TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]

TIKZ [Berpindah Ke Zaman Keemasan]
040 - KAMU MENGAWASIKU?


__ADS_3

"Tuan, kenapa Anda tidak membeberkan tempat ini?" usul Ilir.


"Ilir!.." Ketua penjaga menutup mulutnya rapat-rapat ketika tangan Joyo terangkat mengirimkan sinyal menyuruhnya untuk diam.


"Dari yang saya dengar, para tawanan tiba-tiba terlepas selama perjalanan padahal untuk budak-budak dari luar pulau penjagaannya sangat ketat. Bukankah aneh kalau ini hanya karena kelalaian semata? Atau hanya karena para bandit menyerang? Bagaimanapun tanah ini tanah yang diberkati!" pancing Ilir.


"Apa maksudmu aku harus menyerahkan diri?"


"Tidak tuan. Anda hanya perlu melimpahkan semuanya pada musuh Anda. Kemudian tuan menjadi pahlawan karena telah menjaga tanah yang diberkati," Ilir menaikkan kepalanya menatap Joyo. "Lima tahun sudah terlewat. Yuni dan kekasihnya berhasil kabur tiga bulan yang lalu. Bisa saja dia mengadu di tanah lain,"


Yuni adalah budak yang terampil menggunakan bahan-bahan seadanya membuat pakaian dan makanan terbaik. Dengan keberadaannya, para penjaga sangat jarang menyiksa para budak karena senang dan kenyang perutnya. Beberapa waktu kemudian, kepatuhannya membuat Joyo memutuskan membawa Yuni ke kediamannya. Namun saat membersihkan diri di danau, Yuni kabur bersama kekasihnya yang seorang penjaga sel yang menyamar di kediaman Joyo sudah selama sepekan.


"Wanita itu berhasil lolos dari genggaman kita?!" marah Joyo belum menerima laporan karena sibuk bekerja.


"Bisa saja mereka mati di hutan belantara, tuan. Mereka pasti tidak mengetahui arah karena dari pulau lain," timpal kepala penjaga.


"Dan bisa saja mereka hidup lalu lari ke tanah yang diberkati lainnya! Raja kita sangat bodoh dan pengecut karena besar di kandang budak, tapi tidak dengan negeri lain. Apalagi sang Petapa Agung mengumumkan murid-muridnya ke khalayak ramai, itu berarti mereka sudah siap terjun tanpa perlu lagi didampingi," sergah Ilir.


"Murid-murid, bukan murid?" gumam kepala penjaga.


"Iya. Awalnya beliau mengumumkan mengangkat murid dari keluarga Ekadanta. Setelah selesai pendidikan, Petapa Agung mengumumkan dua muridnya. Siapa tahu dia memiliki murid tersembunyi lainnya,"


Joyo dan orang-orangnya terdiam. Ucapan budak kecil itu benar adanya. Bagaimana bila Petapa Agung memiliki banyak murid dan sudah memata-matai seluruh daerah?


"Tuan, ide Ilir cukup berguna," ucap kepala penjaga setelah beberapa saat hening.


"Saya juga bisa meyakinkan para budak yang mengetahui tuan untuk menutup mulut," tambahnya.


"Katakan idemu untuk menghindari murid-murid Petapa Agung," Joyo menopang kepalanya bersiap mendengarkan dengan seksama.


"Menurut saya-"


Ucapan Ilir terpotong oleh suara pintu yang dibuka paksa. Mereka menoleh bersama mengintai orang di balik debu yang beterbangan.


Kepala penjaga mengeluarkan kudi dan mengarahkan kudinya pada orang yang memaksa masuk.


"Tuan tenanglah, ini saya," kata orang tersebut yang merupakan salah satu pengawal Joyo.


"Apa kamu tidak dengar untuk jangan mengganggu?!" marah Joyo.


"Saya dengar. Saya dengar. Namun ada pasukan besar yang mengarah ke sini, tuan," ucap pengawal dengan raut cemas.


Joyo berdiri dari duduknya. "Apa raja bodoh itu akhirnya pintar?" cemoohnya tercampur cemas.


"Tuan, benderanya dari kerajaan lain. Itu adalah bendera.." Pengawal itu menarik napasnya "..bendera Kerajaaan Maja, Sang Saka Getih-Getah Samudra!"


"Ck," Joyo mengambil mantelnya dan bergegas memakainya. "Bawa budak-budak berkualitas pergi. Yang di depan ulur waktu,"


"Baik tuan,"


"Anda mau ke mana?" Idaline memegang bahu Joyo yang bersiap membuka pintu.


Joyo jatuh tersungkur saat penjaga membukakan pintu untuknya, ia memegang bahunya kesakitan. Idaline menatap tajam Joyo, tanah di sekitarnya retak dan hawa mencekam membuat semua orang merasa sesak napas dan terjatuh terhempas ke tanah.


"Tanah yang diberkati adalah tanah yang harus dijaga oleh semua orang. Sekelompok warga harus mengurangi penderitaan saudaranya. Sayang, tangisan terus keluar dari warga yang menahan lapar dan kesakitan tersiksa. Setiap orang yang tahu menutup mata dan telinga, mulutnya takut untuk berbicara padahal beberapa memiliki kesempatan bertemu," Idaline mengeluarkan guci kecil dari cincinnya. "Hari ini, tanah Pragota tak lagi diberkati,"


Satu titik cahaya hijau yang dapat dilihat setiap mata telanjang melesat keluar menembus atap. Langit yang sangat cerah mendadak menghitam, gemuruh dan angin kencang datang memporak-porandakan pelabuhan yang tenang.


"Kalian sangat sombong beranggapan diri kalian adalah dewa! Seenaknya memberkati ini dan itu!" Joyo menunjuk jarinya ke Idaline.


"Kalau kami adalah dewa, kami tidak akan membiarkanmu sewenang-wenang. Kami hanya memberi dan mengambil apa yang kami miliki," Idaline mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Joyo yang masih berusaha congak di bawah tekanan menyakitkan. "Joyo Kolyo, dosamu lebih besar dari Pracara yang lalai. Bertaggungjawablah pada budak-budak yang sudah menunggu,"


Dahi Joyo berlubang tembus ke belakang. Para pengawalnya gemetar ketakutan. Dan Idaline menatap dingin mayat yang bersimbah darah itu.


"Kerajaan Maja akan mengurus kalian," Idaline melewati para pengawal dan para penjaga.


"Maja? Bukan Pragota?" gumam salah satu penjaga.


Idaline menghentikan langkahnya mendengar gumaman penjaga. "Kamu pikir ksatria kerajaan lain dapat berkeliaran dengan mudah?"


"Loh kenapa tanya ke saya? Tunggu, berarti kerajaan ini telah kalah?" bingung si penjaga.


"(Siapa namamu?)"


Penjaga tersenyum mendengar pertanyaan Idaline. "(Saya Heryawan, nona cantik,)" Heryawan mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Sudah kuduga," Idaline balas tersenyum kembali berjalan. Prajurit itu adalah satu-satunya yang tidak sesak napas meski tubuhnya terjatuh.


"Ternyata banyak juga yang datang kemari," ucap Dina muncul di samping Idaline.


"Banyak?"


"Lebih dari satu itu banyak,"


"Gimana? Apakah ada?"


Dina menggeleng. "Sudah sebelas tahun berlalu. Di sini sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun. Mungkin kakek sudah dipindahkan ke tempat yang jauh,"


"Katakan tempat yang ingin kamu tuju,"


"Lupakan saja," Dina tersenyum. "Jika berjodoh, kami akan berjumpa lagi. Mencari kakek sangat tidak mungkin. Nanti kamu datanglah ke goa jika bertemu kakek,"


"Padahal aku sangat senggang," ujar Idaline.


Dari kejauhan Djahan berlari tergesa ke arah perempuan yang sudah membuatnya cemas selama satu bulan terakhir. Orang-orang Joyo sudah dibekukan para ksatria Djahan.


"Idaline!" seru Djahan meraih Idaline, membawanya dalam pelukan. Mata Idaline terbelalak karena perlakuan Djahan yang tiba-tiba.


Idaline memejamkan matanya dan membalas pelukan Djahan. "Aku di sini," katanya mengusap lembut punggung Djahan yang kaku.


Djahan melepaskan pelukannya lalu membolak-balikkan tubuh Idaline. Mengecek setiap inci tubuh yang terlihat kumal karena samaran.


"Aku tidak apa-apa," ucap Idaline menghentikan Djahan.


"Semua salahku membiarkanmu ikut ke Daha," Djahan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Idaline menangkup wajah Djahan yang tidak mau melihatnya. "Bukan salahmu. Aku yang memaksa ikut ke sana,"


Djahan menatap mata Idaline yang serius, senyum terukir di wajah mereka berdua. Idaline melepaskan tangannya dari wajah Djahan, telinganya memerah menyadari ia mendekat terlalu intim.


"Kalian yang saling suka ini kenapa tidak bersatu saja?" Dina muncul di tengah mereka membuat Idaline salah tingkah.


"Selendangmu terkena darah. Lepaskan akan kubersihkan. Celanamu juga," wajah Idaline memerah menyadari kesalahan dalam pemilihan kata. "Enggak..maksudku ada darah di situ," Idaline menutup mata senonohnya dengan telapak tangan.


"Pfft. Tegang amat bund," goda Dina.


"Pasti terkena darah saat bertarung," Djahan menyerahkan selendangnya pada Idaline. Gadis itu bergegas pergi ke danau di dekat rumah perbudakan. "Kenapa aku malah menyerahkannya?" sesal Djahan menyisir rambutnya ke belakang. Setelah menenangkan jantungnya, ia berjalan mengikuti Idaline. Ia tidak seharusnya membuat gadis itu melakukan pekerjaan berat.


"Oho~ bapack juga tegang," bisik Dina di telinga Idaline.


"Dina, ucapanmu itu sangat ambigu," Pipi Idaline kembali memerah.


"Padahal ucapanku biasa-biasa saja. Pikiranmu saja yang kotor~" Dina memainkan air di depannya. "Kamu ingin mencuci dengan apa? Darah sebanyak itu tidak akan hilang dengan air saja,"


Dina memberikan tepuk tangan kencang melihat botol keluar dari tangan Idaline. Adonan lembek keluar dari botol itu dan Idaline menempelkannya ke noda darah dan menggosoknya dengan lembut.


"Kamu ini tidak jujur tentang perasaan bahkan ke dirimu sendiri," ucap Dina memperhatikan Idaline. Rasa suka adik kecil itu sangat jelas tetapi juga nampak Idaline terus menyangkalnya.


"Aku tahu kok tentang perasaanku sendiri. Menahannya adalah cara terbaik. Aku akan pulang," terang Idaline.


"Apa kamu tidak akan menyesal membiarkan hal ini lewat begitu saja?" Dina memasukkan kakinya ke dalam air dan berdiri di hadapan Idaline. "Aku ajari cara datang ke sini kalau kamu mau,"


"Dia menyukaiku karena aku Idaline. Gadis ini sangat cantik sampai aku risih setiap bepergian keluar,"


"Stereotypical sekali," Dina tak percaya, teman sepupunya yang kaku mempunyai pikiran insecure. "Kalau itu yang mengganggu pikiranmu, tanyakanlah langsung!"


"Djahan.." panggil Idaline.


"Ya," Djahan yang mengawasi dari jauh berjalan mendekat pada panggilan kekasih hatinya.


"Woah kamu mau bertanya sekarang?" Dina duduk menjauh, menonton dari jauh. Sayangnya tidak ada camilan.


"Pakaianmu sudah selesai," Idaline memberikan selendang yang sudah kering pada Djahan.


"Padahal jemur biasa saja. Sayang kekuatanmu,"


"..jelek,"


Djahan yang sedang menunduk memakai selendang, mendongak mendengar gumaman Idaline.


"Kalau aku jelek, apa puisi-puisi indahmu itu masih berlaku?"

__ADS_1


"Benar-benar tegang," Dina memperhatikan dengan seksama.


"Sepertinya kamu salah paham karena aku terus mengulang kata cantik," Djahan menangkup wajah Idaline menghapus titik air yang muncul di ujung matanya. "Aku meyukai semua tentangmu, bukan hanya wajah atau kecantikan yang kau pikirkan, bahkan ketika jiwamu berpindah, aku akan mengenali dirimu. Rasanya sangat tidak nyaman jika sehari saja tidak mendengar kabar tentangmu,"


"Jiwa berpindah?" Wajah Idaline memucat. "Sejak kapan?" tanyanya melepaskan diri.


"Waktu itu kamu-"


"Hahaha. Jadi selama ini kamu mengawasiku? Surat-surat itu dan perhatianmu?!" tuduh Idaline.


"Tidak,"


"Ha!" Idaline menatap tidak percaya. "Apa kamu datang untuk menangkapku?"


"Idaline tenanglah. Kamu akan terjatuh," Djahan menatap langkah kaki Idaline yang semakin mendekati danau.


"Kamu benar-benar datang menangkapku," Idaline tersenyum kecut lalu menceburkan diri ke danau. Djahan menangkap tubuh Idaline dan ikut tercebur. Ruru memasuki air danau mengambil raga keong Idaline dan membawanya terbang pergi menjauh.


"Kalau aku berkata sesuatu sekarang, kamu tidak akan percaya kan?" Djahan memecahkan batu akik biru di tangannya. "Petapa Agung, bantuan yang Anda katakan, ingin saya gunakan sekarang,"


"Kenapa jadi begini?" Dina terbang melayang mengikuti Idaline. Dina melirik Idaline yang termenung. Dina memutar matanya ketika Idaline menjatuhkan diri ke salah satu sungai di bawah mereka.


••••••••••••••••••••


"Awalnya satu orang, sekarang jadi dua yang hilang?" marah Hayan pada para ksatria yang baru saja kembali dari Pragota.


"Maafkan kami, Yang Mulia," ucap ksatria yang bersimpuh di depan pasukan.


"Ceritakan dengan jelas!" titah Hayan.


Ksatria itu pun menceritakan tanpa mengurang-ngurangi atau menambah-nambahkan, ia bercerita sesuai yang terlihat dan terdengar oleh inderanya.


"Tuan Mahapatih menyelesaikan dokumen penyerahan kerajaan Pragota oleh Yang Mulia Pracara, raja saat ini," Ksatria yang ditunjuk Djahan sebagai wakilnya menyerahkan dokumen pada Hayan. Ia lalu mundur kembali ke tempatnya.


Hayan membaca dengan seksama setiap baris dan kata.


"Sebanyak dua ratus ksatria ditinggalkan untuk melindungi keluarga kerajaan dan membantu masyarakat yang kesulitan karena cuaca buruk yang belum mereda. Yang tersisa kembali untuk meminta bantuan. Berkat sudah ditarik oleh murid Petapa Agung. Karena mereka sudah menyerah pada Kerajaan Maja, mereka meminta untuk dilakukan upacara langit dan bumi," jelas ksatria milik Hayan.


"Keputusan yang bijaksana," Hayan menggulung kertas resmi bersegel kerajaan Pragota. "Burung itu benar-benar burung garuda?" tanya Hayan menyinggung cerita yang keluar dari mulut pemimpin pasukan itu.


"Tidak salah lagi, Yang Mulia. Sama persis dengan yang datang beberapa pekan lalu," jawab ksatria teringat ketika Petapa Agung datang menggemparkan lalu pergi begitu saja.


"Kalian beristirahatlah. Upacara harus dilaksanakan secepatnya,"


"Terima kasih, Yang Mulia,"


••• BERSAMBUNG •••


© Al-Fa4 | 30 Agustus 2021


Terima kasih atas dukungan like dan komentarnya.


Mohon maaf dua hari kemarin tidak sempat update.


Dukung selalu author untuk menjadi lebih baik dengan mengoreksi typo dan memberikan kritik dan saran dengan baik.


Sehat selalu semua.


Love, Al-Fa4


Bukan today sih tapi yesterday :


29 Agustus 1526 M


Kemenangan di Perang Mohacs


Ketika Eropa meremehkan Khalifah yang naik tahta di usia 26 tahun.


200.000 tentara 22 koalisi Eropa


vs


100.000 Mujahid 1 Khilafah Utsmani


Durasi perang +/-90 menit, +70.000 Salibis mati di tempat & 25.000 ditawan.

__ADS_1


Sementara terdapat 1.500 Syuhada & 3.000 orang terluka.


__ADS_2