedikit membungkuk pada Djahan yang menghadap pintu goa.


Djahan melihat Kirana sekilas lalu kembali fokus mengamati pintu goa.


"Pu..putriku," Kerta yang mengawasi di balik semak belukar muncul, berlari ke arah Kirana sambil merentangkan tangannya.


"Ayahanda!" Kirana menerima pelukan sang ayah.


"Oh putriku. Putriku," Kerta mengecup ubun-ubun Kirana secara berulang. "Bagaimana keadaanmu? Apa ada yang terluka?" Kerta menatap putrinya dari atas ke bawah.


"Tidak, ayahanda. Pemuda ini telah menyematkanku,"


"Oh iya," ucap Kerta menyadari keberadaan Djahan. "Tuan Mahapatih hamba sangat amat mengucapkan terima kasih kepada Anda. Entah bagaimana bila Anda tidak datang," Kerta bersimpuh memberikan penghormatan besar namun Djahan tidak menghiraukannya.


"Ayahanda!" panggil Kirana terperanjat. Ayahnya adalah seorang raja, bagaimana bisa lelaki itu bersimpuh? Terlebih di depan mahapatih? Seseorang nomor dua dalam urutan kerajaan? Kemudian Kirana teringat wajah Djahan ketika mengunjungi Kerajaan Maja. "Ada apa, ayahanda?" tanya Kirana dalam hati.


"Ceritanya panjang. Tapi sekarang kemarilah nak, pemuda ini adalah Tuan Mahapatih. Beri salam yang benar," jelas Kerta masih dalam posisi bersimpuh.


"Ma-aafkan kelancangan saya," Kirana bersimpuh mengikuti Kerta dan seluruh pengawal meletakkan sejatanya lalu bersimpuh.


Djahan masih berdiri tidak menghiraukan kaki-kaki pegal orang-orang yang bersimpuh padanya. Beberapa kali cahaya muncul dari tangannya namun tidak dapat membuka pintu seperti yang Idaline lakukan.


"Katakan. Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam?" tanya Djahan menatap dingin Kirana.


"Itu..sebenarnya..saya diculik.." gugup Kirana.


"Katakan dengan jelas!" geram Djahan.


Kirana menarik napas panjang. "Hamba diusir dari istana kemudian tinggal di sudut ibu kota. Saat itu hamba bekerja di toko pakaian. Ketika menjual di desa lain, hamba dibius lalu terbangun di goa yang penuh hal aneh dan ditahan di sana. Hamba tidak menyangka ternyata goa itu berada di makam leluhur,"

__ADS_1


"Bagaimana kamu masuk?"


"Hamba tidak mengerti,"


Djahan menatap Kirana tak percaya.


"Sebenarnya Dewi Galuh pernah berkunjung di bulan pertama penculikan hamba," pelan Kirana takut tatapan Djahan.


"Kirana jangan mengarang!" marah Kerta. Putri sulungnya itu bagaimana bisa menyeret adiknya di waktu sulit seperti ini?!


"Padahal ayahanda tau di hari penculikan, Dewi Galuh keluar istana,"


"Tidak ada larangan untuknya pergi,"


"Panggil dia kemari," perintah Djahan memutuskan perdebatan anak dan ayah itu. Djahan tidak peduli yang terjadi di antara keduanya, ia harus menyelamatkan Idaline bagaimanapun caranya.


"Tuan mohon maafkan anak hamba. Dia pasti kebingungan karena penculik meracuni otaknya,"


"Tidak, ayahanda. Saya sangat sadar,"


Djahan menggertakkan giginya melihat prajurit Daha berlari seperti siput baginya. "Terlalu lama!" bentak Djahan lalu lari secepat kilat.


"Kalian kejar dia! Pastikan putriku aman,"


"Ayah–" Kirana menatap khawatir para prajurit yang berlari menjauhi mereka. Penghormatan dari ayahnya yang terlalu besar sedikit banyak ia mengerti kondisi Kerajaan Daha saat ini, seharusnya ayahnya paham dan tidak menyinggung orang besar seperti Mahapatih Kerajaan Maja.


Saat Kirana melihat para prajurit yang berusaha mengejar Djahan, sebuah tangan besar melayang ke wajah Kirana yang telah membulat. Kirana tidak menyangka, ayahnya menamparnya.


"Adikmu mengkhawatirkanmu setiap saat tapi sekarang kamu membalasnya seperti ini," Kerta terbelalak menyadari tangannya telah berbuat dosa. "Pu..putriku.."


"SELALU SAJA DEWI GALUH!" teriak Kirana memegang pipinya. Ia menghela napas dengan kasar.


"Aku baru teringat lukisan di pelajaran tata krama, beliau adalah Tuan Mahapatih dari Kerajaan Maja. Ayahanda yang bersimpuh hormat menandakan sekarang posisinya lebih tinggi, berarti kerajaan kita telah jatuh?" alih Kirana. Membahas adiknya hanya bisa membuat pening.


"Kerajaan Maja semakin besar, kita sudah tidak bisa bertetangga,"


"Dan sekarang ayahanda menyuruh orang bertindak tidak sopan?" tuding Kirana.


"Akalku hilang sesaat," Kerta menyadari tindakan prajurit mereka akan menyinggung Djahan. "Kalian yang tersisa hentikan mereka. Awasi saja dari jauh," perintahnya pada prajurit yang mengawal mereka.


"Baik, tuan."


"Putriku. Maafkan ayahanda,"


"Lupakan saja. Bagaimana kerajaan kita bisa terjatuh? Meski kecil, kerajaan kita adalah pusat perdagangan asing di pulau ini,"


"Hah! Kita menyerah karena pesaing kita menyerah?" Kirana menatap Kerta dengan tatapan meremehkan.


"Mana mungkin," Kerta menatap makam leluhurnya dari atas goa. "Yuwaraja menjadi Wiyasa di sana dan merebut semua pedagang asing tanpa tersisa dari pasar kita. Ayahanda tidak ingin rakyat menderita karena keserakahan ayahanda. Membungkukkan tubuh lebih mudah daripada melihat satu warga kelaparan,"


Kirana diam mencerna ucapan Kerta dan Kerta diam menjernihkan pikirannya juga menetralkan emosinya. Kerta menyadari selama ini ia kurang bijaksana dan itu membuatnya merasa semakin tak pantas menduduki tahta raja.


"Orang itu benar-benar Dewi Galuh," ujar Kirana memecahkan keheningan.


"Bagaimana bisa?"


"Hanya karena selir kesayangan ayahanda mati tenggelam saat berlibur bersama. Bukan berarti ayahanda bisa membiarkan kelakuannya begitu saja. Saudari-saudari yang lain pasti resah setiap hari dan kesal setiap mendapat hukuman yang tidak seharusnya," tutur Kirana.


Kerta terdiam tidak dapat membantah ucapan Kirana. Ibu dari Dewi Galuh mati ketika bersama dengannya membuat dirinya merasa sangat bersalah pada putrinya itu dan menutup mata atas segala kesalahan yang dilakukan Dewi Galuh.


"Dewi Galuh menyukai pangeran Inu. Pasti sekarang mereka sudah bersatu,"


"Mereka tidak menikah," bantah Kerta. "Pangeran Inu melepaskan posisinya sebagai pewaris tahta untuk merantau. Mencari keberadaanmu,"


"Saya sudah tidak secantik dulu. Mana mungkin pangeran masih mengharapkan saya," Kirana memegang wajahnya yang penuh jerawat dan pipinya yang membengkak karena terus makan dan rebahan di dalam goa.


"Apa kamu mencintai pangeran karena rupanya?" tanya Kerta. Kirana menggeleng. "Pangeran rela mengorbankan segalanya demi bertemu kamu. Tapi kemana kepercayaan dirimu sebagai putri tertua ayahanda?"


"Ayahanda!" Kirana kembali memeluk Kerta.


"Oh putriku. Ayahanda ternyata terjebak dalam penyesalan tak berujung. Maafkan ayahanda,"


"Manusia terbaik adalah yang menyadari kesalahannya," Kirana menatap langit membayangkan penyihir bertudung yang belum pernah ia lihat wajahnya. "Terima kasih atas keberanian yang Anda ajarkan kalau tidak aku akan terus diam menerima perintah dan keputusan ayahanda,"


••••••••••••••••••••


"Maafkan hamba. Hamba benar-benar tidak bisa lagi memanggil sang penyihir," Dewi Galuh bersujud memohon ampun bersimbah air mata.


"Apa kamu tahu siapa yang bersama penyihir jahat itu?!" marah ksatria yang sering melihat Idaline.


"Dia adalah Yang Mulia Raden Ajeng Paramudita, guru Yang Mulia Yuwaraja, murid Petapa Agung, dan calon istri Tuan Maha..aw," sahut yang lain berbisik di akhir, meringis kesakitan kakinya diinjak.


"Kamu mau mati?" tegur teman di sebelahnya setelah menginjak kakinya.


"Beliau kan di medan perang tersenyum hanya ketika surat Raden Ajeng datang bahkan sampai menunda perundingan dengan Waluka seharian karena ingin membalas surat secepat mungkin,"

__ADS_1


"Sepertinya aku kurang keras melatih kalian," seru Djahan mendengar semua bisikan mereka.


"Maaf, tuan. Mulut ini kadang tidak bisa dikendalikan," ucap teman yang menginjak kakinya sambil menutup mulutnya.


"Putriku..kamu pasti punya cara lain kan?" wajah Kerta memucat. Dewi Galuh diam membatu.


"Goa di makam leluhur adalah jalan keluarnya. Hamba bisa masuk hanya ketika dipanggil oleh sang penyihir," ujar Dewi Galuh.


"Daha sangat berani menjebak Raden Ajeng kerajaan Maja," tubuh Djahan mengeluarkan aura yang sangat besar hingga tanah di sekitarnya retak


"Tuan mohon tenangkan diri Anda. Hampir seluruh orang di pasukan adalah petapa, beberapa penyihir yang ada berhasil menemukan jejak sihir di pintu goa namun mereka tidak terlalu kuat untuk membukanya," jelas prajurit Djahan.


Djahan memejamkan matanya menghilangkan aura tubuh petapaannya kemudian ia berdiri tepat di depan kepala Kerta. "Ada yang ingin kamu jelaskan?" tanyanya tajam.


"Tuan.. hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan orang lain," jawab Kerta. "Hal ini, Dewi Galuh sendiri yang melakukannya," tegasnya.


"Keluarga Daha dan para bawahannya akan menjadi tahanan rumah. Dewi Galuh sebagai terdakwa akan dikirim ke penjara bawah tanah kerajaan. Pasukan yang sudah berlatih tetap di sini. Yojo pimpinlah Watek untuk sementara," Djahan memegang pelana kuda bersiap menaikinya.


"Wah wah. Kukira tempat ini sudah ditinggalkan karena tidak ada suara, ternyata sangat ramai sekali,"


Kuda sembrani berwarna putih dengan ujung sayapnya berwarna merah mendaratkan kakinya di atas tanah. Semua orang yang menunduk tidak berani menangkat kepalanya, refleks mendongak melihat hewan mitos kerajaan yang jarang digunakan.


"Kami memberi salam kepada Yang Mulia Yuwaraja," ucap semuanya bersamaan seraya kembali bersimpuh memberi hormat.


"Mahapatih, di mana guru?" tanya Hayan pada Djahan yang sedang turun dari kuda, mengabaikan salam orang-orang.


"Kebetulan sekali," Djahan dan Hayan berjalan mendekat. "Idaline berada di goa makam leluhur Daha. Pintunya dilapisi sihir yang sangat kuat, aura dan ilmu petapaan tidak dapat menembusnya,"


"Bayu!" panggil Hayan mengerti maksud Djahan.


"Siap, Yang Mulia," Bayu muncul secepat angin.


"Tunjukkan jalannya,"


Djahan, Hayan, dan Bayu pergi menuju makam leluhur. Djahan menjelaskan situasinya ketika Bayu fokus membuka sihir di pintu goa.


"Yang Mulia, mohon maafkan hamba. Pintu ini sangat rumit segel sihirnya. Mungkin hanya ayahanda dan Candra yang dapat membukanya," jelas Bayu dengan tangannya yang bersimbah darah.


"Kamu tidak bisa membukanya?" Djahan menatap Bayu tak percaya.


"Saya bisa membuka sedikit. Hanya tikus yang mampu masuk ke dalam,"


"Lakukan," perintah Hayan.


Djahan menangkap tikus dari semak dengan kekuatannya. Ia kendalikan tikus tersebut memasuki celah yang dibuat Bayu di pintu sihir yang tersembunyi.


"Tidak ada kehidupan. Isinya penuh benda aneh," ujar Djahan melepas ikatan dari si tikus.


"Kalau begitu mereka sudah pergi," simpul Bayu.


"Kenapa?" tanya Djahan.


"Ada jejak orang membuka pintu sebelum hamba memulai. Menurut ucapan Tuan Mahapatih, belum ada penyihir kita yang menemukan pintu dan tidak ada kerusakan segel sihirnya, berarti si pemegang kunci yang membukanya."


"Dan saat perjalanan ke sini ada jejak sihir di sisi sungai. Setelah merasakan energi di dalam, hamba yakin itu merupakan energi yang sama," jelas Bayu menunjuk aliran sungai di utara makam leluhur Daha.


"Seberapa besar jejak sihir di sisi sungai?" Djahan tidak merasakannya, ia mempelajari beberapa hal tentang sihir.


"Seukuran jempol,"


"Bagaimana dengan jejak di tanah?" tanya Hayan.


"Hamba tidak menemukan jejak sihir. Namun dengan ukuran yang sama, ada jejak kutukan membentang sampai ke titik sihir yang hamba temukan,"


Hayan dan Djahan terbelalak. Idaline dikutuk?!


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 26 Agustus 2021


Terima kasih atas like, komen, dan vote juga hadiahnya teman-teman.


Author sangat bersemangat menerima like dan komen dari kalian.


Sehat selalu semuanya.


Love, Al-Fa4


Today In History :


26 Agustus 1071 M


Kemenangan di Manzikert


200.000 tentara Byzantium

__ADS_1


vs


20.000 Mujahid dipimpin Sultan Alp Arslan


__ADS_2