![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Perhiasan selalu menjadi kebanggaan kaum hawa untuk menambah kecantikan dirinya atau sekedar menunjukkan kepunyaan yang lebih baik dari kawannya.
Namun tidak bagi Idaline. Sebagai Udelia ia hanya mengenakan anting yang sudah ada di telinganya semenjak bayi bersama kalung dengan bandul bulat yang tergantung di lehernya sejak usia tiga bulan.
Dan sebagai Idaline ia hanya memakai cincin batu pemberian Candra agar mudah digunakan, sedangkan segala perhiasan pemberian Djahan ia simpan rapih-rapih dan Djahan tidak mempermasalahkan segala keinginannya.
Tetapi sekarang Idaline harus mengenakan pakaian resmi Raden Ajeng setiap berjumpa dengan orang. Belum lagi kelak perhiasan-perhiasan itu akan semakin berat seiring peresmian dirinya.
"Sudah selesai, Yang Mulia."
Idaline membuka matanya. Tanpa memedulikan pemerah bibir yang telalu tebal, Idaline bangkit dari meja rias dan berjalan keluar. Ia lemparkan senyuman pada seseorang yang telah menunggu di ruang tamu.
"Kamu cantik sekali," sambut orang itu bangun dari duduknya dan mendekat pada Idaline.
"Rakryan Tumenggung!" tegur kepala dayang saat Indra tidak kunjung melepaskan pandangannya dari wajah Idaline. Kepala menteri pertahanan Bhumi Maja itu sangat melewati batas dengan berani mengangkat kepalanya pada calon pasangan Maharaja.
"Tinggalkan kami," perintah Idaline saat kepala dayang hendak membantunya duduk.
"Tapi Yang Mulia.."
"Ini perintah," tegas Idaline.
"Hamba mohon undur diri."
Mendengar suara pintu yang ditutup kasar Indra berdeham menetralkan suasana hatinya. "Idaline setiap hari semakin cantik saja," batinnya.
"Maaf aku tidak bisa berlama-lama. Besok aku akan langsung kembali ke Kediaman Besar Sanjaya. Aku akan menghubungi jika sudah sampai. Kupastikan semuanya selesai dengan cepat."
Tanpa duduk kembali ataupun berlama-lama, Indra meletakkan kotak yang berisi udarabandha buatannya ke tangan kanan Idaline kemudian beranjak pergi. Ia sampai lupa menanyakan alasan Idaline mengurung diri di hari perayaan kemenangan Bhumi Maja atas Wukir Mahendra atau yang sekarang bernama Wukir Lawu.
Idaline merutuki dirinya yang ragu-ragu dalam berucap, seharusnya ia menyela Indra agar jelas dan terang tentang janji yang tidak serius itu. Namun hari ini adalah hari bahagia, pantang baginya mematahkan hati orang yang sedang berbahagia. Ia hanya ingin meminta waktu bertemu di saat yang tepat, tetapi sepertinya pria itu tidak ada waktu.
Idaline meletakkan kotak pemberian Indra di atas lemari kecil lalu memasuki kamarnya, tidak ada niat sama sekali untuk hadir di pesta kemenangan.
Pesta kemenangan, pesta yang diadakan untuk menyambut para prajurit dan memberikan hadiah-hadiah pada yang berjasa. Hal itu dilaksanakan selama sepekan penuh.
Idaline termenung, kembali termenung tentang keputusan yang sudah diambilnya, apakah keputusan yang diambilnya sudah tepat? Bisa saja 'kan Hayan tidak sekuat yang ia kira? Tidak seberkuasa yang ia kira?
Tetapi di usia lima tahun saja Hayan mampu dengan dingin dan tanpa rasa bersalah atau menyesal memusnahkan satu keluarga besar hanya karena salah satu anggotanya melontarkan kata 'bodoh' pada Hayan. Apalagi sekarang lelaki itu memiliki hewan panggilan.
Fusena menyebutkan bahwa tidak boleh terlibat dengan keluarga kerajaan lagi terutama Hayan yang sudah jauh lebih kuat. Tetapi saat Idaline minta agar tetap dibawa berkeliling, Fusena menolaknya dan membiarkan Idaline tinggal di dalam kerajaan. Baru ketika Idaline menyadari perasaannya pada Djahan, Fusena memintanya untuk bersama.
Idaline menelisik hatinya. Sejujurnya ia merasa sangat sakit berpisah dengan Djahan apalagi di waktu yang sedikit ini, waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk mengukir kenangan indah. Meski Dina telah berjanji akan mengajarkan Idaline cara melintasi dimensi, tetap saja keberhasilannya tidak terjamin. Keluarga Dina berbagi kekuatan dengan makhluk di sana sedangkan dia tidak.
Idaline meraih gulungan emas yang tersimpan di sisi kanan meja. Ia buka lebar-lebar dan sekali lagi membacanya dengan saksama.
Kita merayakan kemenangan yang besar, Suku Jiha juga merayakan hari besar mereka. Datanglah ke Bale' Ndamel ada yang perlu diperjelas.
Idaline menggulungnya dan meletakkan kembali ke tempatnya semula. Isi pesan sekilas seperti membahas kawan dekat. Tetapi Suku Jiha yang terletak di Pulau Wakwak tidaklah patut dijadikan kawan, setidaknya selama mereka masih sama.
Suku Jiha, jiha artinya jiwa atau nyawa, mereka mendapatkan julukan itu karena menginginkan nyawa tiap orang yang mereka lihat, tentu orang di luar kelompok mereka. Dari banyaknya berita yang terdengar, belum ada satu pun orang yang selamat.
Orang-orang yang digenggam jiwanya itu akan menyaksikan sendiri tubuh mereka dijadikan sup dan dimakan dengan lahap oleh orang-orang Suku Jiha sampai mereka menggila dan jiwa mereka lenyap dengan sendirinya lalu masuk ke dalam kendi yang tersedia di sana. Begitu kata anak kesayangan kepala suku yang tidak lagi memakan manusia setelah tenggelam di danau.
Idaline menatap cermin. Ia bersihkan wajahnya dengan hati-hati dan melepaskan tiap hiasan yang melekat di kepalanya. "Kalian benar-benar akan membunuhku?" tanya Idaline sambil menyisir rambutnya. Di sudut atas cermin nampak orang-orang berpakaian serba hitam sedang bersembunyi di kuda-kuda atap.
__ADS_1
"Entahlah, Yang Mulia. Rasanya malah akan runyam karena Anda berada di keraton dan habis bertemu tuan Sanjaya. Meski pemimpin tertinggi adalah Maharaja, banyak pula yang dekat dengan Rakryan Tumenggung. Dan dayang-dayang di kediaman Mahapatih sekuat rangga." Huna membuka penutup wajahnya. Orang-orang yang bersamanya diam menunggu di belakangnya.
"Anda meragukan kualitas para ksatria kita," ucap Idaline meletakkan sisirnya.
"Hamba hanya memperkirakan situasi terburuk." Dalam beberapa hari ini Huna merasa frustasi. Andai saja Idaline tidak memiliki keterikatan dengan dua orang besar, tidak akan ada yang menentang keputusan Maharaja.
"Sapta Prabu pasti kecewa padamu."
Huna dan empat orang lain sontak berlutut di belakang Idaline. Murid Petapa Agung memang semestinya jangan diganggu. Setiap orang yang diangkat murid oleh Petapa Agung pasti memiliki kecerdasan yang luas.
"Mohon Yang Mulia berikan petunjuk," ucap Huna memohon.
"Padahal akulah yang harus diberi petunjuk," balas Idaline. Janji yang diucapkannya ketika berpikir akan pulang, bayangannya menjadi istri yang sempurna, dan keselamatan sahabatnya. "Yang mana?" Idaline memegang dahinya.
Huna dan kawan-kawannya terdiam. Sedikit banyak mereka tahu kepenatan yang dialami Idaline. Maharaja akan melakukan segala hal untuk mendapatkan yang diinginkannya. Dan sepertinya majikan mereka itu menemukan kelemahan terbesar Idaline.
"Apa nona Sipta?" batin Huna. "Tetapi nona Sipta tidak menolak dan sepanjang pengetahuanku Maharaja tidak mengancamnya. Kecuali nona Sipta menolak, akan ada konsekuensinya, semua yang menolak titah akan mendapat hukuman yang besar. Tetapi nona Sipta tidak menolak," pikir Huna semakin bingung.
"Bantu aku hilangkan tanda di dalam dahi ini," putus Idaline. Idaline mengambil sisi positif dari hal yang terjadi. Setidaknya berjauhan dengan Djahan bisa perlahan menguapkan cintanya dan Idaline dapat kembali pulang dengan hati yang lapang.
"Maaf, Yang Mulia. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh dewan kehakiman," tolak Huna. Semua orang harus mematuhi aturan atau kalau tidak semua orang bisa semena-mena membuat dan menghilangkan tanda pernikahan.
"Katakan pada Sapta Prabu bahwa aku akan jadi Maharani. Tentang yang lain, biar kuurus."
"Baik, Yang Mulia," ucap Huna menghilang dari kamar Idaline.
"Haah." Idaline menghela napas panjang menatap langit-langit. "Kalau aku pulang sekarang apa akan beres?"
"Ida, ada satu lagi bangsamu yang memiliki lobang hitam yang sangat dalam," ucap Utih muncul di samping Idaline yang masih terbengong.
Melalui ucapan Utih yang penasaran akan perbedaan besar lubang hitam dalam jantung orang-orang modern, Idaline jadi tahu posisi mereka di dunia yang ditempatinya.
"Dia di Patenggeng. Namanya Sumbi dan nama putranya Kuriang. Kamu tau hal aneh yang kuliat? Bidadara yang dikutuk jadi anjing lah ayah anak tersebut. Anehnya itu dia si anjing ini dipelihara ibu dan anak tersebut."
Utih menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Seorang pria dipelihara istri dan anaknya? Sebagai harimau putih yang dipimpin jantan pengayom keluarga, Utih tidak bisa membayangkannya.
Idaline menegakkan badannya mendengar cerita menarik. "Apa? Kuriang?" antusiasnya.
"Waktu aku beristirahat di bukit, tidak ada keanehan. Malamnya baru kurasakan, dan si ibu memukuli kepala anaknya. Aku benar-benar tidak mengerti." Sebagai ibu yang baik, Utih tidak pernah tiba-tiba memukuli anaknya, kecuali dalam pertarungan. Tapi wanita itu begitu bangun dari tidur langsung memukuli kepala anaknya sendiri tanpa sebab yang jelas.
"Lalu anjingnya? Celengnya bagaimana?"
"Anjingnya masih ada. Dan celeng bidadari juga masih di hutan. Oh iya, si anak lari ke hutan." Utih mengingat anak itu berlari melewatinya begitu saja, apa anak itu terlalu merasa sakit hati tidak merasakan kehadirannya atau karena menganggapnya patung buatan manusia jadi merasa tidak takut?
"Kejadiannya belum terjadi tapi dia memukuli anaknya?" Idaline meanutkan alisnya. Cerita yang muncul dari mulut Utih berbeda dari cerita yang selama ini diketahuinya. Idaline semakin penasaran.
"Ya? Ah aku tak paham."
"Aku jadi ingin berkunjung!" seru Idaline menggosok-gosokkan tangannya sambil tersenyum lebar.
"Ayo! Lelaki itu pasti sibuk pesta, lebih baik menyegarkan kepala," ajak Utih.
"Utih sangat pandai bicara." Idaline mengelus kepala Utih dengan sayang.
••••••••••••••••••••
__ADS_1
Utih menutup mata Idaline menggunakan ekornya. Mereka mengira yang pemilik rumah sudah tertidur namun ternyata sedang memadu kasih.
"(Gila banget sih kamu melakukannya dengan anjing!!!)" teriak Idaline tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"(Anjing darimananya?! Kamu tidak lihat proporsi tubuh yang indah ini? Dan apa kamu tidak membaca kisah–eh wait, kamu?!)" Sumbi berlari ke arah Idaline membuat kainnya terjatuh.
Seorang pria yang di siang hari memiliki ekor di belakang tubuhnya dan di malam hari memiliki ekor di depan tubuhnya melilit asal kain di pinggangnya lalu ia meraih tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar.
"Ceroboh sekali," gumam Idaline memegang teh panas, menghangatkan dirinya. Sumbi dan Tuman duduk di depannya, sedangkan Utih masuk ke hutan.
"Tuan Tuman pasti tau Sumbi yang sekarang bukan tuan putri yang dulu Anda layani. Saya datang untuk mengantarnya pulang."
"Kalau Anda tau kisah ini, seharusnya saya sudah kembali," kata Tuman.
"Tapi Anda belum kembali," jawab Idaline. "Apa Anda menyerah menjadi bidadara hanya untuk bersama Sumbi palsu?"
"Hei aku tak palsu!" sungut Sumbi. Perempuan yang ia kira bisa dijadikan teman itu tiba-tiba mengatakan hal yang merusak kebahagiaannya. Ia merasa sangat beruntung bisa bersama dengan Tuman.
"Saya yang memanggilnya kemari. Dulu maupun sekarang, Sumbi adalah Sumbi, istriku," tegas Tuman.
"Ha.haaaha." Idaline tertawa canggung. "Sumbi, kamu benar tidak mau pulang?"
"Hidupku sudah selesai, sekarang ganti kehidupan yang baru." Sumbi tidak ingin kembali ke kehidupan bak neraka itu. Bersama Tuman ia merasa sangat bahagia.
"Tapi kenapa kamu memukul Kuriang?"
"Inti keberadaannya adalah kematian Tuman, toh dia akan menemukan petapa-petapa hebat." Sumbi merasa sangat bersalah memukul anak kecil, ia jadi teringat kedua orang tuanya sendiri. Tetapi jika cerita tetap berjalan, Tuman yang sangat perhatian padanya akan mati di tangan anaknya sendiri.
Idaline menepuk jidatnya. "Kamu sepertinya masih abg labil. Bagaimanapun hutan ini penuh binatang buas."
Ucapan Idaline membuat Sumbi tersentak. Perempuan itu tidak memikirkan sampai sana. Ia menganggap hutan ini sama dengan sebuah kampung halaman yang tidak berbahaya.
"Dia benar. Gimana kalau anak kecil itu mati?" Sumbi mencemaskan anak kecil yang mungkin memiliki benjolan di kepala akibat pukulannya yang sangat keras.
"Anda tenang saja. Saya sudah memberikan kalung padanya. Meski kekuatan sebagai bidadara sudah hampir habis, saya tetap berada di atas banyak manusia," sela Tuman.
"Aku sampe encok langsung kemari begitu dengar jiwa baru datang." Idaline menghabiskan tehnya lalu berdiri. "Nah silakan nikmati waktu kalian. Sumbi, temui aku di Bhumi Maja jika berubah pikiran. Dalam waktu setahun aku akan kembali." Idaline beranjak keluar dari gubuk.
Tuman yang lihat istrinya terbengong, menepuk pundaknya hingga Sumbi tersadar, buru-buru Sumbi pergi menuju Idaline. "Hei, kita bahkan belum berkenalan. Namaku Daya," ucap Sumbi memperkenalkan diri.
"Aku Udelia. Di sini Idaline. Mungkin dalam waktu dekat kita akan bertemu secara resmi." Idaline menaiki Utih yang telah datang kemudian pergi dan menghilang di balik gelapnya hutan.
Hari yang gelap menjadi terang, Tuman kembali berubah menjadi anjing dan Kuriang datang berlumuran darah di sekujur tubuhnya dengan sebuah hati tergenggam di tangannya.
"Bu, jangan marah lagi ya? Ini hati hewan yang ibu inginkan."
Sumbi yang tidak pernah melihat darah terbelalak gemetar,setetes dua tetes tidak masalah tetapi jika sampai membanjiri tubuh, Sumbi merasa mual. Sedangkan Tuman terpaku, ia merasakan energi rekannya dari hati tersebut.
"Rasanya makin aneh saja. Aahh aku mau pulang." Idaline memeluk punggung Utih.
"Anakku sudah tidak perlu perlindungan. Giliranmu. Ke mana pun akan kuikuti." Utih tersenyum merasakan deru napas teratur di punggungnya.
••• BERSAMBUNG •••
© Al-Fa4 | 23 September 2021
__ADS_1
Author Note :
Pulau Wakwak bukanlah Pulau Fakfak. Menurut bapak Bastian Zulyeno dalam republika.co.id, Pulau Wakwak berada di daerah Mentawai, Sumatera. Pulau ini terdapat dalam kisah legenda Abad Pertengahan dari Timur Tengah, yaitu kisah Seribu Satu Malam. Di Pulau Wakwak ada sebuah pohon unik yang buah nya mirip kepala seorang perempuan dengan rambut panjang dan jika jatuh akan berbunyi Wakwak makanya dinamakan demikian.