TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
069 - BOLEHKAH..?


__ADS_3

Hayan memandangi Idaline yang duduk di depannya sambil terkantuk-kantuk. Ia bersikeras ingin mengerjakan tugas, namun Idaline lebih keras kepala.


Wanita itu ingin menemaninya begadang karena merasa bersalah telah mengajak keluar pria yang sibuk, padahal jelas bukan Idaline yang mengajak. Setelah perdebatan sengit akhirnya Hayan memutuskan membawa beberapa berkas ke dalam kamar.


Sebuah lengan kekar menangkap kepala Idaline yang hampir mengenai meja. Idaline mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha sadar. Dengan sedikit kesadaran ia berselonjor di kursi panjang dan merebahkan kepalanya di pegangan tangan yang sudah dilapisi bantal lalu tertidur dengan tenang.


"Maharaniku tidak pernah berubah. Selalu saja bisa tidur di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun!" Hayan berdecak sambil merapihkan anak rambut yang menusuk mata Idaline.


Hayan menyudahi pekerjaannya. Ia tidak ingin membuat Idaline memaksakan diri membuka mata dan kemudian akan jatuh sakit.


Hayan merapihkan berkas-berkasnya di atas meja lalu mengangkat Idaline. Ia tengguk salivanya dengan susah payah memandang leher jenjang Idaline, rambut wanita itu digelung ke atas.


"Di sini saja." Idaline memeluk leher Hayan yang sedang menurunkannya di atas ranjang. Tubuhnya yang sudah lebih dari dua bulan tidak digerakkan, kini letih akibat berjalan-jalan di perayaan. Idaline mencari kenyamanan.


"Maharaniku, kalau kamu seperti ini.." Hayan membenamkan wajahnya di bahu kanan Idaline.


Idaline membuka matanya dan mengumpulkan kesadaran, ia tidak mendengar suara napas Hayan yang berada di bahunya.


Pandangan sayu Idaline meruntuhkan pertahanan Hayan, ia menjatuhkan Idaline ke kasur, menaikkan lututnya lalu memerangkap Idaline dengan kedua tangannya.


"Maharaniku.." panggil Hayan, napasnya memberat.


"Hayan..?" sahut Idaline. Ia memejamkan matanya saat Hayan menurunkan kepalanya. "Aw," teriak Idaline merasakan bahunya digigit.


"Maharaniku, bolehkah..?" bisik Hayan menghembuskan napas di telinga Idaline.


Mata Idaline terbelalak dan sontak menutupi telinganya. "Maharaja, sadarkan dirimu!" katanya berusaha mendorong Hayan.


Idaline menggigit bibirnya. Hayan tidak mendengarkan perkataannya dan terus menjelajahi ceruk lehernya.


Hayan tersenyum di ceruk leher Idaline, dia tidak lagi mendapatkan penolakan dari maharaninya. Tangan besar Hayan dengan berani meraih buah milik Idaline. Mengelus, me mi jat, me mi lin, dan me re masnya agar buah menjadi matang.


Hayan merasakan kemenangan yang besar mendengar lenguhan tertahan Idaline. Ia menaikkan kemben Idaline dan me nye sap langsung pucuk yang telah matang.


Hayan menggigit kecil pucuk Idaline, namun Idaline tetap membungkam mulutnya. Hayan turun menelusuri lekuk tubuh Idaline sembari membuang kain-kain yang menutupi keindahan wanitanya.


"Ahh.." Satu de sa han Idaline lolos ketika Hayan menyentuh kain lapis terakhir yang telah basah di antara kedua kakinya. Dan Idaline berteriak saat merasakan jari panjang Hayan masuk ke in ti dirinya. Ini adalah sensasi baru yang pertama kali ia rasakan.


"Apa sakit?" tanya Hayan mendengar suara teriakan Idaline. "Maaf. Ini kali pertama-"

__ADS_1


"Engga. Lanjutin saja." Idaline terbelalak mendengar ucapannya sendiri, ia tutup wajahnya yang memerah malu.


"Terima kasih." Pelan-pelan Hayan menjauhkan tangan Idaline dari wajah istrinya dengan tangan yang bebas dan bibir Hayan me lu mat bibir Idaline.


Ketika Idaline meraih udara sebanyak-banyaknya, Hayan memposisikan diri dengan canggung, beberapa kali ia ragu memasuki lubang yang terlihat tidak akan muat dengan miliknya. Idaline pun berinisiatif membuka kakinya lebar-lebar.


Idaline mencengkram seprai kala Hayan memasuki dirinya dengan posisi yang kurang nyaman.


"Sakit..?" tanya Hayan bingung. Ia sudah setengah jalan namun ia tidak tega melihat Idaline mengernyit kesakitan.


"Belum terbiasa saja." Idaline melemparkan senyum sebagai persetujuan melanjutkan permainan dan itu menenangkan Hayan.


Saat Hayan mendapatkan posisinya dan memegang kendali, ia meletakkan kaki Idaline di bahunya membuat Idaline merasakan Hayan berada di titik yang belum terjamah.


Beberapa saat kemudian batang Hayan dilumuri cairan putih Idaline lalu Hayan memutar tubuh Idaline tanpa melepaskan penyatuan mereka. Tangan dan kaki Idaline menopang tubuhnya manakala Hayan bergerak di belakang tubuhnya.


Hayan bergerak dengan lembut namun menuntut dan Idaline hanya mampu berusaha mengimbanginya.


••••••••••••••••••••


"Kamu bilang baru pertama kali?" cibir Idaline menatap wajah yang berada di atas tubuhnya. Setelah kelelahan bersama, suaminya tidak melepaskan pagutan tubuh mereka seolah mereka adalah dua insan yang tidak terpisahkan. Idaline hanya bisa terdiam agat tidak membangunkan yang sedang tertidur.


"Justru kamu terlalu.. tidak. Bukan itu. Kamu tidak melakukan apa pun selama ini?" tanya Idaline mengarah pada percintaan.


Lelaki dengan kuasa penuh yang berada di puncak kekuasaan dan kekuatan tidak pernah merasakan keelokan seorang wanita rupawan? Sangat tidak mungkin!


"Tidak ada yang bisa menarik perhatianku selain maharaniku tercinta." Hayan mencium lembut pipi Idaline.


Idaline menaikkan alisnya. Belum pernah bercinta tapi sangat lihai?! Bahkan dirinya dan Djahan sangat canggung di malam pertama. "Lalu semalam itu?"


"Oh, aku mempelajarinya dari buku." Hayan menghujani mata Idaline dengan kecupan. Wanitanya ini, sangat berani memikirkan pria lain saat berada di bawah kungkungannya. Dia tidak suka melihat tatapan lembut Idaline yang diberikan untuk orang lain.


"Ingin mencoba yang lain?" Dia akan membuat wanitanya lupa dengan seluruh pria dan hanya menatap dirinya seorang!


"Memang ya Maharaja. Sangat cerdas," puji Idaline mulai bergerak tak nyaman, rasanya ada yang terbangun dari tidurnya.


Hayan mendekatkan wajahnya ke telinga Idaline. Ia menjilat titik sensitif maharaninya dan berbisik, "Kita coba yang lain."


Idaline belum sempat menjawab, Hayan sudah menarik tubuhnya hingga terduduk dan meraih bibirnya lalu membimbing Idaline turun dari kasur.

__ADS_1


Kali ini Hayan menghimpit Idaline ke tembok kemudian menyuruh Idaline membungkuk dan berpegangan di sisi meja, melakukannya berkali-kali pelepasan seolah tidak ada hari esok. Idaline hanya bisa mengikuti irama Hayan.


"Yang Mulia, para bhre dan yang lain ingin pamit hari ini," ujar Huna yang sudah menunggu sejak pagi hingga matahari menjadi terik di halaman. Meski masih suci, Huna dan orang-orang yang dibawanya sangat paham suara lak nat yang terdengar hingga ke pintu depan.


Entah seberapa panas majikan mereka bermain di dalam kamar hingga berteriak sangat kencang atau justru majikan mereka bermain di ruang tamu. Mereka tidak tahu dan tidak ingin menebaknya. Yang penting mereka melakukan tugas-tugas dengan baik.


Hayan mengangguk lalu berjalan di depan Huna, para dayang, dan para abdi dalem. Hayan telah membersihkan diri bersama Idaline dengan melakukan sedikit pijatan lalu Idaline memakaikan Hayan kain berlapis yang menutupi seluruh tanda yang perempuan itu buat.


Tidak ada yang aneh kalau Hayan membalut tubuhnya dengan berlapis-lapis kain, tetapi jika sampai ada kain yang menutupi lehernya, orang-orang pasti bertanya-tanya meski tidak menunjukkan ekspresi mereka.


"Yang Mulia, menurut hamba, sekarang waktunya bersama dengan Yang Mulia Maharani. Mengingat beliau telah sembuh dan mendapatkan kesehatannya kembali." Huna mengatakan usulannya dengan hati-hati. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menunjukkan kekuasaan maharani.


Banyak rumor tentang Idaline di kalangan atas apalagi mereka adalah orang-orang yang menghadiri pesta pernikahan Idaline dan Djahan. Rumor yang paling banter adalah tentang keberadaan Idaline yang tidak pernah menampakkan diri setelah hari pernikahan.


Kebanyakan dari mereka menyimpulkan maharaja hanya ingin mendapatkan dukungan dari Petapa Agung dan tidak benar-benar menikahi muridnya.


Meski tidak merasa sebanding dengan murid Petapa Agung, mereka tetap memiliki ambisi untuk merangkak naik ke atas.


Jika terus dibiarkan, bisa saja ada salah satu yang berhasil dan hubungan maharaja dan maharani akan memburuk.


Hayan tersenyum tipis. "Tidak perlu," katanya.


Ia tidak ingin membebani Idaline dengan urusan kenegaraan. Sudah cukup perempuan itu menderita di masa lalu hingga beberapa kali jatuh sakit sampai lambungnya rusak karena sering telat makan.


Rasanya Idaline tidak akan percaya itu adalah pengalaman pertama Hayan jika tidak mengingat betapa susahnya Hayan memasuki dirinya hingga beberapa kali mencoba dengan ragu dan juga kebingungan Hayan saat melihat Idaline kesakitan.


Meski sakitnya tertutupi oleh gerakan yang lain, Idaline tetap tidak bisa bergerak dari atas ranjang. Hayan tidak memberikan jeda padanya seakan-akan tidak ada kesempatan lain.


"Kami akan menandu Anda," usul dayang setelah mempersiapkan air terapi. Maharaja keluar dengan semangat tetapi maharani bagai kain yang kusut. Sepertinya mereka kini mengetahui keganasan maharaja di atas ranjang.


"Aku mau istirahat. Kalian keluar saja." Idaline menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Dayang-dayang Keraton Capuri itu tidak menutupi ekspresi mereka. Idaline menjadi tidak nyaman.


"Baik, Yang Mulia."


••••••••••••••••••••


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 15 Oktober 2021

__ADS_1


__ADS_2