![TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]](https://asset.asean.biz.id/tikz--berpindah-ke-zaman-keemasan-.webp)
Suatu hari Hayan terbangun dengan perasaan benci yang sangat kuat, lalu ia semakin merasa benci ketika orang-orang berbicara tentang Idaline.
Awalnya ia mengira karena telah dimarahi ratu setelah ia menjadikan Idaline tameng saat pembunuh bayaran mencoba membunuhnya.
Padahal jauh sebelumnya, Indudewi dan ibu asuhnya pernah menggantikan posisinya dan ratu tidak marah.
Kemudian Sudewi datang menceritakan hal-hal yang sudah dialaminya, Hayan berpikir mungkin kebencian yang ia rasakan berasal dari sana.
"Lalu periksalah." ucap Idaline membuyarkan lamunan Hayan.
"Dopo!" panggil Hayan. Dopo adalah salah satu pekerja tingkat tinggi di bagian sihir kerajaan yang dipimpin keluarga Ekadanta.
Lelaki dewasa berkisar tiga puluh tahunan bergegas masuk ruangan. Tanpa permisi ia cengkram kepala Idaline sembari mengucapkan kata-kata yang sulit dimengerti.
"Menurut pemeriksaan yang saya lakukan, ada sesuatu yang aneh di dahi Raden Ajeng. Tapi belum dapat dipastikan ini benih sihir hitam atau bukan, karena benih sihir baru akan terlihat dua tahun setelah ditanam."
Idaline menghela napas panjang. "Bagaimana kalau kukatakan ini adalah simbol aura milik Petapa Agung?" ia menaikkan bola matanya ke arah dahi.
"Apa Anda berkata bahwa Anda adalah istri petapa agung?"
"Hah? Apa maksudmu?!" sentak Idaline geli mendengar ucapan Dopo. Bayangan masa-masa bersama Fusena berkelebat dalam pikirannya. Semuanya adalah ulah-ulah konyol dan kenakalan anak kecil.
"Pada umumnya simbol aura diberikan suami untuk melindungi istrinya. Saya mungkin berpikir hal lain tentang Petapa Agung, tetapi beliau tidak pernah memberikan simbol ini bahkan pada muridnya." terang Dopo.
"Jadi kamu menyimpulkan aku menikah dengannya?"
"Benar."
"Aku? Dengan anak itu? Pfft. HAHAHA." Idaline sekali lagi tertawa terbahak-bahak. Kali ini tawanya sangat lepas. Fusena yang jauh di sana bersin dengan suara keras merasa dirinya sedang diejek seseorang. Hayan, Dopo, dan Sudewi tersadar dari pikirannya yang menduga-duga berkat tawa Idaline, serempak mereka menatapnya aneh. "Aduh. Aduh perutku sakit."
"Ceritakan dengan jelas." titah Hayan.
"Ya?" sahut Idaline menghentikan tawanya.
"Ceritakan bagaimana kamu bertemu Petapa Agung!"
Idaline menjelaskan dengan detail semuanya dimulai dari bertemu Winarti hingga penguburannya. Ia berhenti sejenak saat ceritanya sampai pada pertemuannya dengan Petapa Agung, otaknya memutar menyusun kebohongan, hal yang tak pernah jadi kapasitasnya. Idaline jadi berpikir barangkali ia nyatakan saja kebenaran agar ringan hatinya, namun bukankah akan jadi rumit?
"Kamu bertemu dengannya, tapi kapan Petapa Agung memberikan simbol ini?" tanya Hayan tak sabar.
"Dia terus menatap makam Winarti hingga malam hari. Kemudian kami berkenalan dan esok harinya kami berempat menghabiskan waktu bersama. Dia mengajari kami beberapa hal lalu memberikan simbol ini." karang Idaline sangat tidak bagus. Ia bertekad akan berkata sebenarnya jika Hayan tak percaya.
"Tidak mungkin beliau memberikan simbol ini pada sembarang orang. Kenapa beliau memberikannya padamu?" ejek Hayan melihat Idaline dari ujung rambut ke ujung kaki.
"Tanyakanlah sendiri! Dia akan mengunjungiku pada malam pergantian tahun." kesal Idaline mendengar nada ejekan dan tatapan mengejek Hayan.
"Mula-mula bukti ucapan Sudewi adalah hasil pemeriksaan Dopo. Tapi jika yang sebenarnya adalah yang kamu ucapkan.." Hayan menatap intens Idaline. "Baiklah, kita akan menunggu hingga pergantian tahun." putusnya melihat binar mata Idaline. Ia ingin mencari kedamaian, lepas dari kebencian. Terlebih andai pernyataan Idaline benar, mereka akan dalam masalah besar jika mengeksekusinya sekarang.
"Lepaskan aku."
Menggunakan kerisnya, Hayan memutus ikatan Idaline dengan tangannya sendiri. Entah mengapa hatinya tak nyaman melihat bekas merah di tangan putih itu, namun tiba-tiba hatinya dipenuhi kebencian. Ia tarik tangan yang sedang berjalan keluar itu.
"Aww!!" pekik Idaline saat Hayan mencengkeram kuat bekas ikatan di tangannya.
"Aku ragu pada cerita Sudewi bukan berarti percaya pada ucapanmu. Tinggallah di istana sampai kamu dapat membuktikannya."
"Aku harus mengurus perkebunan." elak Idaline tak lagi berharap pada sarang ular, istana. Ia sudah mendapatkan tempat yang lebih menjanjikan untuk menemukan jalan keluar. Dialah Fusena, sepupunya yang gemilang.
__ADS_1
"Kamu masih dicurigai."
Bulu kuduk Idaline merinding merasakan tatapan tajam Hayan. Tatapan yang mungkin bisa membunuh dirinya jika sekali saja ia salah melangkah. "Baiklah, baik, aku akan ikut. Setelah mengurus beberapa hal."
Hayan melepas tangan Idaline lalu melap kasar tangannya dengan kain putih bersih. Idaline mendengus melihat tingkah Hayan, ia tinggalkan mereka tak peduli meski harus pulang berjalan kaki. Semua barangnya disita Sudewi untuk diperiksa.
"Dopo, bawalah dua pengawal. Kawal Raden Ajeng. Aku beri waktu 2 hari." perintah Hayan. Terbesit perasaan gelisah melihat punggung Idaline menghilang di balik pintu.
"Baik, Yang Mulia."
Hayan mengaitkan kedua tangannya di belakang tubuh, ia pandangi kereta Idaline yang menjauh dengan perasaan bercampur aduk.
"Bukan hanya mendapat gelar tapi juga memiliki kekuatan Petapa Agung? Dan suami istri?"
••••••••••••••••••••
"Selamat datang nona." sambut Garong diperintahkan Idaline agar tutup mulut atas semua yang terjadi di istana. Idaline tidak ingin kerepotan menerima banyak beban psikologis.
"Terima kasih paman." Idaline menerima uluran tangan Garong, hati-hati ia turun dari kereta kuda. Salah satu prajurit istana datang terlebih dahulu karena Idaline ingin langsung beristirahat begitu tiba.
"Silakan tuan-tuan." Sri menunjuk rumah dengan kedua tangannya.
"Nona, saya sudah lakukan sesuai arahan Anda. Biji kakaonya sudah jadi." ujar Roro. Garong menyenggol lengan putrinya, memberitahu kalau dia berbicara tanpa melihat keadaan.
"Nona sudah menunggu dengan sabar." bisik Roro menenangkan ayahnya.
"Apa? Coba lihat."
Idaline datang ke gudang penyimpanan es. Mata berbinar melihat batangan coklat tersimpan rapih di dalam kotak.
"Monggo." Roro memberikan sepiring coklat.
"Baik, nona."
Idaline meninggalkan Roro dan beberapa pekerja di sana. Ia masuk ke dalam kamar lalu menjatuhkan diri ke kasur yang empuk. "Beginilah tempat tidur yang benar." Idaline meminta pekerjanya untuk membuat kasur berisi kapuk, ia hanya menjabarkan dengan sederhana karena terburu-buru tetapi mereka paham yang dimaksudkan Idaline.
"Tapi siapa yang mengetahui maksudku?" gumam Idaline. Padahal ketika ia menjelaskan orang-orang itu terlihat bingung.
Idaline memejamkan matanya. Perjalanan dari tempatnya disekap memakan waktu lebih dari satu hari, ia terus terjaga takut-takut dibawa pergi ke tempat yang aneh lagi.
Meski di peta Janapada merupakan tetangga ibukota, perjalanannya memakan waktu lebih dari sepuluh jam karena bentuk alam membuat jalur utamanya memutar dan juga ada hutan lindung kerajaan yang harus dihindari, hutan itu berisi hewan-hewan kuat yang sudah dilatih. Seseorang yang masuk tanpa izin dari ratu akan ditembak di tempat dengan anak panah beracun.
Belum lama ia tertidur, Idaline membuka matanya merasakan perutnya keroncongan. Sri yang berada di sebelahnya tertawa kecil.
"Nona selalu lapar sepulang bepergian. Saya menyiapkan buah sebelum makanan pokok." ujar Sri meletakkan sepiring buah yang telah dipotong kecil-kecil.
"Bibi tahu kalau makan buah dulu lebih bagus??"
"Itu karena buah lebih cepat membusuk. Jadi, di perut juga cepat diolah." Sri mengusap iler yang menempel di sudut bibir Idaline.
"Bibi pintarnya."
"Nona mungkin lupa, penduduk desa ini selalu bergantian bekerja di luar desa."
"Bekerja di luar desa? Kenapa? Di sini kan banyak hutan, sawah, kebun, dan juga ada tiga bukit yang mengelilingi kita. Sungai pun melimpah ikannya."
"Nona cerdas sekali. Ini juga yang menjadi perdebatan antara orang tua nona dan kepala desa. Kepala desa merasa kita terasingkan akibat jauh dari pemukiman lain kemudian membuat peraturan sebagian warga harus bekerja di luar untuk berkembang. Orang tua nona menolak karena kita akan kekurangan pekerja dan desa yang sepi akan menjadi rawan."
__ADS_1
"Ayah ibu benar. Di sini kita tidak kekurangan pekerjaan ataupun sumber daya untuk makan dan bukankah kita juga keluar jika waktunya panen?"
"Sejak nona ke ibukota, nona pasti tahu bahwa di desa kita hanya memiliki sedikit petarung. Ada atau tidaknya orang-orang di sini, tidak akan berbeda jika penjahat yang menggunakan sihir atau kanuragan datang. Kepala desa ingin pemuda pemudi sadar akan jarak itu dan juga seperti kata beliau sebelumnya, desa terpencil ini harus berkembang."
"Sepertinya dua-duanya benar. Lalu kenapa tidak ke akademik saja?"
"Mereka tidak memiliki motivasi yang seperti itu, istana yang indah sebenarnya penuh dengan jebakan."
Idaline mengangguk. Kebanyakan rakyat jelata yang berhasil masuk ke akademik di daerah maupun di ibukota, semuanya berharap menjadi dayang istana yang memiliki banyak keuntungan. Tapi persyaratan utamanya adalah simbol perbudakan atau biasanya orang menyebut simbol kesetiaan agar tidak membocorkan rahasia istana ketika sudah menikah, hanya beberapa orang yang sudah menikah yang diizinkan tinggal.
"Tapi ucapan orang tua nona juga tidak bisa dihiraukan begitu saja. Maka mereka membuat keputusan mengirim sepuluh orang bekerja di luar sepanjang satu masa panen. Akhirnya selain berkebun yang kami mahir melakukannya, menjahit yang sulit dilakukan, beberapa dari kami berhasil mempelajarinya."
"Pantas saja kasurku sangat bagus."
"Ide nona sangat bagus. Bagaimana kalau kita menjual yang seperti ini? Kelihatannya baru nona yang membuat ini."
"Tidak." tolak Idaline ingin membiarkan alur cerita berjalan seperti semestinya. "Oh iya bagaimana para pekerja tahu bentuk seperti ini? Padahal aku tidak begitu benar menjelaskan."
"Tini bekerja di toko kain di kota. Sebenarnya ia akan direkrut sebagai senior di sana karena keahlian tangannya yang bagus dan cekatan. Tini tidak pernah menempuh pendidikan tapi ia bisa membuat pola sesuai yang para bangsawan inginkan hanya dari ucapan mereka. Kepala tokonya menyayangkan Tini yang bersikeras kembali karena sudah berjanji pada kepala desa. Padahal tuan Janapada memberikan izin, tetapi Tini tetap kembali."
"Sayang sekali."
"Ini karena baktinya pada sang ibu yang sudah tidak bisa bepergian jauh."
"Kenapa tidak kita buatkan saja tempat khusus untuknya menjahit? Aku yakin karyanya akan laku dengan cepat. Dia paham tentang kain panjang berbentuk kotak yang diisi kapuk dan juga paham perkataan para bangsawan yang menjelaskan tanpa gambar."
"Sudah kami bicarakan tapi Tini berkata hanya bisa membuat sesuai pesanan, tidak bisa memikirkan ide sendiri."
"Lalu sekarang aturlah pembuatan tempat jahit ini, bi. Kita masih punya banyak keuntungan dari panen raya kemarin. Katakan padanya untuk membuat kain berwarna polos, tidak perlu motif. Aku yakin dengan kerapihannya menjahit akan menarik hati banyak orang. Lelaki juga pasti nyaman dengan kain yang dibuatnya."
"Baik, nona."
"Untuk bahan-bahannya...bibi serahkan saja pada yang bisa, aku yakin ada yang mampu." Idaline mengedipkan matanya membuat Sri terkekeh. "Nah aku lapar sekali, bi." keluhnya mengusap perut.
"Mari nona."
"Kenapa kalian tidak memakannya?" tanya Idaline melihat ketiga tamunya hanya duduk terdiam di meja makan.
"Raden Ajeng mohon jangan perintahkan hal yang sulit." Dopo dan kedua pengawal istana merasa tertekan saat Idaline mengambil duduk di sebelah mereka.
Ketiga orang itu dipaksa Sri untuk duduk karena terus berdiri, tubuh besar mereka menghalangi sinar matahari masuk ke dalam rumah. Tentu saja dengan berkata kalau itu perintah dari nonanya.
"Kalian jangan terlalu kaku begitu. Ini bukan istana, makanlah dengan nyaman. Seperti yang kalian lihat, aku hanyalah seorang anak dari keluarga biasa di desa terpencil."
"Raden Ajeng mohon jangan merendahkan diri. Kami ini tidak pantas."
"Kalau begitu makanlah, ini perintah."
Karena Idaline menaruh curiga, mereka hanya makan sekali ketika sudah di dekat desa Janapada. Apalagi ketiga orang itu hanya makan roti keras setelah memberikan buah dan binatang buruan pada Idaline. Idaline jadi merasa bertanggung jawab atas perut mereka.
Dopo dan kedua pengawal istana makan dengan lambat-lambat membuat Idaline kesal. Padahal ketika makan roti keras, mereka seolah belum makan selama tiga hari tiga malam, menghabiskannya dalam sekejap.
Idaline mencuci tangannya lalu melapnya dengan kain bersih. "Aku selesai. Kalian harus habiskan semua ini." perintahnya menunjuk meja yang penuh sesak bermacam-macam makanan.
"Silakan." Sri menaruh ikan yang baru selesai dipanggang. "Nona?" panggil Sri melihat Idaline menuju pintu keluar.
"Perutku sangat kenyang makan buah dan susu yang bibi berikan. Aku pergi dulu."
__ADS_1
•••BERSAMBUNG•••
© Al-Fa4 | 16 Juli 2021