TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
080 - HUKUMAN


__ADS_3

"Mahapatih, Anda sungguh melakukan hal keji!"


Hayan memijat pangkal hidungnya. Dia tidak menyangka orang yang selalu memiliki taktik yang baik sekarang merusak segalanya hanya karena perasaan.


Hukuman tidak mungkin dielak atau rakyat akan memandang hukum Bhumi Maja sebagai hukum yang cacat.


Sementara hukuman yang paling pas untuk kejahatan yang dilakukan Djahan adalah hukuman mati.


Hayan tidak senang dengan Djahan dalam lingkup percintaan. Namun di luar itu Djahan adalah orang yang mampu dan setia.


Tidak pernah terlintas dalam benak Hayan untuk membunuh Djahan padahal itu adalah jalan terbaik untuk memisahkan Djahan dan Idaline.


Djahan adalah seorang Mahapatih yang luar biasa. Hayan tidak bisa mengabaikan hal ini.


Tapi permasalahan sekarang, Sapta Prabu yang mengusulkan pernikahan dengan Putri Citra Resmi. Mereka tidak akan membiarkan kejadian ini berlalu begitu saja.


Dan lagi sangat disayangkan seorang perempuan jelita yang memiliki bakat dalam seni mati tanpa meninggalkan karya untuk Bhumi Maja.


Hayan paling menyukai bidang kesenian.


Mungkin itulah mengapa dahulu dia tidak pandai dalam teori yang diajarkan para guru.


"Saya membiarkan dia berada di posisinya karena dia menyukainya. Kalau ada yang menghalangi tidak akan saya biarkan."


Indra tidak menyangka sekarang gurunya sedemikian berperasaan. Sejak dulu gurunya adalah orang baik, namun gurunya tidak pernah melakukan hal gila demi seseorang.


Sepertinya lama di medan perang membuat Indra ketinggalan banyak hal.


Sedangkan Hayan mencengkeram pena di tangannya, jika dia tidak ingat pena itu yang memberikannya adalah Idaline, Hayan mungkin akan mematahkannya karena tidak tahan mendengarkan penjelasan yang sentimental.


Seolah-olah Djahan adalah orang yang paling memperhatikan Idaline!


"Dan ini untuk menyatukan kepulauan-kepulauan. Misi Anda selangkah lebih maju, apa Anda keberatan?" tambah Djahan memandang datar pria yang duduk di balik kursi kerjanya.


Dia tidak peduli hukuman yang akan terjadi, yang penting tidak ada orang yang mengganggu kekasih hatinya.


"Apa Anda tidak terpikir mereka akan menyerang balik? Sebagian besar pasukan kita masih berada di Suwarna!"


Kendatipun pasukan Bhumi Maja tidak lagi diragukan, sekarang sebagian besarnya masih melakukan pemulihan di daerah-daerah yang baru ditaklukkan.


Masih banyak yang harus diurus setelah menjatuhkan sebuah daerah.


Seperti mengganti para pegawai kepemerintahan, meyakinkan rakyat setempat, dan mengubah hukum-hukum yang bertentangan.


Semua itu tidak bisa terjadi dalam satu atau dua bulan.


Belum lagi pemberontakan yang besar kemungkinan terjadi.


Bhumi Maja juga harus memastikan semuanya bekerja dengan baik, jangan sampai mereka bersekutu lalu menyerang balik.


Dari jendela yang terbuka lebar Hayan melihat segerombolan orang datang ke Bale' Ndamel. Dia mengenali pakaian mencolok yang dipakai seseorang yang menjadi pusat rombongan.


Hayan berdiri dan hendak keluar menyambutnya namun orang itu sudah sampai terlebih dahulu.


"Maharaniku, kenapa datang kemari?"


Hayan mengkhawatirkannya! Perempuan ini sepertinya lupa sedang mengandung, perempuan ini berjalan dengan tergesa-gesa dan sedikit berlari.

__ADS_1


Wanita pada umumnya tidak akan berani berjalan dengan langkah kaki yang lebar.


Mereka anggun dan lembut.


Sangat berbeda dengan Idaline yang tidak memedulikan semua itu.


"Aku ingin memberikan informasi." Idaline memberikan gulungan dan meletakkannya ke meja Hayan.


Indra adalah orang yang paling terkejut di sana.


Dia tidak terlalu peduli dengan gosip kalangan atas yang beredar. Pemberitaan tentang identitas murid kedua Petapa Agung pun tidak terlalu luas dibicarakan.


Jadi dia tidak tahu menahu bahwa Idaline adalah seorang Maharani.


Dia hanya tahu Maharani adalah murid kedua Petapa Agung dan semua orang memuji-mujinya.


Pujian bisa dibeli, tapi ternyata pujian itu benar berasal dari sumbernya.


Indra berpikir pujian-pujian itu lebih pantas disematkan pada Idaline dan ternyata benar-benar Idaline yang sedang dipuji!


Otak Indra beku namun hatinya terasa panas.


Dua elemen yang bertentangan membuat Indra terdiam seribu bahasa padahal seharusnya Indra memberikan kesaksian juga pembelaan atas keterlambatan dirinya sampai di Lapangan Bubat.


"Terjadi pemberontakan dan dikabarkan Kerajaan Jalu bersiap menyerang Kerajaan Galuh?" tanya Hayan setelah membaca kertas yang diberikan Idaline.


"Ya. Seperti yang tertulis."


Idaline mengirim Siji untuk memantau situasi di sana pasca perang berakhir.


Sepupunya itu melupakan semua yang berhubungan tentang kerajaan-kerajaan padahal sepupunya menempuh pendidikan sejarah, bahkan sejak sekolah dasar sepupunya sudah menyukai sejarah.


Namun dengan kecerdasan di kehidupan yang baru, Siji berhasil mendapatkan informasi hanya dalam waktu tiga hari dan mengirimkan informasi pada Idaline langsung melewati portal.


Padahal penggunaan portal tidak baik untuk wanita hamil. Walaupun sebatas mengirim selembar kertas.


"Kita tidak perlu mengambil keuntungan sekarang. Lebih baik menaklukkan Tanjung Nagara. Di sana semuanya menggunakan sihir, kita bisa melawan secara fisik," usul Idaline.


Tiga pria di sana mencoba fokus mendengarkan akan tetapi pikiran mereka terbagi dengan hal lainnya.


Indra yang masih belum bisa menguasai keterkejutannya, Djahan yang terus memikirkan ucapan Candra, dan Hayan yang sedang menahan kekesalannya.


"Mungkin akan terpikir keluarga Ekadanta yang pantas dikirim. Namun Bhayangkara yang pernah mempelajari sihir cukup untuk melawan dengan perlindungan kanuragan dan fisik yang kuat." Idaline menatap mata Hayan berusaha meyakinkannya.


"Aku paham. Maharaniku, istirahatlah."


Hayan sangat kesal.


Perempuan ini disuruh beristirahat malah memikirkan hal yang sangat berat.


Usulan yang diberikan Idaline ini harus melewati tahap riset yang panjang dan menguras otak untuk sampai pada kesimpulan yang tepat.


Idaline pasti siang malam memikirkan jalan keluar untuk Djahan.


"Pantas berita kehamilan terjadi tepat di hari kedatangan!"


Hayan tidak menyangka kabar bahagia itu diberitakan untuk melindungi Djahan.

__ADS_1


"Tidak. Aku akan mendengarkan diskusi kalian." Idaline mengambil duduk di kursi, sebenarnya sedari tadi perutnya sedikit kram tapi tidak ada orang yang memedulikan dirinya.


Semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Saranku kalian serang yang berada di pinggir laut dahulu. Karena semakin masuk ke dalam pulau, hutannya semakin lebat dan kekuatan sihir penghuninya semakin kuat," tambah Idaline mengusap perutnya yang tidak nyaman.


Ketiga orang itu memperhatikan setiap gerak-gerik Idaline terutama Hayan yang kemudian teringat pesan Ra Konco bahwa Idaline harus beristirahat, jangan sampai ada pikiran yang membebani.


Hayan mengusap wajahnya gusar.


Menghukum Mahapatih adalah kewajiban Maharaja namun bila Hayan melakukannya, Idaline pasti kepikiran.


Dan berita yang diberikan Idaline sebenarnya meringankan kesalahan Djahan.


Hayan menatap sengit Djahan. "Bagaimana dengan jasad para petinggi Kerajaan Galuh?" tanyanya.


"Saya sudah mengirim jasad Prabu Lingga Buana dan keluarganya juga para pejabat dan keluarganya ke Kerajaan Galuh. Loro, Telu, dan Papat yang membawa mereka," urai Djahan.


Seperti ucapan Candra, Hayan menghabiskan waktu bersama Idaline sampai berhari-hari. Alhasil Djahan memerintahkan anak buahnya sendiri untuk membawa jasad orang-orang Kerajaan Galuh.


Indra dan pasukannya tidak ingin terlibat sebab yang dilakukan Djahan adalah sebuah kejahatan besar.


Dan apabila Rangga ikut terlibat, semua orang akan berspekulasi peristiwa ini direncanakan Bhumi Maja.


Mereka pun akan mempertanyakan kualitas Ksatria Bhumi Maja


"Mahapatih sudah mengabaikan perintah saya, hukuman Anda adalah dikurung di rumah tahanan selama satu bulan penuh. Renungilah kesalahan Anda," putus Hayan.


Djahan menatap sebentar Idaline sebelum pergi dibawa para pengawal.


"Rakryan tumenggung, hentikan liburanmu dan mulailah kembali bekerja," titah Hayan pada Indra.


Hukuman untuk Djahan akan memberi dampak besar untuk pekerjaannya. Dia terpaksa menyuruh Indra kembali padahal Hayan sudah menjanjikan liburan panjang dan Indra belum menyelesaikan urusan keluarganya.


"Baik, Yang Mulia." Indra menunduk sambil berjalan mundur seperti prajurit-prajurit lainnya. Dia mencuri pandang pada Idaline sebelum menutup rapat pintu Bale' Ndamel.


"Aku juga akan kembali," ujar Idaline setelah Indra dan Djahan pergi.


"Huna, antar Maharani."


Hayan berdiri melihat Idaline memasuki kereta tanpa berniat keluar dari ruangan dan membantu Idaline.


Hati Hayan sangat panas mengetahui istrinya sangat memperhatikan nasib Djahan tanpa memikirkan bayi mereka.


Ra Konco sudah berpesan tidak boleh satu pikiran pun membebani Idaline.


Sepertinya Djahan sangat spesial di mata Idaline sampai tidak memikirkan ucapan Ra Konco.


Hayan dan Idaline akan mempunyai buah hati namun Idaline masih terus saja memandang Djahan.


"Harusnya kamu beristirahat dan tidak usah memikirkannya," gumam Hayan.


"Pergi ke rumah tahanan," perintah Idaline di dalam kereta.


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 03 November 2021

__ADS_1


 


 


__ADS_2